Roti selai saja tidak akan membuat perut dua orang itu kenyang. Mereka memutuskan makan lagi setelah di tempat kerja nanti. Raut wajah Citra sudah panas dingin membayangkan manajer keuangan yang menegurnya. Sedangkan teman-temannya hanya bisa diam menyaksikan. Dia akan menghela napas dan menunduk mendengarkan teguran. Bagaimana imbalan yang dia dapat? Tentu saja potong gaji. Nyatanya setelah dia sampai di sana khayalan itu menjadi kenyataan.
"Tidaaaaakkk!" Citra berteriak di toilet khusus perempuan.
"Huaaa, gajiku bulan ini berkurang cuma gara-gara absen sehari. Bos nggak adil!" dia marah pada bayangannya di pantulan cermin.
"Haishh, udah lah nggak usah nangis. Eh, cobain deh. Ini lipstik wana terbaru. Aku baru beli kemarin." Kalisa yang ada di sampingnya sedang bersolek manja merasa puas dengan dirinya yang cantik dari cermin.
Citra semakin teriak membuat Kalisa berdecak, "Udah nggak usah mewek gitu, ah. Aku juga punya bedak anti debu-debu alay yang nempel nanti. Cobain, deh. Biar tau gimana rasanya bedakan cantik. Bukan cuma bedak bayi doang yang kamu pakai." menutup listriknya dan menyerahkan bedak pada Citra.
Citra melirik dengan bibir mengerucut. "Aku lagi sedih, loh," memelas.
"Tau. Makanya aku kasih bedak biar nggak sedih." Kalisa menyodorkan bedaknya lagi.
"Huaaa, punya temen kok nggak peka. Orang lagi sedih itu dihibur atau ditraktir makan kek. Ini malah dikasih bedak!" Citra sok menangis lagi.
"Halahh, ngomong aja laper. Ntar jam istirahat aku traktir. Yuk, kerja!" Kalisa menarik Citra yang masih merengek.
"Bener traktir, ya," pinta Citra.
"Iya-iya, ah!" pasrah Kalisa.
Di kubikel-nya Citra merasa ada yang kurang. Lalu, dia ingat. Buku gambar seperti buku harian miliknya tidak ada di meja. Padahal buku itu selalu ada di sana dan tidak pernah Citra bawa pulang.
"Loh, bukuku mana? Kalisa, lihat buku gambarku nggak?" Citra menggeledah laci mejanya sampai ke kolong kursi.
Kalisa menoleh, "Buku gambar? Biasanya di dekat tumpukan kertas itu."
"Enggak ada, Kalisa. Apa jatuh terus dibuang tukang bersih-bersih, ya?" menatap Kalisa.
Kalisa mengendikkan bahu. "Coba tanya Nuri. Eh, ke mana bocah itu?"
Citra menoleh ke belakang karena Kalisa heran memandang bangku Nuri yang tidak ada orangnya.
"Loh, sekarang dia yang nggak masuk?" Citra menggaruk kepalanya.
"Kayaknya telat, deh." Kalisa kembali mengerjakan sesuatu.
Citra masih bingung dengan tidak adanya Nuri dan lanjut mencari buku miliknya. Sangat penting karena di dalam itu ada gambar sempurna tentang pernikahannya. Gambar yang lebih bagus dibandingkan dengan gambaran yang lain di buku itu. Sayang sekali jika hilang. Menggunakan alasan ingin ke kamar mandi lagi dia mencari buku itu ke tukang pembersih ruangan yang selalu datang awal di tempat kerjanya. Ternyata benar jika buku itu jatuh dan diambil orang itu, tetapi tidak dibuang ke tempat sampah.
Dia mengambilnya karena dikira buku itu tidak berguna lagi karena jatuh di luar kubikel Citra. Citra heran, bagaimana bisa bukunya jatuh di luar meja kerjanya. Seharusnya jika jatuh pasti berada di bawah meja. Tak mau mengusut lebih lanjut dia pun pergi. Bukunya sudah ditemukan itu yang paling penting. Namun, di koridor perbatasan kamar mandi dan ruang staf keuangan dia melihat Nuri berjalan dengan sangat cepat. Citra spontan sembunyi. Dia perhatian terus langkah Nuri yang sangat terburu-buru, tetapi bukan menuju ruang staf keuangan.
"Eh? Kenapa Nuri begitu? Dia kayak marah padahal yang aku tau dia nggak pernah marah," gumam Citra.
Nuri menghilang di balik dinding. Niatnya ingin mengikuti, tetapi pekerjaan menanti. Citra melupakan itu dan mengira Nuri pasti ada sesuatu yang penting dan tidak bisa ditunda sehingga rela mengundur waktu kerjanya.
"Kalisa, aku tadi lihat Nuri jalannya buru-buru banget," bisik Citra setelah beberapa menit mengerjakan pekerjaannya.
"Masa? Terus Nuri mana? Dia belum datang tuh," jawab Kalisa tanpa berpaling dari laptop. Jarinya juga tak berhenti mengetik.
"Nah, itu dia yang aku nggak tau," balas Citra.
"Ntar juga ke sini sendiri. Jangan ganggu aku dulu, deh. Kerjaan banyak banget dari kemarin." Kalisa nampak serius dari biasanya.
"Iya, deh." Citra terkikik sebentar dan lanjut menyibukkan diri.
Jarum jam menunjukkan pukul dua belas siang. Waktunya mereka istirahat. Pilunya Citra yang terkena potong gaji sudah tak dirasakan lagi. Kini wajah Kalisa yang masam karena capek sekaligus uangnya hari ini dikuras untuk membelikan makan siang Citra. Nuri juga sudah ada di sana. Gadis itu hanya menatap handphone dan sibuk mengetikkan sesuatu. Citra pikir dia bermain game, ternyata sedang saling bertukar pesan. Dia asik makan sedangkan dua temannya menikmati nasibnya masing-masing.
"Hmm, enak banget! Kalian nggak mau makan?" Citra melirik Kalisa dan Nuri bergantian.
"Hahh, malas banget rasanya. Kamu makan aja sendirian." Kalisa melipat tangan di meja dan menyandarkan kepalanya di sana.
"Hmm? Tumben lemes? Kenapa? Ada masalah rumah tangga?" Citra asal menebak.
"Capek aja tiap hari kerja nggak ada habisnya. Semalam lebur lagi," jawab Kalisa malas.
Citra mengunyah dengan wajah gembira, "Lembur lagi? Emangnya ada laporan yang salah? Kok, aku nggak dikasih tau?"
"Ya Tuhan, anak ini polosnya kebangetan. Lembur sama suami aku lah, masa sama kerjaan!" jawab Kalisa sedikit geram.
Citra hampir tersedak. Segera minum sampai habis air setengah gelas. "Kalau ngomong nggak bisa direm dikit. Kirain soal laporan," bantahnya.
Kalisa memutar bola matanya malas sebagai jawaban. Citra melirik Nuri. Tidak terganggu sama sekali padahal Kalisa lagi dan lagi menyinggung persoalan rumah tangganya.
'Biasanya dia komen kalau Kalisa begitu. Sekarang diam aja fokus handphone,' batin Citra.
"Nuri, makan sama aku, yuk! Ini enak loh," tawar Citra ceria. Nuri hanya menjawab dengan dehaman.
"Kamu tau nggak? Kemarin ada yang nyenggol buku aku terus jatuhnya ke luar meja. Pasti ada orang iseng," Citra bicara sangat meyakinkan.
Nuri langsung mendongak menatapnya dengan mata yang melebar. Citra tersentak. "Kamu... Kenapa natal aku begitu?"
"Nggak apa-apa. Boleh aku lihat buku gambarmu?" Nuri mengulurkan tangannya meminta.
"Apa? Tumben pengen minjam. Biasanya juga nggak tertarik." Citra memicing.
"Pengen aja," jawab Nuri asal.
Jam istirahat telah usai dan Nuri menagih buku itu. Citra memberikannya tanpa curiga walaupun merasa tingkah Nuri tidak seperti biasanya.
"Kenapa? Gambaranku bagus, 'kan?"
Nuri hanya membolak-balik halaman buku Citra.
"Kamu yang gambar ini?" Nuri menunjukkan halaman paling belakang padahal masih ada halaman kosong sebelumnya. Citra mengernyit, "Kok, ada gambar di sini? Aku nggak pernah melewatkan satu halaman pun, apalagi ini di halaman terakhir. Kalau dilihat-lihat bukannya mirip kamu?"
Nuri terbelalak, "Bukan kamu yang gambar?"
Citra menggeleng menatapnya, "Buat apa gambar wajahmu? Kurang kerjaan?" jawabnya sedikit bercanda.
Nuri melengos dan meyerahkan buku gambar itu pada Citra. "Maaf, Citra. Mungkin kemarin waktu kamu nggak masuk ada orang yang meminjam buku gambarmu tanpa izin, terus menggambarku di sana. Haha, paling orang iseng yang suka sama aku. Maklum lah, aku, 'kan cantik," ujarnya.
Citra meringis kaku menerima bukunya lagi. "Iya, cantik banget sampai aku mau muntah," balasnya.
"Ck, lanjut kerja aja." Nuri tidak meladeni Citra lagi yang jelas-jelas raut curiga tanpa kepastian terlihat di wajahnya.
'Aneh banget. Biasanya nggak ada yang aneh sama dia. Kenapa tiba-tiba wajah imutnya ada di buku gambarku?' batin Citra seraya menatap laptopnya.
Seharusnya tidak ada masalah lagi dan Citra bisa pulang dengan tenang. Namun, wajah Kalisa yang cemberut di parkiran membuatnya harus rela menghampiri temannya itu. Duduk di atas motor, melamun memegang helm, tanaman sirih yang merambat di tiang parkiran menjadi pemandangan Kalisa. Dahi Citra berkerut karena tidak ada yang istimewa dari daun sirih itu sampai menjadi pusat perhatian Kalisa.
"Hei!" perlahan Citra menepuk pundak Kalisa.
Kalisa terjingkat. Menatap Citra yang memasang senyum lima jari kemudian dia mendesah, "Apa, sih? Kaget tau."
"Hehehe, ngelamun aja dari tadi. Nggak ikhlas, ya, nraktir aku makan?" menunjuk wajah Kalisa.
"Enggak, ya." Kalisa menepis telunjuk Citra.
Citra terkekeh, "Terus kenapa? Cerita sini dong. Tadi Nuri yang nggak jelas, sekarang kamu. Lama-lama aku ikutan nggak jelas, 'kan bahaya." menyandarkan tubuhnya ke motor Kalisa.
"Huft... Kapan, ya, aku punya anak?" masih memandang tanaman sirih di tiang depan.
Citra mengerjap, "Tumben nanya begitu."
"Nggak tau aja. Sebenernya aku pengen banget jadi ibu. Umurku udah nggak muda lagi buat jadi ibu muda, tapi aku pengen punya anak. Suamiku udah sabar banget nantiin. Kata dokter nggak ada masalah sama kita berdua. Kenapa gue masih belum bisa hamil?" Kalisa menatap Citra dengan tatapan penuh tanya.
Citra tersentak dalam hati. "Sabar... Mungkin belum dikasih sama Yang Kuasa. Berdoa dan terus berusaha aja. Siapa tau besok langsung hamil, hehe," candanya.
"Hahaha, kalau berusaha mah tiap hari. Kamu tuh yang nggak mau usaha. Lebih ngenes dari aku," ejek Kalisa.
"Eh, nggak usah ngungkit aku. Apaan ngalahin pembicaraan. Aku kasih tau, ya. Nggak boleh putus asa sama keinginan yang begitu kuat. Ambisi dan harapan itu perlu, Brayy! Semangat, jangan kasih kendor!" Cita mengepalkan tangan.
Kalisa semakin tergelak, "Apanya yang jangan kasih kendor?" menaikkan alisnya.
"Ck, tau deh. Aku mau pulang. Kamu jangan terus mikir yang enggak-enggak. Pasti bakal dikasih keturunan kalah udah waktunya. Yuk, balik! Perutku udah lapar lagi, hehe." menepuk motor Kalisa dan kembali ke motornya. Kalisa hanya menjawab dengan senyuman.
Ketika hendak menyalakan motornya, Citra tersenyum memikirkan sesuatu. 'Nggak disangka. Ada dua temanku yang bernasib sama. Sama-sama pengen punya anak sampai cinta mati sama pasangannya sendiri-sendiri. Banyak di luar sana yang meninggalkan pasangan mereka hanya gara-gara keturunan. Tapi Kalisa dan Indra berbeda. Mereka tulus mencintai pasangan mereka walau tanpa adanya buah hati di tengah-tengah mereka. Aku jadi semakin bingung dengan kata cinta,' batinnya.
Motor dinyalakan dan mulai bergabung dengan kendaraan lain untuk membuat udara semakin berpolusi. Tidak seburuk itu rasa laparnya hingga bisa ditunda untuk pergi ke butik membeli sebuah gaun yang selaras dengan sepatu barunya. Jika diingat maka pesta pernikahan itu malam ini. Citra senang karena akan mengenakan pakaian cantik, tetapi tidak senang karena harus jadi pasangannya Panji.
"Dia itu menyebalkannya setengah mati. Flu aja pura-pura, pasti habis ini juga ada aja akalannya. Dia mau bikin ulah apa lagi nanti?" gerutu Citra karena mengingat Panji.
Tepatnya memikirkan apa yang akan dilakukan suaminya nanti malam. Sambil memilah-milah gaun yang cocok baik di kantong maupun di tubuhnya, pikiran Citra melayang kemana-mana.
~~~
Kerlap-kerlip bagaikan bintang tertutup mendung di rumah yang lampunya padam. Sengaja hanya untuk pamer betapa cantiknya dirinya ketika sudah berdandan. Benar, suaminya menganga, tetapi hanya sesaat.
Ceklek!
"Haishh, udah-udah. Mau pamer kayak gimana juga kamu nggak ada bedanya. Mukamu gitu-gitu aja walau dandan. Nggak ada perubahan!" Panji mengibaskan tangannya menolak pesona Citra setelah menyalakan lampu.
Citra menganga, "Eh, aku cantik loh. Lihat, nih, rambut baru aku ada jepit bintangnya. Aku ngambil langsung di langit tadi." maju selangkah pamer jepit rambut membuat Panji mundur selangkah hampir menabrak pintu kamar.
"Ck, langit lagi mendung, Bodoh! Bintangnya ogah diambil sama kamu." sulut Panji.
"Eh-eh-eh, mulut berbisa banget ngomongnya. Paling enggak puji aku dikit kek. Ini kedua kalinya aku dandan kayak cewek rempong beneran loh. Pertama waktu kita nikah, terus sekarang juga mau ke pesta pernikahan. Gimana? Aku buat kamu punya muka di depan semua rekanmu, 'kan? Haha, nggak sia-sia deh nikah sama aku. Cantik!" Citra mengibaskan rambutnya.
Panji menganga. Mendorong dahi Citra pelan sampai Citra mundur satu langkah. "Heh! Cantik dari mana? Ngaca dulu sana. Tiap hari aku lihat kamu kayak gembel mendadak sekarang berubah kayak...," menggantung ucapannya.
"Kayak tuan Putri?" sahut Citra berbinar.
"Kayak gembel naik satu level jadi super gembel. Sshhh, kamu emang nggak ada bakat buat memikat pria sejati. Pesonamu itu jauh dari kata standar alias buruk sekali. Pantes nggak ada yang mau sama kamu." sambung Panji seraya berdecak tiga kali sambil melipat tangan.
Citra tak terima langsung mendorong Panji sampai terantuk pintu.
"Heh-heh, mau ngapain?!" Panji jelas kaget bercampur tak terima. Citra menatapnya tajam membuat bola mata Panji bergerak-gerak. "Aku mau sihir kamu sampai dibuat mabuk sama pesona aku. Terus tarik semua ucapanmu yang nggak tau caranya menilai kecantikan perempuan! Dasar kuno!" desis Citra.
Panji meringis ngeri, "Menakutkan sekali. Ternyata aku menikahi seorang penyihir jelek." mencicit.
"Apa?!" bentak Citra membuat Panji menutup matanya rapat-rapat. Citra masih mengurungnya di antara dua lengan. "Hei, Tuan Pengusaha. Gimana kalau kita buat permainan malam ini. Kata-katamu membuatku jengkel sampai ke ubun-ubun!" bibir cemberut, mata melotot, dan dahi berkerut. Panji perlahan membuka matanya menyaksikan itu menjadi menelan ludahnya sendiri.
'Citra wajahnya deket banget, sih. Mau napas aja susah, nih,' batin Panji.
"Ehm, permainan apa?" Panji berusaha mengontrol suaranya sebiasa mungkin. Jujur saja, jantungnya berdebar kencang. Dalam hati berdoa agar Citra tidak mendengarnya. Sedari tadi gadis itu hanya menatap matanya saja.
"Kita main yang seru-seru aja. Yang bisa ngebuktiin kalau pesonaku mampu membuat banyak laki-laki payah kayak kamu pingsan di tempat," Citra masih mendesis.
"Caranya?" Panji menaikkan sebelah alisnya.
Citra melirik ke atas sebentar, "Kita berlomba merayu orang." tersenyum miring.
"Apa?!" pekik Panji yang langsung dibekap Citra. Panji masih melotot, "Ssttt, aku belum selesai ngomong. Kamu pikat semua cewek cantik di pesta nanti dan buat mereka bicara panjang lebar sama kamu terus memuji kamu sampai lima menit. Itu cukup buat ngebuktiin kalau pesonamu emang nggak bisa diremehkan. Aku juga gitu. Aku bakal pilar semua cowok ganteng, keren, nan kaya raya dia sana terus buat mereka asik sama aku selama lima menit. Gimana? Kita buktikan siapa yang pesonanya buruk di sini!" senyum miring itu masih terbit ketika tangannya perlahan turun dari bibir Panji.
"Astaga! Aku nggak nyangka ternyata kamu gila harta." Panji menggeleng pelan, bicara pelan.
"Aku nggak gila harta, Payah!" decak Citra.
"Gila wajah tampan!" pekik Panji seperti mencicit.
"Aku juga nggak gitu!" kesal Citra.
"Gila laki-laki!" Panji semakin memekik.
"Aku nggak gila cowok, Panji!" sewot Citra.
"Kalau gitu ngapain ngadain kompetisi aneh begitu? Mau pamer kecantikan? Yang ada mereka muntah lihat kamu. Kalau aku udah jelas. Tinggal diam di sana para cewek seksi udah nempel sendiri sama aku. Pesonaku bukan main." Panji menyibakkan rambutnya.
Citra menarik tangannya tidak mengurung Panji lagi. Diam-diam Panji menghela napas lega.
"Sok ganteng! Kalau gitu jangan jadi penakut. Berani terima tantanganku nggak?" melipat tangan ke d**a. Tatapannya meremehkan Panji.
"Ck, siapa takut? Lima menit, Sayang. Waktu yang lebih dari cukup." Panji mendesis mendekatkan wajahnya melotot pada Citra.
Citra juga membalasnya dengan tatapan tajam, "Oke! Jangan cemburu kalau aku dikerumuni cowok-cowok ganteng! Huh!" melengos dan membuka pintu paksa.
"Jangan minta tolong juga kalau nanti ad bagian tubuhmu yang hilang. Aku nggak mau tanggung jawab. Jaga diri baik-baik, ya," Panji menahannya. Memegang bahu Citra membuat Citra melirik bahunya. "Ngomong-ngomong pundakmu lebih mulus dari biasanya. Hmm, aroma sabun s**u vanila bercampur mawar merah muda. Cukup meresahkan!" mengedipkan sebelah matanya seiring menarik tali gaun di pundak Citra sampi melorot. Kemudian, tersenyum miring dan keluar duluan.
Citra menganga, segera membenarkan gaunnya. "Aaaaa, dasar mesuuumm! Nggak sopan! Aku nggak percaya kamu bilang begitu! Panji, tunggu aku!"
Pintu ditutup kasar oleh Citra. Suara sepatunya menggema seiring mengejar Panji yang berjalan santai ke luar.
Gedung yang cukup besar nan mewah. Ini bukan yang pertama kalinya citra datang ke gedung seperti ini. Namun, pertama kalinya mendatangi gedung sebesar di hadapannya bersama laki-laki paling menyebalkan sedunia. Siapa lagi kalau bukan suaminya sendiri. Rasanya jengah jika mengingat status resminya. Andai mereka masih teman biasa pasti Citra tak segan-segan meninju wajah Panji di depan umum. Sayangnya jika dia meninju Panji sekarang pasti nama baiknya sebagai istri akan tercemar bukan. Lebih baik urungkan saja niatnya.
Sepatu dan gaun abu-abu sangat menenangkan siapapun yang melihatnya. Tinggi hanya sepundak Panji, badan ramping, kulit bersih, dan senyum manis semanis gula sirup yang dibuat seperti air mancur di dalam sana. Terlihat jelas dari teras gedung. Panji tak juga membawanya masuk karena dia masih asik melihat-lihat lalu-lalang orang yang sedang memarkirkan kendaraan. Sepertinya sedang menunggu orang yang Citra yakini pasti rekan atau temannya.
"Woah, di dalam megah banget. Pasti habis biaya mahal. Kalau perusahaan ngadain pesta kayak gini aku bakalan capek ngurusin biayanya. Gimana buat laporannya? Pasti kepalaku langsung meledak!" gumamnya yang bisa didengar jelas oleh Panji.
"Jangan celingukan mulu, ah! Aku malu tau!" bisik Panji.
"Emang aku peduli? Aku masuk dulu, ya. Kamu nunggu orang, 'kan? Aku mau cuci mata dulu, haha." Citra cekikikan pelan takut didengar orang. Hendak masuk, tetapi Panji mencekal tangannya.
"Aduh, apa, sih?"
Panji menunjukkan ke-lima jarinya dan menggenggamnya erat, "Lima menit... Jangan lupa dan jangan pergi jauh-jauh dariku biar aku bisa ngawasin kamu."
Citra ikut mendesis, "Yang ada kamu jangan jauh-jauh dari aku. Biar aku bisa pantau kamu berhasil selesaiin tantangan apa enggak. Lepasin!" menarik tangannya kasar lalu meninggalkan Panji seorang diri. Dia sangat senang masuk ke gedung itu walau belum ada yang dia kenali satu pun.
Panji memasukkan tangannya ke saku celana. 'Gadis bodoh! Merayu? Yang benar saja. Kalau terjadi sesuatu bagaimana? Ceroboh dan nggak bisa jaga diri. Tapi aku penasaran apa kamu bisa merayu banyak cowok? Nggak menyangkal juga kalau kamu cantik malam ini,' batin Panji.