20. Kamar Hotel

2526 Kata
Ada sesuatu di lampu merah. Euforia gelap bertabur kerlip lampu yang terang benderang bak bintang berjatuhan. Redup seredup-redupnya hanya di tatapan satu orang. Mereka saling terpana. Tidak bisa mengalihkan pandangan atau mendengar suara klakson yang menyuruhnya berjalan. Lampu hijau sudah menyala. Teriakan orang-orang juga ikut serta. Seketika mereka tersadar. Menatap sekeliling bingung lalu sadar jika lampu sudah hijau. Beberapa kendaraan melintasinya begitu saja. Ada juga yang masih menunggu mereka pergi sambil marah. "Maaf-maaf," ujar Panji sopan. Citra meringis sambil menangkupkan tangan pada semua orang di belakangnya. Segera mereka kembali melaju di jalanan sebelum waktu lampu hijau berakhir dan berganti warna. 'Huft, hampir aja. Tadi itu apa?' batin Citra. Gemuruh di d**a kembali melanda. Melirik Panji yang juga kebetulan sedang mencuri-curi pandang darinya. Citra tersentak segera beralih ke hadapan lagi. 'Astaga, dia ngapain juga lihatin aku, sih? Jalan raya, Citra. Fokus ke jalanan aja. Bahaya ntar kalau mata lirik sana lirik sini,' Citra bicara dalam hati lagi. Fokusnya terpecahkan karena ternyata Panji membawanya belok ke sebuah hotel. Meskipun Citra bertanya-tanya, dia tetap mengikuti Panji sampai masuk dan menuju restoran hotel. Cukup ramai di malam yang mulai semakin dingin. Dia tak mengantuk juga tidak merasa kedinginan lagi. Apa karena jaket Panji? Kakinya berhenti di sebuah meja yang hanya ada dua cangkir kopi, sebuah laptop yang menyala, tapi tidak ada orang. "Mana Indra?" Panji celingukan. "Oh, kalian tadi ngobrol di sini?" Citra ikut celingukan. "Iya, terus dia ke mana?" Panji terus mengedarkan pandangan. "Hei, hei, ciee yang lagi berduaan. Nungguin, ya?" Citra dan Panji kaget karena pundaknya ditepuk dari belakang. Kompak menoleh dan ternyata Indra sedang meringis di sana. "Ah, ngagetin aja! Dari mana, sih?" sewot Citra walau tersenyum. "Toilet bentar. Duduk, Cit. Mau pesan apa? Hari ini biar aku yang bayar. Emm, satu porsi aja, ya." tawar Indra sambil duduk. Citra dan Panji juga mendaratkan pantatnya di kursi kayu penuh estetika. Harganya lumayan mahal. "Yah, kalau gitu nggak usah, deh. Aku nggak haus, nggak lapar, nggak ngantuk, bingung mau ngapain, hehe." Citra menunjukkan dua jarinya. "Kenapa nggak nafsu makan? Lagi diet? Jangan, nanti kamu tambah kecil." Indra menyeruput kopinya. Panji melihat kopi Indra dengan teliti. Ada asap yang mengepul di sana. "Kok masih panas?" mengingat berapa lamanya dia pergi mencari Citra hingga kembali pasti kopi itu sudah dingin seperti miliknya yang tinggal setengah. "Hehe, aku pesan lagi. Mau?" Indra menyodorkan kopinya. Panji bergidik, "Nggak bisa tidur baru tau rasa." Citra hanya tersenyum menatap mereka. "Indra, kamu ke sini istrimu tau nggak?" "Tau, lah," jawab Indra santai. Dia mulai asik dengan laptopnya. "Kenapa nggak diajak?" Citra meneleng. "Dia nggak mau ganggu aku kerja katanya. Padahal, nyatanya ini cuma tipuan. Ck, masih ada aja, ya, orang kayak gitu? Kalau aku balik kampus nanti awas aja. Permainan nggak sepele, Bro!" ujar Indra sambil membuka folder di laptopnya. "Kamu buka apaan, tuh?" Citra melirik laptop penasaran. "Materi seminar besok. Mau ikut?" Indra menatap Citra sebentar. "Enggak, ah. Emangnya boleh begitu? Ada-ada aja. Eh, kalian tau nggak?" Citra menatap Indra dan Panji bergantian. "Enggak," jawab dua laki-laki itu kompak sebelum Citra selesai bicara. "Ck, belum selesai ngomongnya. Dengerin dulu! Jadi gini, aku itu...," Citra bercerita tidak jelas yang ujung-ujungnya hanya membuat Panji dan Indra saling pandang tidak mengerti. Citra terus saja bicara tanpa henti. "Intinya aku bosen diam aja. Aku pengen punya masalah. Kalian punya solusinya nggak?" ucap Citra untuk cerita terakhirnya yang begitu panjang. Panji dan Indra kompak menggeleng. Citra mendesah, "Haishh, kenapa nggak punya? Bantuin pikirin dong gimana caranya biar aku punya masalah. Pening, nih, kepalaku!" memijit pelipisnya seolah pusing berat. Raut penuh tanya dari Indra. "Panji, Citra kenapa?" bisiknya yang jelas-jelas bisa didengar Citra. Panji menggeleng, "Kerasukan kunang-kunang di taman." "Kalian habis dari taman? Pacaran nggak ngajak-ngajak." Indra berdecak berkali-kali. Panji memutar bola matanya jengah. "Kalian kurang keras kalau bisik-bisik." Citra memukul meja pelan seiring menatap mereka bergantian. Indra sedikit terjingkat, "Lagian kamu ada-ada aja. Orang pengennya nyelesaiin masalah biar hidupnya tenang, lah kamu malah pengen masalah. Panji, buatin masalah sana." "Ck, nggak masuk akal. Udah malam, kita langsung balik aja. Citra besok masih kerja," pamit Panji. Hendak berdiri, tapi dicegah Citra sebelum Indra berkomentar. "Kok balik? Capek tau! Baru nyampe, nih!" protes Citra. "Terus kamu mau absen kerja lagi besok?" Panji menaikkan sebelah alisnya. Citra mengerjap-ngerjap, "Ya, nggak gitu juga. Ck, aku capek kalau mesti balik sekarang. Pasti besok badan rasanya remuk. Percuma kalau aku kerja." cemberut enggan menatap Panji. Panji mendesah sabar, "Terus maunya gimana?" "Tenang-tenang, mendingan malam ini nginep aja. Besok pagi-pagi buta baru berangkat ke Surabaya, boncengan. Motor Citra biar aku yang bawa pulang. Habis seminar aku langsung pulang, kok. Mau hajar si kaprodi sialan soalnya," saran Indra. "Nah, bener tuh! Ya, Panji, ya." Citra menjentikkan jari dan menatap Panji penuh harap. "Yaudah, deh. Jadi ngerepotin Indra bukannya ngebantu Indra. Puas kamu?" Panji menoyor dahi Citra. "Aduh! Santai aja kali! Indra juga nggak apa-apa, ya, 'kan?" dengan senangnya menggandeng lengan Indra. Indra pun menaikkan dagunya bangga. "Terserah! Aku mau pesan kamar. Tunggu sini." Panji melenggang pergi. Citra dan Indra menatapnya sampai Panji sudah keluar restoran. "Nah, orangnya udah nggak ada. Mau ngomong apa?" Indra melepaskan tangan Citra darinya. Sontak Citra meringis, "Hehehe, tau aja kalau aku mau curhat." Indra mendesah malas. Dia mematikan laptopnya. "Soal Panji, ya? Apa soal bekas luka di pundak Panji?" "Soal Panji, Ndra." menyangga kepala, bibir cemberut, sedikit mengacak rambutnya dan Citra benar-benar terlihat gelisah. Indra meliriknya sebentar, "Emang kenapa lagi dia?" "Kemarin ngasih aku sepatu bagus banget. Mahal masa?" cerita Citra. Indra langsung menutup laptopnya dan menatap Citra dengan mata melebar. "Serius? Wah, ada udang di balik bakwan, nih. Kayaknya dicocol saus cabe mantab tiada tanding!" "Ck, hebohnya nggak etis! Aku serius, nih." Citra hendak melayangkan pukulannya, tetapi tidak jadi. "Ya, apa, sayangku? Kamu nggak suka dikasih hadiah sepatu? Apa minta toko sepatunya sekalian?" canda Indra. "Ish, nggak usah gitu, deh. Tau sendiri aku nggak suka yang mewah-mewah begitu. Masalahnya nih...," Citra mulai menceritakan di mana dirinya dengan Panji menghadiri sebuah pernikahan mewah dengan pakaian mewah, dan tantangan yang mewah, hingga berakhir melihat bintang di sawah. Mereka membuat keinginan di sana. Tertawa di sana, dan sangat akrab lebih dari dekat. Indra tersenyum melihat Citra begitu antusias menceritakannya dengan wajah cemas. Jelas terlihat jika Citra mengkhawatirkan sesuatu yang dirinya sendiri tidak tahu namanya. "Jadi gitu ceritanya," ujar Citra di akhir curhatnya. "Oh, jadi mau pamer kemesraan? Jauh-jauh nyamperin aku ke sini cuma buat pamer doang?" Indra mengangguk-angguk manja dengan kerlingan mata menggoda. Sudut bibir Citra terangkat, "Ih, nggak gitu tau! Masa itu namanya mesra? Meresahkan itu baru iya! Sekarang aku nggak tau mulai dari mana. Rasanya tuh aneh banget di sini. Sejak tadi dadaku bergemuruh kayak pengen muntah tapi nggak jadi. Pengen pingsan tapi masih kuat berdiri. Semua itu gara-gara Panji. Cuma inget dia aja langsung deh gemeteran udah." berdecak dan mengetuk-ngetuk meja. "Hahaha, itu namanya kalian udah nggak kaku lagi, dasar cewek nggak peka! Panji ngasih kamu sepatu, kamu ngasih Panji apa coba?" Indra menaikkan sebelah alisnya. Citra masih cemberut seraya berpikir, "Emm, nggak ada tuh." mengendikkan bahu. "Nah, kebetulan malam ini kalian nginep di kota orang. Kasih apaan gitu buat Panji. Masa udah dikasih sepatu tapi kamu nggak ngasih apa-apa. Kasihan, dia niatnya udah tulus tuh. Paling enggak kalian udah nggak berantem alay kayak dulu. Udah berkawan lagi lah istilahnya." saran Indra dengan senyum khas-nya. Citra berdecak, "Tapi mau ngasih apa? Dia punya semuanya." mengetuk-ngetuk meja lebih cepat. "Ya, pikirin apa yang belum dia punya," balas Indra asal. "Habisnya, ya, Ndra, kenapa aku gelisah coba? Kalau soal aku pengen masalah, sih, ada masalah walaupun itu di kantor, tapi masalah yang ini aneh. Aku khawatir tanpa sebab. Gelisah tanpa sebab. Aku sada, sih, kalau aku begitu. Makanya tadi datangnya telah padahal berangkat bareng dia. Aku merenung sendirian di pinggir jalan. Terus cus ke taman kunang-kunang," jujur Citra. "Bener-bener, cewek nggak tau malu yang berani curhat blak-blakan sama aku ya cuma kamu doang. Salut aku sama kamu, Cit." Indra tepuk tangan ringan. Melongo menatap Citra. "Apaan, sih?" Citra menggaruk kepalanya malas. "Jangan-jangan ntar kalau kalian udah melakukan adegan ranjang juga kamu ceritain ke aku lagi? Bisa gawat kalau gini." sambung Indra dengan suara lirih sambil menggeleng. "Apa kamu bilang?" Citra mengernyit mendengar Indra bicara seperi bergumam. "Ha? Enggak, kok. Apaan emang?" elak Indra terkekeh kaku. "Kamu mulai ada rasa nyaman, ya, sama Panji? Nggak usah ngelak sama hati," lanjut Indra. "Jujur, ya? Hmm, kayaknya sih iya." Citra mengangguk pelan. "Nah, mungkin Panji juga sama. Daripada kamu pusing pengen punya masalah yang lebih berat biar bisa menghindar dari rasa gelisah, mending kamu nggak usah pikirin aja. Biarin semua mengalir dengan sendirinya. Seperti air yang mengikuti arus." Indra memperagakan tangannya bergelombang seperti air yang berliku-liku mengikuti jalannya sungai. "Nggak usah terlalu dipikirkan? Gimana caranya?" Citra menggeleng polos. "Ck, ya biarin aja apa yang kalian alami biar terjadi, nggak usah dipikir terus-menerus. Ntar tau sendiri jawabannya. Kamu juga nggak akan mencari masalah buat pelampiasan gelisah. Tenang aja, santai aja, Brayy!" Indra meninju lengan Citra pelan. "Haha, pak dosen udah berkata. Aku remahan rengginang bisa apa, haha. Oke, kalau gitu aku nggak terlalu mikirin. Dibuat enjoy aja, iya nggak?" Citra menaik-turunkan alisnya. "Yes, Bro!" Indra menunjuk Citra dengan dua jarinya. Mereka tertawa pelan. Lalu, notifikasi pesan muncul dari Panji. Dia memberi tahu nomor kamar dan bilang kamarnya sudah siap. Meminta Citra untuk istirahat sekarang. "Yah, yang diomongin udah bawel aja. Gimana, nih, Ndra? Aku maish harus kasih dia hadiah? Sebagai gantinya sepatu gitu?" meminta kepastian. Matanya berbinar tak terang. "Pasti lah." Indra mengangguk mantap. "Aku nggak tau mau ngasih apa. Kamu sendiri tidur di mana?" "Di hotel ini lah. Pokoknya kamu harus kasih hadiah juga buat Panji. Apaan cewek kok cuma mau enaknya doang. Haha, aku ke atas dulu. Kamu baik-baik sama dia, ya." Indra berdiri membawa laptopnya dan memberi salam dua jari di pelipis pada Citra. Citra mengikuti gaya Indra, "Siap, Pak dosen!" Mereka tertawa lagi. Lepas Indra pergi, Citra kembali kalut dengan pikirannya. Dia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan. "Tenang, Citra. Kata Indra nggak usah terlalu dipikirin nanti kamu pusing. Nikmati saja, oke?" gumamnya pada diri sendiri. Tanpa berpikir lagi Citra memberanikan diri untuk pergi ke kamar yang sudah dipesan Panji. Tak peduli berapa nomornya, bagus atau tidak, yang penting Citra santai saja. Hadiah? Dia belum memikirkannya. Ceklek! Pintu kamar dibuka dan Citra dibuat tercengang. Kamar yang besar dengan nuansa putih. Suara gemericik air terdengar dari pintu kamar mandi menandakan orang yang memesan kamar itu sedang mandi. Perlahan Citra menutup pintunya. "Woah, Panji pesan kamar segede ini? Kaya banget dia?!" Citra berjalan-jalan melihat beberapa miniatur dan guci di meja sebelah ranjang. Memegang seprei dan selimut yang sangat halus nan putih membuat senyumnya semakin melebar. "Wah, kayak bulu angsa! Eh, udah jam berapa sekarang?" dia sadar berhenti tersenyum dan mencari handphone di dalam tas. Jam digital di layar handphone menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. "Pantas aja dia minta istirahat. Dia takut besok nggak bisa bangun pagi kali," gumam Citra. "Sembarangan! Yang nggak bisa bangun pagi itu kamu." Panji muncul dari kamar mandi. "Huaaa! Astaga!" Citra terkejut segera berbalik menutup matanya setelah menatap Panji yang bertelanjang d**a. Untungnya memakai celana panjang. Panji berkacak pinggang, "Heh, apaan coba pakai balik badan segala? Aku nggak telanjang kali. Kayak nggak pernah lihat aku begini aja." menggeleng lalu berjalan santai mengambil handuk kecil yang ada di ranjang. Citra membuka tangannya perlahan. "Sejak kapan aku pernah lihat kamu nggak pakai baju? Kamu selalu pakai baju di kamar mandi tau!" sahutnya tak terima. Masih tak mau menatap Panji. "Ck, habisnya gerah. Ac-nya nggak nyala, ya? Kok panas?" Panji enggan santainya menyeka badan dan rambut yang masih basah. Citra mendongak memandang pendingin ruangan. "Otakmu itu yang panas! Dingin banget kayak gini dibilang gerah. Tadi di jalan raya nggak kurang dingin? Jangan bilang habis ini bersin-bersin! Biasanya, 'kan kamu gitu," cerocos Citra. "Nggak tau kenapa tiba-tiba aku gerah. Kamu tidur di kasur aja. Aku mau tidur di lantai. Ssshh, panas banget!" Panji membuang handuknya begitu saja mengenai kepala ranjang. Langsung selonjoran di lantai dengan satu bantal. "Ah, nyamannya. Lampunya jangan dimatiin, ya," pesan Panji dengan senyuman. Citra berbalik seketika. Menganga tak habis pikir dengan Panji yang berbaring hampir masuk ke kolong ranjang. Tak segan-segan Citra menarik kaki Panji membuat Panji memekik. "Eh, eh, apa-apaan, nih?!" "Kamu itu nggak sekalian tidur di luar, ha? Jangan masuk ke kolong kasur kayak tikus. Ke kolong jembatan aja sana! Makin hari makin nggak ngerti aku sama kamu. Aneh banget jadi orang." puas menarik kaki Panji, Citra menggaruk kepala yang tak gatal. Panji langsung duduk menunjuk Citra tak terima, "Rese banget jadi orang. Terserah aku dong mau tidur di mana. Mau di kamar mandi juga terserah." Citra berjongkok menatap Panji nanar, "Kamu habis ngapain, hayo? Kok bisa gerah? Pengalaman terakhir waktu aku gerah nggak jelas tuh pas makan kue dari cowok-cowok ganteng di pernikahannya koki kamu. Sshh, kalau aku mikir yang enggak-enggak gimana, ya? Jangan-jangan kamu juga...," Citra sengaja menggantung ucapannya. Menaikkan alisnya menggoda Panji. Panji melotot, "Wah, jangan asal nuduh, ya. Aku cuma gerah biasa. Habis mandi aja rasanya masih gerah. Nih, pegang aja kalau nggak percaya." menarik tangan Citra paksa untuk memegang dadanya. "Eh, eh!" Citra kaget. Ingin menarik tangannya, tetapi Panji sudah terlanjut membuatnya menyentuh dadanya. Citra tersentak dalam hati. Panji pun begitu. Tangan kecil Citra rasanya dingin di dadanya. Tiba-tiba detak jantung berdegup kencang. Mereka saling bertukar pandang. Satu detik, tiga detik, sembilan detik terlewati. Mereka sadar dan saling melepaskan diri setelah mendengar handphone Panji berdering. 'Sialan!' decak Panji dalam hati. 'Astaga-astaga! Apa barusan?!' pekik Citra dalam hati. Dia berpaling masih melirik Panji yang sedang mencari handphone-nya. "Maaf, Cit. Tadi refleks," elak Panji walau masih sibuk mencari dengan panik. Padahal handphone bisa terlihat jelas olehnya. "Eee, iya nggak apa-apa. Santai aja," balas Citra tergagap. Dia beralih memegang dadanya sendiri. 'Hangat,' batin Citra. Setelah mendapatkan handphone yang tergeletak di meja, Panji mengerutkan dahi mengetahui nama kontak yang tertera. "Cit, kamu mandi aja dulu. Aku masih ada urusan di bawah." kata Panji seraya memakai kaosnya. Melambaikan tangan yang memegang handphone tak menunggu Citra menjawab langsung keluar kamar. Citra berdiri heran, "Dia ada urusan? Bisnis? Kan kesini tujuannya soal Indra, bukan soalan lain. Hmm, ada hajat lain, nih kayaknya. Aku harus ikutin!" Tanpa melepas tas dan jaket Panji yang masih melekat di tubuhnya, dia langsung mengikuti Panji diam-diam. Ternyata bukan restoran tujuan Panji, melainkan taman hotel. Citra semakin bingung. Cara berjalan Panji juga sangat cepat. Hingga Panji berhenti di sebuah kursi taman yang diduduki seorang perempuan di sana. Citra tersentak, sembunyi di balik kerumunan tanaman melati. "Wah, ngapain dia di sana? Siapa tuh cewek? Cantik banget," gumam Citra. Nampak jelas Panji tersenyum pada perempuan itu. Citra bisa mengira jika usia perempuan itu tidak jauh darinya. Panji duduk di samping perempuan itu. Sontak Citra mengerti jika perempuan itulah yang telah menelepon Panji. "Ck, sejak kapan Panji kenal sama cewek cantik kayak dia? Kenapa mereka kayak akrab banget?" gumam Citra lagi. Ada rasa tidak enak di hatinya. Pemandangan di depan sana begitu tak bagus. Tangannya tanpa sadar mencabut beberapa daun melati dengan kesal. Apalagi jika senyum Panji semakin merekah karena perempuan itu. "Ish, kurang jelas mereka ngomong apa! Aku harus lebih dekat lagi." kesalnya tertahan. Beralih posisi mencari tempat persembunyian yang tepat untuk lebih dekat dengan tempat duduk Panji. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN