21. Kue dan Lelah

2663 Kata
Semak-semak rasanya begitu menyiksa. Ternyata taman hotel tidak menyenangkan seperti taman kunang-kunang. Dirinya dibuat kesal semenjak mengikuti Panji di sana. Perempuan itu justru memberikan sesuatu pada Panji. Sebuah kotak yang dihias dengan pita dan Panji menerimanya dengan senang hati. Tidak melebih-lebihkan, tetapi memang itu yang terjadi. Lalu, mereka dengan mudahnya berbincang mesra membuat mata Citra semakin berkobar api yang mampu menghilangkan rasa dinginnya secara mendadak. Citra sembunyi di balik pohon sekarang. Tangannya meremas-remas kulit pohon itu, tetapi kesulitan. 'Dasar dua-duanya nggak punya muka! Pacaran di sini, udah malam lagi. Kenapa taman hotel juga kebetulan sepi, sih? Biasanya kalau dua-duaan gitu yang ketiga setan! Loh, berarti aku dong setannya?' pikir Citra. Berdecak berkali-kali melihat pemandangan indah di depannya. Berpikir apakah hari ini hari ulang tahun Panji? Kenapa kanji diberi hadiah? Ternyata bukan. Citra mendengar percakapan mereka dengan jelas. Dia menguping dengan sungguh-sungguh. "Aku dengar kamu mau terima karyawan paruh waktu. Itu benar?" ucap perempuan itu. "Iya, tapi tidak ada yang melamar sampai sekarang. Mungkin aku harus mencari sendiri. Besok fajar aku akan langsung kembali ke Surabaya," jawab Panji masih dengan senyumannya. 'Ck, dasar sok manis!' gerutu Citra mengomentari Panji dalam hati. "Benarkah? Kenapa buru-buru? Aku masih ingin bicara banyak denganmu," Rajuk perempuan itu. Sudut bibir Citra berkedut, "Ih, geli banget dengernya. Kok kayak ngerayu gitu, sih?" gumamnya. "Masih ada urusan di sana, jadi terpaksa harus berangkat pagi. Kamu sendiri gimana progres perizinannya? Sampai ngasih hadiah pasti lancar, 'kan? Harusnya nggak perlu repot-repot ngasih hadiah," ucap Panji. "Ah, bukan apa-apa. Itu cuma beberapa kue kecil di restoran. Baru buka beberapa hari ini. Berkat kamu semuanya berjalan lancar. Tidak harus apa kalau aku tidak bertemu sama kamu. Mungkin usahaku akan sia-sia." perempuan itu menggeleng sok sedih mengingat masa lalu. "Perjuangan yang besar tidak akan mengkhianati hasil. Aku hanya membantu sedikit saja. Kau memang sangat bermasalah dengan modifikasi dapur." Panji mengangguk-angguk sedikit mengejek. Perempuan itu tergelak, "Ahaha, itu benar. Sekarang sudah tidak lagi. Aku mendapat izin dagang dan restoranku penuh remaja sekarang. Terima kasih banyak, Panji. Lain kali jika ada waktu aku akan mengunjungimu. Boleh, 'kan?" "Tentu saja boleh," jawab Panji dengan senang hati. Citra menganga, "Oh, ternyata tuh cewek juga buat restoran terus Panji pernah bantuin. Huh, kirain apaan. Panji kayaknya seneng banget deket dia. Kalau sama aku kenapa nggak gitu ekspresinya?" gumamnya lagi. Mereka bicara apa saja yang bisa diperbincangkan lebih lama. Hingga akhirnya perempuan itu pamit karena sadar telah mengganggu waktu istirahat Panji. 'Kenapa nggak dari tadi aja perginya? Pegel nih nguping di sini!' kesal Citra dalam hati. Perempuan itu pergi melambaikan tangannya dan dibalas Panji tanpa ragu. Citra mengibaskan tangannya mengusir perempuan itu. Terlihat Panji menghela napas dalam dan membawa kotak berpita tersebut dan dibawanya pergi meninggalkan taman. Citra masih diam memandangi punggung Panji. Setelah dirasa cukup jauh, Citra mulai mengejarnya. "Akhirnya selesai juga ngobrolnya. Ini yang Panji bilang sebentar? Terus lamanya yang modelan kayak apa?" menggerutu seiring berjalan. Kamar hotel mereka sepi. Ketika Panji membuka pintu tidak ada Citra di dalamnya membuatnya kebingungan. Dia langsung berteriak. "Citra?!" tanpa menaruh kotak hadiahnya Panji berbalik hendak keluar kamar. "Apa?" Panji mendelik tak jadi melangkahkan kaki. Citra sudah ada di hadapannya dengan tatapan malas. "Kamu kok ada di luar? Habis dari mana? Ngapain aja ini udah larut banget," cerca Panji. Ada nada khawatir di dalamnya. Citra pura-pura menguap, "Hoaamm, aku ngantuk banget. Habis keliling dari kamar ke kamar tadi. Siapa tau ada hantu yang lewat ganggu suami orang tengah malam. Minggir, ah, aku mau tidur." mendorong lengan Panji agar menepi. Tanpa pikir panjang langsung merebahkan dirinya di ranjang. Panji melongo. "Sikap macam apaan itu? Kamu mandi dulu sana. Bau angin malam!" menutup pintu pelan. Citra melirik Panji. 'Nggak ada marah-marahnya sama sekali. Biasa aja tuh ekspresinya,' batinnya. Melirik Panji yang duduk di lantai sambil membuka kotak hadiahnya. Citra segera turun ikut duduk membuat Panji mendelik. "Dari siapa tuh?" pandangan Citra hanya pada kotak itu. Panji tersenyum, "Ada, deh, pengagum rahasia, haha. Kamu nggak punya, 'kan?" Citra mendelik, "Ih, ngada-ngada. Jujur dari siapa hayo! Cewek, ya?" tuntutnya menunjuk hidung Panji. "Kok tau? Iya, ini habis dikasih sama cewek cantik. Kita lihat isinya apaan. Sshh, jarang-jarang aku dikasih hadiah kecil sama cewek. Biasanya cuma dikasih omelan mulu." dengan senang hati Panji membuka kotak itu sambil sedikit melirik Citra. "Kamu nyindir aku, ya?" tiba-tiba Citra sewot. 'Kok pas gitu ada hadiah. Padahal aku juga mau ngasih dia hadiah kecil-kecilan. Ucapan selamat datang gitu di rumah buat besok. Eh, malah keduluan sama cewek asing,' Citra mendumel dalam hati. Ketika kotak itu dibuka, baik Citra maupun Panji sama-sama melebarkan matanya. "Wah, ada cup cake, Cit. Lucu-lucu banget warna-warni. Ada potongan kue juga. Eh, ini rasa green tea sama kopi kesukaan kamu. Kalau mau ambil aja. Nggak mau yaudah biar aku makan semuanya." segera memutar badan memunggungi Citra yang bahkan belum sempat menjawab. Baru saja mulutnya terbuka ingin berkomentar. "Aku belum jawab loh, Panji. Niat nawarin nggak sih?" Citra membalikkan badan Panji ingin melihat kue-kue itu lagi. Panji sudah asik memakan satu cup cake rasa stroberi. "Emm, manisnya!" ekspresi yang dibuat-buat. Citra menganga, "Iihh, bagi dong! Katanya mau ngasih? Pelit banget sih?!" Citra masih mencoba memutar badan Panji agar menghadapnya. Meskipun Panji sudah menghadapnya, tetapi dia menyembunyikan kotak kue itu di belakang tubuhnya. Alhasil Citra merayap-rayap mencoba meraih kue itu, tetapi terhalang oleh lengan Panji. Dengan mudahnya juga Panji masih makan cup cake sambil menahan senyum. "Panji! Jangan pelit-pelit dong jadi orang! Huh, yaudah kalau nggak niat ngasih nggak usah nawarin! Makan semuanya sampai habis biar perutmu buncit sampai besok nggak kempes-kempes! Aku tidur duluan!" kesal Citra langsung naik ke ranjang dan melepas jaket Panji lalu melemparnya ke kepala Panji. "Aduh! Sakit tau! Ntar kena kue-nya gimana? Dari cewek cantik, nih!" Panji sengaja menunjukkan kue di tangannya. "Bodo amat!" sewot Citra semakin menjadi. Membungkus dirinya dengan selimut. Tak mau tahu lagi apa yang akan Panji lakukan dengan semua kue kecil itu. Panji terkekeh, menutup kotak kue dan minum dari sebotol air mineral milik hotel yang tersedia di meja kamarnya. Mencecap sedikit rasa cup cake yang tertinggal lalu mendekati ranjang untuk mengambil bantal. "Jangan mendekat!" mendadak Citra berteriak. Panji mendelik setelah berhasil mengambil bantalnya. "Apaan, sih? Aku cuma mau ngambil bantal," ujarnya. Citra memiringkan tubuhnya memunggungi Panji. Seketika Panji terkekeh, "Kamu tidur baik-baik, ya. Jangan mimpiin aku, nanti bangun terlambat aku tinggal pulang." Citra tak bergeming. Panji masih tersenyum, kemudian merebahkan dirinya di lantai dengan bantal sebagai tumpuan kepala. "Aduhh, nyamannya!" desahnya. Menatap Citra yang tak bergerak sedikitpun. "Citra, kamu belum tidur, 'kan?" Citra masih tak menjawab. "Ck, tumbenan diam. Biasanya cerewet ngalahin ibu-ibu tetangga samping rumah pas." Panji kembali menatap langit-langit kamar. Dia menghela napas panjang lagi tanpa melepaskan senyumnya. "Kamu tadi ikut ke taman bawah, ya?" ucapnya lebih pelan dari sebelumnya. Citra langsung membuka mata terkejut. "Kenapa? Kepo?" sambung Panji. Lampu kamar hotel memang menyala terang. Sedikit silau di mata Panji saat melihat cahayanya terpantul ke langit-langit. Citra mengerjap dua kali bingung ingin berkata apa. 'Kok Panji bisa tau, sih? Jangan-jangan dia udah tau sejak aku ngikutin dia. Aaaahhh, malunyaaaa!!!' pikir Citra. "Kenapa diam?" Panji kembali bersuara. Citra menggigit bibir bawahnya tidak tahu harus bicara atau membalik badan menatap Panji. Namun, dia memutuskan untuk menentang dan membuka selimut yang menutupi wajahnya. Melirik Panji yang tak menatapnya sekalipun. "Eemm, aku... Aku cuma... Cuma pengen tau aja kamu ke mana malam-malam begini. Padahal niatnya cuma pengen ketemu sama Indra. Tiba-tiba ada urusan, 'kan jadinya aneh," Citra pun bersuara sedikit lirih. Senyum Panji semakin melebar, "Kamu mulai merhatiin aku, ya?" "Eh, mana ada? Nggak gitu, ya." Citra memekik. "Hahaha, canda, Citra." Panji sedikit tergelak. 'Ck, Panji kenapa coba begitu? Kesurupan hantu taman?' pikir Citra. "Yaudah balik tidur lagi sana. Udah mau tengah malam," suruh Panji membuat Citra mengerjap. "Eee, kamu tidur di atas aja, kita berbagi. Biasanya juga gimana? Jangan di bawah nanti punggungmu bisa sakit semua," sedikit menahan gengsi mengatakan hal itu. 'Aduh, Citra. Santai aja dong dadanya. Jangan jedag-jedug tanpa sebab. Kalau malam seranjang sama dia juga biasa aja, tuh,' batinnya mulai bingung. Panji menoleh bertemu pandang dengan Citra. Tanpa menjawab segera pindah ke ranjang dan memasukkan kakinya ke dalam selimut. Citra otomatis geser agar tidak bersentuhan dengan Panji. "Dah, yuk tidur!" Panji menutup mata setelah berbaring. Citra yang masih duduk pun ikut berbaring. Dia menggenggam ujung selimutnya sambil menekuk bibirnya ke dalam. Karena Panji tak bergeming, napasnya teratur, tangannya sudah dirasa lemas, Citra baru bisa mendesah panjang sambil mengelus d**a. "Akhirnya dia tidur juga. Ck, harunya nggak usah ngikutin dia tadi. Ketahuan jadi malu, 'kan?" kesahnya memukul selimut pelan. Memegang d**a yang sudah tak bergemuruh, tetapi masih tersimpan sedikit gelisah seperti saat dia merenung di pinggir jalan. "Panji, perasaanku nggak enak, ya? Kenapa aku selalu mikirin kamu sejak tadi?" menatap Panji tak berani bicara keras. Semkin jelas jika Panji benar-benar sudah tidur membuat Citra tenang dan imut menutup mata. Biarkan jam demi jam berlalu. Biarkan satu selimut satu ranjang menjadi hangat di AC yang bertemperatur dingin. Biarkan juga kamar luas nan mahal ini dipakai dalam semalam. Siapa tahu kunang-kunang datang dalam mimpi mereka. Lalu, mereka tenggelam dalam mimpi yang diam di tengah kunang-kunang. Bertemu pandang adalah suatu hal yang menyenangkan bagi keduanya sekarang. Seakan euforia adalah miliknya. Kemudian alarm handphone dari keduanya berbunyi membangunkan mereka secara serentak. Merusak mimpi yang tenang itu. Sontak mereka duduk terjingkat dan mencari handphone masing-masing untuk mematikan alarm. Kompak keduanya menghela napas panjang. Kini saat yang ditunggu-tunggu, netra mereka saling bertemu dan diam menguasai segalanya. ~~~ Hawa dingin yang berbeda dari tadi malam. Pagi pukul lima dini hari matahari masih malu-malu muncul di ufuk timur, motor Panji sudah melaju bebas di jalan raya seperti cheetah mengejar mangsa. Sangat cepat meliak-liuk menyalip kendaraan lainnya. Citra tak kuat untuk membuka matanya. Dia berpegangan erat di pinggang Panji. Jika jalanan beraspal ada yang sedikit rusak dan Panji melewatinya pasti dia akan sedikit melompat dan menarik pakaian Panji sampai robek. Lelah sudah mengingatkan Panji untuk sedikit memelankan laju motornya, sayangnya tidak dipedulikan sang pengendara. "Panji sialan! Awas aja kalau sampai rumah, aku bakal muntah di baju kamu!" Citra berseru pun Panji tak dengar. Dia hanya terus menggerutu di dalam hati sambil memegang erat kaos Panji karena jaket Panji kembali dia kenakan. Bukan karena ingin, tetapi paksaan dari Panji. Perhatian laki-laki itu sungguh berlebihan. Indra masih sibuk dengan tugasnya. Namun, dia sudah merencanakan sesuatu untuk orang yang mengadu domba dan mempermainkan dirinya. Tentu saja, kali ini dengan bantuan Panji. Secepat mungkin Panji ingin tiba di Surabaya untuk mengatur semua rencananya dengan Indra di kampus. Jadi biarkan Citra yang menanggung pusingnya ngebut yang sungguhan di jalanan bersama suami tergilanya. Pukul setengah delapan pagi mereka berhasil melewati jalan penghubung antar dua kota. Leganya setelah motor terparkir di rumah. Keduanya ambruk di kursi sofa sampai luruh. Alhasil selonjoran sampai tertiban bantal sofa. "Akhirnya sampai juga di rumah. Rumaaahhh, aku rindu rumah! Umuach!" Citra merentangkan tangan lalu mencium ubin yang berdebu. Panji meringis seiring mengatur napasnya, "Kamu ngapain nyium ubin? Nyium aku nggak mau?" Citra langsung melotot, "Eh, ubin lebih menawan daripada kamu!" Panji berdecak memutar bola matanya malas. "Aku dulu yang mandi apa kamu?" Citra masih ngos-ngosan, "Kamu aja, deh. Aku masih capek. Tapi jangan lama-lama, ya." "Tinggal duduk doang cape? Aku yang nyetir lebih capek. Nanti sore pokoknya pijitin kalau enggak bulan ini nggak aku kasih uang buat isi kulkas!" melototi Citra sambil berdiri. "Ih, ntar dibilang nggak tanggung jawab jadi suami baru tau. Terus ibu marah-marah," balas Citra tak kalah melotot. Mereka masih saling pelototan sampai Panji masuk ke kamar mandi. Citra berdecak melihat seisi rumah berdebu. Tidak disapu satu hari saja sudah banyak debu. Citra melepas jaket dan tas-nya lalu mencari sapu dan semua alat kebersihan. Selesai membersihkan seisi rumah yang menghabiskan waktu setengah jam, selesai pula Panji bersemedi di kamar mandi. "Astaga, Panji Sasena! Kamu mandi atau nguras kamar mandi? Niat banget sampai tiga puluh detik!" cerca Citra di ambang pintu dapur masih memegang sapu. Dia bisa melihat jelas Panji yang keluar dengan celana panjang saja. Rambutnya basah dan handuk kecil tersampir di pundak. Citra menggeleng tak kuasa. "Hehe, airnya seger banget, Cit! Berendam air dingin enaknya minta ampun. Dah, ya, habis ini aku mau tidur. Kamu kalau berangkat kerja silahkan aja. Beli sarapan sendiri, ya. Oke sip, anak baik!" Panji mengacungkan jempolnya lalu melenggang ke kamar. Citra menganga, "Woy, aku belum jawab, woy!" lagi-lagi dia tak diberi kesempatan menjawab. Kesal sudah bercampur penat hanya bisa menghentak-hentakkan kakinya dan membuang sapu ke sudut dapur. Dia langsung mandi dengan segera. Masih ada waktu untuk menuju pukul sembilan. Setidaknya dia bisa merenggangkan otot-ototnya sebentar. Masuk kamar melihat Panji tidur terlentang, kaki terbuka lebar, dan wajah tertutup bantal membuatnya mendesah lelah. "Iya, sih, emang melelahkan. Padahal di Malang asik. Kapan-kapan nginep di hotel lagi terus main ke taman kunang-kunang," gumamnya. Bibirnya melengkung membentuk senyuman manis. Bedak bayi selalu tertabur rata di wajah, tanpa polesan make up apapun lagi. Hanya pelembab bibir yang menjadi pelengkapnya. Setelah selesai merenggangkan otot, Citra pamit pergi ke kantor walaupun Panji tak akan dengar. Dia langsung berbaur dengan kendaraan lainnya dengan naik ojek online. Motornya akan dibawa Indra pulang jika Indra sudah selesai dengan masalahnya. Setelah tiba di kantor, semua temannya sudah menempati kubikel masing-masing. Kalisa dan Nuri melambaikan tangan pada Citra memberi ucapan selamat pagi. Wajah lesu Citra masih terlihat jelas, tetapi dia berusaha nampak segar. "Hei, hei, hei, yang nggak paham cinta udah datang! Senyumnya mana coba?" Kalisa centil. Citra menunjukkan deretan giginya. Cekrekk!!! Kalisa memotretnya, "Hahaha, bagus-bagus! Pakai pasta gigi apa kok bisa kinclong begini?" Citra justru cemberut, "Ah tau deh. Aku lemeeesss banget." Citra merosot di kursinya. "Lemes kenapa?" tanya Nuri yang ikut nimbrung. Citra menoleh, "Eh, udah nggak sensi lagi kayak kemarin? Yang kemarin ojngsan gimana tuh? Udah baikan?" berganti melirik teman laki-lakinya yang playboy dan diganggu Nuri kemarin. "Hmm, jangan nanya sama dia, Cit. Bahaya! Ganas!" ujar laki-laki itu yang fokus ke layar komputer. Citra terkekeh. "Halah, lebay! Cuma gitu doang kok alay! Aku, 'kan udah minta maaf." Nuri melengos. "Kalah minta maaf nggak dimaafin aku bantu ninju dia lagi, Nur. Gimana?" Citra menaikkan alisnya sambil membuat gerakan meninju. Laki-laki itu langsung menggeleng dan menyilangkan tangannya. Seketika Citra dan Nuri tertawa. "Aku itu habis dari Malang sama Panji. Baru balik tadi pagi. Rasanya, beeuuhhh! Rontok sekujur tulang!" ujar Citra dibuat-buat. "Apa?! Dari Malang? Yang bener? Ngapain? Pacaran, ya?" Kalisa heboh. "Satu malam doang? Mana kerasa?" Nuri menambahi. Sorot matanya teduh sekali. Membuat Kalisa dan Citra menoleh jengkel. "Hei, apanya yang kerasa?" Kalisa bertanya datar. "Hehe, ya itu. Katanya pacaran. Cuma sebentar di kota sebelah mana kerasa gitu." Nuri menautkan jari-jarinya. Citra menepuk dahi keras, "Bukan pacaran, payah! Cuma main doang nemuin temen. Pokoknya hari ini aku males banget. Moga aja kerjaan nggak numpuk. Apalagi pulangnya terlaku sore." mulai membuka laptop dan beberapa laporan keuangan sisa kemarin. "Yah, kayaknya keberuntungan lagi berpihak sama kamu. Nggak ada pengeluaran yang banyak kemarin dan hari ini kamu cuma buat laporan seperti biasanya. Paling jam dua udah pulang. Kalau kamu kerjanya cepet nggak usah istirahat," jawab Kalisa yang juga kembali sibuk dengan pekerjaannya. Citra mengangguk-angguk. "Enak banget jadi Panji. Pemilik restoran mah bebas mau kerja apa enggak. Sekarang molor sampai sore pun nggak ada yang ngelarang di rumah. Mentang-mentang bos dia!" gumam Citra. "Suamimu nggak kerja? Wah, hebat!" salut Nuri. Citra menoleh dan tersenyum remeh, "Hebat dari mana? Biasa aja!" "Namanya bos juga terserah dong mau kerja kapan aja. Toh untung-rugi dia yang nanggung. Kalau aku pikir-pikir... Perekonomian kalian cukup baik bahkan sangat baik. Kamu kerja sedangkan Panji bos besar usaha restoran. Hmm, kombinasi yang pas!" Nuri berangan-angan memandang langit-langit kantor. Sudut bibir Citra berkedut, "Haha, kombinasi. Nggak sekalian komplikasi gitu? Kayak penyakit aja! Udah, ah, jangan bahas dia. Bikin ngeri." bergidik singkat. "Kenapa ngeri? Hayooo, pasti terjadi sesuatu, 'kan kemarin malam? Ah, aduhai banget pasti!" Kalisa menjentikkan jarinya. Nuri ikut mengangguk semangat. Citra semakin pusing. "Aduh, udah dong jangan ngajak aku ngobrol lagi. Makin lemes, nih," sahutnya. Menutup telinga dengan kedua tangan tak mau mendengarkan mereka lagi. Fokus bekerja agak bisa pulang cepat. Kalisa dan Nuri tak mau ambil pusing. Mereka juga fokus pada pekerjaan masing-masing. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN