14. Dongeng Si Cantik

2662 Kata
Nampaklah sudah resah yang membahana. Kamar penuh warna merah muda dan tokoh Barbie itu berantakan. Boneka, buku, kain kecil-kecil, dan pernak-pernik lainnya berserakan di lantai. Citra tidak habis pikir bagaimana sabarnya Rama menghadapi anak perempuannya yang berusia tiga tahun itu. Langkah kecilnya seperti meninggalkan jejak kelopak bunga lotus yang begitu dingin nan halus. Dia menghampiri Citra yang duduk di dekat rak buku kecil sambil memegangi boneka yang dapat bicara. "Kakak cantik, aku punya boneka baru!" seru gadis kecil itu lucu. Hampir saja terjatuh dan untungnya dia bisa menyeimbangkan dirinya lagi. Terkekeh pada Citra yang sempat takut jika terjatuh sungguhan tadi. "Adik manis, kalau jalan hati-hati. Nanti jatuh kasihan kakinya sakit." Citra memangku gadis kecil itu. "Ini dari ayah. Bagus, 'kan?" anaknya Rama memang tidak takut manusia. Apalagi sama Citra yang sudah sering bermain dengannya. Pada umumnya anak kecil suka takut atau minder saat bergaul apalagi bertemu orang-orang baru. "Wah, cantik banget! Ini ayah yang beliin atau kamu yang minta?" Citra mencolek pipi chubby gadis kecil itu. Dia terkekeh. "Ayah yang beliin. Kemarin waktu ikut di luar kota, aku main sama anak-anak kecil yang kena musibah. Mereka kasihan kekurangan makanan. Kata ayah kalau bisa menghibur mereka yang kesusahan bisa buat hati kita damai. Terus ayah kasih boneka ini soalnya aku bisa buat mereka senang, haha. Aku baik, 'kan?" Cerewet seperti yang Rama katakan. Polos nan lugunya gadis kecil itu selalu membuat Citra tersenyum. Lantas pelajaran apa yang Rama berikan pada anak itu sampai bisa mengerti sifat baik dari welas asih. Pikiran Citra melayang jauh. Bagaimana jika dirinya punya anak bersama Panji, apakah dia bisa seceria dan setenang ini? Segera menggelengkan kepalanya karena berpikiran melantur. "Uwahh, kamu keren sekali! Kapan-kapan ajak Kakak main dongeng dong. Pakai boneka bicara ini..." Citra menggoyang-goyangkan boneka di tangan gadis kecil itu. "Kita mainnya sekarang aja. Mumpung ayah nggak di rumah, hihi." anaknya Rama terkikik. Citra ikut tertawa. "Siapa bilang ayah nggak di rumah?" Citra dan gadis kecil itu menoleh ke pintu. Rama memasang senyum dan bersendekap di ambang pintu. "Rama? Eh, itu ayah!" Citra menunjuk Rama memberitahu anak itu. Dia langsung menutup mulut dengan tangan kecilnya, melotot kaget mengetahui keberadaan Rama. "Ayah? Aku nggak lagi ngomongin ayah, kok. Beneran." memasang tanda damai lewat dua jari. Citra dan Rama terkekeh. Rama mendekati mereka dan berjongkok di depan putrinya. "Anak pintar! Mainnya sama Kak Citra nanti aja, ya. Ayah mau ngobrol dulu sama Kakak cantik." melirik Citra. Gadis kecil itu terlihat sedih dengan mengerucutkan bibirnya. "Kalau gitu aku main sama siapa?" tanyanya lirih. "Main sama bonekanya yang lucu." Rama mengelus rambut putrinya. "Yaudah, deh. Kakak cantik, nanti main lagi, ya." gadis kecil itu berbisik pada Citra. "Siap, Tuan Putri!" Citra memberi tanda hormat kemudian terkikik bersama anaknya Rama. Dia mengikuti Rama untuk duduk di ruang depan rumah dongeng, tepatnya dekat tumpukan buku dongeng. "Kenapa ke sini?" tanya Rama setelah duduk. "Kasih minum atau apa kek. Malah nanya kenapa." Citra melirik sana-sini. Rama mendesah dan memberikan sebotol air mineral yang ada di sampingnya. "Minum ini aja," katanya singkat. "Makasih, Tuan rumah. Eh, kalau Panji nanya aku ada di mana jangan dikasih tau!" Citra menggeleng sambil menutup mulutnya dengan jari. "Oh, lagi kabur ceritanya?" Rama menyilangkan kakinya. "Hahh, aku malas sama dia. Kamu tau nggak? Ingatannya soal insiden itu udah pulih. Dia malah pengen nelusuri kronologi gedung itu. Walaupun aku juga penasaran, sih." membuka tutup botol dan meminumnya. "Emm, terus apa masalahnya? Kenapa kamu jadi malas sama Panji?" Rama mengernyit tidak mengerti. Citra masih belum selesai minum. Dia menghela napas panjang setelah minum, "Gimana jelasinnya, ya? Dia itu lagi pengen ngobrol berdua sama aku. Ini udah jam berapa?" Citra bingung mencari jam dinding. "Pukul empat sore." jawab Rama setelah melihat arlojinya. "Nah, tadi siang, 'kan aku sama Panji ke rumah orang tuanya Panji. Ada Indra juga di sana dan semuanya jelas terungkap kalau Panji mengalami hilang ingatan di bagian peristiwa itu!" belum selesai Citra bercerita, Rama sudah terbelalak kaget. "Apa? Panji hilang ingatan?! Sejak kapan?! Kok, aku nggak tau?!" Citra berdecak, "Jangankan kamu, Panji aja nggak tau. Orang tuanya nyembunyiin itu dari dia biar nggak mau Panji sakit kepala terus. Tapi waktu Indra ngasih tau cerita mereka yang terlibat di kejadian itu, Panji langsung bisa ingat semuanya! Terus dia langsung narik aku buat pulang katanya mau ngobrolin ini berdua nggak mau orang tuanya denger. Aku kalau ngomong serius sama dia itu agak gimana, ya? Ssshh, susah dijelasin. Pokoknya risih gitu. Apalagi dia seneng bisa ingat peristiwa itu. Habis ini pasti gencar banget godain aku yang khawatirnya minta ampun pas dia sakit kepala kayak orang kesurupan kemarin. Makanya aku kabur. Terus tadi datang sendiri ke gedung tua itu buat nyari jejak atau apalah. Nyatanya nggak ada yang bisa aku temuin. Cuma pohon besar yang awet muda nan kokoh di sana," terang Citra tanpa jeda. Rama mendengarkannya serius. "Wah! Jadi gitu ceritanya. Terus Panji sekarang di mana?" "Di rumah paling." Citra mengendikkan bahu. 'Apa aku ngasih tau Rama sama Indra, ya, soal misiku yang nyari alasan kenapa ada bekas luka di pundaknya Panji? Mereka tau nggak, sih, kalau Panji main jadi detektif amatir?' batin Citra. "Nggak nyangka aku kalau Panji bisa hilang ingatan. Kok, bisa gitu, ya?" Ucapan Rama membuat Citra mengerjap sadar dari lamunannya. "Katanya kejatuhan puing-puing bangunan waktu nyelamatin gadis kecil." Citra mengendikkan bahu. "Hmm, kalau gitu aku mau jenguk dia, ah! Jangan-jangan aku juga dilupain sama dia." Rama buru-buru beranjak. "Eh, kalau dilupain aku duluan pasti yang dia lupain!" Citra menyahut malas. Rama tak jadi pergi, "Hehe, iya juga. Kamu, 'kan orang pertama yang nyebelinnya minta ampun sama dia. Pasti bakal dilupain lah." "Cih! Adanya aku yang melupakan dia! Jauh-jauh dari kehidupan indahku!" Citra membantah. "Tapi nyatanya malah nikah, hahaha. Hidup kalian lucunya kebangetan!" tawa Rama meledak. Citra menganga tak terima, "Eh-eh, nggak usah ngeledek! Dia yang ngelamar duluan jadinya aku terima!" "Eits, jangan ngelak! Kamu yang minta dia ngelamar, makanya Panji lamar kamu, hahaha!" lagi dan lagi Rama tergelak. Citra menggenggam tangannya geregetan. "Ramaaaa! Aku cakar bibirmu sampai...," ucapan Citra terpotong. "Teng, teng, teng, teng, teng, teng!!!!" Anaknya Rama kembali datang menemui mereka membawa sebuah besi kecil berbentuk segitiga yang di dalamnya ada bola besi kecil jikalau digerakkan maka akan berbunyi nyaring. Tangan satunya membawa boneka bicara. Rama dan Citra kompak menatapnya. "Di sebuah kisah terdapat dua anak manusia yang terlahir di bulan yang sama, tanggal yang sama, juga malam yang sama. Mereka adalah Ayi dan Zack. Jedeerr!!! Guntur menggelegar membelah awan hitam yang menutup ribuan bintang kemudian turunlah sebuah...," Mulut Citra menganga begitu juga dengan Rama. Mereka melongo memandang gadis kecil itu yang sedang menggaruk kepalanya bingung. "Ayah, lanjutan ceritanya apa, ya? Tadi aku sudah hafal sekarang lupa." meringis menunjukkan deretan giginya yang ompong. Citra semakin ternganga. Kemudian, Rama menghela napas lega dan terkekeh. "Ayah kira apa. Ayah juga lupa, Sayang! Kamu kenapa baca buku yang seperti itu? Katanya mau buat dongeng sendiri?" Rama membawa anaknya ke pangkuannya. "Soalnya aku penasaran," jawab gadis kecil itu polos. Rama mencubit pipi anaknya gemas. Citra mengerjap setelah sadar, "Emangnya cerita soal apa, sih?" berbisik pada Rama. Rama menoleh, "Itu buku fantasi pemberian orang." Citra mengangguk-angguk paham. Mendadak anaknya Rama menggoyangkan besi mainannya di depan Citra membuat Citra mendelik kaget karena bunyinya yang bising. "Kakak Citra, ayo main sekarang! Ayah udah selesai ngomongnya, 'kan?" begitu semangat. Rama menepuk dahinya. "Iya-iya, sana main sama Kak Citra. Ambil aja jangan sampai dia pulang, ya. Ajak tidur sekalian," sabarnya. Menurunkan anak itu dari pangkuan dan mendorong pelan lengan Citra pada anaknya. "Hehe, biasa aja nggak usah ngedorong." ringis Citra pada gadis kecil itu dan mendesis pada Rama. Rama hanya tersenyum manis. "Baiklah, ayah pergi dulu, ya. Baik-baik mainnya," ujar Rama. "Siap, Bos!" gadis kecil itu memberi salam hormat penuh semangat. Rama terkekeh dan mengusap rambut anaknya kemudian pergi. Sebelumnya memberi salam dan berbisik pada Citra, "Buruan cepat-cepat akur dalam arti sebenarnya sama Panji biar bisa main sama anak sendiri." sempat mengedipkan sebelah matanya membuat mulut Citra sukses menganga lebar. 'Dasar sialan! Nggak dia nggak Indra sama aja suka godain! Awas aja kalian! Iiihhh, nyebelin semua!' pekik Citra dalam hati. Ujung bajunya ditarik-tarik anaknya Rama. Citra jadi menoleh melepas pandangan dari pintu yang masih menyisakan bayangan Rama. "Kakak kenapa buka mulut? Lagi makan angin, ya? Kakak lapar?" tanya gadis kecil itu polos. Citra terkikik lalu menggendong anak itu, "Aduh, kamu ringan banget kayak bulu! Makan yang banyak biar tambah sehat, tambah lucu, tambah gembul kayak pipi kamu ini. Bisa aja bercandanya!" mencolek-colek pipi gadis kecil itu sampai tertawa. "Hahaha, yuk balik ke kamar. Kita buat dongeng... Apa, ya?" Citra menimang sesuatu seraya membawa anak itu ke kamar. "Emm, dongeng di hutan kecil!" seru gadis kecil itu. Citra bingung, "Ha? Apa itu dongeng hutan kecil?" menurunkan gadis kecil itu di karpet berbulu dan dia duduk di depannya sambil mengambil boneka burung cendrawasih. "Wah! Boneka ini cantik banget!" "Itu salah satu penghuni di hutan kecil," jawab gadis kecil itu ceria. "Hah?" Citra memainkan boneka itu. "Hahaha, Kakak bodohnya lucu! Burung itu, 'kan emang tinggal di hutan? Kenapa Kakak bingung?" Citra terdiam menatap gadis kecil itu yang asik mentertawakan. Dia meringis sempurna dan berperilaku bodoh sungguhan. 'Anak kecil aja ngetawain aku,' suara hati Citra. "Ah, gini aja. Biar Kakak yang ngedongeng buat kamu. Nanti kamu nilai deh dongeng Kakak bagus apa enggak. Gimana?" tawa Citra. "Boleh-boleh! Tapi tentang hutan kecil, ya!" pinta gadis itu antusias. "Hutan kecil.... Bersiaplah masuk ke dunia dongeng!!!" seru Citra mengangkat kedua tangannya yang terkepal membuat gadis kecil itu ikut semangat sampai bertepuk tangan. Citra berdeham dan memainkan boneka burung cendrawasih itu seolah sang burung yang bercerita. "Pada suatu hari, ada seorang pengembara gagah berani yang mencari sebuah bunga ajaib yang sangat langka di hutan kecil kota Surabaya untuk menyembuhkan penyakitnya. Dia sangat tersiksa, tetapi semangat dan tekad yang kuat akhirnya membawanya masuk ke hutan semakin dalam. Di sana ada banyak serangga, burung-burung terbang bebas melintasi pohon tinggi nan lebat. Lalu, terdengar suara raungan harimau." Citra bersungguh-sungguh. "Ha! Harimau besar!" sahut gadis kecil itu. Citra mengangguk melebarkan matanya. "Iya, harimau yang sangat besar. Pengembara itu ketakutan. Dia hendak melawan, tetapi kakinya lemas karena lelah berjalan. Dadanya semakin sesak. Tangannya gemetar hanya untuk memegang sebuah tongkat. Ternyata harimau itu benar-benar muncul di hadapannya," Citra tak jadi melanjutkan dongengnya. "Aaaaaa, jangan dimakan!" gadis itu mengganggunya bercerita. Citra menggaruk kepalanya. "Bentar dulu, harimau-nya vegetarian jadi nggak makan daging, hehe. Jadi, jangan takut," ucapnya. Gadis itu mengangguk lalu membiarkan Citra melanjutkan dongengnya. "Namun, tidak disangka-sangka sang harimau bisa bicara. Pengembara itu bingung bercampur takut. Sang harimau berkata, hai pemuda tampan... Siapakah kau datang ke hutanku? Apa kau ingin menggangguku? Kemudian pengembara itu menjawab setelah memberanikan dirinya. Aku tidak bermaksud menganggu. Aku ingin mencari bunga ajaib untuk menyembuhkan penyakitku! Bunga apakah itu? Sang harimau bertanya...," lagi dan lagi gadis kecil itu menghentikan cerita Citra. Citra mendesah pasrah, "Ada apa lagi, Cantik?" "Itu dongeng macam apa? Aku bisa menebaknya, Kak! Setelah sang pengembara memberitahu nama bunga itu, lalu sang harimau menunjukkan jalannya. Kemudian, meminta imbalan karena sudah membantu pengembara tersebut. Imbalannya sangat sulit yaitu sang pengembara diminta tetap tinggal di sana untuk menjaga hutannya. Kalau tidak mau maka harimau itu akan memakannya. Begitu, 'kan? Itu terlalu membosankan dan mudah ditebak, Kak!" bicara dengan sangat cepat. Ini sudah ke sekian kalinya Citra dibuat ternganga oleh anak itu. Sudut bibirnya berkedut lantaran tak bisa mengerti isi pikiran gadis kecil itu. "Ka-kalau begitu kamu aja yang ngedongeng. Kakak nggak mahir, hehe." ringis Citra sabar. 'Masih kecil udah kayak bapaknya. Udah besar nanti gimana? Dongengku dia komen sedemikian rupa? Wow! Aku kalah! Kalah telak!' batin Citra. "Dongeng aku bagus! Nih, Kakak dengerin, ya!" gadis kecil itu menarik perhatian Citra lagi untuk tersenyum seadanya. "Pada zaman dahulu, ada seekor kancil dan buaya yang besar!" gadis kecil itu merentangkan tangannya saat mengatakan besar. Citra terbelalak karena yang diceritakan adalah dongeng sang kancil. Dia menepuk dahinya pasrah. 'Itu dongeng udah turun-temurun, Sayang! Semua orang juga tau. Rama, tolong kondisikan anakmu!' pekik Citra dalam hati. ~~~ Cukup sudah telinganya lelah mendengarkan dongeng dari anaknya Rama. Dia lapar, ingin makan sesuatu yang hangat di gelapnya malam nan dingin ini. Citra tidak mengerti kenapa setiap malam harus dingin dan dia tidak membawa jaket sekarang. Menghentikan motornya di parkiran taman kota. Dia menyusuri tepian taman sambil melihat-lihat pedagang kaki lima yang berjualan di sekitar sana. Sayangnya hanya ada penjual rujak buah. Dari jalan masuk taman kota sampai kembali di sana lagi hanya pedagang itu yang tersisa. Citra mendesah sabar. "Kenapa cuma ada rujak? Apa semua pedagang di sini digusur sama petugas? Mereka pindah ke mana?" gumamnya. Memilih untuk berjalan tanpa henti dan masuk ke taman. Di dalam sana sangat rimbun. Dia tersenyum mengingat hutan kecil yang dimaksud anaknya Rama. Taman ini banyak pohon dan tanaman indah. Semuanya terawat dan jalannya begitu tertata. Seiring kakinya melangkah Citra selalu menikmati suasana malamnya yang sendirian. 'Udah begitu lama sejak pernikahan aku nggak jalan sendirian malam-malam. Dulu, waktu asik kerja selalu main sendiri sampai larut malam. Kadang paginya baru pulang terus dimarahi ayah sama ibu. Haha, indahnya masa remaja dulu. Sekarang boro-boro nikmatin waktu sendiri, tidur aja udah ada yang nemenin. Jadi nggak keluar malam lagi soalnya ada Panji. Kecuali... Kalau keluarnya sama Panji,' kata hati Citra. Apa yang dia ucapkan dalam hati telah menarik kepalanya untuk menunduk. Satu langkah kaki menginjak batu kerikil yang menghalangi jalannya. Satu langkah kaki lagi menginjak paving yang sudah hampir keluar dari gerombolannya. Sekali lagi kakinya melangkah dia jadi berhenti dan diam. Kaget ada sepasang sepatu di depannya. Dia mengernyit sampai menekankan kepala. 'Kayak kenal sepatu sama kaki ini. Punya siapa, ya?' pikirnya. Perlahan mendongak hingga mendapati wajah datar tanpa ekspresi yang menatapnya dalam. Citra tersentak sampai mundur satu langkah dan menutup mulutnya. Orang itu mengerutkan dahi, Citra ikut mengerutkan dahi. "Astaga! Panji?!" pekikan Citra teredam tangannya. Dia memang Panji yang sedang mencarinya dan tidak sengaja melihat Citra menuju ke taman kota. Jadilah dia di sini. Melipat tangan menatap Citra seakan meminta penjelasan. Barulah Citra menurunkan tangannya dan meringis. "Cieee, nyusul. Nyari aku, ya? Ah, berasa artis tau, haha!" mengibaskan tangannya tertawa renyah. 'Ngapain dia di sini, sih? Ganggu waktu pribadiku aja!' gerutunya dalam hati. Panji mendelik dan menunjuk Citra. Dia tak kunjung bicara. "Apa nunjuk-nunjuk? Hahh, mumpung kamu di sini cari makan, yuk! Perutku lapar, tapi nggak nemuin makanan hangat. Adanya tukang rujak buah di ujung sana. Aku malas makan buah. Bawa ke mana gitu biar kenyang. Ke restoranmu juga nggak apa-apa." menyahut lengan Panji diajaknya keluar taman menuju parkiran. Barulah Panji bicara ingin protes. "Hei, Heh-heh! Asal tarik aja. Lepasin aku!" menarik tangannya paksa membuat Citra berbalik dan menatapnya polos. "Kamu kemana tadi main pergi tanpa pamit?" "Aku... Aku tadi ke mana, ya?" Citra memandang langit sambil mengingat-ingat apa yang dia lakukan seharian ini. Sengaja membuat Panji geram, tetapi suaminya itu justru mengenal napas panjang. "Kamu jangan buat aku panik. Aku sampai nyari kamu di tempat kerja tadi!" kata Panji kesal. Citra terbelalak, "Apa?! Kok nekat? Aku nggak masuk kerja tanpa izin hari ini, Payah! Kalau orang-orang nanyain aku gimana?" "Terlalu percaya diri! Buat apa mereka nanyain kamu? Emangnya kamu sepenting itu? Bolos, ya, bolos aja. Nggak ada yang peduli. Paling-paling besok dapat teguran kalau enggak potong gaji. Siapin mental besok buat ke kantor. Sekarang ayo pulang! Anak bandel harus dikasih pelajaran!" Panji menarik kerah belakang baju Citra membuat Citra terjinjing seperti anak kucing yang dibawa majikannya. "Eeeyy, lepasin aku! Panji, kamu rese banget, sih?! Lepasin nggak?!" Citra meronta seiring mengikuti langkah Panji. Panji terkekeh, "Hehe, anak baik jangan bandel lagi, ya. Nanti aku marah aku kunci rumah biar kamu nggak bisa masuk." "Biarin aja! Aku bisa pulang ke rumah orang tuaku!" masih meronta. "Ah, sayangnya itu nggak bakal terjadi karena bisa merusak nama baik aku. Bayangin aja pendapat para tetangga kalau tau kamu balik ke rumah orang tua. Apa yang mereka pikirkan soal aku? Suami yang nggak bertanggungjawab begitu? Oh, tidak bisa, Sayangku!" Panji tersenyum karena Citra tidak bisa melepaskan diri darinya. Lelah meronta akhirnya berhenti dan mogok berjalan. Panji meneleng mencoba memperhatikan wajah Citra yang cemberut dan berpaling darinya sementara dia masih memegang kerah belakang baju Citra.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN