Semalam Panji membangunkan Citra dan mengajaknya pulang. Tepatnya pukul delapan malam. Panji sedikit lega saat bangun tidur sudah ada Citra di sampingnya walau dalam keadaan tidur juga. Sekarang di pagi hari yang cerah ini kebetulan akhir pekan dan Citra libur bekerja. Dia akan menjalankan niatnya untuk menemui Rama.
"Kamu masih ngerasa pusing?" tanya Citra seraya menjemur pakaian.
Panji sedang menyedot debu di sekitar Citra. "Ya, udah enggak lah. Kalau mikirin gambar di koran itu jadi pusing lagi, hehe," jawabnya.
"Menurutku ini nggak bisa dibiarin, Panji. Mungkin ada sesuatu sama ingatanmu." Citra memeras pakaiannya yang masih menyimpan banyak air.
"Aku juga mikir gitu. Kamu punya rencana apa emangnya?"
"Gimana kalo kita temui Rama? Minta tolong sama dia buat bawa kita ke tempat itu. Dia, 'kan berkeliaran di mana-mana dan tahu banyak hal. Siapa tau aja bisa bantu." jawab Citra sedikit menoleh ke Panji.
"Dia lagi jalanin perpustakaan keliling hari ini. Nggak baik ganggu," Panji beralasan.
"Bagus dong! Sekian juta ntar ikut di perpustakaan kelilingnya!" seru Citra menatap Panji sepenuhnya.
"Kamu kira gampang? Iya kalau Rama setuju, kalau enggak? Dia pasti sibuk sama tim-nya lah." Panji mematikan mesin penghisap debunya.
"Pasti setuju! Sejak kapan Rama nolak diajak jalan-jalan? Hehehe," cengir Citra.
"Itu kalau jalan-jalan, ini mau nyari tau penyebab sakit kepalaku dia mana mau?" Panji menggeleng merasakan Citra.
"Nggak ada salahnya dicoba. Aku telepon Rama sekarang!" tanpa menunggu Panji untuk setuju, Citra audah memanggil Rama dan dijawab dengan cepat. Citra menyalakan pengeras suaranya membuat Panji menepuk dahi sabar.
"Halo? Benar ini dengan Rama di rumah dongeng?" sapa Citra penuh senyum ceria.
"Bukan. Ini Rama di perpustakaan keliling," jawab Rama di seberang sana.
"Hahaha, sama aja kali. Aku mau minta tolong boleh nggak?" tanya Citra baik-baik. Panji hanya menatapnya datar.
"Boleh, ada apa?" Rama menjawab dengan mudahnya. Citra menjulurkan lidahnya pada Panji mmebuat Panji melengos.
"Ada sesuatu di otak Panji yang nggak bisa keluar," kata Citra berbasa-basi.
"Apa? Panji kenapa? Kecelakaan? Apanya yang nggak bisa keluar?" Rama panik di seberang sana. La ni melototi Citra dan Citra meringis.
"Hehe, bukan gitu maksud aku, tapi memori kecil di suatu tempat yang bisa buat dia sakit kepala kalau mengingatnya," jelas Citra.
"Oh... Kok bisa begitu? Panji mana sekarang?" Rama sudah tidak panik lagi.
"Ini di depanku lagi bengong." Citra menatap Panji polos.
"Bisa ketemu sekarang? Kita butuh bantuanmu," sambung Citra segera.
"Boleh, sekalian keliling perpustakaan," Rama menyetujui dan Citra bersorak senang.
"Kalau gitu tunggu kita ke sana sekarang, ya. Rama baik deh, sampai jumpa!" setelah sahutan dari Rama, Citra mematikan panggilannya. Dia berkacak pinggang pada Panji yang masih menatapnya datar.
"Lihat, 'kan? Rama setuju. Dia suka kalau diajak keliling-keliling. Cepetan beresin rumah biar kita bisa ikut Rama segera," suruh Citra.
"Hmm," jawab Panji malas.
Tidak tahu apa yang terjadi dengan Panji, Citra menggagruk kepala bingung menatap Panji yang beralih posisi ke ruang tamu.
"Dia sebenarnya mikirin apa, sih?" gumam Citra.
Selesai membersihkan rumah. Dirasa tidak ada debu di lantai dan semua cucian sudah selesai di jemur, saatnya Citra untuk mendorong Panji agar bersedia merepotkan Rama khusus kali ini. Panji menjawabnya iya dengan dehaman, tetapi masih enggan ikut dengannya.
"Sebenarnya kamu pengen tau nggak kenapa gambar gedung tua itu bisa bikin kamu sakit kepala? Kalau pengen tau, ya, ayo temui Rama!" Citra mendorong Panji untuk keluar rumah.
"Ck, aku nggak mau ngrepotin dia," jawab Panji malas.
"Aku udah ngomong sama Rama, 'kan tadi? Dia bilang boleh. Aku jadi penasaran juga tau!" masih semangat agar Panji mau menurut.
"Kamu kali maksa aku terus bakalan aku hukum loh," ancam Panji tanpa berselera.
"Hukum gimana coba? Buruan jalan, ah! Kamu berat banget, sih!" Citra mengatur napas sebentar.
"Aduh-duh, kepalaku sakit, Cit!" Panji pura-pura terhuyung dan Citra segera memeganginya khawatir. "Nah, kamu kenapa lagi? Mana yang sakit? Kok bisa mendadak?" meneliti kepala Panji.
Kemudian, Panji berdiri tegap membuat Citra bengong terheran-heran. "Kalau nanti aku sakit kepala kayak tadi gimana? Kamu bakalan susah," jelasnya.
"Oh, kamu cuma pura-pura, ya?" Citra menunjuk wajah Panji.
"Huft, sini duduk dulu." Panji menggandeng Citra untuk diajak duduk di sofa ruang tamu. Citra menurut saja karena suara Panji sangat lirih dan sabar tidak seperti biasanya yang meledak-ledak seperti dirinya. Setelah duduk pun dia masih menatap Panji tanpa arti.
"Nggak semua bisa dipecahkan dengan mudah, Citra. Mungkin iya kamu seneng beberapa hari ini kamu sukses bikin masalah selesai, tapi untuk urusan kepalaku ini nggak bisa ujug-ujug kelar gitu aja. Belum lagi minta tolong sama Rama. Dia aja baru pulang sari luar kota. Biarkan dia nikmati pekerjaan ringannya tanpa kita ganggu dulu. Kemarin aja waktu dia baru pulang udah kita ganggu soal masalah ciuman itu. Sekarang masa mau ganggu lagi? Lagipun kalau aku mau cari tau tempat itu aku bisa sendiri. Kamu ngeremehin aku? Ini Panji loh," jelas Panji sangat panjang nan sabar.
Citra mengerjap seraya mendengarkannya dengan baik. Tidak mengelak lagi jika suara Panji yang lembut seperti itu berhasil menahan dirinya dalam kurungan tak terlihat. Seperti dia harus menurut dan ucapan Panji itu benar adanya.
"Kalau itu maumu yaudah. Aku bisa apa? Cuma ngasih saran doang. Terus kamu mau kemana hari ini?" Citra memberanikan diri untuk menatap Panji lagi.
"Nggak ke mana-mana. Di rumah aja, duduk santai sambil nonton kartun, gangguin kamu...," Panji menggantung ucapannya membuat Citra tidak sabar.
"Apaan itu kok ada gangguin aku segala? Rencana yang itu hapus aja!" Citra tidka terima, tetapi dia tersenyum.
"Kenapa? Aku mau ganggu kamu kok." Panji mendelik.
"Kenapa gitu? Aku nggak mau diganggu!" Citra melengos.
"Kalau ganggunya kayak gini gimana?" Panji menggelitiki perut Citra sampai Citra terbaring di sofa lantaran tak kuasa menahan geli. Dia tergelak berusaha menjauhkan tangan Panji darinya.
"Ahahaha, geli, Panji! Udah jangan digelitiki mulu! Aku nggak tahan!"
Citra terus meronta sampai menendang-nendang. Panji mengapit kaki Citra dengan kakinya agar tidak menendangnya.
"Panji, udah berhenti! Aku pengen pipis, nih!" tawa Citra tanpa malu mengatakan hal itu.
"Ya, pipis aja di celana!" sahut Panji kemudian menghentikan aksinya. Dia duduk dengan baik, tetapi Citra enggan untuk berdiri. Dia asik terbaring sambil mengatur napasnya. Panji menatapnya penuh senyum ceria.
"Enakkan ganggu kamu di rumah dari pada pusing-pusing di luar," katanya masih tak mengalihkan pandangan dari Citra.
"Iya, kamu enak. Aku yang enggak. Kalau kayak gini jadi ingat masa sekolah dulu. Aku yang sering gelitikin kamu, haha!" tawanya renyah mengenang masa lalu.
"Hahaha, sekarang kebalikannya!" sahut Panji.
"Kalau ingat masa kecil jadi pengen baik ke zaman dulu, ya, Panji. Kita nggak perlu capek-capek ngurus ini-itu soalnya semua ya di urus sama orang tua, haha. Sekarang kita yang jadi orang tua," celoteh Citra masih tetap mengamati langit-langit rumahnya.
"Orang tua? Kamu pengen jadi ibu?" Panji mendelik.
Citra melirik Panji, "Nggak tau. Tapi tenang aja, aku ingat perjanjian dengan jelas," jawabnya terlalu santai. Panji mengangguk saja dari pada timbul perdebatan yang semakin panjang. "Kamu sendiri gimana? Nggak mau jadi ayah?" tanya Citra begitu mendadak.
Panji kembali melototinya, "Kamu sadar ngomong apa? Santai banget kayak nggak ada beban."
"Aku sadar. Cuma pengen tau aja." Citra mengerjap dua kali.
Panji mendesah panjang, "Ayah, ya? Kalau ngomongin ini sama kamu jadi agak... Aneh gitu. Jawabannya sama kayak kamu alias aku nggak tau."
"Hmm, sama. Kita ini apa, ya? Kok beda dari orang-orang. Misalnya Indra, dia pengen banget punya keturunan. Lah, kita malah santai-santai aja. Kayak Rama yang hidup bahagia sama keluarga kecilnya berkelana keliling kota, bertema banyak orang, menghibur anak-anak, menghibur masyarakat, enak banget dipandang. Kalau dibandingkan sama kita? Sibuk nyari uang yang banyak buat kebahagian orang tua. Padahal orang tua pengennya kita hidup normal layaknya orang-orang yang mikirin dirinya juga. Kamu ngerasa kita kelainan nggak, sih?" tanya Citra dengan polosnya.
"Susah kalau udah begini," gumam Panji.
"Apa?" Citra mengernyit.
"Ehehe, bukan apa-apa. Udah nggak usah dibahas." ringis Panji.
Tiba-tiba seseorang membuka oibtu rumahnya tanpa permisi. Citra segera bangun, terbelalak begitu juga dengan Panji. Orang itu meringis menghampiri mereka.
"Waduh-waduh, ditungguin dari tadi. Taunya lagi berduaan di sini. Jadi, aku ganggu, nih?" Rama yang datang membawa perpustakaan kelilingnya yang sekarang terparkir di depan rumah Panji.
"Ck, salam duku atau apa kek. Main buka pintu aja. Nggak sopan!" Panji melirik Rama.
"Eh, ada yang keganggu. Luar biasa perkembangan kalian! Udah nggak saling mengolok lagi? Udah akur dong." senyum ceria Rama sembari duduk di sofa depan mereka.
"Enggak!" Panji dan Citra mengelak kompak berhasil membuat Rama tidak berkutik untuk beberapa detik.
"Jaid ikut nggak? Aku udah rela datang nyamperin ini," kata Rama setelah berdeham.
"Panji, ayo ikut!" ajak Citra menatap Panji yang tak mau menjawab.
"Emang masalahnya apa? Biar aku lihat sekalian," pinta Rama.
Panji mendesah dan Citra menunjukkan lipatan koran itu. "Jangan dikasih lihat Panji, ya. Dia bisa sakit kepala ntar," katanya.
Rama menatap koran itu dan Panji bergantian. "Yang bener?"
"Iya," jawab Panji cuek.
Rama jadi tekekeh. Dia paham kalau Panji enggan meminta bantuan dengan alasan takut mengganggunya. Kemudian dia melihat berita di koran itu baik-baik.
"Kamu tau itu lokasinya di mana? Tulisannya udah agak nggak jelas soalnya," tanya Citra.
"Ini... Bukannya gedung tua yang kebakaran waktu kita masih kuliah? Sempat heboh makanya diberitakan di koran. Emangnya kenapa?" Rama berbalik bertanya.
"Pertama kali lihat gambarnya aja aku udah pusing banget. Kalau mikirin itu lama-lama juga pusing. Citra berlebihan mikir yang enggak-enggak," terang Panji.
"Bisa gitu, ya? Kalau gitu ayo kita ke sana. Siapa tau ada petunjuk." Rama melioat koran itu dna menyimpan dalam sakunya.
"Ayo!" Citra berdiri berseru.
Karena Panji tak ikut bangun, akhirnya dia tarik paksa sampai bersedia mengikutinya. Di perpustakaan keliling Rama menyetir sendiri dan langsung menuju lokasi gedung itu. Citra asik melihat-lihat buku baru yang belum dia lihat sebelumnya. Panji menemani Rama di bangku sopir.
"Kira-kira ada apa sama ingatanku?" gumam Panji bertanya.
"Yang jelas emang ada kaitannya sama gedung tua itu," jawab Rama sambil tetap fokus menyetir.
Panji menghampiri Citra yang sedang membaca buku tentang insomnia.
"Kenapa baca yang insomnia? Kamu sulit tidur? Perasaan kalau bangun selalu duluan aku," ejek Panji di belakang Citra.
"Sstt! Aku cuma kepo. Sana cari kekepoan yang lain. Buku si kancil yang melegenda aja sana yang kamu baca." menunjuk deretan buku cerita dongeng dengan matanya.
"Ck, baca kepribadianmu lebih menarik," decak Panji.
Citra langsung menoleh, "Apaan?"
"Misalnya... Citra cerewet, jelek, dekil, jarang mandi, suka makan, aneh, nggak waras, nggak jelas...," Citra memktotng ucapan Panji. "Juga baik hati nan pengertian kayak bidadari di dongeng punya Rama. Makasih pujiannya. Aku tersanjung sekali!" bertepuk tangan berbangga diri.
"Ih, habis ini tersandung baru tau rasa," balas Panji.
Citra melengos lanjut membaca buku susah tidurnya. Ramabhanya mebggeleng maklum mendengar mereka. Kemudian, tibalah di lokasi gedung tua yang sudah lama hilang dari huru-hara publik. Terbakar dan masih menyisakan sedikit puing-puing bangunannya.
Deg!
Panji merasakan sesuatu ketika pertama kali matanya menangkap gedung itu. Citra dan Rama saling bicara lewat tatapan.
"Panji? Kamu kenapa?" tanya Citra pelan.
Panji menggeleng lalu meneleng. "Aku nggak pusing, tapi kayak ada sesuatu yang aneh. Kayaknya aku pernah datang ke sini kapan hari," ujarnya.
"Kalau gitu coba kita mendekat. Siapa tau kamu semakin jelas ingatannya." Citra memegangi lengan Panji seolah memberi semangat. Panji mengangguk bersedia.
Semakin dekat mereka dengan gedung hancur nan hangus itu, semakin bingung pula Panji merasakan sesuatu yang ingin keluar dari daya ingatnya.
"Rama, kamu tau nggak berita kebakaran ini kayak gimana?" tanya Citra ketika mereka tiba di pintu depan yang sudah tidak berwujud namun bisa dirasakan jika itu adalah halaman depan gedung tua.
"Iya, aku tau. Kejadiannya sekitar sepuluh tahun yang lalu dan kita masih kuliah tentunya. Insiden ini menggemparkan orang-orang yang ada di sekitar soalnya apinya sangat besar dan sulit dipadamkan. Untungnya tidak memakan korban jiwa. Penyebabnya tidak diketahui pasti dan di koran nggak ada keterangannya. Itu yang aku tau," ujar Rama.
"Jadi gitu. Kronologi kejadiannya masih belum jelas,* gumam Citra.
Mereka menyusuri tempat itu dan mendapat sisa besi yang belum selesai ditempa. Panji merasa familiar dengan besi-besi itu padahal Citra heran kenapa ada besi di sana. Ingatan Panji kembali lagi membuatnya sakit kepala. Lebih sakit dari kemarin dan Panji sampai sedikit sempoyongan saat berjalan.
"Panji! Panji, kepalamu sakit lagi? Kamu ingat lagi?" Citra panik.
"Rama, cepat bawa Panji ke dokter aku takut ada gangguan di kepalanya. Ini jauh nggak wajar kayak kemarin!" pinta Citra seraya memegangi Panji erat.
"Iya! Kita ke dokter sekarang!" Rama juga tidak main-main.
Mereka segera membawa Panji ke rumah sakit. Kekhawatiran Citra begitu besar. Rama bisa melihatnya sendiri. Dia menunggu sampai Panji sadar setelah mendapat penanganan dari dokter. Kata dokter oanbu hanya terlalu banyak berpikir membuatnya sedikit stres. Ketika Citra tidak terima dengan jawaban dokter dan ingin bertanya lebih, Rama mencegahnya dengan alasan dokter tidak akan memberikan jawaban yang bisa membuatnya puas. Citra tidak mengerti hal itu.
"Sepertinya ini menyangkut kisah Panji di sepuluh tahun yang lalu. Kita harus cari tau sendiri tanpa dokter harus tau," kata Rama.
"Pastinya. Aku akan buat Panji mengingat kembali ingatan di gedung tua itu sampai kepalanya nggak sakit lagi. Masalahnya aku baru tau kalau Panji punya masalah seperti ini. Aku harus tanya orang tuanya," Citra serius.
Rama harus berkeliling lagi demi menjalankan jadwalnya. Perpustakaan keliling sangat dibutuhkan anak-anak dan Rama tidak bisa menundanya. Alhasil Citra sendirian di rumah sakit. Duduk di samping ranjang Panji yang tidak kunjung bangun karena diberi obat tidur tadi. Tingkah Panji tak karuan, jadi dokter sedikit membiusnya dengan shntikan obat tidur.
Saat Panji sadar, Citra langsung berdiri senang memeriksa wajahnya apakah pucat atau tidak. Panji heran memandang ruangan berbau obat itu. Kemudian, terjingkat duduk da terkejut mendapati Citra yang juga terkejut karenanya.
"Citra? Kok, kita bisa di rumah sakit? Kenapa aku berbaring di sini?" Panji segera ingin turun dari ranjang. .
"Syukurlah kamubudah sadar. Tadi kamu pusing kayak orang nggak terkendali jadinya aku bawa kamu ke rumah sakit. Takutnya terjadi sesuatu yang nggak diinginkan," jujur citra.
"Aku pusing lagi? Aku nggak ingat, ya?" Panji memijit pelipisnya sebentar.
"Masa? Ah, nggak usah diingat-ingat lagi. Pokoknya mulai sekarang kamu nggak boleh stres biar nggak sakit kepala lagi. Itu yang dikatakan dokter," Citra tersenyum lebar.
"Cuma itu? Aneh banget," heran Panji.
'Aku juga bingung tau,' batin Citra.
"Aku mau pulang aja. Di sini nggak seru penuh bau obat," kata Panji.
"Tapi kepalamu masih pusing nggak?" tanya Citra.
"Udah enggak. Ayo pulang!"
Mereka pulang dan tidak membahas itu lagi. Namun, Citra tidak akan membiarkan itu berakhir di sini. Dia akna menelusurinya hingga Panji tidak merasakan sakit kepala lagi.
Seharian penuh Citra membiarkan Panji bermain dengan handphone. Sedangkan dia menggambar di kamar. Apa yang dia gambar adalah apa yang baru saja dia lihat. Gedung tua yang tinggal puing-puingnya saja. Di tanah bangunan itu ada banyak potongan besi yang sudah sangat lama. Sepertinya gedung itu punya banyak kenangan dengan besi. Setelah selesai menggambar Citra mencoretnya karena ingat Panji sakit kepala gara-gara besi-besi itu. Lalu, Panji masuk dan dia terkejut.
"Gambar apa? Kenapa dicoret?" heran Panji.
"Habisnya jelek. Kamu ngapain masuk?" berganti bertanya.
"Aku mau main di kamar." Panji membanting dirinya di ranjang lalu mengambil handphone dari sakunya.
"Main apa?" Citra penasaran jadinya mendekat.
"Mancing ikan," jawab Panji simpel.
Kedua ya fokus ke handphone Panji. Permainan memancing ikan yang seru dan juga membosankan sekaligus. Atau mereka yang tidak tertarik untuk bermain game?
"Itu harus pakai kail yang baru biar dapat ikan yang gede," protes Citra.
"Ini itu harus dibom biar ikannya mati semua. Sekalian kita menang!" bantah Panji.
"Bisa merusak ekosistem bawah laut lah kalau gitu. Nggak baik, sangat nggak baik!" Citra menggeleng.
"Aku pengen ikannya mati semua. Harus bisa dapatin bom besar yang masih tersembunyi sebagai hadiah!" Panji bersemangat. Lain dengan Citra yang malas.