Kerlip bintang di langit mungkin tidak terlihat malam ini, tetapi puluhan lampu di restoran bersedia menemani sampai pagi datang. Tidak semuanya menyala ketika jadwal tutupnya restoran sudah datang. Hanya ada satu lampu yang tersisa yaitu di ruangan rahasia milik Panji. Motor terparkir di halaman belakang. Dari depan hingga belakang sangat gelap. Bahkan ruangan tertutup itu tidak terlihat dari arah manapun.
Dia dan Panji sedang asik menonton film komedi di laptop sambil memakan camilan yang sebelumnya dibuatkan oleh juru masaknya. Mereka sering tertawa terhanyut alur cerita. Tengkurap di lantai yang hanya terdapat tikar dan dua bantal sofa yang diambil dari ruang kerjanya Panji. Sudah habis camilan setengah mangkuk besar. Perut Citra setidaknya sudah hangat dan kenyang. Namun, mulutnya bekum ingin berhenti mengunyah.
Karena perut Citra berbunyi ketika di taman tadi akhirnya Panji membawanya ke restoran miliknya. Sekarang pukul sebelas malam. Kendaraan di jalan raya juga sudah tidak terlalu banyak. Jam tidur yang seharusnya tidak boleh diganggu, dua orang itu justru asik tertawa tanpa satu orang pun yang tahu.
"Hoaamm, mataku udah lelah." Citra menguap.
"Lelah tapi mulut masih aja ngunyah." sahut Panji sambil makan camilan.
"Habisnya masih pengen makan." duduk dan menggaruk kepalanya terasa gatal tanpa sebab. Celingukan mencari tempat yang nyaman untuknya tidur. "Kita nggak pulang? Terus tidur di mana?"
Panji menoleh, "Beneran udah ngantuk?"
Citra mengangguk, "Ngantuk berat. Besok juga harus konsen kerja." menutup mulutnya menguap lagi.
Panji ikut duduk, "Aku males pulang. Tidur di sini aja gimana?"
"Hmm? Di mana?" Citra celingukan lagi.
"Di sini lah. Udah ada bantal, ada tikar, ada atap, nggak dingin juga. Sempurna!" Panji merebahkan diri bertumpu bantal.
Citra mengembungkan pipinya menatap Panji yang juga menatapnya. "Terus aku tidur sama kamu gitu?" menunjuk sisi samping Panji yang ada bantal miliknya.
"Iya. Emang mau di mana lagi? Di dapur mau?" canda Panji.
"Haha, nggak lucu. Nggak ada selimut atau apa gitu? Kalau aku kedinginan gimana?" Citra mengusap kedua lengannya.
"Ini ruangan tertutup rapat, Citra." Panji melipat tangan di belakang kepala.
"Huft, iya juga. Nggak apa-apa deh. Kamu jangan dekat-dekat, ya. Kalau enggak aku tendang!" menunjuk tepat satu jengkal di hidung Panji.
Mata Panji menjuling melihat telunjuk Citra, "Wow, aku diancam. Tingkat percaya dirinya tolong diturunkan dikit, Mbak. Saya tak selera!" menepiskan tangan Citra dan berguling ke samping.
"Ih, maaf, ya. Saya bakal jauh-jauh sama situ! Huh!" Citra pun melengos dan berbaring ke samping memunggungi Panji.
Panji meliriknya, "Selamat malam!"
"Malam!" jawab Citra sewot.
Panji menggeleng dan kembali ke posisinya. Detik demi detik terus berjalan. Jarum jam di arloji terus berganti arah. Citra tetap terjaga. Cemberut menatap langit-langit ruangan itu yang lampunya tak dipadamkan. Laptop sudah dia tutup sebelumnya dan masih berada di dekat kepalanya. Menatap Panji berkali-kali yang sangat nyenyak ketika tidur.
"Panji?" panggil Citra lirih.
Laki-laki tidak menjawab. Hanya dengkuran halus yang terdengar. Citra berdecak dan memanggilnya lagi. "Panji, kamu udah tidur?" mirip berbisik.
"Udah tidur, ya?" lebih pelan dari bisikan.
Dia menghela napas panjang. Kembali menatap langit-langit ruangan dan bermain dengan jari-jarinya. "Cepat banget tidurnya. Udah biasa tidur di sini pasti. Aku nggak bisa tidur, nih," gumamnya.
Matanya mengerjap-ngerjap mencoba mencari sesuatu untuk menghilangkan bosan.
"Emm, aku mau cerita kamu dengerin, ya. Sebenarnya tadi aku pergi ke gedung tua itu sama ke rumah dongeng. Main sama anaknya Rama yang cerewet banget, tapi dia lucu. Manggil-manggil aku Kakak cantik katanya. Rama jadi tau kalau kamu hilang ingatan kecil. Kata dia... Nyuruh aku serius sama kamu biar bisa main sama anak sendiri. Ck, dia rese, 'kan? Tapi kalau lihat anaknya yang cerewet itu suka gemes," bicara dan tersenyum sendiri seolah Panji mendengarnya.
Menoleh ke Panji sebentar. Pandangannya jatuh ke pindah Panji. Punggung lebar nan pakaian tebal itu tak mampu menutupi luka Panji. Luka yang tidak sakit, tetapi menimbulkan banyak pertanyaan.
"Kenapa kamu bisa hilang ingatan? Puing-puing itu mungkin bisa buat kamu hilang ingatan, tapi tidak dengan luka bakar di pundakmu. Semua itu menggangguku. Apa kamu juga?" gumamnya masih menatap Panji.
Seketika mata Panji terbuka. Dia berbalik dan menatap Citra. Citra terkejut tak bisa pindah posisi, terpaku oleh mata Panji.
"Pa-Panji? Kamu belum tidur?" sungguh tidak menduga jika Panji akan bangun. Dia merasa bodoh karena Panji mendengar semua ucapannya.
"Aku lebih terganggu dengan cerita pertamamu," kata Panji.
"Apa?" Citra mengerjap satu kali.
Panji memperbaiki letak bantalnya membuat napas Citra mendadak berat. Pergerakan kecil Panji mempengaruhinya.
"Kamu jangan terprovokasi sama ucapan Rama. Kalau nggak kamu bakal melanggar perjanjian," sambung Panji.
Citra mengerutkan dahi. "Apa maksudmu? Aku nggak mungkin masukin kata-katanya dalam hati kali. Dia cuma ngawur kayak biasanya," beo Citra.
"Terus kenapa gemes sama anak kecil? Pengen punya anak sama aku?"
Citra tersentak kemudian melotot. Tanpa ada rasa bercanda Panji mengatakannya. "Pertanyaan macam apa itu? Nggak jelas!"
"Jelasnya gimana?" Panji ingin mencari tahu apa yang sedang dipikirkan Citra. Karena istri sekaligus temannya itu diam, maka Panji lanjut menerka. "Kamu lagi... tersengat aku, ya?" memicing curiga.
"Ha?" Citra tidak paham bahasa apa yang digunakan Panji.
Panji menyentuh tangan Citra tiba-tiba.
"Ah! Apa, sih, sentuh-sentuh?!" sewot Citra dan segera menarik tangannya padahal Panji hanya menyentuhnya seujung jari.
"Nah, tersengat! Citra, kita udah sepakat nggak ada rasa tertarik satu sama lain. Harus jaga jarak kalau nggak mau canggung, ya, berperilaku kayak biasanya. Kenapa mendadak kamu jadi... Pengen aku?" Panji terus terang menunjukkan sikap dan ekspresi Citra yang begitu jelas ingin dekat dengannya.
Citra sendiri tidak tahu. Matanya berputar sana-sini membenarkan perkataan Panji, tetapi hatinya menolak keras. Dia mengerjap berkali-kali dan memberanikan diri menatap Panji seakan menantang.
"Maksud kamu terangsang begitu? Maaf, nggak minat sama kamu. Aku tuh nggak kayak apa yang kamu pikirin. Ngomong soal anaknya Rama doang cuma pengen cerita. Kan tadi nyari-nyari aku, 'kan? Makanya aku cerita, eh kamunya udah tidur. Nyatanya masih bangun bikin aku kaget aja. Sekarang aku yang nanya. Kenapa bisa kepikiran kalau aku tersengat sama kamu? Kayak listrik aja!" sedikit menekan kata listrik.
"Oh, yaudah kalau enggak. Aku cuma nebak doang." kembali memunggungi Citra.
Citra menganga, "Kamu sengaja bikin aku ngomel, ya?!"
"Kalau iya emang kenapa?" jawab Panji tanpa berbalik.
"Iihhh, nyebelin!" Citra meremas udara seolah menjambak rambut Panji.
"Hahaha! Eh, kamu itu tadi syok waktu aku nanya. Hayo ngaku, pasti sempat berdebar, 'kan?" goda Panji berganti posisi terlentang.
"Nggak usah nebak lagi deh kalau ujungnya salah. Nggak lucu tau! Huh!" sekarang Citra yang berbalik menyamping memunggungi Panji.
"Hachiiim!!!" Panji menggosok hidungnya.
Citra segera berbalik. "KAMU BERSIN LAGI?! KOK BISA?!"
Teriakan Citra membuang Panji menutup telinga rapat-rapat dan kembali bersin di depan wajah Citra.
Malam yang terganggu. Ruang rahasia itu tidak akan bisa mereka tempati untuk bermalam bersama. Nyatanya sekarang menyalakan lampu dapur dan Citra dengan geramnya sambil menggerutu membuat teh hangat. Dia heran kenapa Panji selalu bisa flu padahal yang kedinginan adalah dirinya. Sedangkan suaminya itu sudah duduk di ruangannya berkelung sarung yang sengaja dia tinggalkan di restoran untuk berjaga-jaga ketika menginap.
Memegang dahi, leher, dan ketiaknya. Tidak ada yang salah dengan suhu badan, tetapi dia bersin tak henti-henti.
"Citra... Buatin mie instan dong! Aku lapar, nih!" teriak Panji yang didengar Citra dengan sangat jelas.
Citra menggenggam tangannya kuat sampai tulang jari-jarinya berbunyi. "Tengah malam udah sakit sekarang minta makan. Dasar nggak tau aturan! AKU MINTA BAYARAN KALI INI, PANJI!!!" balas Citra yang mulanya bergumam kesal menjadi berteriak lebih keras dari Panji.
Di ruangannya Panji meringis. "Hiii, mengerikan!"
Suara piring beradu dengan sendok kala Citra mengaduk mie instan dengan bumbunya. Ketika mie dan teh sudah siap, Citra membawanya pad Panji dengan wajah masam. Panji pura-pura menggigil. Kaki dinaikkan ke kursi, dari rambut sampai kaki tertutup sarung, hanya terlihat wajahnya. Citra berdecak menyerahkan makanan itu.
"Ini, minum teh-nya dulu biar hangat. Dasar anak kecil!"
"Eh-eh, kalau nggak ikhlas nggak usah ngejek dong. Pasti buatinnya nggak bener ini!" tuduh Panji.
Citra melotot, "Siapa yang nyuruh kanu flu malam-malam begini?! Siapa juga yang susah?! Taunya tadi aku pulang aja biar kamu sendirian di sini!"
Dia tak mau kalah. Panji bersin lagi dan menggosok hidung merahnya sebelum menjawab. Menunjuk Citra gemetar.
"Tanganku sampai gemeteran kamu masih aja marah-marah. Suami sakit itu disayang, dikasih senyum, dilayani dengan baik. Lah kamu? Malah minta bayaran. Oke aku kasih. Mau minta berapa? Lima ribu? Dua ribu? Apa lima ratus perak?" tawar Panji sambil berusaha mengambil dompetnya di saku celana.
Citra menggebrak meja lalu berkacak pinggang, "Satu juta udah cukup. Paling enggak buat redain emosiku malam ini. Mana uangnya?!" mengulurkan tangannya.
Panji mendongak setelah membuka dompet. "Apa?! Mie instan sama teh manis doang bayarnya sejuta?! Murah banget!"
"Ck, gini doang kamu ungkit pasal suami. Disayang lah, dimanja lah, yang ada aku muntah manja-manjaan sama kamu! Itu buruan dimakan! Aku mau pulang! Kamu urus diri sendiri di sini. Aku nggak bakal simpatik lagi sama kamu! Huh!" melengos hendak keluar ruangan.
"Tunggu!"
Citra berhenti tanpa berbalik mendengar cegahan dari Panji.
"Lihat jam! Mau pulang?" ujar Panji lagi.
Citra langsung menoleh ke jam dinding yang berada di dinding belakang meja Panji. Dia terkejut karena jarumnya mengarah ke pukul dua dini hari.
"Astaga! Cepet banget udah jam dua? Aku belum tidur!" paniknya.
"Itu ada sofa. Tidur di sana aja. Nggak usah pulang. Nih, pakai sarungku buat ganti selimut." Panji melempar sarungnya tepat di wajah Citra.
Citra mengambil sarung Panji malas. "Aku udah nggak ngantuk lagi, Panji. Nggak bisa tidur, tapi harus tidur. Besok gimana kalau kerja?"
"Nggak usah panik bisa nggak sih? Buruan ke sofa! Aku mau makan!" Panji menjadi sedikit galak dan mulai mengaduk mie instan.
Kerutan di dahi Citra menghilang, 'Panji kenapa? Nggak mungkin marah beneran, 'kan? Tadi cuma bercanda kali. Biasanya juga gimana? Dasar sensitif!' batin Citra.
Mengerucutkan bibirnya seiring menuju sofa. Seelah membaringkan diri di sana dan memeluk sarung Panji dia melirik Panji yang tengah asik makan mie instan. Dahinya kembali berkerut, tetapi bukan karena sebal, melainkan curiga.
'Bersin Panji kok hilang? Ha! Jangan-jangan dia bohongan! Wah, penipuan ini. Suka banget, sih, main-main,' kata Citra dalam hati.
Walau tidak bisa tidur dia pejamkan matanya erat-erat agar bisa tidur. Sayangnya usaha itu percuma. Mungkin terlewat sepuluh menit karena Citra tak kunjung tidur dalam waktu lama dan matanya tetap terpejam. Sampai tidak tahu kapan Panji selesai makan dan membereskan makannya ke dapur. Namun, dia mendengar langkah kaki yang perlahan-lahan menuju ke arahnya. Citra yakin itu Panji. Dari aromanya sangat jelas jika itu suaminya.
'Kenapa dia mendekat? Bukannya tidur di meja kerjanya,' pikir Citra.
Kemudian Panji jongkok. Citra bisa mendengar helaan napas yang begitu panjang dari Panji. Tangan lelaki itu terulur mengambil sarung yang dipeluk Citra. Tentu saja Citra tidak menahannya. Jika dia melakukan itu pasti ketahuan kalau belum tidur. Ternyata Panji membuka sarung itu dan menutupi kaki Citra. Dia menyentuh kaki Citra sebentar membuat Citra tersentak dalam hati.
'Dia ngapain?!' batinnya.
"Dingin," gumam Panji.
Mendadak ada yang menghangat dalam diri Citra. Dia mengerti Panji sedang membantunya menghindari dingin. Lalu, Panji meninggalkannya entah ke mana. Namun, yang pasti terdengar suara benda yang ditarik dari tempatnya. Citra mencoba melirik Panji, ternyata Panji segera berbalik ke arahnya. Dia langsung pura-pura tidur lagi.
'Kardus kecil? Apaan tuh?' batin Citra.
Panji membawa kardus kecil yang dia ambil tadi dan kembali jongkok di samping sofa. Membuka kardus itu yang jika Citra melihatnya pasti takjub. Sebuah sepatu hak tinggi warna abu-abu dan terdapat banyak tali yang akan terikat di kakinya. Citra gemas ingin melihat, tetapi bergerak sedikit saja tidak bisa.
"Tadinya mau ngasih sepatu ini sama kamu, tapi kamu malah marah-marah. Sebenarnya besok salah satu koki di sini ngadain pesta pernikahan. Tempatnya di gedung mewah. Ada banyak makanan di sana, pasti kamu seneng. Lagi pula aku nggak mungkin datang sendirian sedangkan dia tau kalau kamu istriku. Pastinya harus ikut. Berhubung kamu nggak punya sepatu cantik, aku beliin sebentar tadi waktu nyari kamu. Gaunnya... Aku nggak tau model apa yang kamu suka. Jadi, besok cari sendiri, ya. Sepatunya bagus! Mirip sepatu kaca. Kamu cantik kalau pakai warna abu-abu. Berkilau seperti hujan di tengah mendung. Kali ini gratis, nggak perlu ganti uangnya. Aku baik, 'kan? Kamu yang nggak baik sama aku." ucap Panji sambil menatap sepatu yang dia pegang.
Citra sangat terkejut. Panji membelikannya sepasang sepatu dan memujinya. Itu hal langka baginya. Namun, kenapa Panji mengatakannya diam-diam? Dia bis memberikan sepatu itu saat mereka tertawa di ruang rahasia bukan? Citra menjadi berpikir jika Panji malu memberikannya.
Sepatu itu diletakkan di samping sofa tempat Citra tidur. Kemudian, Panji beranjak ke kursi kerjanya dan menyandarkan kepala di meja. Harus bisa tidur agar besok bisa segar menghadapi kenyataan hidup yang monoton.
Setelah dirasa aman baginya membuka mata, Citra melirik Panji terlebih dahulu yang memang sudah terlelap. Dia nyengir karena Panji begitu mudah tertidur sedangkan dirinya tidak. Segera mencari sepatu itu dan mengambilnya. Mata berbinar, mulut ternganga, rasanya tidak percaya sepatu mahal nan cantik ada di tangannya. Ukurannya sangat pas dengan kakinya. Dia ingin memekik senang, akan tetapi ditahan agar tidak membangunkan Panji.
"Woaahhh! Astaga, ini sepatu apa berlian?! Cantik banget ada kerlap-kerlipnya dikit! Aduh, mimpi apa Panji beliin gue beginian? Beliin nasi uduk aja udah bersyukur banget. Ini... Jangan-jangan otaknya lagi miring. Pasti ada sesuatu yang dia rencanain. Eh, nggak boleh berburuk sangka, Citra. Harusnya bilang makasih, begitu." gumamnya sambil memutar-mutar sepatu itu meneliti setiap bentuknya. "Eh, pesta pernikahan? Kayaknya dirayakan besar-besaran. Kokinya yang mana sampai ngadain pesta kayak gitu? Kaya banget dia. Gimanapun juga aku harus ikut lah," sambungnya.
Senyum manis itu terbit menyaksikan Citra yang sangat menyukai pemberiannya. Dia masih menelungkupkan kepalanya di antara tangan dan meja. Mata hangatnya seolah ikut tersenyum dan kembali terpejam. Sebenarnya dia tahu jika Citra belum tidur. Dia sendiri juga susah tertidur.
~~~
Langit cerah dan burung berkicau riang. Restoran sudah dibuka sejak fajar menyingsing. Lalu, Panji pulang terlebih dahulu membiarkan Citra tetap tidur sampai waktunya kerja nanti. Sepatunya bahkan dipeluk beserta kardus kecil itu. Dia bangun karena merasakan cahaya silau dari jendela menerobos masuk. Menggeliat kecil di sofa dan bingung. Sadar jika masih berada di ruangan Panji, dia langsung mencari jam dinding. Pukul tujuh pagi dan dia harus segera pulang untuk bersiap kerja. Saat hendak bangun, dia merasakan tangannya memegang sepatu. Senyumnya kembali terbit.
"Aaaaa, ini nyata! Semalam Panji ngasih gue sepatu, yeyy!!!" serunya memeluk sepatu itu erat.
Tidak ada waktu lagi untuk terlalu senang. Sekarang saatnya semangat menghadapi absen kosong kemarin di meja kerja. Citra melaju sangat kencang di jalan raya hingga sampai ke rumah.
Sayang sekali kamar mandi tertutup. Terdengar gemericik air di dalam sana dan itu membuat Citra kesal. Dia masuk kamar dan menyimpan sepatunya. Melihat handphone yang sudah ada banyak notifikasi dari teman kerjanya. Mereka menanyakan keberadaan Citra.
"Panji, buruan dong! Aku mau kerja!" teriak Citra yang tak dihiraukan Panji.
"Ck, nyebelin banget, sih!" gerutunya seraya menghentakkan kaki.
Memilih membuat sarapan yang hanya ada roti selai. Tidak ada nasi ataupun lauk lainnya. Dia harus segera belanja untuk mengisi kulkas. Berdecak di depan lemari pendingin itu yang hanya terisi air.
"Kapan habisnya? Perasaan semua isinya udah dibalikin Panji. Aku harus belanja sore nanti," ucapnya.
Tak lama kemudian Panji keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk sepinggang dan menggosok rambutnya dengan handuk kecil. Citra buru-buru lari untuk mandi, tidak tahu jika Panji hanya memakai handuk. Dia berhenti mendadak membuat Panji melotot.
"Aaaa, kamu kenapa cuma pakai handuk? Biasanya juga bawa baju ke kamar mandi!" teriak Citra langsung berpaling dan menutup matanya.
Panji juga terkejut, tetapi dia bersikap santai, "Suka-suka aku dong. Aku pikir kamu belum bangun jam segini. Jadi rumah aku kuasai. Mau pakai handuk doang kek, telanjang kek, terserah aku." begitu santainya menggosok rambut sambil masuk ke kamar.
"Apa?! Jangan ngomong kayak gitu lagi! Keberadaanku kayak nggak dihargai banget di sini. Aku cewek loh, Panji!" Citra jingkrak-jingkrak kesal.
"Yang bilang kamu laki-laki siapa?" jawab Panji tanpa beban di dalam kamar.
Citra meremas tangannya, ingin meninju Panji dari jauh. "Terserah! Ngomong sama orang kayak kamu nggak ada gunanya!" masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya kasar.
Hal itu membuat Panji menatap pintu. "Kau rusak ganti pintunya yang lebih baik dua kali lipat!"
"Bodoh amat!" balas Citra teriak.
Panji terkekeh dan melanjutkan aksi bersiapnya.