17. Dua Pesona

2596 Kata
Gemerlap lampu mahal menghiasi setiap sudut ruangan. Jangan lupakan panggung megah nan elegan menjadi pusat perhatian terlebih lagi dua orang yang berdiri mesra di sana. Citra tidak tertarik dengan semua itu. Dia lebih memilih menyusuri deretan hidangan gratis yang dibiarkan begitu saja tertata rapi di meja. Mulutnya tak berhenti menganga seakan menemukan kenikmatan tiada tara. 'Woaaahh! Makanan gratis! Rejeki begini sayang kalau disia-siain. Aku makan yang mana, ya?' batin Citra memekik. Segera mengambil piring dan mengisinya dengan berbagai kue. Namun, ketika hendak mengambil kue cantik berwarna merah bertabur salju manis di atasnya tiba-tiba seseorang menghentikannya. "Eh?" Citra menarik tangannya langsung. Menoleh menatap pemilik tangan besar itu, sukses membuat matanya melebar. "Merah menyala tidak cocok dengan kecantikan sedamai dirimu, Nona." senyum tipis terlalu manis berhasil membuat Citra terpana. Lemas hampir menjatuhkan piring di tangan. "Ha?" hanya itu yang keluar dari bibir Citra. Orang itu mengambil puding berhiaskan buah kiwi, "Selembut sutra, semanis madu, secantik malam di langit kelabu. Terimalah salam dariku." sedikit membungkuk seraya memberikan puding itu pada Citra. Citra semakin terbelalak. Tersentak menahan napas. Tidak menjawab, tidak juga bergerak membuat orang itu mengerutkan dahi dan menatap Citra. Tersenyum miring, berdeham, dan kembali ke posisi semula. "Ehm, perkenalkan saya agen majalah fashion remaja. Melihat gaya Nona yang begitu segar dan sedap dipandang membuat saya tertarik untuk menawarkan kerjasama. Bisa kita berbincang sebentar?" sapa orang itu ramah. "Langit kelabu? Perasaan langitnya gelap mendung. Maksudnya apa?" bergumam polos tidak sadar orang itu sedang mengajaknya bicara. Kemudian, orang itu terkekeh dan menjentikkan jarinya di depan wajah Citra membuat Citra mengerjap sadar. "Eh? Maaf, saya melamun. Hehe, tadi ngomong apa? Kamu siapa?" tanya Rien ramah. "Saya menawarkan kerjasama untuk Nona agar menjadi model fashion majalah remaja," orang itu menjelaskan kembali maksud kedatangannya dan Citra hanya ber-oh ria. "Eee, terima kasih pujiannya. Sebenarnya saya nggak suka berdandan. Ini karena diundang ke pesta pernikahan saja jadinya agak sedikit cantik, hehe. Lagipula saya sudah bekerja," jawab Citra tak malu-malu untuk jujur. "Bekerja?" orang itu mengernyit. "Iya. Jadi, mohon maaf, ya." Citra menangkupkan tangannya. "Ah, tidak apa-apa. Saya hanya menawarkan. Jujur saja dari semua perempuan di sini hanya Nona yang berhasil memikat pandangan saya." orang itu menwarkan pudingnya lagi. "Oh, haha, jadi malu," candanya. Seketika ingat dengan tantangan yang dibuatnya sendiri. 'Wah, aku hampir aja kelupaan. Mendadak ditemani cowok ganteng, mimpi apa aku? Secepat ini? Bagus! Aku harus cepat-cepat pamerin ke Panji. Ck, mana tuh orang? Jangan-jangan masih di ambang pintu,' batin Citra. "Emm, kalau boleh bisa kita berteman?" tanya Citra pura-pura polos. 'Hehehe, awas kau, Panji. Aku bakal menangin tantangan, haha!' pekiknya senang dalam hati. "Tentu saja boleh. Di sana ada beberapa rekan kerja. Mereka juga bekerja di bidang majalah fashion. Kita bisa bergabung dengan mereka kalau tidak keberatan." orang itu menunjuk beberapa laki-laki yang berpenampilan seperti model sedang membawa segelas sirup yang bisa membuat orang mabuk di dekat pintu. Citra menutup mulutnya karena ternganga. 'Bagus! Nggak usah dicari udah datang sendiri, hehehe. Rejeki nomplok ini namanya! Nggak cuma satu, tapi lima sekaligus!' memekik lagi dalam hati. Menurunkan tangannya dan kembali memasang senyum, "Boleh-boleh." Orang itu mempersilahkan Citra untuk berjalan terlebih dahulu. Ketika Citra sudah berada beberapa langkah di depannya, orang itu tersenyum miring jauh berbeda dari ekspresi lembut sebelumnya. Celingukan mencari sang suami yang menghilang sejak beberapa menit yang lalu sampai kakinya hampir sampai di kerumunan laki-laki itu. "Panji mana? Belum masuk juga? Pasti lagi ketemuan sama kolega," gumamnya. Pandangannya jatuh ke arah pintu. Dia heran karena banyak gadis muda yang berkerumun di pojokan teras. Penuh lampu kecil-kecil yang cantik membuat gaun mereka gemerlap seperti lampu. Citra terus saja memperhatikannya sampai kakinya berhenti tepat di dekat pintu. Dia ternganga sampai tak kuasa menutup mulutnya. "Panji?!" pekiknya tanpa sadar. Membuat beberapa orang di dekatnya menoleh padanya. "Kakak ganteng banget! Boleh minta foto bareng nggak?" "Udah punya pacar belum? Pasti ini keluarga dari mempelai pria, 'kan? Aura pengantinnya nempel!" "Tampan nan mapan begini dipanggil kakak. Dasar nggak sopan. Tuan, mereka masih anak-anak. Lebih baik kita bicara berdua saja. Bicara soal sesuatu yang menarik malam ini, mungkin." Citra semakin menganga hingga orang tadi menepuk pundaknya saja Citra tidak sadar. "Dasar, cewek ular! Itu ngapain dia diem aja? Sok ganteng! Udah berapa lama dia direbutin cewek-cewek begitu? Gue nggak bisa biarin ini!" desis Citra. Orang itu mendengarnya menjadi mendelik. Mengikuti arah pandang Citra. Panji sedari tadi hanya diam di tempat yang sama. Tangannya masuk ke saku celana dan tidak berucap sepatah kata pun. Membiarkan mereka yang mau berfoto dengannya begitu saja. Menepis tangan-tangan jahil dengan kuku runcing yang menjijikkan baginya. Sebisa mungkin menghindari jari-jemari lentik mereka mencoba membelai wajah dan pakaiannya. Dia malas meladeni mereka. Panji hanya menunggu saat Citra melihatnya. Di saat itu dia akan mulai bereaksi untuk pamer kemenangan. Sedari tadi matanya melirik sana-sini untuk mencari keberadaan Citra. Tidak mungkin juga untuknya membawa semua gadis itu masuk ke dalam gedung. Sekali menoleh berhasil menampilkan senyum sumringah di wajahnya. Panji berhasil menangkap ekspresi Citra yang wajahnya memerah menahan geram padanya. 'Itu dia. Hehe, lihat nih aksiku,' batin Panji. Dia mulai memberi tatapan hangat pada gadis-gadis itu membuat mereka semakin memekik senang dan terus memujinya. "Kalian siapa?" hanya itu yang terucap dari Panji. "Astaga, dia bicara padaku!" "Matanya menatapku, jadi bicara padaku!" "Suaranya seksi sekali! Menghangatkan tenggorokanku yang gatal!" "Aaaaa, Tuan tampan, temani aku saja malam ini. Kedua mempelai tidak akan mencarimu, tenang saja." "Kakak, kamu sudah punya pacar belum? Kenapa dari tadi diam di sini? Menjadi penjaga pintu, ya? Penjaga hatiku saja, Kak." Panji tersenyum hangat pada mereka semua. Ada sebuah handphone yang selalu memotretnya. Panji mengambilnya membuat gadis pemilik handphone itu memekik tak terkendali. Panji menarik tangan gadis itu lebih dekat padanya. "Sudah berapa banyak yang kamu ambil?" tanya Panji seraya memperhatikan fotonya di handphone itu. "Ya Tuhan, aku gemetaran! Kakiku lemas, Kakak tampan." gadis pemilik handphone itu pun terduduk tak berdaya. Panji terkekeh dalam hati, tetapi menatap gadis itu polos dan memberikan handphone-nya. Citra sudah naik pitam. Dia melengos menarik laki-laki yang terus mengawasi Panji dan dirinya sejak tadi ke kerumunan laki-laki di depannya. 'Awas aja! Aku nggak mau kalah! Dia cuma nanya bodoh begitu bisa-bisanya para cewek genit meleleh? Biarpun kalah jumlah, aku tetep nggak boleh kalah pesonanya! Panji sialan!' kesal Citra di hati. "Nona, kau baik-baik saja? Kenapa menarikku?" tanya orang itu setelah tiba di dekat teman-temannya. Citra melepaskannya merasa bersalah. "Maaf, Tuan. Aku tidak sengaja. Tadi suasana hatiku mendadak tidak nyaman. Apa ada yang sakit? Aku minta maaf sekali!" mengelus dan meneliti lengan orang itu. Orang itu saling pandang dengan teman-temannya. "Tidak-tidak, kalau kau menyentuhku terus justru membuatku semakin sakit," katanya sedikit gugup. Citra langsung mengangkat tangannya, "Maaf-maaf. Aku ceroboh!" menggaruk kepala bodoh. Dia melirik pintu berharap Panji bisa melihatnya. Namun, Panji tidak bisa melihat Citra lagi. 'Mana Citra? Jangan bilang dia juga lagi cari perhatian. Aku harus masuk,' batin Panji. Seketika dia meninggalkan para gadis itu dan masuk ke gedung, tetapi gadis-gadis centil itu mengikutinya. Hanya beberapa yang tidak mengejarnya. "Eh, mau ke mana? Jangan pergi dulu!" kebanyak dari gadis-gadis itu mengatakan kata jangan yang sama. Akhirnya Panji berhasil menemukan Citra. Dia terbelalak tak bisa berkata-kata. Para gadis itu sudah mengerumuninya lagi membuat Panji tak bisa mendekati Citra. 'Sial! Lima orang membuat Citra masuk ke lingkarannya? Gadis bodoh!' batin Panji. "Kakak tampan, aku mau selfi berdua denganmu boleh, ya?" pinta salah satu dari mereka. "Aku juga mau!" Cup! Panji melotot menepuk pipinya segera. "Aku berhasil menciumnya!" seru salah satu dari gadis-gadis itu. Panji semakin melebarkan matanya, "Citra, aku dicium!!!" adunya berteriak. Sontak Citra menoleh kaget. 'Apa?! Dia masih dikerumuni para cewek centil itu?! Berani main nyium lagi! Iiiyyyy, nyebelin! Pokoknya aku nggak terima!' pekiknya dalam hati. Berpaling dari Panji langsung tersenyum manis menyahut lengan orang yang mengajaknya dan memberinya minum-minuman berakohol rendah hasil merebut dari teman orang itu. "Hei, itu punyaku!" kata teman orang itu tak terima, tapi seseorang di sebelahnya menahannya dan menyuruhnya untuk membiarkan Citra melakukan sesuai keinginannya. "Tuan, kau baik dan ramah. Lain waktu mungkin bisa membawaku melihat kantormu. Aku selalu ingin tau dengan model-model cantik di majalah. Pasti sangat menyenangkan." menyerahkan minuman itu. Orang itu segera menerimanya, "Terima kasih. Boleh kami tau siapa namamu? Kamu tamu dari mempelai pria atau wanita?" sedikit berani dari sebelumnya. "Aku Citra teman dari mempelai pria. Dia salah satu koki di restoran temanku, haha." tawa Citra dibuat-buat. "Oh, kamu punya banyak teman, ya. Kita juga bisa berteman lebih akrab. Benar, 'kan?" sahut teman orang itu. "Tentu saja. Senang berteman dengan kalian." Citra mengulurkan tangan dan orang itu menjabatnya. Panji melongo tidak menghiraukan Serua gadis-gadis yang bertanya kenapa dia berteriak tadi. "Citra? Jabat tangannya lama banget," gumamnya. "Siapa Citra?" "Apa dia pacarmu? Yang mana?" "Kenapa kamu berteriak, Tuan? Aku hanya mencium pipimu sedikit. Itu rasanya tidak sakit." Panji tersadar karena mereka. "Eee, bukan apa-apa. Nona, kau tidak boleh menyentuhku barang sejengkal pun. Itu sangat tidak sopan," kata Panji pada perempuan seumurannya yang telah menciumnya. "Ow, aku minta maaf. Tapi kau tidak menghiraukan kami, jadi aku menciummu. Bisa kita berkenalan? Aku tidak pernah melihat pria tampan dan setenang dirimu ketika dikelilingi wanita." mengulurkan tangannya. Panji segera menjabat tangan orang itu dan langsung melepasnya. Senyum sesaat perempuan itu pun luntur. Namun, gadis-gadis yang masih mengelilinginya merasa iri ingin berjabat tangan dengan Panji juga. "Aku Panji, teman mempelai laki-laki. Senang berkenalan denganmu." "Wah, ternyata hanya teman. Aku kira kerabatnya." "Aku justru mengira adik dari mempelai pria. Terlihat masih muda!" Panji hanya tersenyum menanggapinya. Matanya sedikit-sedikit mencuri pandang pada Citra. Padahal Citra juga sama. Dia asik bercengkerama, tetapi matanya sibuk melirik Panji. 'Ish, nggak bisa dibiarin! Panji terus aja ngoceh sama mereka,' hati Citra merasa sebal. "Berapa usiamu? Citra itu nama pacar atau temanmu?" tanya dia yang berjabat tangan dengan Panji. "Semua itu tidak perlu kujawab," kata Panji. "Ayolah, Kakak. Kamu tidak perlu misterius begitu. Aku lihat semua orang berpasangan. Hanya kamu yang tidak. Aku bahkan meninggalkan kekasihku di parkiran." "Benar! Tapi kalau tidak mau menjawab juga tidak apa-apa. Cukup temani kami di sini. Eh, ada kue varian terbaru. Ini untukmu." "Ambil punyaku saja. Ini lebih enak." Panji tidak ada pilihan lain selain menerimanya. Dia ingin Citra merasa panas melihat dia terus meladeni para gadis itu sehingga akan menyudahi permainannya. Ketika saling lirik, tak sengaja pandangan mereka bertemu. Saling terkejut di dalam hati, kemudian memberi tatapan tajam tak mau kalah satu sama lain. 'Sembarangan nerima kue dari mereka. Udah pipinya dicuri, sekarang mau makan kue itu? Nggak tau diri!' rasanya sudah gemas batin Citra. Dia langsung melengos dan merangkul lengan laki-laki di sampingnya itu. "Citra, kenapa kamu memegang lengannya? Lenganku juga tidak masalah." canda teman laki-laki itu membuat mereka terkekeh. "Ahaha, aku hanya iseng. Kalian datang bersama?" langsung menarik tangannya. Laki-laki itu terus mempertahankan senyum memikatnya, "Iya, kami bersama-sama. Jadi, alangkah baiknya kamu juga ikut bersama kami. Di sini terlalu ramai dan pestanya belum mulai. Kita habiskan waktu bersama saja." Salah satu dari mereka memanggil pelayan untuk memberinya minuman yang sama. Masing-masing dari mereka memegang satu gelas. Ada satu gelas lagi yang dipegang laki-laki itu. "Citra, ini untukmu." menyerahkannya pada Citra. "A-apa? Aku tidak minum alkohol." menggeleng seraya menyilangkan tangan. Menatap air berwarna merah itu ngeri. 'Itu berbahaya, 'kan?' batin Citra. "Tidak minum? Ini alkohol rendah. Rasanya mirip seperti soda. Cobalah!" orang itu masih kekeh memberikan minuman itu. Citra meringis menggeleng lagi, "Aku benar-benar tidak bisa meminumnya. Kalian minum saja." "Kamu gadis yang ramah sekali. Kami tidak bisa minum kalau kamu tidak minum."sedikit memaksa. "Benarkah? Seperti soda? Tidak berbahaya bagi tubuh?" Citra bertanya polos. "Hahaha, kata siapa berbahaya? Kalau berbahaya aku dan semua yang ada di sini sudah keracunan meminumnya. Lucu sekali!" kekeh salah satu dari mereka. "Oh, haha." Citra ikut tertawa bodoh. 'Masa, sih?' batinnya curiga. Sedikit ragu ingin menerima gelas cantik berisi air merah itu. Namun, Citra menyemangati diri sendiri untuk tidak mengkhawatirkan sesuatu yang tidak terjadi. "Baiklah, aku coba." senyum sepenuh hati menerima minuman itu. 'Astaga! Citra tahan alkohol nggak, ya?' batin Panji. Dia melotot Citra mulai meminumnya sampai habis. "Eee, permisi, ada yang harus aku lakukan." Panji mencoba melepaskan diri dari gangguan gadis-gadis itu. Sayangnya mereka tak mau melepaskan Panji. Dia kesulitan, tidak mungkin juga harus menyentuh mereka untuk membuat jalan. Citra terus saja minum dengan lima lelaki itu. Dalam hati Panji juga ingin tahu seberapa mampunya Citra meminum alkohol tingkat rendah. "Hmm, lumayan enak." kata Citra setelah meneguk beberapa gelas. "Haha, kamu suka? Makan juga kue ini. Kami juga akan makan." salah satu dari kelima lelaki itu menyerahkan kue kecil. "Kue? Aku sudah kenyang minum. Tidak makan lagi." mengibaskan tangannya mendadak lemas mirip sempoyongan. Kaki Panji sudah tergerak ingin melangkah. Dia khawatir. 'Bagaimana kalau dia jatuh?' batinnya. "Permisi, izinkan aku pergi," Panji masih mencoba sabar. "Kenapa buru-buru pergi? Acaranya sudah dimulai, ya?" balas salah satu dari gadis-gadis itu. "Tidak, aku harus menemui temanku," jawab Panji sedikit gelisah. Dia menatap Citra terus yang sudah menerima kue itu walau hanya dipandang saja dengan raut masam. 'Kuenya...,' pikiran Panji yang bukan-bukan. "Kenapa aku merasa kalian mempermainkanku?" gumam Citra sudah merasa pusing. "Citra, kenapa memegang kepala? Pusing?" tanya seseorang yang mengajak Citra bergabung. Citra menoleh, "Tidak tau. Rasanya aneh." menggeleng pelan kemudian mendesis. "Kalau begitu coba makan saja kue-nya. Siapa tau kau lapar makanya pusing," tawar salah satu dari mereka. Citra mengangguk, "Benar juga. Hanya air yang masuk ke perutku, walaupun kenyang tetap saja harus makan sesuatu, 'kan?" Satu sendok kue itu berhasil masuk ke mulutnya. Dia tersenyum merasakan manis, tetapi sakit di kepalanya semakin bertambah. Mengipasi wajahnya dengan tangan. "Pendingin ruangannya mati, ya? Mendadak panas di sini," sambungnya. "Masa? Enggak kok." orang itu celingukan mencari pendingin ruangan. Lalu, tersenyum penuh arti pada teman-temannya yang tidak dimengerti oleh Citra. Salah satu dari mereka menepuk pundak Citra dan tangannya tidak mau turun dari sana. "Hei, Citra. Kamu datang sendirian, 'kan?" "Hmm?" ingin sekali menjawab, tetapi kesadarannya menyuruhnya untuk diam. 'Aku, 'kan sedang main sama Panji. Mereka nggak boleh tau kalau aku lagi taruhan, haha,' batin Citra. "Bagus sekali! Kita keliling gedung ini mau? Kakiku pegal berdiri terus dari tadi," sambung laki-laki itu. "Boleh-boleh." Citra mengangguk lemas. Mereka memberi kode lewat mata dan siap melangkahkan kaki. Seketika Panji menyibak gadis-gadis di sekelilingnya tidak peduli dari mereka ada yang jatuh dan mengeluh. Dia langsung menarik Citra sampai Citra terhuyung menabraknya. Mereka berkerut dahi dan saling pandang dengan Panji yang memasang tatapan tak bersahabat. Citra mendongak, samar-samar terlihat jika itu Panji. Senyumnya mulai terbit. "Eh? Panji, kamu udah lihat? Aku lebih dari lima menit bersama mereka. Mereka baik, aku hebat, 'kan?" gumam Citra seraya menunjukkan kelima jarinya. Panji menoleh sebentar padanya kemudian menatap lima lelaki itu lagi. "Oh, lima menit? Kami bisa memberikan lebih dari lima menit, Cantik!" kata orang yang memegang Citra barusan sambil menatap Panji. Panji semakin tersulut hingga giginya bertaut. Citra mengipasi wajahnya lagi. "Kok, tambah panas, sih?" "Dia istriku. Kalian akan bayar untuk lima menit sebelumnya," desis Panji. Mereka tersenyum miring ada yang berdecih. "Istrimu lugu. Ternyata sedang bermain denganmu. Kami hanya mengaguminya sebentar. Berterimakasih lah karena kami memasukkan obat perangsang di kue itu. Nikmati waktu kalian. Ah, dia bukan peminum yang baik. Alkohol rendah saja membuatnya pusing." orang itu menepuk pundak Panji. "Kurang ajar!" segera membawa Citra keluar gedung. Masih sempat mendengar lima laki-laki itu tertawa ringan. Panji terus membawa Citra walau kesulitan karena Citra meracau dan meronta tanpa henti. Tidak mau ikut dengannya dan berusaha kembali ke dalam. Panji tidak menghiraukan Citra. Dia memeganginya erat seraya merogoh handphone di saku. Menelepon seseorang dan memintanya untuk memberikan pelajaran bagi kelima orang itu. Tidak bisa membawa Citra pulang karena Citra sulit dikendalikan, alhasil membawanya pergi jauh menyusuri jalan menuju gedung. Sangat jauh hampir ada setengah jam mereka berjalan. Hingga jauh dari jalan raya dan gedung tersebut. Tidak disangka mereka tiba di sebuah ladang yang tandus. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN