13. Memori

2723 Kata
Deru kendaraan panas di luar sana sangat membisingkan telinga. Tidak ada suara yang sedap didengar kecuali nada senandung diri sendiri. Memaksakan kehendak hari untuk pergi ke rumah orang tua Panji yang tak lain mertuanya sendiri sampai dia membolos kerja. Panji dilarang ke restoran atau memikirkan bisnisnya sekarang. Khusus hanya duduk di rumah dan biarkan dia yang menguasai alur sekarang. "Katakan yang sebenarnya apa yang terjadi sama Panji, Paman dan Bibi! Ini untuk kesekian kalinya. Pertanyaan Citra tetap sama!" Citra kekeh tidak mau pergi sebelum mendapatkan jawabannya. "Kami tidak tau apa-apa, Citra. Harus berapa kali kami bilang?" orang tua Panji tetap tak mah mengaku. "Sekali lagi katakan yang jujur! Atau kalau enggak Citra panggil Panji kemari!" ancam Citra sungguh-sungguh. "Itu nggak perlu," kata seseorang yang sangat dikenali Citra membuat Citra dan kedua orang tua Panji menoleh ke pintu. Ternyata Panji sedang berdiri di sana. "Panji? Kok kamu ngikut, sih? Kan aku bilang diam aja di rumah," Citra bertambah bingung sekarang. Panji menghampirinya sambil pandangan tersenyum pada kedua orang guanya. Bukannya senang menyambut anaknya pulang, kedua orang tua Panji justru memasang raut wajah takut. "Semakin jelas kalian menyembunyikan sesuatu dariku. Ayah, Ibu, sebenarnya ada apa ini?" tanya Panji sabar. Citra mengangguk membenarkan pertanyaan Panji. Akhirnya mereka mengaku seraya mendesah panjang. "Panji mengalami hilang ingatan kecil. Dia kehilangan beberapa ingatannya sepuluh tahun yang lalu. Arti ya kalian masih berusia dua puluh tahun. Namun, ingatan yang Panji tidak ingat adalah insiden dimana hari itu dia mengalami cedera. Tepatnya saat Panji pulang dari acara seminar di kampus bersama Indra. Kami masih ingat betul peristiwa itu. Sejak itu kami tidak pernah mengungkit pasal hilang ingatannya Panji karena kami tidak mau membuat Panji sakit kepala saat mengingatnya. Tidak ada yang tahu soal ini, Citra," jelas ibunya Panji. Mereka berdua kompak terkejut. "Apa? Hilang ingatan kecil?" gumam Panji. "Kenapa bisa begitu? Kalian tidak menceritakannya dengan detail!" tuntut Citra. Kedua orang tua Panji menggeleng. Karena Panji masih mencerna kebenaran pada diriya dan membuatnya diam saja, Citra memilih melakukan tindakan. "Aku nggak bisa diam aja, Panji. Aku harus cari Indra sekarang juga. Nggak peduli kalau dia lagi ngajar sekarang!" Citra berangkat ke universitas tempat Indra mengajar. Kedua orang tua Panji tidak bisa menghentikannya. "Anakku, Panji... Kamu baik-baik aja, Nak? Udah makan belum? Mau ke sini kok nggak bilang-bilang?" sang ibu menyapa dengan halus. Panji mengerjap menatap ibunya. "Bu, emangnya bener kalau Panji lupa ingatan singkat? Cuma perihal itu yang Panji lupa?" tanyanya pelan. Ibunya mengangguk begitu juga dengan ayahnya, "Iya, Panji. Udah kamu nggak usah mikirin itu kalau nggak mau kepalamu sakit." kata ibunya Panji. "Tapi Panji udah sakit kepala dua kali kemarin. Berati perihal itu yang Panji lupakan. Apa termasuk bekas luka bakar di pundak Panji?" tanya Panji lagi. Kalau soal itu kedua orang tuanya tidak tahu. 'Pasti Citra juga berpikiran sama. Kemungkinan bekas luka bakar di pundakku ini juga karena sebuah insiden itu,' batin Panji. Jam mengajar Citra tidak bisa nekat memaksa Indra untuk mengatakan kebenaran yang dia ketahui. Para mahasiswa lebih membutuhkan Indra daripada dirinya. Jadinya dia duduk di ruang tunggu sampai Indra kembali setelah mengajar. Dia mengirim pesan pada Panji jika masih ada di universitas. Panji hanya membalas jika dirinya tengah menunggu di rumah orang tuanya. Bagaimanapun orang tua tidak boleh dan tidak bisa disalahkan. Niat orang tua Panji itu baik, akan tetapi menyembunyikannya itu yang tidak baik. Citra sedang asik menunggu. Dia tidak bisa memikirkan pekerjaan sama sekali. Kalian dan Nuri memanggilnya berkali-kali dalam sosial media, tetapi tidak dihiraukan. 'Aku rasa misi pertamaku bisa dijalankan dari sekarang. Kemungkinan lupa ingatan Panji membuat bagaimana bekas luka di pundak Panji juga lupa. Aku mungkin bisa menemukan jawabannya di sini,' batin Citra. Setelah Indra selesai mengajar segera dia tarik untuk pergi ke rumah Panji. "Eh, apa lagi sekarang, Citra? Aku masih ada satu mata kuliah lagi!" Indra menahan diri ya membuat Citra tidak bisa menariknya. "Oh, masih ada satu matkul lagi? Aku butuh penjelasan darimu dual sepuluh tahun yang lalu. Tapi kau kamu sibuk ya silahkan menyibukkan diri dulu. Aku siap menunggu beberapa jam lagi." Citra tersenyum sopan. "Penjelasan apa? Kenapa tahunnya lama sekali? Itu waktu kita masih mahasiswa kali," Indra mendelik. "Makanya itu ayo ikut aku ke rumah Panji biar semuanya jelas. Panji juga lagi nungguin kamu di sana," kata Citra. "Mendadak nggak? Aku beneran ada matkul nggak bisa ditinggal," bujuk Indra. "Yaudah kamu selesaiin aja matkulnya. Aku pulang dulu. Mastiin kamu beneran harus datang doang. Beneran loh ya, Indra!" Citra langsung pergi seraya melambaikan tangan. Indra membalas lambaian tangan Citra. "Ada masalah apa lagi sih sebenarnya? Perasaan banyak banget masalah mereka," menggeleng heran. Citra kembali ke rumah orang tua Panji dengan tangan kosong. Padahal Panji sudah menantikan kedatangan Indra dengan antusias. Sayangnya Citra harus membuat harapan Panji menunggu lagi. Sampai pukul dua siang mereka menunggu akhirnya Indra datang juga. Tanpa mengganti pakaian, tanpa pulang terlebih dahulu, Indra langsung memenuhi keinginan Citra. Duduk di sebelah Panji setelah memberi salam kepada kedua orang tua Panji. "Ada apa?" tanyanya berbisik. "Aku mengalami hilang ingatan sebuah insiden kata Ayah sama Ibu. Kamu masih ingat nggak sewaktu kita kuliah dulu apa ada peristiwa kebakaran di gedung tua? Tepatnya sepuluh tahun yang lalu," tanya Panji tanpa berbasa-basi. "Apa? Hilang ingatan?!" pekik Indra. "Iya, Pak dosen! Jadi mohon kerja samanya biar semuanya jelas," sahut Citra. Kedua orang tua Panji juga menyimak dengan baik. "Astaga! Aku syok banget tau! Jangan bilang kalau kalian buat aku jadi bahan acuan ingatannya Panji nih?" tebak Indra dan merak mengangguk kompak. "Hmm, bentar aku mikir dulu. Sepuluh tahun lalu itu lama banget. Aku udah pikun, tapi dengan kecerdasan otakku yang kurasa mumpuni mungkin masih ingat sedikit demi sedikit dari apa yang aku dan Panji alami." Indra mengetuk dagunya sok berpikir. Citra memutar bola matanya malas, "Mulai deh mendrama. Kami tunggu loh ya!" Indra berpikir sangat lama karena tidak ada petunjuk selain memorinya. Kebakaran? Hanya ada satu kisah kebakaran yang begitu dramatis dan aku ingat betul siapa yang jadi pahlawan di sana yaitu Panji." Indra berhasil mengingat sesuatu. Dia mendongak menatap semua orang. "Apa? Pahlawan?!" pekik Citra dan Panji bersamaan. Kedua orang tua Panji hanya saling pandang. "Jadi begini ceritanya. Waktu itu aku sama Panji baru pulang dari seminar malam. Wajah lah karena kita anak baik-baik jadi kalau keluar malam pasti nggak jauh-jauh dari lingkungan akademik. Nah, pas pulang itu nggak sengaja kita melewati lokasinya insiden kebakaran sebuah gedung. Gedung yang sama dengan yang kalian maksud. Di sana ada banyak orang dan juga pemadam kebakaran. Tapi ada satu gadis kecil yang berdiri di belakang gedung dan tertutup pohon besar. Panji melihat gadis itu...," "Aaargghh!!!" Panji mengerang kesakitan membuat Indra menghentikan ceritanya. "Panji! Dia kumat lagi!" Citra memegangi lengan Panji agar Panji tidak rubuh saat keseimbangannya tidak terjaga. Kedua orang tua Panji panik. Indra ikut bingung. "Panji kenapa, Cit?" tanya Indra. "Udah dua hari ini dia selalu sakit kepala kalau ingat kejadian itu. Kita cuma dapat potongan demi potongan runtutan ceritanya, jadi sekarang mau dengar cerita dari kamu. BelumJuga selesai cerita dia udah kesakitan lagi. Aku harus apa dong? Lihat dia begini nggak tega tau!" bingungnya Citra membuat Indra semakin menganga tidak mengerti. Panji semakin menjadi dengan sakit kepalanya. "Nak, kamu bakal baik-baik aja. Udah nggak usah dipaksain mikir yang itu. Lupakan aja, Nak!" kata sang ibu. "Citra, kalau terjadi apa-apa sama Panji kamu harus tanggung jawab!" tuntut ayahnya Panji. Seketika Panji sadar dari sakit kepalanya yang perlahan mereda. Dia menarik tangannya yang memegangi kepala sedari tadi. Memandang semua orang dan mengangguk pasti. "Aku sudah ingat semuanya. Segalanya!" ujar Panji tidak main-main. "Apa?!" Citra dan Indra berseru kompak. Entah sudah berapa kali mereka dibuat terkejut hari ini. Semuanya terjadi begitu saja. "Iya, aku sudah ingat! Indra benar! Rama juga benar! Ada seorang gadis yang sedang membawa buku dan berdiri tanpa ekspresi di dekat pohon. Aku melihatnya. Ada beberapa puing-puing bangunan yang akan jatuh menimpa gadis kecil itu, tapi tidak satupun orang yang mengetahuinya. Pemadam kebakaran pun juga tidak melihatnya. Akhirnya aku lari meninggalkan Indra di tepi jalan demi menyelamatkan gadis itu. Akibatnya kepalaku tertimpa puing-puing gedung. Aku rasa itu yang membuatku sedikit hilang ingatan. Lalu, ini dia yang aneh. Karena tertimpa puing-puing bangunan tadi aku kan tidak sadarkan diri. Nah, sewaktu bangun itu pundakku sudah ada bekas bakar seperti ditempeli besi panas. Sampai sekarang bekasnya masih ada." Panji menjelaskan seraya menepuk pundaknya di akhir ucapannya. Citra melongo, "Bentar-bentar! Kamu kok bisa ingat semuanya padahal sebelumnya kesakitan mengingat?" "Entahlah. Karena aku sudah ingat, jadi ya ingat aja." Panji mengendikkan bahu. "Ck! Mana ada alasan begitu? Nggak bisa dinalar!" ejek Indra. "Seenggaknya aku udah ingat semuanya," balas Panji. "Karena kamu udah ingat jadi aku nggak dibutuhkan lagi, 'kan? Boleh pergi sekarang?" ijin Indra. "Silahkan, Pak dosen ganteng! Makasih ya atas bantuannya. Berkat pancingan ingatanmu Panji bisa mengingat dengan jelas," kata Citra penuh kesopanan. "Hiii, aku jijik denger kamu begitu. Kalau begitu aku pergi dulu ya, Panji, Citra. Paman, Bibi, Indra pamit dulu. Awas jangan sampai buat Panji lupa ingatan lagi!" sapa Indra terkahir kali. Indra kuat rumah menimbulkan senyum ceria di wajah Panji. Sekarang tinggal dia ingin meneruskan apa yang sudah dia ketahui, atau membiarkannya saja. "Ayah, Ibu, Panji sama Citra pulang dulu, ya. Masih ada urusan yang harus diselesaikan. Kalian kalau ada apa-apa beritahu Panji, ya." Panji mencium kedua tangan orang tuanya dan mengajak Citra pergi. "Hehe, pamit pulang dulu, Paman sama Bibi. Maaf tadi Citra sempet bikin kesel, hehe." Citra meringis. "Tapi kalian belum makan. Makan dulu, ya!" cegah ibunya Panji. "Lain kali aja, ya, Bu. Panji mau survei lokasi lagi," kata Panji sabar. "Oh, kerjaan ya, Nak? Yaudah kalau gitu hati-hati di jalan." kata sang ibu sambil tersenyum. Citra tidak paham survei apa yang dimaksud Panji. Namun, dia menurut saja saat diajak pulang. Setidaknya di rumah dia mulai membicarakan hal itu berdua. "Menurutmu keran nggak aku bisa langsung ingat kayak gitu?" tanya Panji antusias. "Enggak. Aku biasa aja tuh." Citra menggeleng. "Terserah! Misteri ini belum selesai, Citra. Kamu aja yang nyelesaiin ya. Sekalian sama bekas luka di pundakku. Katanya itu ada di cerita yang sama," ujar Panji. "Hmm, aku juga mikir begitu!" Citra mengangguk. "Kalau misimu yang pertama ini berhasil aku bakal kasih hadiah deh." "Hadiah? Hadiah apa?!" Citra sangat semangat. "Sesuatu yang nggak bakalan bisa kamu lupakan!" jawab Panji bermain teka-teki. "Harus banget ya main teka-teki di saat begini? Aku antara seneng sama takut loh," jujur Citra. "Takut kenapa? Aku kan udah nggak sakit kepala lagi. Kamu itu perhatiannya super ya? Hari ini harusnya kerja kenapa malah nemenin aku di rumah? Ntar dipotong gak sama kena teguran baru tau rasa!" "Habisnya kamu bikin aku takut. Kalau misalnya aku kerja terus kamu di rumah sendirian. Kalau pusingmu Jumat terus nggak ada yang tau. Gimana coba? Yaudah buat jaga-jaga mendingan aku nggak kerja sekalian!" Citra cerewet. Panji terkekeh, "Aku nau minta bantuan paman Lim buat nyelidiki misteri ini secara langsung kamu bisa kerja sama sama dia. Anggap aja nambah pengalaman di dunia detektif amatiran, haha." "Paman Lim? Udah lama banget nggak ketemu dia. Kira-kira gimana kabarnya, ya? Udah berkelana ke mana aja? Masih ingat aku nggak, ya?" Citra antusias. "Kalau aku jelas diingat, tapi kalau kamu paling enggak," Panji sengaja menggodanya. "Huuu, sok tau! Emangnya kamu udah minta tolong sama paman Lim? Jangan-jangan dia nggak ngenalin suara kamu lagi!" ejek Citra. "Keponakan tersayang pasti selalu diingat. Aku mulai kabari dia sekarang." Panji mencari nama paman Lim di handphone-nya. Pasal survei lokasi dia itu berbohong agar bisa pulang membicarakannya berdua dengan Citra. Mustahil jika puing-puing itu jatuh di kepalanya tetapi memberi bekas di pundaknya. Meskipun berbekas pasti sampai sekarang sudah hilang. Saat Panji menelepon paman Lim, tanpa ijin Citra langsung pergi keluar rumah dan membawa kabur motornya. Panji merasa kecolongan. Dia hendak mengejar Citra, tetapi pamannya sudah menerima panggilannya. "Citra, mau ke mana?! Jangan mendadak kabur gitu aja!" teriak Panji di ambang pintu. Citra sudah berhasil melaju jauh di hadapan. "Siapa yang kabur?" tanya Paman Lim dengan suara tenang nan berat di seberang sana. Panji berdecak, "Eee, halo, Paman. Itu tadi Citra kabur nggak bilang-bilang." Terdengar kekehan di handphone Panji membuat laki-laki itu meringis bodoh dan masuk lagi ke rumah. "Paman, apa kabar?" sapa Panji basa-basi. "Baik. Nggak ada yang lebih baik dari kabar yang baik," kata Paman Lim. "Syukur kalau gitu. Sekarang ada di mana? Jangan bilang di tempat ekstrim kayak tumpukan sampah lagi, ya. Selalunya kalau telepon sama Panji pasti di tempat-tempat aneh," canda Panji. Dia duduk di sofa ruang tamu. "Ini lagi di perjalanan. Kenapa?" "Soal yang sama, Paman. Tolong bantu Citra buat mecahin misi pertamanya. Panji udah ingat semuanya dan tau kalau mengalami hilang ingatan satu peristiwa itu. Kebakaran gudang tua yang belum jelas penyebabnya," kata Panji. Panji menceritakan bagaimana dia bisa menemukan koran yang mencantumkan berita kebakaran gedung tua pada saat dia masih berusia dua puluh tahun. Kemudian, karena gedung itu juga tidak memiliki kejelasan tentang runtutan proses kebakaran membuatnya masih menjadi misteri. Panji ingin paman Lim memeriksanya. Sekaligus membantu Citra untuk menemukan penyebab luka di pundaknya, akan tetapi jika itu memang berada di tempat yang sama. Paman Lim menyetujui permohonan Panji. Setelah pembicaraan mereka selesai, Panji kembali berdecak karena Citra berani meninggalkannya. Padahal Citra sedang berada di lokasi kebakaran tersebut. Gedung yang sudah tak nampak seperti gedung. Runtuh, tetapi masih ada sisa-sisa puing yang sudah rapuh. Besi-besi yang dia temukan kemarin sudah berkarat. Sebuah pohon yang diduga terletak di samping belakang gedung itu masih berdiri kokoh. Citra mengamati pohon itu. "Pohon yang kuat," gumamnya. Angin menerpanya sumilir seperti hawa di balik bukit. Namun, ini di kota. Polusi udara masih juga terhirup bersamaan angin yang menerbangkannya. Dengan berani Citra menyentuh pohon itu. Dia memikirkan ucapan Indra dan Panji lalu menggabungkannya. Mendapatkan sebuah asumsi jika bekas luka di pundak Panji juga berasal dari tempat ini. "Tempat yang tidak jelas dan tidak pernah diungkit kembali. Memangnya kenapa? Lalu, siapa gadis kecil di cerita Panji tadi? Sudah tau ada kebakaran, bukannya lari justru diam saja. Panji sok mau jadi pahlawan walaupun niatnya benar, tapi justru kemalangan menimpanya. Sshh, kenapa aku nggak ingat bagian itu? Indra bilang mereka sedang dalam perjalanan pulang dari seminar. Seminar apa yang selesai malam-malam dua puluh tahun yang lalu? Aku nggak bisa ingat apa-apa," gumam Citra seolah bicara dengan pohon itu. Lama kelamaan anginnya berubah menjadi angin panas dan sedikit kencang. Citra mengernyit menatap sekitar. Dia mengelilingi tempat itu lagi tanpa bisa menyimpulkan. "Kalau seperti ini udah susah mencarinya. Lebih baik pikirkan di rumah sambil minum kopi atau capuccino dan sejenisnya. Itu lumayan bisa membuat pikiran tenang." Citra menoleh pada seseorang yang berjalan ke arahnya sambil menampilkan senyum terbaik yang dia punya. "Indra? Bukannya tadi pulang?" Citra heran. Mereka saling pandang ketika Indra berhenti di depannya. Kemudian, Indra mengamati pohon itu. "Seminar yang bermanfaat. Aku juga baru tau kalau Panji bisa hilang ingatan. Harusnya nggak di sembunyikan dari kita, 'kan?" Citra ikut memandang pohon itu. Angin panas masih membuat matanya menyipit karena takut kemasukan debu jalanan. "Harusnya begitu. Aku yang di depan rumahnya aja nggak tau. Panji juga nggak tau. Seenggaknya Panji udah nggak kelimpungan gara-gara sakit kepala. Kalau aja kamu tau gimana tingkah dia kemarin, pasti panik. Rama aja sampai nemenin aku di rumah sakit," ujarnya. "Rama juga ikut? Dia nggak keliling?" tanya Indra. "Habis nemenin aku di rumah sakit baru dia keliling. Eh, ke rumah dongeng, yuk! Mumpung aku bolos kerja." mata Citra berbinar. "Kenapa sama aku? Sama Panji sana! Bukannya kamu libur kerja perkara mau nemenin Panji? Takut kalau sakit kepala suamimu itu kambuh lagi, 'kan?" goda Indra. "Ck, nggak seru! Kamu sendiri ngapain tiba-tiba ada di sini? Nggak mungkin ngikutin aku." menu juk Indra curiga. "Ih, kurang kerjaan apa aku sampai ngikutin kamu? Tadi nggak sengaja lewat tau motor kamu terparkir di samping jalan. Aku mampir lah," jawab Indra santai. "Istrimu nggak pernah nyariin kamu gitu? Kamu kelayaban mulu orangnya," Citra penasaran. "Istriku itu baik nggak kayak kamu. Kenapa? Pengen ketemu?" "Enggak, ah. Aku pengen main sama anaknya Rama. Ngomong-ngomong nanti kalau Panji nyariin aku tolong nggak usah dikasih tau, ya. Tadi aku main pergi gitu aja nggak pamit, hehe." Citra menaruh telunjuknya di bibir. "Hahaha, dia udah telepon aku tadi. Sebelum aku ke sini tapi. Main sama anaknya Rama aja sana. Siapa tau bisa ketularan cepat punya momongan." Indra mengedipkan matanya seraya kembali ke motor. "Eh, ngomong apa barusan?" Citra sewot mengejar Indra. Kehidupan normal hari-hari biasa yang selalu ingin Citra jalani. Termasuk mengobrol santai tidak tahu tujuan pasti bersama teman-temannya. Citra terpisah dengan Indra saat hendak menuju ke rumah dongeng milik Rama. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN