18. Bintang Setelah Pernikahan

2614 Kata
Malam pukul sembilan di ladang tanpa nama. Seharusnya pesta pernikahan sudah dimulai. Mungkin akan ada orang-orang yang mencarinya. "Aaaaa, panas banget, sih? Ini di mana? Kok jadi duduk di tanah?" Citra sibuk ingin membuka pakaiannya. "Heh, heh, heh! Mau ngapain coba? Ini tangan jahil banget! Jangan tarik-tarik baju kamu! Gila apa, ya?!" Panji kesal sedari tadi tidak bisa menghentikan tangan Citra berbuat ulah. Dia sampai kualahan menahan tangan Citra. "Arghh, lepasin aku! Panas tau!" Citra masih meronta. Mengernyit menyesuaikan keadaan. "Ini aku bantuin dinginin badan kamu, Payah! Makanya jangan asal nurut aja sama orang! Disuruh minum kamu minum. Disuruh makan masih aja mau. Udah tau niatnya nggak bener. Sekarang mampus, 'kan jadinya. Aku juga yang repot." dengan paksa Panji menggoyang-goyangkan pundak Citra sampai Citra memandangnya dengan jelas. "Hehe, hahahaha! Wajah kamu lucu! Habis dicium, ya? Ih, nggak boleh tau. Aku bantu hapus bekas bibirnya cewek alay sini!" Citra menepuk-nepuk kedua pipi Panji sampai Panji berdecak risih. "Lepasin, ah!" menahan tangan Citra lagi. "Ck, aku gerah! Panas! Kenapa rasanya aneh?! Panji, kamu kelihatan kayak ayam panggang yang beku di lemari es. Aku mau memakanmu!!!" menyerang Panji bertubi-tubi membuat Panji memekik tak karuan. "Eh, Citra! Woy, lepasin! Jangan makan aku! Dagingku nggak enak! Kamu kok jadi kanibal gini?! Huaaaa, jangan dekat-dekat wajahnyaaaaa!" "Aku mau makan kamu!" Citra berhasil mendorong Panji hingga jatuh. Arghh! Keduanya memekik bersamaan. Pandangannya saking bertemu. Citra mulai membuka mulutnya membuat Panji terbelalak. "Nggak bisa dibiarin. Maaf, tapi aku harus membuatmu pingsan, Cewek nggak waras!" Panji memukul tengkuk Citra. Gadis itu sempat memekik lalu ambruk di atasnya. Panji mendesah lega. Dia membuat Citra terbaring di sampingnya dan dia duduk tak berdaya. "Hahh, akhirnya lega juga. Citra mana pernah minum alkohol? Soda aja dia nggak mau. Pasti gara-gara pengen unjuk diri ke aku jadinya dia minum semuanya. Obat perangsang? Ck, bahaya juga dia. Kalau buka baju beneran aku yang tamat." menggeleng pasrah. Handphone-nya berdering menandakan ada panggilan masuk. Ternyata dari orang suruhan Panji. Mengabari jika kelima laki-laki yang mengganggu Citra sudah dimasukkan ke dalam kandang kucing liar dan berisi banyak jenis alkohol lama. Tempat tak berpenghuni itu dijaga satu orang perempuan yang akan mempermainkan mereka nantinya. Panji tersenyum miring. "Jangan sampai buat mental mereka turun. Kalau sudah ketahuan lepaskan saja," perintah Panji. Orang di seberang sana menurut dan memutus panggilannya. Panji tersenyum miring. Beralih menatap Citra yang terbaring lemas. Dia ikut merebahkan diri perlahan-lahan. Tanah kering yang dia duduki sekarang seperti ranjang bebas yang hanya dimiliki mereka sendiri. Tidak ada yang mengganggu. Rumput ilalang di sekitar mereka tumbuh cukup lebat. Sepertinya ladang ini adalah sawah yang sengaja dibiarkan mengering beberapa waktu. Masih menatap Citra dengan baiknya. Sangat baik sampai tak sadar senyumnya berubah manis. Dia mengusap pipinya sendiri bekas dicium wanita asing. "Bodoh! Yang bodoh itu aku atau kamu? Permainan apa ini? Lima menit?" kekehnya setelah berucap. Mendadak angin bertiup sumilir mampu menutup matanya sejenak. Melihat anak rambut Citra yang terlepas dari jepit rambut bintangnya, tangan Panji terulur untuk membenarkannya. Rasanya semakin dingin karena angin itu. "Ini harus dijepit biar cantik. Lebih cantik kalau di rumah. Pakai kaos oblong aja terus rambut berantakan daripada dandan begini malah nyita perhatian orang nggak baik. Bisanya nyusahin aku aja. Coba kalau aku nggak lihat tadi gimana jadinya kamu?" Menarik tangannya dari rambut Citra. Matanya enggan untuk berpaling. Mata tertutup itu menyita perhatiannya lebih lama. Detak jantungnya lebih cepat berpacu. Dahinya berkerut lantaran bingung. Kenapa hanya menatap wajah Citra mampu membuat dia gugup? Namun, juga tak mau menatap hal lain selain gadis di depannya. Bukan di depan, melainkan di bawah. Semakin lekat dia menatap, semakin dekat wajahnya mendekat. Cup! Satu kecupan singkat berhasil mampir ke dahi Citra. Segera dia berpaling berbaring menatap langit. 'Huft! Apa yang aku lakukan?' pikirannya tidak tenang. Menutup mata dan menghirup udara segar dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Setelah merasa sedikit lega Panji kembali membuka matanya. Dia terkesima. Mulutnya sampai terbuka. Senyumnya lebih menawan dari sebelumnya. Langit berubah cerah, mengusir mendung, menampilkan bintang-bintang yang bertaburan penuh sinar. "Wah! Indahnya!" gumam Panji. "Citra... Lihat, ada bintang!" menunjuk langit. Tidak ada balasan dari Citra membuat Panji menoleh dan mendesah. Melipat tangan ke belakang menjadi bantalan kepala. "Ini bukannya yang pertama kali ada bintang setelah pernikahan kita? Katanya kamu pengen lihat bintang setiap malam sambil gambar. Sekarang bintangnya sudah ada, tapi kamu pingsan." terkekeh geli. Benar-benar bisa disebut lautan bintang. Dia bisa melihat jelas kerlap-kerlip di atas sana tanpa halangan pemandangan lain. Hanya langit dan bintang. Tidur terlentang di alam terbuka ternya menyenangkan. Walaupun caranya tidak. Mendadak Panji ingin mengabadikan momen itu. Kamera handphone-nya sudah merekam beberapa gambar dirinya dan Citra dengan pose-pose lucu. Kemudian langit malam ini juga dia foto. Saatnya merekam tiba. "Hai penggemar setiaku. Malam ini menjelang pertengahan malam langit sangat cerah. Angin mengusir mendung membuat para bintang yang bersembunyi menjadi terlihat sangat cantik. Ada lagi yang cantik dari bintang yaitu gadis payah yang pingsan di sampingku ini, hehe. Citra, bangun! Tuh, langitnya banyak... Aaaaa!" pekik Panji karena tepat di akhir ucapannya dia menoleh pada Citra, ternyata gadis itu sudah bangun memasang wajah masam membuatnya terkejut sampai terjingkat mundur. "Astaga! Ngagetin aja!" masih memekik seraya mematikan rekamannya. Citra duduk menggaruk kepalanya hingga ke punggung. Rasanya gatal semua. Menengok sekeliling dan sontak berteriak. "Ha! Kenapa gedungnya jadi tanah? Ini... Ini di alam terbuka?!" Panji meringis menutup telinga. "Berisik!" Citra menoleh ke Panji. Menunjuk Panji tidak tenang, "Kamu... Kamu ngapain bawa aku ke sini? Pestanya mana? Kamu nyulik aku, ya?!" Panji berdecak memutar bola matanya malas. "Kamu pingsan bukan hilang ingatan. Nggak usah drama!" "Oh, aku pingsan, ya? Hehe." ringis Citra. Sudah tenang dan mengingat semuanya. Citra merasa bodoh menunduk melihat pakaiannya yang masih melekat sempurna. "Hehe, gaunku masih bagus, ya? Cantik-cantik gini kok duduk di tengah-tengah sawah kering." ringisnya pada Panji. "Hmm," jawab Panji malas. "Ck, ayolah! Yang penting tantangan kita sama-sama berhasil. Nggak ada taruhannya, 'kan, ya?" menggaruk kepala gatal. "Khusus kamu ada lah. Hukuman!" Panji melengos. "Loh, kok gitu? Aku udah lima menit lebih sama mereka. Kamu malah lebih duluan. Kenapa aku dihukum?" Citra melotot. "Karena kamu ceroboh!" Panji membalas melotot. "Ce-ceroboh gimana?" Citra mendelik. "Siapa yang nyuruh minum banyak alkohol tadi? Siapa yang mau-maunya makan kue itu? Udah gila beneran?" Panji mendorong dahi Citra pelan. Citra mengaduh, cemberut mengelus dahinya, "Aku mana tau kalau bakalan kayak gini." Panji mencebikkan bibirnya sabar, "Untungnya ada aku. Kalau enggak udah habis kamu sama mereka. Lagian sejak kapan, sih, suka cowok-cowok ganteng? Aku kurang ganteng apa? Direbutin cewek segitu banyaknya masih belum cukup bukti memikatnya pesona aku?" Citra menatap Panji dari atas sampai bawah, "Kamu ngomong apa, sih? Aneh, deh." Panji meraup wajahnya, "Lupain lah. Eh, lihat di sana." menunjuk langit. Citra mendongak, "Woah! Cantik banget! Banyak bintang! Kenapa langit bisa cerah? Bukannya tadi mendung?" memperbaiki posisi duduknya jadi lebih nyaman. Tak henti-hentinya mengagumi kebesaran Tuhan di atas sana. Panji tersenyum, "Anginnya mengusir awan mendung yang nggak mau hujan. Jadinya keluarlah bintang-bintang kesukaan kamu." "Hahaha, cantiknya nggak bisa diekspresikan. Kayak udah lamaaa banget nggak lihat bintang. Aku mau tiduran, ah!" merebahkan dirinya lagi membuat sebelah tangannya menjadi bantal. "Hahh, aku ikutan, ah!" Panji juga merebahkan dirinya. Mereka saling tatap dan tertawa. "Bintangnya yang paling bersinar mana? Wah, banyak banget mataku sampai bingung!" Citra menunjuk beberapa bintang yang terlihat besar. "Mana ada mata pusing? Adanya itu hidung yang pusing," balas Panji. "Haha, bisa aja bercandanya. Mungkin nggak, ya, ada bintang jatuh? Katanya bisa buat permintaan." tangan Citra seolah menarik garis antara satu bintang dengan bintang yang lainnya. "Kamu percaya? Buat permintaan kenapa harus nunggu bintang jatuh? Mau berdoa, ya, berdoa saja." Panji ikut membuat rasi bintang. "Benar juga, ya. Hihihi, aku seneng banget di sini! Rasanya tuh kayak terbang di lautan bintang!" Citra memekik menggenggam sebelah tangannya. Panji terkekeh, "Tau nggak? Katanya kalau kamu bisa gambar wajah seseorang yang kamu sayang di antara bintang tandanya orang itu juga menyayangimu." Citra menoleh sebentar, "Masa? Tau dari mana?" "Aku baca buku dongeng milik Rama. Nggak percaya coba aja." Panji mengendikkan bahu. "Emm, gambar wajah orang di antara bintang itu sulit." mengernyit menatap langit. "Emang siapa yang kamu sayang?" Panji menoleh. Citra ingin menjawab spontan, tetapi tidak bisa. "Sapa yang aku sayang, ya?" "Hahaha, dasar bodoh! Gitu aja nggak tau." Panji beralih menatap langit. "Yeee, ngeledek! Emangnya kamu ada orang yang kamu sayang? Jangan bilang orang tua. Kalau itu semua orang pasti sayang lah!" Citra tidak mau kalah. "Tentunya ada dan kamu nggak perlu tau, weekk!" Panji menjulurkan lidahnya. "Idih, yaudah kalau nggak mau ngasih tau. Gambar aja wajahnya di bintang-bintang tuh. Kalau bisa, haha!" Citra lanjut membuat rasi bintang. "Dari tadi tangan muter-muter mulu. Gambar apa?" Panji mencebikkan bibirnya. "Nggak apa-apa. Aku cuma iseng, hehe." ringis Citra. "Yah, kirain!" Panji sedikit tertipu. "Handphone mana handphone? Aku mau foto." mendadak Citra ingin mengabadikan momennya. Menepuk-nepuk gaun mencari handphone. "Udah aku dokumentasikan tadi. Ngomong-ngomong, kita nggak jadi ikut pesta pernikahannya, nih?" Panji menatap Citra polos. Citra balas menatapnya, "Hehe, nanti kita ke sana aja bentar. Sekarang nikmatin langit malam dulu. Ntar kalau mendungnya datang lagi, 'kan sayang." "Kalau keburu pestanya selesai, gimana?" "Biarin aja, hahaha!" tawa Citra lepas. Panji terkekeh sampai terlihat lesung pipi kecilnya. Langit memang pesona tiada duanya khusus malam ini. Biarkan pakaian kotor. Biarkan detik demi detik berlalu. Biarkan napas mereka saling bertautan. Biarkan pula udara dingin menyertai mereka. Lupakan selimut di kamar yang selalu membungkus diri mereka. Kali ini biarkan bintang yang bicara. 'Jika hari-hari berikutnya aku masih bisa melihat bintang, aku mau melihatnya di alam terbuka. Entah itu sendirian atau bersama Panji. Sangat tenang dan indah, tidak ada gangguan atau kebisingan apapun. Aku harap ada harapan baru yang bisa membuatku punya ambisi,' batin Citra. 'Tidak bisa hanya mengandalkan diri sendiri. Tanggung jawab juga tidak bisa dianggap beban. Andai bintang selalu hadir di malam hari, maka harapan baru akan terus muncul. Setidaknya bagiku dan bagi Citra. Jalan apa yang aku cari... Kuharap akan datang secepat mungkin,' batin Panji. Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Hidup tanpa tujuan dan tidak punya semangat apapun rasanya sangat membosankan. Bekerja siang dan malam begitu monoton sehingga memilih jalan lain menjadi detektif amatir. Namun, jalan itu juga tak begitu menarik. Setidaknya untuk saat ini. Siapa yang tahu takdir akan berkata lain? Jika di depan sana akan ada banyak rintangan yang menanti. Lalu, mereka akan berkata lebih dari sekadar menarik. ~~~ Dua jam cukup untuk berbaring di hamparan sawah kering. Mereka takut membeku dan memilih kembali ke gedung. Sayang sekali gedungnya sudah tutup. Mereka tertawa, berpikir jika bos dari koki tersebut tidak menghargainya sampai tidak mau datang ke pesta pernikahannya. Rencana Panji akan bicara sendiri dengan kokinya besok. Hanya sekadar mengucapkan kata selamat atas pernikahannya, kemudian memberikan sesuatu sebagai hadiah. Citra sendiri tidak bisa dipastikan. Dia juga akan datang ke restoran Panji sebentar dan mengucapkan selamat sebelum berangkat bekerja. Di sisi lain mereka tidak tahu jika sahabatnya mempunyai masalah. Indra sedang dilanda panik. Ada seseorang yang mencoba mengeluarkannya dari universitas dengan mengadu domba. Tentu saja Indra tidak akan membiarkan masalah itu menjadi runyam. Segala kemampuan dan kecerdasan yang dia miliki sudah mampu untuk tidak membutuhkan bantuan siapapun. Dia sangka bisa menyelesaikan masalah itu dalam beberapa hari. Namun, nyatanya pernyataan terbaru datang dari pihak universitas membuatnya ditugaskan menjadi pemateri seminar di kota Malang. Tepatnya hari ini. Itu membuat Indra curiga sekaligus tidak nyaman. "Mana Indra? Nggak dengar suara jeleknya sehari aja rasanya kayak berbulan-bulan." Citra mampir sarapan di restorannya Panji. Dia sudah selesai memberi kata selamat dan minta maaf karena tidak muncul semalam pada koki terbaiknya Panji. "Nggak tau. Rama juga nggak ada kabar." Panji sibuk membuka buku laporan keuangan. Citra memang sarapan di ruang kerjanya Panji. Tidak terlalu nyaman jika makan bersama para pelanggan di luar sana. "Kalau Rama nggak usah ditanya. Dia keluyuran kemana-mana. Paling lagi muter-muter di jalan sama perpustakaannya." jawab Citra setelah mengunyah. Panji menutup bukunya, "Indra, ya? Nanti sore aku mau ke universitas tempat kita dulu. Aku mau cari karyawan paruh waktu yang mau bekerja malam hari. Biasanya mahasiswa yang butuh uang tambahan banyak dan kerjanya rajin. Sekalian nyari Indra." "Aku ikut!" Citra semangat. "Sip! Kita ketemu di kampus." Panji tersenyum simpul. Citra mengangguk dan melanjutkan makannya. Kesibukan seperti biasanya saat berada di perusahaan kertas yang besar itu. Namun, tempat Citra berbeda. Dia di kantor yang berudara dingin. Sifat teman polosnya yang masih melajang itu tetap sama seperti kemarin. Kalisa selalu merecoki Nuri, tetapi Nuri hanya menanggapinya dengan singkat. Bekerjanya menjadi lebih cepat dan ketika sudah selesai dia sibuk menawarkan diri untuk membantu karyawan yang lain. "Wow! Nuri, kamu kerasukan, ya?" canda salah satu laki-laki yang Nuri bantu. "Kerasukan jin baik sampai bisa-bisanya aku bantuin kamu!" balas Nuri tanpa berpaling dari layar komputer. "Wah, haha! Hey, semuanya! Nuri kita sudah tobat! Dia mau kerjain tugas kita semua, nih!" seru orang itu. Nuri menatapnya tajam, "Diam, mulut ember! Aku banting komputermu baru tau rasa!" "Banting aja. Itu punya kantor, kalau rusak silahkan tanggung sendiri, haha." orang itu mengedipkan sebelah matanya. Mengambil alih pekerjaannya kembali dan menggeser Nuri. "Udah sana balik ke meja kerjamu. Aku bisa sendiri," sambungnya. "Loh, kok gitu?" Nuri sedikit tidak terima. Orang itu menatap Nuri lekat. "Kenapa? Merasa nggak puas sama kerjaanmu yang numpuk? Atau jangan-jangan kamu suka sama aku, ya?" Nuri mendelik, "Pemikiran dari mana itu? Nggak, ya!" tolak Nuri mentah-mentah. "Bagus kalau enggak. Sana balik, jangan dekat-dekat sama aku. Ntar ada gosip baru jadinya repot." orang itu beralih ke layar komputernya. "Huh!" Nuri menghentakkan kaki dan kembali ke kubikel-nya. Melipat tangan kesal menatap orang itu yang sudah serius dengan pekerjaan. Semua itu tak luput dari pandangan Citra dan Kalisa. Mereka saling tatap tidak mengerti dengan tingkah Nuri. "Nuri, kamu ada salah makan tadi pagi?" tanya Kalisa perlahan. Dia dan Citra menoleh ke arah Nuri. "Enggak!" jawab Nuri sewot membuat Kalisa dan Citra mendelik. "Terus, kenapa bisa mendadak rajin? Itu cowok playboy di tim kita juga ngapain kamu ganggu?" giliran Citra bertanya. "Aku nggak ganggu. Cuma pengen bantu doang. Kalian semua nggak ada yang mau aku bantu. Kerjaannya juga nggak terlalu banyak. Cuma dia yang kerjanya numpuk nggak selesai-selesai sama sering lembur. Apa salahnya aku bantu?" jawab Nuri dengan sekali tarikan napas. Citra dan Kalisa kompak menganga. Saling pandang lagi dan mengendikkan bahu. Kembali menatap Nuri yang masih tak beralih pandangan dari orang itu. "Hehe, pesona playboy emang nggak bisa diduakan. Jadi ingat Indra. Dia, 'kan juga playboy," gumam Citra. "Nuri, kamu kenapa, sih? Akhir-akhir ini kelihatan aneh," jujur Kalisa tanpa ragu lagi. Baru Nuri mau menoleh padanya. "Aku lagi pengen makan orang!" "Ha!" kompak Kalisa dan Citra terkejut. "Hahah, makan orang katanya. Makan jatah orang itu baru bener. Segala kerjaan juga diembat." tiba-tiba orang itu menyahut sambil menggelengkan kepala. "Ish, bener-bener jadi orang, ya! Awas kamu!" Nuri menunjuknya tidak terima. Ingin menghampiri orang itu, tetapi Citra mencegahnya. "Eh, mau ke mana? Jangan buat onar deh. Ini di kantor. Kalau pak manajer tau bisa gawat!" "Biarin aja!" Nuri melepaskan tangan Citra yang menahannya. "Eh-eh, jangan mendekat! Mau makan orang beneran, ya? Gila kali!" orang itu mulai bangkit dari duduknya karena Nuri menghampirinya dengan perasaan marah. "Dasar tidak tahu terima kasih! Rasakan ini!" Nuri meninju orang itu sampai orang itu tersungkur dan menatap meja di sebelahnya. "Aduh! Cewek imut kuat juga ternyata. Hehe, aku pusing!" gumam orang itu sambil memegang pipinya yang ditinju. Kemudian, tergeletak di lantai tak sadarkan diri. "Ha! Nuri, kamu apa-apaan, sih? Itu dia sampai pingsan itu!" Citra dan yang lainnya segera mengerumuni laki-laki itu dan menolongnya. "Huh! Bodoh amat!" Nuri melengos dan pergi dari ruangan. Citra bingung antara mengejar Nuri atau menolong rekan kerjanya. Sedangkan Kalisa berdecak sambil menggeleng, "Dia salah makan beneran kayaknya. Makanya kalau makan itu yang bener. Biar nggak jadi kayak Nuri. Gila mendadak tuh anak." Semua orang yang di sana membicarakan tingkah Nuri. Pertama kalinya gadis itu memukul laki-laki sampai pingsan. Mereka juga baru tahu jika Nuri punya keberanian seperti itu. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN