Nasib baik siang pukul dua sudah bebas dari pekerjaan. Pulang ke rumah langsung rebahan tanpa cuci tangan dan muka. Pemilik rumah tidak ada. Citra bisa tidur bebas sejenak. Sampai kapan pegalnya akan hilang. Kenapa Surabaya-Malang begitu menyiksa? Apa karena pikiran Citra yang masih gelisah? Citra rasa memang itulah jawabannya.
Jarum jam terus bergerak. Tidak ada mimpi yang menyertai. Gadis itu bangun dengan sendirinya di pukul empat sore. Masih tak mendapati Panji di rumah. Selepas mandi langsung menuju dapur. Melihat apa yang bisa dia masak. Tidak ada daging, hanya beberapa sayuran dan bumbu dapur saja. Citra menanak nasi terlebih dahulu. Airnya mengepulkan asap yang begitu harum karena diberi daun pandan. Selagi menunggu nasi matang, Citra melihat kembali isi kulkas. Mengambil kangkung sisa kemarin dan tiga sosis rasa ayam. Dia potong-potong sedemikian rupa lalu dicampur dengan beberapa irisan bawang, cabai, dan tomat. Wajan berukuran sedang sudah siap dengan minyak panas. Dia menumisnya menjadi satu dengan taburan garam dan penyedap rasa membuat sensasi tumis kangkung menjadi berbeda.
Aromanya begitu menggugah selera. Sosis ayam menjadi potongan kecil membuat tangan tak kuasa mencomotnya. Dia mencecap cita rasa yang tersisa di lidahnya.
"Pas!" serunya sempurna.
Satu bakul nasi dan sepiring tumis kangkung sosis siap dihidangkan. Perutnya berbunyi minta makan. Citra mengelus perutnya, tetapi lidah tak berselera makan. Tiba-tiba terpikirkan Panji yang entah ada di mana.
"Tuh orang udah makan belum, ya?" gumamnya sambil duduk di meja makan. Menutup makanannya dengan tudung saji. Melamun beberapa detik, lalu pergi ke kamar mengambil handphone.
Tidak ada notifikasi apapun bahkan dari aplikasi chat. Biasanya teman-temannya akan bertanya dan bergosip ini-itu, tetapi kali ini sepi. Melihat aplikasi menggambar juga menjadi tak berselera.
"Ck, Panji ke mana, sih?" membanting handphone-nya ke kasur.
Duduk di tepi ranjang, menyangga kepala sambil mengerucutkan bibirnya. Sedetik kemudian ada sebuah panggilan membuat handphone-nya berdering. Citra segera mengangkatnya. Terdengar suara sapaan Panji di seberang sana. Seketika dia berdiri senang.
"Halo? Panji, kamu di mana? Pulang-pulang udah ngilang aja kamu," cerca Citra walau sedikit senyum tersemat di wajahnya.
"Cit, jangan banyak nanya. Buruan ke kampus. Indra dikeroyok para dosen dengan tuduhan palsu. Bantuin dia di...," belum sempat Panji selesai mengutarakan maksudnya, Citra sudah memutuskan panggilan sepihak.
Segera mengganti pakaian dan meluncur ke kampus. Sementara masih memakai jasa ojek online. Indra sudah kembali, tetapi motor Citra mungkin masih ada bersamanya. Setibanya di kampus langsung menuju ruang dosen tempat Indra bekerja. Tepat di luar sana ada Panji yang sedang menghalangi seseorang yang tidak lain adalah kaprodi di fakultas tempat Indra mengajar. Citra segera berlari menghampiri Panji.
"Panji! Mana Indra?" tanyanya tak menunggu napasnya teratur.
"Ada di dalam. Kamu tunggu sini, jagain orang licik ini. Kalau sampai kabur, kamu yang harus tanggung jawab." Panji menarik Citra untuk menggantikan posisinya. Kemudian dia masuk ke ruangan yang seharusnya tidak boleh dia masuki. Orang asing ikut campur dengan urusan pekerjaan orang lain terutama di lingkungan akademik, sangat tidak pantas untuk Panji. Namun, kekeliruan ini juga karena dirinya.
Citra bingung menatap Panji lalu berganti pada kaprodi yang sangat santai berdiri di sebelahnya. "Apa yang terjadi?"
"Siapa kau?" tanya kaprodi itu.
"Teman pak Indra sekaligus mahasiswa lulusan dari universitas ini. Mohon katakan yang jelas apa yang terjadi? Kenapa teman saya diserbu dengan berbagai tuntutan di sana?" menunjuk pintu ruang dosen tak santai.
Kaprodi itu menghela napas panjang nampak sangat tenang dan biasa saja jika Indra mengalami kesulitan. "Dia yang berbuat pasti akan menuainya. Siapa yang menyangka jika pak Indra dosen yang terkenal pintar dan bijak bisa berbuat senekat itu. Sudah kabur dua hari dari tugas mengajar, memberi alasan tak masuk akal kalau dijebak mengikuti seminar. Padahal bukti suratnya palsu. Pihak seminar juga tidak mengakui nama pak Indra tercantum sebagai pemateri di sana. Lalu, tadi siang tiba-tiba datang menyerahkan file surat pengunduran diri. Kemudian dia pergi mengajar untuk terakhir kalinya. Saya sudah menegurnya dan bertanya alasannya, tetapi pak Indra tidak menjawab. Lalu, saya teruskan kepada pihak lembaga ternyata surat itu berubah menjadi nama saya. Otomatis saya tak terima. Ternyata hal itu sudah diurus oleh lembaga tinggal menunggu persetujuan rektor. Saya marah, langsung mengecam pak Indra untuk dikeluarkan dari universitas. Perilakunya tidak baik, tidak ada dasar apapun tiba-tiba menjebak saya. Untung saja surat itu berhasil saya cegah untuk sampai di tangan rektor. Saya sudah mengadukan semua keburukan oak indra. Dia pasti dapat balasan yang setimpal. Sebelumnya juga ada tuduhan jika dia bersikap tidak wajar saat mengajar. Penilaiannya juga diragukan. Namun, pak Indra mengelak jika dia telah di adu domba dan ternyata berhasil membuktikannya. Sekarang terjadi kesalahan lagi. Entah siapa yang salah, yang jelas pak Indra sudah tercatat sebagai dosen yang buruk." napasnya turun-naik setelah menceritakan apa yang dia ketahui.
Citra terkejut dengan pernyataan kaprodi itu. Semua tuduhan itu palsu. Dia tau betul jika semua itu adalah ulah dari kaprodi sendiri. Dia sengaja menjebak Indra untuk kepentingannya sendiri.
'Benar-benar kaprodi yang keji. Tidak pantas menjabat di sini!' batin Citra.
Menggeleng tak terima, "Tuntutan yang anda berikan tak beralasan. Bagaimana bisa file pengunduran diri sampai ke lembaga sebelum pak Indra menyerahkan kepada anda? Itu tidak sopan bukan? Padahal dia baru saja kembali dari Malang. Itu pun tidak tahu siapa yang mempermainkannya sampai melewatkan dua hari perkuliahan. Jika saya berhasil menemukan buktinya, jangan harap anda bisa lepas dari saya. Hanya orang bodoh yang berbuat curang." desis Citra tajam. Kaprodi itu langsung melotot kaget. Citra tersenyum miring. "Ck, anda membuatnya semakin jelas. Yang saya katakan benar. Jadi tunggu saja nanti."
Kaprodi itu melengos, wajahnya langsung panik. Citra tak memberinya kesempatan untuk lari. Semua ucapannya terbalik dengan mudah. Citra langsung bisa berpikir jika Indra semalaman telah mengaturnya sebelum dia menyerahkan file itu untuk menjahili kaprodi. Lalu, beberapa orang dari pihak seminar jauh-jauh datang dari Malang. Citra memicing melihat sorotan orang-orang itu dan kaprodi disampingnya. Mereka sedikit memberi kode lewat mata walaupun tidak berkedip sekalipun. Lirikan yang sangat jelas berbeda. Citra menyekap tangan kaprodi membuat orang itu kaget.
"Apa maksudmu?!"
"Jangan harap bisa masuk." desis Citra tajam. Kaprodi itu melengos sambil mencoba melepaskan tangannya dari Citra. Citra yakin jika dia mendumel dalam hati dan berkata nasibnya sedang sial. Tak tahu siapa yang sedang sial sekarang, hanya saja dia masih berpikir apa yang dilakukan Panji sampai rela masuk tanpa izin di ruangan itu. Jika semua Indra kerjakan sendirian, lalu apa tugas Panji?
Sore yang begitu panas. Sepanas ruang dosen sekarang. Kenapa ruang dosen kedap suara? Citra sangat menyayangkan hal itu karena tidak bisa mendengar percakapan mereka. Arloji di pergelangan tangan kiri menunjukkan pukul lima. Pintu ruangan akhirnya terbuka. Memunculkan semua orang yang ada di sana dengan raut wajah yang berbeda-beda termasuk Indra dan Panji. Beberapa orang dari lembaga bahkan rektor sendiri ikut datang. Lalu, perwakilan dari seminar dua hari kemarin.
Perlahan Citra melepaskan cekalannya, menatap mereka semua bingung setelah memberi salam. Mendadak kaprodi ditahan oleh pihak lembaga dan mereka mengatakan jika dia bersalah. Citra terbelalak bingung.
"Loh, kenapa, Pak? Saya nggak salah apa-apa!" kaprodi membela diri.
"Seluruh bukti awal merujuk pada anda. Termasuk kebenaran adu domba pak Indra adalah rencana anda. Lalu, tugas pengisi seminar dengan tanda tangan palsu saya juga karena ulah anda. Beliau hanya membalas perbuatan anda saja. Hanya sekadar bermain-main. Pak Indra sudah konfirmasi terlebih dahulu terhadap saya. Jadi, tidak ada alasan untuk menyanggahnya." jelas rektor dengan senyum hangat andalannya.
Bahkan Citra pun melotot. Kaprodi itu menggeleng tak mau mengakui kesalahannya. Namun, sekeras apapun dia meronta dan menolak, pihak lembaga tetap membawanya untuk diadili dengan bijak. Orang-orang perwakilan dari pihak seminar memberi salam pada Indra dan mereka berbincang sebentar. Citra rasa mereka sedang meminta maaf dan bicara baik-baik demi menjalin hubungan baik kedepannya. Dahinya sampai berkerut menatapnya. Panji asik tersenyum melirik sana-sini sampai tidak tahu mana yang harus dia lihat.
"Kok udah selesai gitu aja?" Citra menunjuk Indra yang sedang berjabat tangan dengan orang-orang itu.
Panji semakin tersenyum. Memasukkan tangannya ke saku celana dan memandang interaksi Indra. "Gimana kerjaku? Hebat, 'kan?"
Citra langsung menoleh, "Kok bisa? Emangnya apa yang kalian omongin? Kerjamu ngapain?"
Panji memukul dahi Citra pelan. "Dasar loading lama. Semua bukti itu siapa yang dapatin? Jelas-jelas aku pelakunya," ucapnya pelan.
"Apa? Gimana caranya?" Citra mengusap dahinya bekas dipukul Panji.
Panji menghela napas sebentar. "Yahh, intinya aku buat mereka yang ngadu domba Indra ngaku siapa orang yang nyuruh mereka ngelakuin itu. Terus aku paksa orang-orang itu buat jujur dengan sedikit ancaman kalau pekerjaan mereka akan hilang. Agak sulit, tapi aku buat ancaman itu jadi nyata. Surat pengunduran diri yang sama dengan nama yang berbeda buat mereka untuk instansi mereka sudah aku kirim sebelumnya. Saat mereka tahu langsung meminta maaf padaku dan mengaku jika dia bersekongkol dengan kaprodi. Kaprodi membayar mereka, jadi mereka mau. Haha, ini agak lucu. Padahal cuma sebuah surat pengunduran diri palsu tapi bisa buat semuanya mengaku. Lucu banget, haha!" jelas Panji terkekeh.
Citra menganga, "Oh, jadi gitu ceritanya. Kenapa nggak ngajak-ngajak?" memukul lengan Panji keras.
"Aduh! Sshh, ngapain ngajak kamu? Ntar malah nyusahin aja. Lagian kamu kerja tadi siang. Tuh, motormu di parkiran. Baik, 'kan, Indra? Kubalas, nih!" Panji mengangkat tangannya ingin memukul Citra.
Citra menutup mata rapat sambil menyilangkan tangan, "Aaaa, jangan-jangan! Nanti jadi KDRT!"
"Ha? Apa itu KDRT?" Panji mengernyit.
Citra membuka matanya lagi, "Itu singkatan dari kekerasan dalam rumah tangga, Payah!"
"Oh, udah tau," Panji berubah datar.
Citra menganga lagi. Memukuli lengan Panji kesal membuat Panji terkekeh walau mengaduh kesakitan. "Iiihhh, nyebelin! Nyebelin banget pakai pooollll! Kalau udah tau ngapain nanya?!"
"Haha, canda doang kali. Udah-udah, jangan pukul lagi. Tuh, kamu yang kekerasan, 'kan? Tanggung jawab! Pijitin ntar sampai rumah." Panji sedikit menjauhkan diri sambil menunjuk Citra.
Citra melengos angkuh. Lalu, menatap motornya yang terparkir bersama motor Panji, "Hehe, Indra baik dong! Kan kakak aku!" ekspresinya berubah sok manis.
"Cih! Beraninya sama Indra. Ngadunya sama Indra. Mintanya sama Indra. Curhat juga sama Indra. Nggak ada orang lain apa selain Indra?" sindir Panji sinis.
"Eh, trus aku mau sama siapa lagi? Sama kamu? Mimpi di siang bolong!" Citra menembak pelipisnya dengan telunjuk. Panji sungguh-sungguh menekan pelipis Citra dengan telunjuknya.
"Aaaaa, lepasin!" Citra sewot menepis telunjuk Panji.
"Ini nih otak harus diservis biar bener. Kayak nggak ada harganya banget aku di sini." decak Panji.
Citra mengelus pelipisnya sedikit kasar, "Oh, jadi pengen dihargain? Mau harga berapa? Lima ribu? Sepuluh ribu? Apa lima ratus perak aja?"
"Sshhh, bener-bener, ya, jadi orang! Awas aja ntar kalau di rumah! Aku sate kamu!" desis Panji menunjuk Citra kejam.
"Nggak takut! Weeekkk!!!" Citra menjulurkan lidahnya.
Mereka berdebat sampai tak sadar jika Indra sudah diam di depannya sedari tadi merekam dengan seksama. Sedangkan orang-orang dari luar kota itu sudah pergi entah sejak kapan.
"Saksikanlah pesona dan aura dari pasangan teraneh sepanjang mataku memandang Ini yang dinamakan cinta dalam bisnis. Eh, maksudnya cinta dalam ragam pertemanan, yang mulanya dari tetangga, menjadi teman, lalu jadi sahabat, sampai kini jadi pasangan sah. Uwahhh!!! Menggemparkan dunia! Mereka sedang beradu sangat sengit, Kawan! Iyaaaa, lanjutkan!" ucap Indra pada rekaman videonya.
Sontak Citra dan Panji menoleh berhenti saling melotot. Indra mendongak langsung mematikan siarannya, meringis pada mereka.
"Hehe, ternyata udahan, ya?" cengirnya lebar.
"Indraaaaa!!! Selamat udah keluar dari rencana jahat kaprodi tengik itu! Peluk-peluk!" Citra merentangkan tangannya heboh. Indra sudah ingin menyahutnya, tetapi tiba-tiba Citra mundur. "Eh-eh, kenapa, nih?"
Ternyata Panji menarik kerah belakang bajunya sampai Citra bisa mundur beberapa langkah. Indra terkekeh sembari menurunkan tangannya.
"Cieee, ada yang cemburu. Ada yang nggak terima. Ada yang telinganya merah, haha," goda Indra pada Panji.
"Sialan! Kupukul!" Panji mengepalkan tangan hendak melayangkannya untuk Indra.
"Eits, kalau marah berarti bener enggak terima. Citra, sini peluk dulu. Peluk yang erat!" Indra semakin gencar menggoda Panji. Merentangkan tangan lebar dan Citra begitu mudahnya menurut. Namun, lagi-lagi Panji menarik kerah Citra mundur ke belakang.
"Aduh, apa, sih, Panji? Jangan tarik-tarik, deh. Aku mau meluk Indra, bukan kamu!" sewot Citra.
Panji semakin melotot. Mendesis kesal merajuk tak mau melihat Citra, "Terserah! Aku mau pulang!" sungguhan melangkahkan kaki menuju motornya. Lalu, pergi dengan begitu cepat.
"Loh-loh, kok pulang? Panji, tunggu aku!" Citra terlambat untuk mencegah.
Indra melipat tangannya di d**a, "Hahh, sudah terlambat. Kamu, sih!"
"Aku cuma bercanda kali. Dia ngambek beneran? Emang ngambek perkara apa?" Citra menggaruk kepalanya.
"Ya dia nggak mau kamu acuhin lah. Ada dia suami sah kamu kenapa malah mau meluk aku? Ada-ada aja kamu." Indra terkekeh.
"Ha? Masa begitu? Aku meluk Rama dia biasa aja tuh." menatap langit-langit koridor mencoba mengingat kala dia memeluk Rama ketika Rama datang.
"Mana ada dia biasa aja? Tangannya udah kayak es kepal dua-duanya. Meja sekali pukul bisa hancur paling," sanggah Indra.
"Masa sih? Nggak percaya! Dia rese ngeselin begitu. Ah, biarin lah. Yang jelas masalahmu udah kelar sekarang. Nggak ada yang nyalahin kamu lagi. Lain kali kalau ad apa-apa kabar-kabar dong. Biar kita-kita bisa ikut bantu. Nah, sekarang Rama nih yang nggak ada kabar. Sok sibuk banget dia, haha." ekspresi Citra berubah lagi.
Indra ikut terkekeh, "Iya-iya, yaudah susul Panji sana. Ini udah mau petang. Aku juga udah ditunggu istri di rumah. Kangen banget manja-manjaan sama dia!" membayangkan betapa manisnya kisah cinta mereka.
Citra bergidik, "Hiii, geli! Kalau gitu aku duluan, ya. Ngomong-ngomong, makasih buat motornya. Baik, deh!" melambaikan tangan menuju motor. Indra hanya mengangguk sambil membalas lambaian tangan Citra.
Dalam hitungan detik dia sudah berbaur bersama kendaraan lain di jalan raya. Kenapa jarum jam bergerak cepat sore ini. Sudah pukul lima sore dan rasanya Citra ingin mandi lagi. Setibanya di rumah dia masih tak melihat Panji. Berteriak sana-sini dari pintu depan sampai belakang tetap tak menemukan Panji. Hanya motornya saja yang sudah terparkir di garasi.
"Mana, sih, tuh orang? Ngilang mulu perasaan!" menggerutu sambil masuk kamar mandi.
Tidak tahu jika Panji berada di gudang memilah beberapa barang yang ada. Dia ingin mencari gitar lamanya. Gitar yang sering menemaninya semasa sekolah. Seingatnya dia simpan di samping lemari bersama tumpukan kain dan kardus. Cukup berdebu membuatnya sedikit terbatuk. Kakinya menyenggol sebuah kardus di dekat tumpukan kain dan karpet. Panji membuka tumpukan itu dan ternyata gitarnya tersembunyi di sana. Senyum lega tersinggung. Gitar cokelat itu diambil dan ditiup-tiup sampai sedikit debunya hilang. Panji segera keluar dari gudang dan mencari kain lap untuk membersihkan gitar kesayangannya.
Lain dengan Citra yang sudah selesai mandi. Dia kedinginan sambil mengganti baju. Kaos lengan pendek yang kebesaran dan celana kain sampai mata kaki. Rambutnya dibiarkan terurai, tanpa pulasan make up seperti biasanya, lanjut mencari Panji untuk mengajaknya makan. Dia menuju ruang makan yang masih terdapat tudung saji di meja makan. Citra membuka tudung saji itu. Sangat disayangkan makanannya dingin. Tumis kangkung sosis yang belum dia santap tak hangat lagi membuatnya sedih. Segera memanasi tumisan itu walau nanti rasanya tak akan sama.
"Panji! Kamu di mana, sih? Ayo makan bareng! Aku lapar nih dari pagi!" teriak Citra sambil menumis.
"Iya!" barulah ada sahutan dari Panji.
Citra menoleh ke pintu dapur. "Kok suaranya kayak dari halaman belakang? Ngapain dia di sana? Perasaan tadi nggak ada," herannya.
Ingin cepat-cepat menuntaskan masakannya agar bisa melihat apa yang dilakukan Panji di belakang rumah. Dia membawa satu bakul nasi dan sepiring tumis kangkung lalu dua oiring dan sendok sekalian. Makan berdua di halaman belakang pasti menyenangkan. Namun, bukan itu yang Citra pikirkan. Dia pikir Panji tak akan makan jika hanya menjawab iya saja. Jadi dia berinisiatif membawa semua makanannya sekalian. Memaksa Panji untuk makan bersama.
Petikan senar gitar terdengar merdu sebelum Citra membuka engsel pintu. Dia heran sekaligus kualahan membuka pintu karena kedua tangannya penuh. Berusaha sekuat tenaga untuk menggaoai engsel-nya dan kemudian berhasil. Senyumnya menjadi melongo menyaksikan punggung dan kepala menunduk di depannya yang asik memainkan nada di senar gitar.