23. Bulan Sabit

2539 Kata
Mendung kalah dengan sinar rembulan. Cahayanya begitu menawan di antara bintang-bintang. Bentuk bulan yang paling disukai Citra selain purnama. Sabit manis ditemani angin sumilir mengalahkan sejuk di pagi hari. Damai, tenang, mungkin ini yang dinamakan kenikmatan syahdu. Citra pun tahu apa namanya, yang jelas dia menikmatinya. Begitu licik Panji menyempurnakan malam dengan lantunan musik yang asal petik dari senar gitar. Panji sendiri juga tak tahu alunan nada apa yang dia mainkan. Keduanya menatap bulan dengan jajaran nasi dan tumis kangkung yang sudah tersaji di depannya. Panji tak protes apapun yang dimasak Citra walau rasanya tak seenak buatannya. Hanya saja dia belum mau makan sekarang. "Tumben main gitar. Biasanya nggak pernah," celetuk Citra setelah hening sejak dia datang dan bertanya apa yang dilakukan Panji, tetapi Panji hanya mengendikkan bahu sebagai jawaban. "Pengen aja. Kangen nyubit senar-senar kecil ini." jawab Panji masih melanjutkan nadanya. Angin terus menerbangkan anak rambut mereka. Sedikit rambut berponi Panji juga ikut meliuk-liuk mengikuti arah angin. "Kamu nggak kedinginan?" harum sabun mandi bisa tercium jelas menggelitik hidung Panji. Tanda jika Citra habis mandi dengan air dingin. "Enggak. Dinginnya lagi biasa aja," jawab Citra sederhana. Panji tak bertanya lagi. Citra juga kembali hening. Hanya musik yang menemani angin bergerilya di sekitar mereka. Nasi dan lauk sudah tak nikmat lagi untuk disentuh. Namun, apa daya jika perut sudah berbunyi. Citra memegang perutnya yang keroncongan. Panji menoleh dan menghentikan petikannya. "Kamu beneran lapar?" tanyanya polos. "Iya lah. Dari pagi nggak makan juga," tangan masih menempel di perut. Panji mengambil piringnya yang sudah lengkap nasi dan tumisan kangkung. Dia terkekeh, "Udah dingin, Cit. Rasanya gimana?" Citra ikut mengambil piringnya, "Yah, sayang banget. Kamu, sih, diajak makan nggak mau. Terpaksa, deh, makan yang dingin-dingin. Kangkung kalau dingin enak nggak, ya?" mencomot satu daun kangkung yang layu dan memakannya sedikit ragu. Panji sampai memasukkan mulutnya ke dalam tak mau merasakan rasa kangkung itu. Citra meringis matanya sampai menyipit ketika mengunyahnya. Lama kelamaan matanya terbuka lebar. "Hmm, dingin!" "Ck, ya emang dingin. Gimana, sih?" Panji kesal. "Hehe, tapi rasanya lumayan. Cobain, deh." mencomot kangkung lagi. "Emang enak? Kalau aku keracunan tanggung jawab, ya." ragu-ragu Panji menyuap sedikit nasi dengan kangkung. Sendok yang dipegangnya bergetar. "Halah, nggak usah pura-pura gemeteran gitu. Alay tau," Citra terkekeh. Panji sedikit tertawa saat sendok itu akan masuk ke dalam mulutnya. Gigitan pertama membuatnya diam menutup mata. Citra tergelak memukul pundak Panji pelan, "Biasa aja kali ekspresinya, haha. Asem banget mukanya. Kunyah dong, masa pemilik restoran terkenal makan kangkung dingin aja gengsi. Haha, kunyah ayo kunyah!" Panji menahan tawa digoda. Dia mulai mengunyah makanannya yang sungguh tidak terduga. Ternyata sungguh dingin seperti tersiram air dan kering. "Hambar, haha," Panji terkekeh seiring mengunyah. "Hahahaha, enak, 'kan? Lumayan lah buat ganjel perut." Citra semakin tergelak lalu makan dengan lahap. "Hmm, oke nggak apa-apa. Tau gini makan di restoran aja," pasrah Panji walau tangannya terus menyendokkan makanan. Citra jadi terhibur. Dia terus tertawa kecil sambil makan. "Nggak nyangka halaman belakang bagus juga. Kalau dikasih lampu taman pasti bagus," oceh Citra saat makanannya tinggal setengah. "Satu lampu biasa aja udah cukup, ngapain ditambah lampu lagi? Ntar jadi taman beneran lagi," sahut Panji santai. Sosis di piringnya habis duluan. "Yah, setidaknya cahaya bulan lebih baik dari lampu. Gini aja udah cukup. Nggak perlu lampu tambahan apa lagi kerlap-kerlip kayak di pinggir jalan. Tau gini aku tidur di sini aja. Cariin ranjang lagi dong taruh sini. Biar aku bisa tiduran di sini. Kamu di kamar aja," Citra melantur. "Iya, habis itu kamu beku, mati kedinginan. Aku angkat tangan." Panji menyuapkan makanan terakhirnya. Menaruh piring di dekat bakul dan meminum air mineral dingin yang sudah dia ambil sebelumnya. "Hahaha, bener-bener bisa mati beku aku. Kenapa angin siang hari nggak sedingin malam hari, ya?" Citra juga menyudahi acara makannya. Dia bingung mencari air karena tak membawa air tadi. "Nggak tau, aku nggak pintar. Hanya Indra, dia dosen pasti paham." dengan santainya Panji menutup botol airnya. "Eh, minta dong!" Citra merebut langsung botol air itu. "Eh, bekas aku itu. Ambil sendiri sana!" ingin merebut airnya lagi, tetapi Citra sudah membuka tutupnya dan meminum tanpa dosa. Menghabiskannya sampai tak tersisa setetes pun. Panji menganga, "Citra, itu bekas aku loh!" "Hahh, segarnya! Makasih, ya." menunjukan deretan giginya dan mengembalikan botol itu. Panji menganga lebih lebar saat menerimanya, "Kamu tau nggak, itu bekas aku loh." "Iya tau, ah. Dari tadi situ ngomong gitu mulu. Nggak ada yang lain apa? Emangnya kenapa kalau bekas kamu?" tangan tak berhenti bergerak. Membereskan piring dan makanan yang tersisa lalu membawanya ke dapur tanpa menunggu Panji membalasnya. Panji hanya terdiam, kemudian menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Bukannya itu namanya ciuman yang nggak disengaja? Sshhh, di film-film kayak gitu soalnya. Bener nggak, sih?" bingungnya sendiri. Tak lama kemudian Citra kembali duduk di sampingnya sambil membawa buku gambar dan pensil. Panji menatap Citra aneh dengan bibir sedikit mengerucut. "Dia sadar nggak, ya, sama begituan? Ciuman nggak disengaja? Ck, ada-ada aja. Toh dia biasa aja," gumamnya. Mengambil gitar tak menghiraukan Citra yang mendongak sambil mengetuk-ngetuk dagu mencari ide untuk digambar. "Apa? Kamu ngomong apa?" mendadak Citra menoleh membuat Panji kaget sampai salah membuat nada gitar, "Aduh, ngagetin aja. Untung senarnya nggak patah." mengelus d**a sabar. "Hehe, kamu tadi ngomong apa? Bisik-bisik nggak jelas. Aku nggak dengar," ulang Citra lagi. "Eee, emangnya aku ngomong apaan? Aku lagi nyari lagu yang pas," elak Panji. "Oh, gitu." Citra mengangguk paham dan kembali melamun menatap langit. Tepatnya pada bulan sabit yang cerah itu. Dalam hati Panji menghela napas lega karena Citra tak mendengar gumamannya dengan jelas. Dia melanjutkan mencari nada yang pas, tetapi tak kunjung dapat. Tiba-tiba teringat masalah hari ini yang tidak terlalu rumit baginya. Benar kata Citra, dia juga harus mendapatkan banyak masalah untuk mengisi hari-harinya. Kenapa tidak ada kasus misteri yang harus dia selesaikan secara diam-diam lagi? Kenapa tidak ada panggilan dari paman Lim tentang bantuan tempo hari? Apa paman Lim sesibuk itu sampai belum bisa membantunya mencari informasi tentang gedung tua itu? Atau dia yabg terlalu bersantai sampai tak bisa melihat kondisi di sekitar? Atau mungkin dirinya yang terlalu sibuk dengan Citra tanpa dia sadari? Semua pertanyaan itu sudah terbenam di kepala Panji. Dia menatap Citra dengan pandangan yang tak bisa diartikan. Dahinya berkerut membentuk tiga lipatan tipis dan semakin menjadi. Lain dengan Citra yang asik menggambar langit dengan bayangan di air. Danau dan sedikit daratan yang terlihat mulai tergambar jelas oleh jemari Citra. Begitu lihainya gadis itu menguasai pensil dan kertas. Bahkan tangannya tak berhenti barang sedetik saja. 'Jika Citra juga bosan dengan hidup yang monoton tanpa beban apapun selain pekerjaan, maka aku juga sama. Akan lebih baik kalau ada misi lebih cepat. Semakin banyak aku menemukan masalah, semakin banyak aku bisa membantu orang. Tapi apa? Aku harus lihat kasus-kasus di buku yang mungkin saja terlewat dan belum k****a,' pikir Panji. Tak mendengar nada gitar Panji lagi, Citra pun menoleh. Panji masih tetap menatapnya tanpa berkedip. Citra jadi meneleng heran. "Kamu kenapa lihatin aku kayak gitu? Kagum, ya? Gambaran aku bagus, 'kan?" memamerkan gambarannya yang belum sempurna. Seketika Panji mengerjap dan menggeleng, "Emm, bagus. Lanjutkan, teruskan..." tangannya mempersilahkan. Citra menarik bukunya lagi sambil memicing curiga, "Kenapa, nih? Lagi mikirin apa? Ngelamun?" membaca pikiran Panji yang sedang melayang entah ke mana. Panji sedikit memutar pandangannya, "Haha, nggak ada. Cuma kepikiran sama Indra aja tadi. Semudah itu, ya, urusannya selesai." Citra menatap Panji lagi dan meletakkan buku gambarnya di pangkuan, "Yah, baru aja dapat masalah malah selesai gitu aja. Nggak seru, ah! Aku kapan mainnya kalau gini?" resah Citra. "Haha, kamu selesaiin misi utama kamu aja. Kalau udah selesai, aku kasih misi lanjutan." goda Panji mengendikkan bahunya yang terdapat bekas luka bakar. Citra melirik pundak Panji, "Ah, ini nggak selesai-selesai. Kamu pakai hilang ingatan sesaat lagi." memukul pundak Panji pelan. "Kan sekarang udah ingat. Cuma kurang jelas aja. Nah, tugas kamu memperjelas itu semua, oke?" Citra memutar bola matanya jengah, "Siap, Bos!" ujarnya malas membuat Panji tertawa ringan. Kembali menoleh, "Oh, ya. Kamu sendiri gimana? Ada misi baru apa?" Panji memeluk gitarnya, "Hahh, nggak ada. Kebanyakan main sama kamu, sih." "Masa? Terus tiap hari kedepan kamu ngapain?" Citra antusias. "Ya, ngelola restoran." "Simpel nggak di restoran?" Citra menyangga kepala. "Eemm, kadang simpel kadang rumit. Tergantung situasi sama jadwal aku aja. Kenapa?" "Nggak ngerasa bosen gitu?" sedikit menggeleng. "Hehe, pertanyaan yang bagus." Panji menjentikkan jarinya. "Bosen? Aku baru mikir apa aku bosen?" sambungnya. "Gila! Bosen pakai dipikir segala. Ya yang kamu rasain gimana?" Citra masih menatapnya. "Aku... Nggak tau." Panji menggeleng polos. Citra mendesah, "Hahh, punya perasaan nggak pernah dipakai, ya, gitu." Baru saja Panji hendak menjawab, sebuah panggilan telepon membuatnya terhenti. Keduanya saling berpandangan sebentar lalu Panji melihat handphone-nya. "Wah, dari cewek cantik semalam. Tumben malam-malam nelpon." segera beranjak dan menerima panggilan itu. Tidak jauh-jauh dari Citra, Panji hanya berdiri di pojok pintu saja. Suaranya masih terdengar jelas oleh Citra. "Ha? Cewek semalem? Yang di taman hotel sama ngasih kue maksudnya? Panji satu kontak sama dia? What?!" hebohnya tertahan. Panji tahu itu, dia menjawab sengaja dikeraskan sambil melirik Citra. Wajah Citra sudah tak karuan penasaran dengan apa yang Panji bahas dengan perempuan itu. Tangannya mengepal tanpa sengaja, matanya tak berpaling dari punggung Panji. "Apa? Mau ke sini? Boleh-boleh, sama siapa?" Panji sengaja pamer. Mulut Citra langsung terbuka lebar. "Sendirian?! Beneran sendirian? Mendingan ditemani karyawanmu aja. Soalnya di sini juga lingkungan kerja. Kalau bicara soal kerja nggak baik datang sendirian. Cukup jauh loh," ujar Panji sangat halus. 'Cih! Sok manis, sok ramah, sok lembut! Apa tuh cewek mau datang nemuin Panji pakai alasan bisnis gitu? Haha, lagu lama!' batin Citra. Kepalan tangan terasa semakin kuat sampai kuku-kukunya sedikit menusuk telapak tangannya sendiri. Dia tidak sadar sama sekali kalau sedang tidak suka dengan seseorang. "Oh, yaudah kalau gitu. Sampai jumpa besok." senyum manis yang terlihat pahit bagi Citra telah mengakhiri panggilan telepon mereka. Citra melengos kala Panji kembali duduk di dekatnya. "Dari siapa? Perhatian banget." Citra berdeham sebentar. "Dari siapa aja bukan urusan kamu. Ngapain nanya?" Panji memasukkan handphone-nya ke saku celana walau tatapannya tak beralih dari mata Citra. Citra meremas pensil kuat, "Cuma nanya doang. Nggak biasanya ngomong manis gitu. Sama aku juga nggak pernah, tuh." Panji mengerjap, "Gimana-gimana? Oh, mau aku ngomong yang manis-manis? Jangan harap! Kamu bagian yang pahit aja." lanjut memegang gitar. "Huh, terserah! Aku mau tidur!" Citra berdiri cukup kasar dan berjalan masuk rumah dengan kaki sedikit dihentak-hentakkan. "Yee, ngambek. Gitu doang sewot. Sok imut tau!" balas Panji padahal Citra sudah masuk ke rumah. Lalu, dia tersenyum sambil menggeleng. Menurutnya Citra lucu jika memasang wajah kesal tanpa sebab seperti itu. Panji sadar, kekesalan Citra diakibatkan oleh perempuan yang dia bantu dalam urusan bisnis. Sayangnya Citra tak mau menunjukkannya terlalu lama. Andaikan Citra menunjukkan kepeduliannya dengan jelas maka Panji bisa menebak jika Citra sedang cemburu. Tentu dia sebagai laki-laki tahu apa arti dari cemburu. Memikirkan itu membuat senyumnya terangkat padahal wajahnya tertunduk sedang memperhatikan senar gitar yang dia mainkan. Di kamar Citra melempar buku gambar dan pensil begitu saja ke meja. Membanting diri ke kasur empuk dan memeluk guling terlentang menatap lampu. Silau membuatnya langsung mematikan lampu. Gelap, hanya terdapat cahaya dari pantulan lampu di luar kamar. "Panji sikapnya manis sama cewek sejak kapan coba? Apa jangan-jangan dia berguru sama Indra beneran? Wah, kalau nurutin saranku buat lebih deket sama cewek, bisa bahaya dong. Nanti aku jadi istri yang dilupakan kayak di film-film. Ih, ngeri-ngeri! Nggak, nggak mau! Biar gimanapun juga kita pasangan sah dong. Walau nggak ada rasa suka, paling enggak komitmen tetap berjalan. Udah janji juga, nggak boleh dilanggar," gerutunya dengan sekali tarikan napas. Menarik selimut sampai d**a, guling dipeluknya erat seolah ada yang akan merebutnya. Bibir masih cemberut dengan dahi berkerut. Dia pun memikirkan sebuah cara agar Panji kembali cuek dan tidak respek pada perempuan. "Sshh, aku harus ikutin dia besok. Tapi, 'kan kerja? Yah, gagal jadi penguntit kalau gini," gumamnya. Kembali memikirkan sebuah rencana. "Kalau gitu aku teror dia pakai chat sama telepon biar tiap menit biar nggak bisa fokus ngapa-ngapain. Panji nggak bakalan ngacuhin aku. Dia, 'kan takut kalau aku ada apa-apa. Kalau gini tuh cewek pasti sebel juga karena bakal dianggurin Panji, haha. Oke juga, boleh juga tuh ide. Tapi, 'kan aku harus fokus kerja juga. Ck, gimana, sih?" menggaruk rambutnya gatal. Semua ide tidak bisa dilakukan karena terhalang pekerjaan. Citra berharap perempuan itu tak jadi datang agar dirinya bisa tenang. 'Eh, tunggu dulu! Kenapa gue terlalu khawatir? Gelisah yang nggak jelas kayak kemarin datang lagi. Citra, Citra, Citra, tenangkan diri, tolong! Bagus dong kalau Panji respek sama cewek. Berarti dia normal. Udah mau bergaul sama siapa aja. Toh dia baik sama tuh cewek, niatnya nolongin. Yang aku khawatirkan apa, sih?' pikirnya berkata lain. Terbungkus selimut rasanya begitu hangat. Jauh lebih hangat membuatnya mengantuk. Tertidur begitu cepat. Suara nada Panji sudah tak terdengar. Memang tidak bisa terdengar sampai ke kamar apalagi Panji bermain sangat pelan. Namun, bukan karena tidak terdengar, tetapi Panji sudah menyudahi permainannya. Dia jalan terjingkit-jingkit menuju kamar. Membuka pintu pelan takut membangunkan Citra. Suara deritan pintu terdengar, Panji meringis karenanya. Dia terkejut kamar menjadi gelap. Tirai di jendela juga tertutup rapat. Seseorang sedang terbaring lemas di ranjangnya. Perlahan meletakkan gitar di kursi dekat meja riasnya Citra. Lalu, duduk di tepi ranjang sambil mendesah pelan. Dia amati wajah Citra yang begitu tenang. Senyumnya terangkat. Manisnya terlihat sempurna. Tangan dinginnya terulur mengusap anak rambut yang menutupi dahi Citra. Dia tepikan anak rambut itu membuat tangannya bersentuhan langsung dengan dahi Citra yang hangat. Sontak Panji menarik tangannya. Mengira jika Citra demam, tetapi sadar kalau tangannya yang terlalu dingin. 'Sikap apa tadi? Ekspresi yang sok imut?' kekeh Panji dalam hati. Sejak dulu memang suka menggoda Citra apalagi menjahili gadis itu sampai menangis. Kali ini hal yang sama, tetapi berbeda. Tidak pernah sekalipun Panji bermain dengan perempuan sedekat Citra. Baru kali ini karena sedang membantu rekannya dalam membangun restoran. Itupun terjadi karena ingin melihat Citra memasang ekspresi kesal-kesal menyebalkan padanya dan ternyata benar-benar terjadi. Panji tak bisa berhenti terkekeh. Dia melanjutkan saja permainannya. Tidak menyangka perempuan itu berani datang sungguhan menemuinya. Padahal yang perlu dibahas adalah masalah sepele yaitu memilih menu makanan penutup untuk kelas VIP di restoran perempuan itu. "Hal kecil kayak gitu juga harus minta tolong sama aku? Yang punya restoran dia, terserah mau dia isi apa. Kenapa jadi aku yang harus ngasih saran? Apapun yang aku katakan pasti dia turuti," gumam Panji. Tatapannya sedikit melenceng dari wajah Citra. Memasukkan kakinya ke dalam selimut. Hangat mulai menjalar di tubuhnya. Semakin dia mendekat dengan Citra, terjadi sedikit sengatan listrik hingga membuatnya kembali menjauh. Dia menatap Citra heran. "Citra bisa nyetrum orang? Astaga!" detak jantungnya masih berpacu dua kali lebih cepat. Memutuskan untuk memberi guling di tengah-tengah mereka agar Panji tak kembali tersetrum. Dia menggeleng tidak mengerti kenapa bisa tersengat listrik seperti itu oleh hangat yang berbeda dari aroma Citra. Tak butuh waktu lama dia menyusul Citra di alam mimpi. ~~~ Rasanya malam berjalan begitu lambat hingga Citra terbangun sebelum matahari benar-benar bersinar di langit timur. Pukul empat dini hari dia mengerjap-ngerjap duduk dan bersandar di kepala ranjang. Menoleh ke samping sedikit terkejut ada Panji yang masih tidur memeluk guling. Citra tak ingat jika ada guling di sampingnya. Sedangkan guling yang satunya masih dia peluk. Tak minat jam dinding yang menunjukkan pukul empat pagi, Citra memukul Panji dengan guling sampai Panji terjingkat bangun memasang ekspresi kaget. Citra tertawa terbahak-bahak dan Panji masih setia dengan kagetnya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN