24. Merah di Pagi Hari

2628 Kata
Bukan sekadar bualan seperti cibiran pada ibu yang pandai bergosip. Pagi hari di taman kompleks Panji sudah asik lari-lari sambil menyumpali telinganya dengan Earphone. Ramai yang juga sedang berolahraga pagi di taman itu termasuk para ibu-ibu cerewet yang sekadar mengajak anak kecil mereka jalan-jalan. "Eh, tetangga kita yang punya restoran itu tuh masih aja tampan kayak anak SMA padahal umurnya udah kepala tiga. Belum punya anak loh ternyata." Gosip mulai terdengar kian merajalela. Panji asik saja melewati mereka. Tanpa melirik, tanpa tersenyum, acuh meskipun telinganya berdengung musik syahdu. "Masa, sih? Emang udah berapa lama menikah? Aku nggak pernah lihat mereka jalan berdua," sahut salah satu dari mereka. "Ck, namanya juga orang sibuk. Heran, yang dicari apa kerja setiap hari dari pagi sampai sore? Banyak duit buat apa kalau nggak punya keturunan? Uangnya mau ditimbun buat siapa? Iya, nggak?" ibu yang pertama kali bicara kini semakin menjadi-jadi. Dia menatap Panji yang mulai jauh dari kerumunan mereka. Karena taman kompleks bentuknya melingkar, jadi Panji hanya berputar-putar bersama warga lainnya. "Wah, kasihan kalau gitu. Kok belum punya anak?" "Nikahnya sih baru-baru ini, belum ada sebulan. Wajar lah kalau belum punya anak," bela salah satu dari mereka. "Tapi ganteng banget, ya. Andai aja anak aku yang nikah sama dia. Beuuhhhh, pasti mantap! Kalau gede bakal jadi pewaris restoran. Masa kecilnya juga bahagia, nggak kekurangan ekonominya. Sayangnya dengar-dengar nikah sama temannya sendiri, ya?" mulut ibu-ibu memang terbaik. "Teman sekaligus tetangganya, tau nggak, sih? Jangan-jangan mereka ada skandal lagi? Jaman sekarang, 'kan musim skandal teman sendiri. Kalau benar, 'kan kasihan pasangan mereka yang aslinya," tidak bisa direm sedikit saja jika sudah menggunjing orang. Mereka terkejut mengira hal itu benar. "Yahh... Beginilah kalau para ibu sudah berkumpul pagi-pagi pada ngerumpi. Ngerusuh di taman kompleks. Satpam nggak bisa nyegah." tiba-tiba Panji berdiri tepat di depan mereka dengan keringat bercucuran di pelipisnya. Menggeleng tanpa ekspresi menatap wanita-wanita itu. Mereka lebih terkejut dan memasang tatapan berbagai makna. "Ahaha, tetangga muda. Lagi olahraga pagi, ya?" tanya ibu-ibu yang pertama kali menggunjing Panji. Panji tersenyum manis sekilas lalu berubah datar membuat senyum para ibu itu luntur. "Kalau kalian terus seperti ini gosip akan meraja lela. Kalau kalian nggak punya pekerjaan, saya bisa bantu mencarikan kerja. Kalau suami anda semua kurang menegur untuk tidak bicara sembarangan, maka saya bisa menegur secara langsung suami kalian. Ada pertanyaan?" Layaknya guru yang bicara tanpa bisa didebat dan dibantah, Panji sungguh memikat. Auranya cukup menakutkan bagi ibu-ibu di depannya. Mereka menggeleng kompak. "Bagus! Restoran saya terbuka dari pagi sampai malam. Silahkan menikmati hidangannya dan saling sapa jika bertemu nantinya. Akan ada diskon jika kalian bersikap baik di sana. Permisi, ibu-ibu yang manis!" barulah Panji tersenyum manis yang sangat dipaksakan. Kemudian, melenggang pergi kembali berlari-lari kecil mengitari taman satu kali lalu pulang. Para ibu itu masih menatap kepergian Panji. Mereka tak berani berkutik sekali pun. "Aku baru kali ini ada yang menegurku sepanjang dan seaneh itu," gumam salah satu dari mereka. "Menyarankan restoran? Lebih baik aku makan di warung daripada restoran," balas satunya lagi. "Tapi dia mempesona! Benar-benar muda di usia yang hampir tua!" semangat hampir memekik sebelahnya lagi. Mereka menoleh kompak pada orang yang memuji Panji, "Tua?" ujarnya bersamaan. Orang itu hanya bisa tersenyum masih dengan wajah kagumnya pada Panji. Rumah rapi, bersih, harum jeruk lemon tersebar di seluruh sudut ruangan kecuali dapur. Di dapur aromanya cokelat panas dan s**u vanila dingin dengan roti selai yang baru diiris. Panji menghampiri Citra sambil menyeka keringatnya. Handuk kecil yang selalu tersampir di lehernya kini agak sedikit basah. "Ngapain?" Panji tepat di belakang Citra. Citra terjingkat. Untung saja roti yang dia pegang tidak jatuh. Menoleh pada Panji dengan mata melebar, "Kamu ngagetin aja, sih! Sana mandi!" usirnya menunjuk kamar mandi. "Itu buat apaan? Sarapan?" Panji justru menyingkirkan Citra meneliti semua yang tersaji di meja dapur. Citra berbalik setelah terhuyung, "Kalau minumannya iya, tapai kalau roti selainya buat aku bawa ke kantor, hehe." menyenggol Panji untuk menepi. "Ck, nggak buat sarapan, dong? Minggir biar aku aja yang masak. Dasar pemalas!" gantian Panji yang menyenggol Citra. Citra menganga, "Hello... Kalau pemalas ngapain aku buatin kamu cokelat panas, ha? Nggak bilang terima kasih malah ngatain. Huh!" menyenggol Panji lagi lalu mengambil roti selai dan s**u vanila dinginnya. "Huuu, ngapain terima kasih sama kamu? Semua ini belinya pakai uang aku. Jadi sama aja tau!" balas Panji sambil mencabut kisah dari tempatnya. "Weekkk! Perhitungan!" seru Citra yang menuju meja makan. Dia menggerutu tidak jelas, hanya terdengar seperti gumaman bagi Panji. Panji berdecak lalu mulai berkutat dengan bahan-bahan yang ada. Citra duduk manis di ruang makan sambil meminum s**u vanilanya. Sangat dingin seperti yang dia inginkan. "Hmm, manis!!!" Citra mengerlingkan mata setelah meneguk s**u itu. "Haha, makasih pujiannya. Dari lahir juga aku udah manis. Manis banget malahan," sahut Panji tanpa menoleh. Citra memang memandang punggung Panji secara langsung. Tidak ada pemisah selain dinding setinggi pinggang manusia antara ruang makan dan dapur. "Minumannya yang manis, bukan kamu! Kepedean! Huuuu!!!" sorak Citra semangat. "Ck, nggak mau ngaku. Ini cokelatnya aku minum, ya?" pinta Panji. "Iyalah masa mau dibuang? Sayang tau." Citra kembali meminum minumannya santai. "Iya, Sayang. Makasih!" Panji menoleh sebentar sambil memaksakan senyum. Citra hampir saja tersedak. Melotot menunjuk Panji seolah mengajak ribut. "Apa tadi bilang? Sayang otakmu udah gila?!" Panji menoleh dengan gelas hangat berisi cokelat panas di tangan kanan. "Loh, tadi kata ya sayang? Yang ngomong sayang tadi siapa? Kamu, 'kan?" sengaja menaikkan sebelah alisnya lalu menyeruput cokelat itu, "Hmm, nikmatnya. Pagi dengan cokelat yang indah!" Citra meremas kedua tangannya, "Iiihhhh, bukan gitu maksudnya, Panji!" teriaknya menggelegar. Panji masih asik menikmati cokelat menatap Citra polos. "Maksudnya kalau cokelat itu dibuang, 'kan sayang begitu. Bukan manggil sayang ke kamu! Iyyuuuhhh, jijik tau!" sambungnya sedikit bergidik. "Oh." cuek Panji lalu berbalik memunggungi Citra lagi. Citra sungguh kesal-sekesal mungkin. Dia meminum s**u vanila seperti orang kehausan. Langsung habis kemudian lanjut memakan roti selai amat rakus karena menatap punggung Panji membuat kekesalannya semakin bertambah. Seketika semua yang tersaji di mejanya habis. Panji masih sibuk berkutat dengan lihainya seperti koki profesional di sana. Sampai bermain pisau lempar dengan aneka sayur dan bumbu dapur yang dia lempar lalu ditangkap sendiri. Citra sudah bosan melihat laki-laki itu memamerkan keahliannya. "Hahh, biasa aja kali. Basi udah! Mentang-mentang aku nggak bisa kayak gitu," sinis Citra. Karena tidak ada yang bisa dimakan lagi, Citra meminum air putih. Kali ini dengan perlahan. "Oh, ya? Cieeee, iri," sahut Panji santai. Dia sedang menumis sesuatu. Citra menganga lagi. Lalu, mengambil napas panjang dan membuangnya kasar. Sangat kasar sampai dia berubah menjadi sabar dan napasnya kembali teratur. "Sabar, Citra. Orang sabar pasti selalu beruntung. Jangan buat darah mendadak tinggi pagi-pagi, oke? Biarin aja orang gila di depan sana mau apa," kata Citra pada diri sendiri. "Wah, ada yang bermonolog ternyata. Lagi latihan drama? Ada rencana main sama anaknya Rama lagi?" ejek Panji. Citra memicing, "Mau ke luar kota sama Rama. Satu minggu penuh terus tiap hari buat vlog sama ngucapin... Bye bye, Panji! Selamat menikmati rutinitas sok sibuk bos restoran..." Citra melambaikan tangan membayangkan apa yang dia katakan benar. "Haha, lucu," tawa Panji kaku. "Huh! Nggak mau temenan sama kamu!" Citra melengos melipat tangan di d**a. Bersamaan dengan itu dua piring nasi goreng spesial dengan telur ceplok di atasnya sudah siap. Panji membawanya dengan penuh senyuman dan menaruhnya tepat di depan Citra. Mencium aroma yang menggugah selera itu membuat Citra menoleh seketika. "Waahh! Nasi goreng telur dadar!" pekiknya seru. "Telur ceplok, bukan didadar! Nggak tau masakan, nih!" Panji menunjuk Citra sambil menata duduknya. Citra tak peduli. Dia langsung menarik satu piring nasi goreng dan akan memakannya. Namun, Panji menghentikannya. "Eh, ngapain? Nggak boleh minta, ya. Tadi teriak-teriak kayak petasan, sekarang mau makan gitu aja. Nggak ada!" Panji menahan piring yang juga dipegang Citra. "Yahh, jangan pelit dong." Citra sedikit merengek. Panji menggeleng, "Mandi dulu." "Kamu tuh yang harus mandi dulu. Badan bau keringat, lengket, datang-datang langsung masak. Mandi dulu baru makan." balas Citra yang tangannya tak bisa diam menarik piring itu. Panji tak mau melepaskannya. Mencium bau badannya sendiri. Ternyata memang benar seperti apa yang dikatakan Citra. "Kalau aku mandi kamu jangan makan dulu, ya," pesan Panji. "Kenapa? Aku lapar, ya, makan dong," tolak Citra. "Aku yang masak, aku yang nentuin aturannya. Pokoknya kamu nggak boleh makan sebelum aku selesai mandi. Titik!" Panji langsung bergegas ke kamar mandi. Citra menghentakkan kakinya tak jadi mengambil sepiring nasi goreng itu, "Ish, ngeselin! Mau makan aja harus ada aturannya." bibirnya mengerucut lagi lengkap dengan sorotan mata yang sensitif. Lalu, baru sadar jika ada yang kosong. "Loh, roti sama s**u vanilaku mana? Kok nggak ada?" tidak tahu jika makanannya sudah masuk ke dalam perutnya. Lima menit kemudian Panji sudah muncul dengan pakaian rapi, rambut masih agak basah, dan memakai jam tangan. Duduk di depan Citra membuat Citra melotot heran. "Widih, pak pengusaha lagi dandan cakep. Mau kemana, Pak?" Panji tersenyum miring. Membalikkan sendok dan mulai memotong telur ceplok dan mencampurnya dengan nasi goreng. "Mau ketemu klien istimewa. Cantik banget kayak super model," puji Panji yang terlihat sangat berlebihan di mata Citra. "Hooeekk! Model obat racun tikus?" ejek Citra yang juga mulai makan. "Eh, kalau ngomong suka iri." "Siapa yang iri? Kamu tuh berlebihan. Emang kliennya siapa?" tanya Citra agak tenang. Sedikit basa-basi tidak mengapa. Dia sudah menduga jika klien itu adalah perempuan yang semalam berani meneleponnya. "Bukan klien, sih. Hanya teman satu profesi aja. Dia yang ngasih kue waktu di Malang. Kalau kamu ketemu sama dia pasti beneran iri. Secara dia perfect banget jadi cewek. Ngomongnya halus, sopan, murah senyum, nggak malu minta tolong, cantik lagi." Panji tersenyum lebar membayangkan perempuan itu. "Uhukk-uhukk!! Kebanyak cabe, nih! Kok asin, ya? Kamu masaknya sambil ngelamun kali jadi nggak bener kayak gini." Citra segera mengambil air minum. Sengaja tersedak membuatnya tersedak sungguhan dan itu terasa sakit di tenggorokan. 'Sial! Kenapa jadi tersedak beneran? Cuma main-main kali,' batin Citra. Minum dengan rakus sampai mengambil air dua kali. Teko air itu tinggal setengah sekarang. Ata Panji melebar menatap Citra. "Mana ada cabai itu asin, Citra? Mulutmu pahit mungkin. Kalau nggak mau makan sini biar aku makan semua. Ada-ada aja alasannya. Pasti mau bikin aku panik, 'kan? Haha, nggak mempan." Panji hendak menarik piring Citra, tetapi Citra menahannya. "Nggak boleh! Ini punya aku. Aku masih lapar." "Astaga, tadi udah makan roti. s**u vanila satu gelas habis. Masih lapar?" Panji mengangguk sangking herannya. "Habisnya yang tadi kesel gara-gara kamu. Sekarang lapar lagi. Bagi, ah." menarik piring itu dan akhirnya berhasil. Dia kembali makan dengan santainya. "Ini nih yang buat aku kesal jadi cowok. Kenapa selalu ngalah sama kamu?" Panji menggeleng bingung. "Hahaha, udah takdir cowok begitu dan kamu wajib ngalah sama aku, hehe." cengir Citra lebar. Panji tak membalas lagi tidak mau berdebat karena sebentar lagi waktunya dia berangkat ke restoran dan Citra harus ke kantor. Perusahaan kertas tempat Citra bekerja sekarang ramai dijadikan tempat kunjungan studi untuk anak-anak sekolah kelas menengah atas. Citra tidak memperdulikannya. Dia tetap fokus pada tugasnya yaitu menyangkut laporan keuangan perusahaan. Setelah selesainya kasus korupsi itu, tidak ada lagi yang berani berbuat kesalahan di perusahaan. Namun, kini gelisah kembali melanda. Panji akan benar-benar menemui perempuan cantik itu. Citra harus melakukan sesuatu untuk bisa meninjau gerak-gerik Panji selama dia bekerja. 'Gimana caranya, ya? Kemarin belum ketemu ide yang bagus udah tidur duluan, sih,' batinnya. Nasi goreng tak membantu pikirannya menjadi sedikit brilian. Tiba-tiba sesuatu terjadi pada perutnya. Citra meringis dan berhenti makan. 'Kenapa ngilu? Tadi baik-baik aja,' pikir Citra. Semakin lama, semakin terasa di perut bagian bawah. Panji melihat raut wajah Citra yang berubah menjadi berhenti makan. "Kamu kenapa? Ada yang sakit?" sedikit berdiri mendapati Citra yang memegangi perutnya. Langsung keluar dari kursi dan menghampiri Citra cukup panik. "Perutmu kenapa? Kepedesan beneran? Aku nggak masak terlalu pedas kok. Kenapa, Cit?" ujar Panji semakin panik. Dia berjongkok di depan Citra ikut memegang perut Citra. Citra menepis tangan Panji, "Jangan ikut megang, ah. Aneh tau!" "Ck, dibantuin sini biar aku tau mana yang sakit?" Panji memaksakan diri untuk menyentuh perut Citra. Akhirnya tangan Citra yang kalah mencegahnya. Begitu besar dan hangat telapak tangan Panji menyentuh perut Citra yang masih terbalut pakaian semalam. Citra hanya bisa diam merasakan tangan Panji dan nyeri di perutnya. Dia masih meringis tanpa bergeming. "Mana yang sakit? Aku nggak ngerasain apa-apa. Kamu jangan bikin aku takut deh," Panji memindah tangannya ke sisi perut Citra yang lain. "Aduh-duh! Jangan ditekan, malah sakit." rintih Citra mendadak lemas. Panji sontak berdiri, "Periksa ke dokter, yuk. Jangan-jangan kamu hamil!" Plakk!!! Citra memukul lengan Panji justru tangannya yang kesakitan. "Aww! Itu lengan apa besi, sih? Sshh, sembarangan kalau ngomong. Aku hamil anak siapa? Lagian nggak perlu ke dokter segala. Paling ini cuma nyeri biasa. Tiba-tiba sakit begini, tadi nggak kenapa-napa padahal," ujarnya agak lemas. "Tuh, 'kan aneh. Ayo periksa. Aku antar." menarik tangan Citra, tetapi Citra menepisnya. "Nggak usah, Panji. Kamu ke restoran aja duluan. Aku mau mandi dulu," suara Citra seperti orang tak memiliki tenaga membuat dahi Panji berkerut kasihan. Ketika Citra berdiri tertatih, dia mencoba membantunya, akan tetapi lagi dan lagi Citra menolak. Panji hanya bisa pasrah. Citra berpegangan meja sangat kuat untuk membantunya berjalan. Sekarang terlihat jika sakit di perut Citra menjalar sampai kaki. "Citra, bagian mana yang sakit? Nanti aku bantu obatin," desah Panji resah. Citra menggeleng, "Nggak apa-apa ini aku udah bisa mendadak perut keram sampai kaki. Ntar juga sembuh sendiri. Kamu nggak usah mikirin aku. Kerja aja, kasihan tahu kamu datang jauh-jauh dari Malang malah nungguin kamu lama." "Kamu sengaja mojokin aku? Tadi cuma bercanda kali. Sekarang mana yang sakit, ayo ngomong. Kalau beneran sakit nggak usah kerja dulu. Nanti aku yang bantuin izin." mencoba menuntun Citra dan Citra mengangkat tangannya pertanda tak mau dibantu. Menatap Panji dengan tatapan lelah bercampur menahan rasa nyeri, "Beneran aku nggak apa-apa. Kalau nggak kerja ntar gajiku kena potong lagi gimana?" Panji berdecak, mendongak sebentar. "Masih sempatnya mikirin gaji? Ayo, Cit, ke klinik bentar. Jangan bikin aku takut gini. Ntar kalau sakitmu makin parah gimana? Mana perut yang kamu pegang. Kan aku jadi nggak bisa berbuat apa-apa," resahnya. Citra masih berjalan tertatih berpegangan pada tepian meja. Tak menghiraukan Panji berkata apa. Tujuannya hanyalah kamar mandi. Dia mengingat tanggal terakhir kapan dia mengalami menstruasi. Sayangnya Citra tak ingat. Dia mengira nyeri di perut sampai sekujur kaki disebabkan karena menstruasi hari pertama yang sangat mendadak tanpa adanya pertanda terlebih dahulu. Panji mengernyit memperhatikan bagian belakang Citra setelah Citra sudah tiga langkah di depannya. Celana yang Citra kenakan agak aneh di p****t. Sedikit ada bercak noda yang Panji pikir itu adalah kotoran bekas Citra membuat s**u dan cokelat di dapur. Namun, setelah dia perhatikan baik-baik ternyata itu adalah darah. Seketika Panji sadar sakit yang Citra rasakan karena apa. "Citra, ada darah di belakang celanamu!" Panji menunjuk noda darah itu sambil melebarkan matanya. Sontak Citra berbalik melihat bagian belakangnya. Dia segera menutupinya dengan tangan, tak mau membiarkan Panji melihat dirinya kacau. "Aaaaaaa, jangan lihat! Balik badan atau tutup mata sana! Aku... Aku...," Citra bingung ingin berteriak apa lagi. Panji linglung tidak melakukan apa yang Citra suruh. Dia justru menatap Citra bodoh. "Jadi, kamu berdarah? Aku mesti gimana?" kembali panik. Citra berdecak frustasi, "Kamu cukup diam aja tunggu sampai aku masuk ke kamar mandi udah!" "Ha? Oh, iya-iya!" Panji mengangguk seperti orang bodoh. Segera membalik badannya sambil menutup mata. "Aku udah tutup mata. Yakin mau ke kamar mandi sendiri? Bisa jalan? Itu kamu berdarah. Sakit nggak?" melontarkan pertanyaan dengan tak tahu malu lagi. Berkali-kali Citra mendesah antara malu dan pusing sendiri dengan Panji, "Aduh, kamu diam aja dulu. Sekali lagi nanya hal konyol aku tendang kamu!" "Iya-iya!" Panji langsung diam. Membiarkan Citra berjalan tertatih ke kamar mandi mungkin pilihan yang tepat baginya. Namun, noda darah dan tangan Citra yang terus memegang perut tak bisa hilang dari benaknya. Dia merasa kasihan. Dari raut wajah Citra sudah terlihat jika itu terasa amat sakit. Nyeri yang tak bisa dia rasakan sejak dulu. Lalu dia menyadari jika Citra butuh waktu baginya untuk perihal perempuan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN