19. Bukan Adu Domba Biasa

2639 Kata
Sepanjang perjalanan hanya melihat pohon dan jalan beraspal. Tidak ada kendaraan besar seperti truk dan mobil yang melintas. Motor hanya beberapa kali menyalip. Sangat sepi dan panas di pukul empat sore hari. Citra membiarkan Kalisa menangani Nuri sampai Nuri bersedia cerita tentang masalah yang bisa mengubahnya seperti sekarang. Bukan kota Surabaya yang Citra tapaki saat ini, melainkan perjalanan menuju kota Malang. Tidak sendirian, ada Panji yang sudah jauh di depannya. Citra tak mau ngebut walau jalanan sepi. Biarkan Panji tiba lebih dulu, dia akan menikmati udara segar dan waktunya. Setengah jam sebelumnya mereka sudah berada di kampus tempat Indra bekerja. Panji tidak jadi mendapatkan karyawan paruh waktu, justru mendapat kabar jika temannya telah ditugaskan dan ada rumor jika Indra telah diadu domba. Dalam artian pekerjaan Indra dalam bahaya. Panji dan Citra segera pergi ke Malang demi mengetahui kebenarannya dari Indra sendiri. Teman sejati tidak akan meninggalkan temannya dalam kondisi apapun. Itu yang mereka lakukan sekarang. "Sayangnya Indra nggak ngangkat telepon dari tadi. Chat juga nggak dibalas. Kebiasaan kalau ada apa-apa pasti dipendam sendiri. Sok hebat banget dia," gerutu Citra dengan pandangan lurus ke depan. Sudah puluhan kali Citra notifikasi panggilan tak dijawab dari nomor kontak Indra di handphone Citra. Spam chat juga tidak dibaca. Apa Indra benar-benar mematikan handphone-nya? Citra menatap semua pohon yang ada di kiri jalan. Sangat besar, rindang, menghalangi sinar matahari di barat membuat daun-daunnya nampak lebih istimewa. Senyum Citra terangkat. 'Ternyata jalan sepi punya indahnya sendiri. Kenapa aku ngerasa nggak nyaman, ya, ikut Panji nemuin Indra?' pikir Citra. Dia langsung menghentikan motornya. Melepas helm dan menaruhnya di kaca spion. Turun dari motor, melihat ke barat di mana pohon-pohon rindang berjejeran menghalau sinar mentari yang sudah mulai berwarna jingga. Citra menghembuskan napas panjang. "Tenaaangg banget kayak nggak ada beban. Tapi tetep aja rasanya nggak nyaman. Debarannya... Berbeda," gumamnya. Memijit tangannya yang sedikit pegal karena berkendara. Melirik sebentar jalanan depan yang masih kosong nan panjang. Pikirannya melayang akan Panji. "Biarin aja dia sampai duluan. Aku nanti-nanti aja. Hahh, mau di sini dulu sampai malam." duduk menekuk lutut dan bersandar pada motornya. Mengeluarkan handphone dari saku celana. Membuka aplikasi menggambar dan mulai mencoret-coret di sana. Tidak terlintas apa yang ingin dia gambar. Hanya garis-garis yang saling terhubung, tetapi tidak membentuk apapun. Dia menghela napas berat lagi. Tidak ada beban pikiran dan hati yang menyerangnya sekarang, tapi kenapa rasanya gelisah tanpa sebab? Citra menggeleng mengusir perasaan anehnya. Mulai menggambar lagi, tapi hasilnya tetap sama. Hanya garis-garis yang saling berhubungan. Akhirnya dia menutup aplikasi itu. Mematikan handphone dan menatap lurus ke langit sore. "Andai aja ada masalah yang lebih menantang. Pasti hidup aku nggak monoton kayak gini," gumamnya. Menyibak anak rambutnya yang tiba-tiba berterbangan tertiup angin sumilir. "Andai juga aku bis nikmatin malam bebas setiap hari tanpa harus memikirkan apapun." sambungnya dengan senyum terangkat. "Sshh, sebenarnya bisa aja, sih, tiap hari begitu. Cuman gara-gara pernikahanku sama Panji, semuanya jadi agak berbeda. Apa aku yang terlalu kaku, ya, sekarang?" meneleng bingung. "Apa Panji juga ngerasa begitu? Dia... Agak nggak bisa mengekspresikan dirinya sebebas dulu. Apa mungkin ini yang namanya...," Citra menggantung ucapannya. "Nggak, nggak, nggak! Jangan mikirin itu lagi, Citra. Semuanya udah baik-baik aja ngapain malah nyari masalah? Udah nggak usah dipikirin, ah!" menepuk-nepuk kepalanya kecil. Menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Seperti itu terus sampai dirasa dirinya tenang tak memikirkan apapun lagi. Dia tersenyum sehangat mentari yang akan terbenam. Awan di langit barat sudah mulai berwarna jingga. Senyum Citra semakin lebar melihatnya. "Indahnya!" ucap Citra tanpa melepas senyum. Mungkin ada harapan di binar mata itu. Mungkin juga ada sesuatu yang menantinya. Satu hal yang pasti, masalah akan selalu ada walau gadis itu tidak mencarinya. Hanya saja dia merasa hampa sesaat. ~~~ Restoran hotel menjadi tempat perbincangan mereka. Pukul delapan malam, sudah satu jam lebih Panji mendengar cerita Indra tentang seminar yang dia isi. Indra tidak menjelaskan apa yang dia alami sampai ditugaskan di bumi Arema. Sejak tadi Panji hanya memperhatikan mata Indra yang sangat jelas menyembunyikan sesuatu. Tentu saja dosen itu tidak mau masalahnya dibantu oleh teman sendiri, tapi dia akan membantu temannya jika dalam kesulitan. Benar-benar teman yang sangat baik. Baterai laptop tidak mau habis. Dia terus menyala menunjukkan grafik dan materi milik Indra. Dengan bangganya Indra mengoceh ini-itu seolah Panji adalah peserta seminar. "Membosankan!" sela Panji di saat Indra sibuk menjelaskan runtutan slideshow miliknya. Indra menatap Panji licik. "Eh, ini bagian penting di presentasi tadi. Besok masih ada satu lagi. Aku belum jelaskan yang slide buat besok. Wuih, seru banget, Bro!" Panji tersenyum miring mendengar logat Indra. Tanpa basa-basi dia mengeluarkan secarik kertas yang terlipat jadi dua dan menyerahkannya pada Indra. "Percuma ngomong sama orang berotak dangkal kayak kamu. Baca!" Indra berdecak. Membuka kertas itu pasrah. Matanya melebar setelah membacanya. Dia menatap Panji tak santai. "Benar... Yang ngadu domba kamu emang udah kamu atasi, tapi akarnya belum alias dalang yang asli. Target yang udah kamu tangkap basah itu hanya pionnya saja. Dalam artian dia disuruh orang lain. Orangnya adalah kepala kaprodi di fakultasmu sendiri," jelas Panji tanpa ragu seolah tahu apa yang diartikan sorot mata Indra padanya. "Jangan omong kosong! Tanpa bukti nggak bisa buat apa-apa." Indra meremas kertas itu. Panji mengambil kertas itu dan membukanya kembali. "Kurang jelas gimana lagi, sih? Seminar di kota Malang tepat setelah berhasil membungkam mulut pengadu domba kamu, jadi pemateri dua hari, lalu kembali besok nama kamu udah nggak tercantum di jajaran dosen. Matamu rabun? Tanda tangan kaprodi dan rektor di sini palsu! Ini ditiru!" gemas Panji menunjuk dua tanda tangan di kertas itu. Indra menarik kertas itu kasar dan melihatnya sekali lagi dengan teliti. Panji meminum secangkir kopi hitam yang baru dia pesan lagi. "Lekukannya... Apa emang iya kalau ini palsu? Berarti... Kalau benar ini palsu, aku udah nggak ngajar dua hari tanpa alasan. Itu merusak nama baik di kampus." Indra menatap Panji penuh harap. Panji menyesap kopinya lagi lalu mengangguk. "Betul sekali. Otomatis kamu nggak bisa naik jabatan jadi kaprodi. Pikirkan aja... Kamu sekarang dalam posisi rating teratas dalam saingan ketat. Sebentar lagi tahun depan tak menyangkal kamu bisa jadi kaprodi. Tinggal menunggu waktunya aja tiba," jelasnya setelah menaruh cangkir kopi. Indra mengerutkan dahi, "Maksudmu, kepala program studi sekarang nggak rela posisinya tergeser dan dia nargetin aku yang akan melengserkan dia dari jabatan? Oke, aku paham yang adu domba kemarin, tapi sekarang... Kalau benar surat tugas ini palsu, terus kenapa aku jadi pengisi seminar sungguhan?" "Surat ini palsu, Ndra! Berita kamu seminar nggak diketahui atasan, tapi dalangnya udah ngerencanain kamu beneran ikut seminar. Dia udah kerja sama sama pihak seminar, jadi nama kamu bakalan jelek di kampus doang." Panji mengetuk surat itu dua kali. Indra meraup wajahnya, "Gila dia. Kalaupun nggak mau lengser dari jabatan, nggak gini juga caranya. Kenapa aku yang jadi sasaran? Dosen terpelajar lainnya masih banyak. Kenapa nggak mereka aja?" "Karena kamu yang lebih layak." dengan santainya menunjuk Indra lalu kembali menyesap kopi hitam. Aromanya benar-benar memikat sukma. Indra mendengkus menatap Panji. Lalu, dia sadar sesuatu. "Citra mana? Kamu tinggal di rumah?" Seketika Panji akan menyemburkan kopi dalam mulutnya. Matanya melebar menatap Indra membuat Indra mendelik. Susah payah dia menelan kopi itu. "Citra tadi ada kok. Dia di... Di mana, ya? Tadi ikut di belakang!" menunjuk sekeliling seperti orang bodoh. "Aduh, payahnya kebangetan parah! Kenapa nggak boncengan aja, sih? Udah tau malam-malam. Kalau Citra kenapa-napa di jalan gimana?" Indra menepuk dahinya. Panji mengerjap dua kali. "Masa Citra masih di jalan? Ah, nggak mungkin. Paling udah sampai cuma ngelayap entah kemana," elaknya. Mengambil handphone mulai menanyakan kabar pada Citra. "Hahh, lepas semua yang terjadi, aku mau selesain masalahku besok. Kamu cari istrimu sampai dapat terus ajak makan sini. Kalau enggak..." Indra menunjukkan gerakan memotong leher dengan jarinya. Panji bergidik segera berdiri. "Aku mau nyari Citra dulu. Pikirin baik-baik sebelum bertindak. Dia beneran niatnya bulat buat ngeluarin kamu dari kampus," ujar Panji. Mengambil jaket dan bergegas pergi. Indra mengangguk mantap. Lalu, mendesah panjang. "Kaprodi, keterlaluan! Kemarin dan hari ini akan kuberikan bayaran yang setimpal. Panji benar, dia nggak main-main. Apa lagi yang mau dia lakukan setelah seminar ini selesai?" Menatap ulang kertas yang ternyata surat itu dalam mata sayu. Senyum sinisnya terbit. Tak menyangka jika masih ada orang yang rela melakukan apapun demi mempertahankan posisinya demi sebuah jabatan. "Dari mana Panji dapat ini? Ck, dia bergerak cepat sekali," Indra sedikit senang dengan perhatian temannya. Lain dengan Panji yang sudah lari menuju parkiran demi mencari motor Citra. Sudah dia kelilingi, tetapi tidak ada. Dia memanggil Citra dan panggilannya tidak terjawab. "Mana, sih dia?" panik mulai melanda. Panji segera menancap motor dan melaju ke jalanan. Kendaraan begitu ramai dan lampu kerlap-kerlip menerangi jalan dengan bebasnya. Dia menyusuri jalan ketika dia datang sebelumnya. "Cewek ceroboh! Handphone pasti kehabisan baterai. Sekarang malah ngilang begini gimana nyarinya?" gumam Panji dari balik helm. Matanya awas menatap kanan-kiri. Sampai ada lampu merah dia tidak sadar, alhasil berhenti mendadak membuat salah satu motor di belakangnya hampir saja menabraknya. 'Citra, kamu nyasar di mana, sih? Udah malam ini,' batin Panji mulai gusar. Tak selang lama handphone-nya berdering singkat menunjukkan ada notifikasi muncul dari aplikasi pengiriman pesan. Panji tak bisa melihatnya sebelum dia menepi. Lampu hijau sudah menyala, dia langsung mencari trotoar untuk berhenti sebentar. Handphone rasanya sulit sekali diambil dari saku celana membuatnya gemas sendiri. Semua itu gara-gara panik yang berlebihan. Membuka kaca helm kasar, membaca notifikasi tersebut. Terbelalak kesekian kalinya karena notifikasi itu ternyata dari Citra yang membalas pesannya. Panji sedikit mendesah lega. Dia membaca pesan Citra sambil mengerutkan dahi. "Taman kunang-kunang? Dekat lampu-lampu? Ngapain? Dia mengamen di sana?" gumam Panji setelah membaca pesan itu. "Tuh, 'kan. Dia keluyuran sendirian. Ngapain aku panik nggak jelas? Ck, nyusahin aja!" dengan kesal kembali melaju ke jalanan dan menuju taman kunang-kunang. Taman yang terkenal dengan keindahan miniatur kunang-kunang yang akan menyala indah di malam hari begitu tak bisa dilewatkan oleh Citra. Orang-orang yang butuh menghibur hati pasti mampir hanya sekadar jalan-jalan dan melihat lampu saja. Itu yang dilakukan Citra saat ini. Lupakan dingin yang menggerogoti tubuhnya. Lampu-lampu menyerupai kunang-kunang itu seakan menjerat sukmanya. Beberapa orang asik mengobrol sambil duduk di sana. Citra hanya menatap mereka sambil tersenyum. Dia ingin mencari tempat duduk yang sepi. Lampu yang tinggi dan pohon yang tinggi. Citra sangat menyukai itu. Tidak butuh waktu lama untuk Panji tiba di sana. Dia berkendara dengan kecepatan di atas normal. Dinginnya juga tak terkalahkan, tapi dia lebih memikirkan bagaimana jika Citra kedinginan di sana. Dia sudah sibuk mengeratkan jaket agar lebih hangat dan nantinya biar dipakai Citra. Sadar atau tidak kalau Panji sudah santai dengan Citra. Dia tidak terlalu memikirkan itu. Mengirim pesan bertanya di mana lokasi Citra. Namun, belum sempat menunggu Citra membalas pesan, dia sudah berhasil melihat seorang gadis bodoh berjalan memutari tiang lampu dengan pakaian kerja yang masih melekat sempurna. Terlihat sangat lelah dari kejauhan, berhasil membuat Panji menghela napas berat berkali-kali. Dia menghampiri Citra dengan langkah gontai. Di antara pohon yang menjulang tinggi dan lampu yang unik, Citra asik dengan dunianya sendiri. Mana peduli jika orang-orang melihatnya dan beranggapan dia gila? Menurutnya lampu itu sangat indah, bersinar menyimpan kunang-kunang di dalamnya. Panji berdiri di belakangnya. Menghentikan tangan Citra yang hendak menyentuh tiang lampu itu. Citra terkejut. Menoleh dan lebih terkejut. Kemudian meringis bodoh yang hanya dibalas tatapan datar dari Panji. "Cieee, nyariin, ya?" menunjuk wajah Panji menggoda. Panji berdecih melepaskan tangan Citra. Memasukkan tangannya ke saku celana. "Ngapain di sini? Ngamen?" "Eh, bagus tau! Tuh, lihat banyak kunang-kunang! Lampunya unik, ya. Hangaatt banget, cahayanya nggak silau. Buat pikiran tenang. Itu lihat semua pohonnya unik-unik. Di sini ramai tapi tetap tenang. Hangat banget." menunjuk sekeliling apa yang dia lihat. Panji mengikutinya sekilas membuat bola matanya berputar. Lalu mengerutkan dahi lebih dalam. "Hangat? Nggak kedinginan?" Citra masih menunjukkan deretan giginya menatap Panji lagi. Menggeleng sambil menghirup napas dalam. Sangat terlihat jika dia kedinginan. Pundaknya sampai sedikit naik. "Enggak, kok," elaknya. Panji melepas jaketnya dan melempar ke kepala Citra. Citra meraba udara tak melihat apa-apa. Panji sedikit terkekeh. "Bodoh! Buruan pakai!" Citra menarik jaket Panji. Bibirnya cemberut, "Nggak mau! Pasti belum kamu cuci. Aku nggak pernah lihat kamu nyuci baju kemarin." "Ck!" Panji merebut jaketnya lalu mengibaskannya. Citra meringis terkena hawa dingin dari angin kibasan jaket itu. Dia terbelalak, terpaku menatap Panji. "Pakai jaketnya, Citra. Kamu nggak kuat dingin." Panji masih sibuk memakaikan jaketnya pada Citra. Kedua alis Citra terangkat. Mata redup Panji yang menunduk membuatnya berdegup kencang. Mendadak tubuhnya kembali bergemuruh. Sampai Panji selesai dengan aksinya barulah Citra mengalihkan pandangan karena Panji membalas tatapannya. "Kenapa?" tanya Panji. "Ha? Enggak... Makasih, ya." Citra tersenyum simpul mempererat jaketnya. Sedikit menatap Panji lalu berbalik lagi. 'Kenapa rasanya aneh? Dia redup. Panji begitu redup. Lebih redup dari lampu kunang-kunang ini,' batinnya. Melihat Citra yang begitu suka memandang lampu-lampu panjang itu, Panji jadi tertarik ikut mendongak menatapnya. "Apa kunang-kunang beneran ada di taman ini?" tanya Panji menunduk menatap Citra. Citra mendongak tanpa memutar badan. "Mungkin aja ada. Tapi mereka lagi sembunyi," bisik Citra di akhir ucapannya. "Masa?" Panji mendelik. "Iya, jangan keras-keras. Nanti mereka takut." telunjuk Citra diam di bibir. Panji memutar bola matanya malas, "Ayo balik, jangan main-main, ah!" menarik tangan Citra. Citra menahan dirinya, "Eh, nggak mau. Aku mau di sini aja." Panji masih menggandeng tangan Citra, "Nanti Indra kelamaan nungguin. Nggak mau ketemu sama dia?" "Emang masalahnya udah selesai?" balas Citra. "Belum, dia dijebak sama kaprodi. Agak keterlaluan, tapi tergantung nanti apa jadinya. Ayo, ini udah malam, Cit." mencoba menarik Citra lagi. "Nggak mau, Panji. Aku masih mau duduk di siji. Aku bekum selfi sama lampu-lampunya ini, loh." Citra sedikit meronta. "Sshh, nggak enak dilihatin orang. Jangan manja kayak anak kecil, deh." Panji terus menarik Citra. "Aduh, aku nggak mau, ya, nggak mau. Siapa suruh tamannya bagus? Kalau jelek, 'kan aku juga nggak mau di sini. Kamu balik duluan aja." Citra justru menaik-turunkan tangan mereka. Geram sudah Panji tak tahan karena jadi bahan sorotan aneh banyak orang, dia memanggul Citra di pundaknya lalu menuju parkiran dengan segera. "Aaaaa! Panji, lepasin aku! Kamu apa-apaan, sih? Aku bukan karung beras! Turunin cepetan!" pekik Citra sambil kakinya terus menendang-nendang. Panji sedikit kualahan. "Astaga, kamu lebih berat dari sekarung beras! Diam, jangan banyak ulah kakinya, diam! Malu dilihatin orang-orang!" desis Panji tak menghiraukan permintaan Citra. "Huaaaa, lepasin aku, Panji! Kurang ajar kamu, ya, jadi orang. Aku bilangin ibu biar kamu digebukin! Main angkat anak orang aja! Kamu kira aku apaan?" Citra merengek sungguhan. Dia memekik ketika pantatnya tiba-tiba mendarat di motornya. Menatap Panji nanar sedangkan Panji langsung memakaikannya helm. "Mana ada aku bakal dimarahi? Yang ada kamu dibilang gila iya. Ikutin aku, kalau enggak awas aja ntar kalau sampai di rumah. Bakal rusak semua apa yang kamu punya." desis Panji tajam tepat di depan wajah Citra yang bengis. Panji kembali ke motornya dan mulai menyalakan mesin. "Ayo!" ujarnya karena Citra diam saja. Citra berdecak mengepalkan tangan ingin meninju Panji. Mereka melaju ke jalan raya bersama-sama karena Panji takut kalau Citra akan kabur dan pastinya susah untuk mencarinya lagi. 'Padahal bekum sempet foto di sana. Harusnya aku nggak usah ngasih tau dia kalau aku di taman kunang-kunang. Biarin dia nyariin muter-muter kota Malang. Ish, nyebelin banget!' gerutu Citra dalam hati. 'Huft, syukurlah tuh anak nggak ngelayap kemana-mana. Cuma ke taman aja udah bikin darah turun-naik. Bener-bener kelewatan, Citra,' batin Panji. Mereka senyap seiring saling mencuri pandang dengan tatapan sengit. Citra tahu tujuannya bukan untuk bertamasya, tapi apa salahnya mengunjungi salah satu tempat wisata? Selagi di kota orang tidak boleh disia-siakan waktunya. Namun, setelah ini dia bertemu teman rasa kakak yaitu Indra. Dia akan bercerita tentang riangnya kejadian di malam penuh bintang. Mengingat hal itu senyum Citra jadi tersungging manis. Setelahnya luntur karena ingat jika dia ceroboh dalam taruhan dengan Panji. 'Ah, waktu itu terus nggak pernah bahas lagi sama Panji. Sekarang dia malah kayak... Bapak-bapak yang nganterin anaknya pulang. Iya, aku yang jadi anaknya. Ck, tapi ini mau ke mana? Indra nginep di mana emangnya?' pikir Citra. Traffic light kembali menyalakan lampu merah. Mereka harus berhenti dan di saat itu terjadi keduanya saling pandang. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN