Masalah yang dihadapi Citra tetap sama yaitu angin dingin di malam hari. Dia selalu menanti kemunculan fajar jika sudah kedinginan seperti ini. Untunglah membawa jaket yang bisa meminimalisir rasa dingin saat berkendara.
Jalanan beraspal itu nampak sepi. Lampu-lampu sepanjang jalan raya yang menerangi masih tidak mampu membuat jalan raya itu terang. Apa mungkin karena Citra takut sehingga jalan yang terang menjadi gelap di matanya? Kenyataannya memang begitu. Dia takut menggigil sebelum sampai ke rumah. Maka dari itu dia mengendarai motornya teramat pelan.
Panji terkejut ketika mendengar deru motor menuju garasinya. Dia langsung membuka pintu memastikan itu adalah Citra. Ternyata benar, Citra sedang memarkirkan motor di garasi. Senyum Panji terbit. Namun, Citra seperti kaku saat melepas helm membuat dia berinisiatif menghampiri. Baik Citra mau pun Panji sama-sama terkejut. Panji karena merasakan hawa dingin dari Citra, lalu Citra terkejut karena Panji mendadak menghampirinya dan mengambil alih helm-nya.
"Kamu... Masuk dulu." Panji mendesah mengajak Citra masuk. Dia bingung hendak berkomentar apa. Membantu Citra turun dari motor dan memapahnya hingga masuk ke rumah.
"Apaan nggak usah megang-megang juga. Aku cuma kedinginan." Citra menggoyangkan bahunya agar tangan Panji turun dari sana.
"Kedinginan apa masuk angin? Nggak usah mandi aja kalau gitu. Aku bikinin wedang jahe kayak buatanmu, ya. Ceroboh banget, sih, sampai menggigil begini," nada bicara Panji sangat halus membuat Citra takut campur heran.
Panji menyuruhnya untuk segera mengganti pakaiannya selagi dia berkutat di dapur. Citra tidak menjawab, walau tidak disuruh dia juga akan mengganti baju. Masalahnya kenapa Panji bersikap begitu perhatian? Dia bahkan belum tidur. Citra jadi merasa jika Panji sengaja menunggunya sampai pulang.
'Kok, kebalikan kayak waktu dia sakit, sih? Jadi ngerasa nggak enak aku,' batin Citra.
Setidaknya pakaian hangat sudah dikenakan. Citra menjadi lebih baik dan Panji membawakan wedang jahe ke kamar padahal Citra hendak keluar. Dia jadi kaget ketika Panji masuk ke kamar.
"Mau ke mana? Di sini aja biar hangat." ujar Panji seraya menutup pintu.
"Aku mau nonton Tv." Citra kembali duduk di ranjang.
"Nggak usah. Ini udah malam di luar dingin kalau nonton Tv jadi beku aku nggak mau urusan. Nih, minum biar hangat." Panji duduk di samping Citra dan menyerahkan wedang jahe buatannya.
Citra menerimanya dengan menatap Panji bingung, "Makasih."
Meminum sedikit demi sedikit wedang jahe yang rasanya lumayan menurutnya. Sayangnya risih karena dilihat Panji terus menerus.
"Kamu ngapain lihatin aku terus?" tidak tahan akhirnya Citra menatap Panji sedikit memaksa.
"Karena aku takut kamu bakal meluk aku lagi buat nyari kehangatan. Ngomong-ngomong jangan lakuin hal-hal aneh, ya. Aku mau tidur soalnya udah ngantuk banget." Panji menguap dan merebahkan diri di ranjang.
Citra mendesah menatapnya. "Nggak bakalan lagi, ya. Terima kasih buat yang tadi. Kalau kamu nggak bantuin pasti aku nggak bakalan nemuin jawabannya," gumamnya di akhir ucapannya karena Panji sudah memejamkan mata.
"Iya, sama-sama. Nggak masalah, santai aja," kata Panji tanpa mau menatap Citra lagi.
Namun, Panji beranjak duduk membuat Citra tak jadi melanjutkan minum wedang jahe. "Rencanamu besok gimana?" mengerjap polos pada Citra.
"Rencana apa?" tanya Citra polos juga.
"Buat ungkap pelaku korupsinya," Panji memperjelas.
"Emm, sama temen-temen ntar kayaknya nyerbu tempat perbaikan mesin rusak sama lihat mesin baru," jawab Citra seadanya.
"Aku mau ikut dong. Pengen lihat gimana kondisinya di sana," Panji serius.
"Eh, mana bisa? Nggak boleh sembarangan orang masuk ke sana, ya," tolak Citra.
"Kalau gitu atur biar aku bisa masuk ke sana dan pokoknya harus ditemenin sama kamu. Buat alasan apa gitu," paksa Panji.
"Hahh, nggak bisa, Panji. Di sana tempatnya sibuk. Kalau buat izin mendadak kayak gini, mana boleh? Siapa aku sampai diizinkan begitu? Cuma staf biasa yang takut dipecat sama dipotong gaji kalau salah kerja." Citra meminum habis wedang jahenya.
"Masa cuma gitu aja nggak bisa? Yaudah, kalau gitu biar aku masuk sendirian. Lihat aja besok pasti aku berhasil masuk," tekan Panji.
"Buktikan kalau gitu. Udah, ah, aku mau tidur. Awas jangan dekat-dekat kalau nggak mau aku tendang!" ancam Citra sambil menaruh gelas wedang jahe yang kosong ke meja.
"Aku lebih takut kamu cium!" Panji bergidik dan menutupi dirinya dengan selimut.
Citra menganga, "Ih, bisa nggak, sih, nggak usah ungkit soal itu lagi?! Muak tau!" kesal menghentakkan kaki sebelum naik ke ranjang. Mereka saling tarik-menarik selimut hingga keduanya terlelap dengan sendirinya.
Hari terasa cepat berganti. Mendadak sudah kembali pagi dan memaksa semua orang untuk beraktifitas. Citra mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk bisa mengetahui pelaku tindak korupsi tersebut. Dia sudah melakukan perjanjian dengan teman-temannya jika akan berangkat pagi. Dia tidak yakin Panji akan menyusulnya tanpa diusir oleh satpam. Dengan mudahnya mengejek Panji sebelum dia berangkat mmebuat Panji semakin gencar ingin datang.
Setibanya Citra di kantor dia menunggu kedatangan Kalisa dan Nuri yang katanya berangkat bersama. Saat tim keuangan itu sudah berkumpul mereka tidak bisa menuju pihak produksi dan melihat bagaimana penangan mesin rusak tersebut. Harus ada perwakilan agar mereka tidak melalaikan pekerjaan aslinya.
Karena Citra yang mempunyai inisiatif dan memecahkan masalah itu, jadi dia yang bertugas memeriksa atau melakukan tugas peninjauan. Tugasnya akan dilimpahkan pada mereka yang berada di ruangan kerja staf keuangan. Tentunya Citra tidak sendirian. Dia minta ditemani Kalisa dan Nuri. Mereka setuju dan mulai melakukan aksinya. Pertama-tama ijin pada pihak produksi dan tentunya diperbolehkan. Setelah itu mereka menuju ke ruang perbaikan mesin pencetak kertas itu. Mereka bertiga sudah menyiapkan sebuah alat perekam dan berbagai laporan cetak sebagai bukti.
"Kalian kira pelakunya bakal ngaku nggak?" tanya Nuri saat perjalanan menuju tempat perbaikan mesin.
"Aduh, Nuri... Kalau penjahat mau ngaku ngapain kita susah-susah pusing nyari dia kemarin?" Kalisa menepuk dahinya.
"Aku lebih takut bagaimana kita menanggapi dia nanti. Lagipula ada berapa orang yang menangani proses perbaikan mesin itu? Jika lebih dari satu maka susah dikenalinya. Kalau pelakunya berbohong kita juga nggak tau, 'kan?" kata Citra.
"Nah, itu yang aku maksud. Kalisa nggak ngerti, sih!" Nuri menyahut.
Setelah tiba di sana mereka terkejut ada seorang petugas yang biasa mengawasi prosesnya pekerjaan mengantarkan seseorang yang misterius. Memakai pakaian serba hitam, masker serta kacamata. Kisa dan Nuri tidak mengetahuinya, tetapi Citra kenal betul siapa orang itu. Dia melebarkan matanya tidak percaya.
'Panji? Astaga, dia beneran datang?! Pakai alasan apa dia?' pekik Citra dalam hati.
Walaupun pandangan Panji terarah ke pintu ruangan itu yang terbuka, tetapi sedari tadi melirik Citra sambil tersenyum miring di balik maskernya. Dia suka melihat wajah Citra yang terkejut.
"Kalian pihak keuangan yang mau mengecek kerusakan mesin, 'kan? Ini dari agensi detektif yang dikirim langsung oleh Lim Kanoe sebagai detektif amatir untuk membantu kalian mengurus masalah keuangan itu. Semoga bisa bekerja sama, ya." orang itu kemudian pergi meninggalkan Panji bersama Citra dan kedua temannya.
"Apa? Lim Kanoe yang terkenal itu? Dia detektif yang tidak mau diresmikan walau sangat hebat itu? Wah, bangganya! Ternyata anda anak buahnya? Senang bertemu anda!" Kalisa mulai heboh.
"Lim Kanoe? Kayaknya aku pernah dengar nama itu. Ah, dia orang yang dikenal oleh seluruh pihak hukum karena mampu menyelesaikan misi tanpa imbalan itu, 'kan?" Nuri masih berpikir.
"Iya dia siapa lagi?" Kalisa menyentil dahi Nuri pelan.
Citra diam saja meremas ujung laporan yang di pegang.
"Selamat pagi, senang bertemu kalian. Saya menerima perintah dari paman Lim untuk menangani kasus keuangan di sini. Beliau bilang ada sedikit yang mengganggu tentang penipuan uang perusahaan. Ada yang bisa saya bantu?" sapa Panji.
"Aaaa, lihat gayanya bicara! Kayak artis di film-film!" Kalisa memekik lagi.
Citra mendengkus sebal, 'Kalau mereka tau itu Panji suami aku pasti nggak jadi heboh begitu. Beraninya makai nama paman Lim. Jelas nggak bakalan ditolak lah,' batin Citra.
"Selamat pagi, Tuan. Selamat datang di perusahaan kertas kami. Ada beberapa laporan yang perlu kami jelaskan kepada anda agar anda bisa mengerjakan tugas dengan baik. Selebihnya kami akan membelai bekerja karena sudah ada anak buah Lim Kanoe yang hebat. Mohon diterima!" Citra menyerahkan laporan yang dia bawa.
Kalisa dan Nuri saling pandang dan mencegah Citra melakukan hal itu.
"Maksudmu apa, Cit? Aku mau lihat gimana cara kerjanya dia. Kenapa malah minta kita balik kerja, sih? Kesempatan bagus ini!" Kalisa sedikit mendesis padanya.
'Apanya yang kesempatan bagus? Tiap hari aku ketemu dia nggak ada bagus-bagusnya,' batin Citra.
"Kalisa, dia datang tanpa pamrih dan menerima perintah langsung dari Lim Kanoe. Jadi buat apa kita susah-susah ngerjain ini? Dalam sekejap pasti dia bis menangkap pelakunya," balas Citra.
"Tapi... Aku juga mau di sini," Nuri agak takut mengutarakan isi hatinya.
"Nuri... Kerjaan kita numpuk di meja. Ad pembantu malah bagus dong. Lagipula nanti kamu nggak perlu khawatir apakah pelakunya bakal ngaku atau enggak," jelas Citra.
"Sepertinya Nona ini sangat senang bekerja. Anda bisa melanjutkan pekerjaan anda dan biarkan kedua teman anda menemani saya kalau diijinkan," kata Panji.
Citra melotot ingin membantah, tetapi menahan keinginannya agar tidak terlihat di depan Kalisa dan Nuri. Dia yakin jika Panji tersenyum puas di balik masker itu.
'Enak aja mau main sama Kalisa sama Nuri,' batin Citra.
"Baiklah, kalau begitu saya ikut menemani anda. Silahkan masuk!" Citra tersenyum ramah mempersilahkan Panji untuk masuk terlebih dahulu. Kalisa dan Nuri sangat senang mengikuti Panji. Citra hanya bisa menggerutu dalam hati menahan kekesalannya.
Ada dua orang yang mendapat bagian menangani dan mengawasi proses perbaikan mesin pencetak kertas yang rusak. Sedangkan orang yang sedang memperbaiki mesin itu ada satu orang. Suaranya mulai terdengar bising. Citra menyarankan untuk membawa tersangka ke luar ruangan agar saling bisa mendengar dengan jelas. Mereka semua terkejut dengan kedatangan Panji, Citra, dan kedua temannya. Namun, Panji hanya membawa dua pengawas itu dan membiarkan orang yang memperbaiki mesin tetap bekerja.
Bukan di luar ruangan, tetapi di ruangan lain. Panji mendesak mereka dengan berbagai pertanyaan dan bukti yang ada. Semuanya merujuk pada satu orang yang begitu ketakutan saat menjawab. Hingga terbukti lah sang pelaku korupsi adalah orang yang menangani kasus kerusakan mesin tersebut. Kalisa dan Nuri hanya diam sambil merekam tindakan Panji sebagai bukti. Kemudian semua bukti beserta sang pelaku diserahkan pada yang berwenang di perusahaan tersebut. Sedangkan Kalisa dan Nuri segera memberi tahu kabar ini pada teman-temannya kemudian melapor pada manajer keuangan. Ketika Citra juga hendak ikut bersama kedua temannya, Panji mencekalnya.
"Selamat pagi juga, Nona. Cuek banget hari ini." Panji membuka sedikit kacamatanya lalu mengedipkan mata.
Citra menganga, "Lepaskan aku, Panji! Kalau orang lain tau bisa gawat!" desis Citra sembari meronta dan Panji melepaskannya. Sebelum Citra lagi, Panji mengatakan sesuatu yang membuatnya tidak jadi pergi.
"Itu apa yang di buang di tempat sampah? Bukannya semua koran akan didaur ulang? Kenapa dibuang?" Panji mengambil koran itu tanpa jijik.
Citra jadi penasaran karena biasanya koran seperti itu akan dikumpulkan. "Ini koran lama," gumamnya.
Saling pandang dengan Panji lalu membaca koran itu bersama.
"Sepuluh tahun silam? Ini menceritakan kebakaran di gedung tua sepuluh tahun silam." kata Citra sedikit memekik.
Panji mengerutkan dahi tanda berpikir seolah mengingat tempat itu dan merasa dirinya ada di lokasi kebakaran. Gambar gedung tua di koran terasa familiar di ingatannya. Mendadak kepalanya pusing. Panji menjatuhkan koran itu karena tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya. Citra jadi khawatir.
"Panji? Panji, kamu kenapa? Panji?" memegangi lengan Panji takut Panji terjatuh.
Untunglah Panji masih menguasai kesadarannya. Dia menggeleng seraya meringis menandakan kepalanya terasa sangat pusing ketika mencoba mengingat gambar gedung tua yang terbakar itu.
"Citra, aku ingat sesuatu. Bawa koran itu pulang. Setelah selesai kerja nanti kita bicara. Aku mau istirahat dulu. Kepalaku pusing sekali!" kata Panji sedikit terbata-bata.
Citra mengangguk langsung mengantungi koran itu dan mengantar Panji untuk meninggalkan perusahaan kertas.
'Aneh banget mendadak pusing cuma lihat koran ini. Pasti ada sesuatu yang nggak beres,' pikir Citra.
Citra mendapat sanjungan karena kecurigaannya benar dan berkat bantuan Panji semuanya bisa terungkap jelas. Namun, pikiran Citra tidak tenang karena Panji. Dia menyimpan baik-baik koran lama itu di kantung celana.
"Citra, kamu tadi ngantar dia pulang, ya? Keren banget, 'kan tadi?" goda Kalisa.
"Apa coba yang keren? Cuma nyelesaiin tugasnya doang. Wajar lah," jawab Citra seadanya.
"Halahh, ngaku aja kamu juga terpesona sama dia. Awas nanti Panji cemburu loh," canda Kalisa terus menerus.
"Kalian tau nggak? Lim Kanoe itu orangnya misterius loh kalau udah serius. Aku baca rumor di berita terbaru. Kok, mendadak nawarin diri, ya, buat nolongin kita?" Nuri asik berselancar di Internet.
"Nuri, itu berita yang mana? Coba kirim link-nya," pinta Kalisa.
"Siap! Citra, kamu nggak kepo? Kabarnya dia juga nggak nikah loh. Ih, dia bikin penasaran, ya. Kayak gimana, sih, orangnya? Nggak ada yang disertai fotonya di berita," kata Nuri.
"Haha, aku nggak tertarik berita begituan. Ujung-ujungnya pasti hoax," elak Citra.
'Jelas aja tiba-tiba mau bantuin kita. Orang yang datang tadi keponakannya sendiri alias Panji suamiku yang nyebelin!' batin Citra.
"Beneran nggak kepo? Ntar tiba-tiba nanyain," Kalisa mencoleknya pundak Citra.
"Aduh, jangan ganggu aku dulu deh. Aku masih ada urusan ini pusing banget," Citra memakai alasan agar tidak terus diganggu.
"Iya-iya, yang sibuk sana-sini mah beda. Apalah aku yang hanya karyawan biasa di satu perusahaan?" canda Kalisa.
Citra gemas ingin mencubit bibir Kalisa membuat Kalisa terkekeh. Kemudian sungguh tidak bisa fokus dalam bekerja. Dia ingin cepat-cepat pulang.
~~~
Sejak dia bergabung dengan Panji jadi detektif amatir, dia baru sadar jika paman Lim cukup terkenal. Setahunya paman Lim sangat merahasiakan identitasnya. Ternyata tidak banyak yang mengenalinya sebagai detektif amatir kecuali semua pihak hukum yang sudah mengenalnya.
Ada dua perkara yang bisa Citra selesaikan dalam waktu singkat semenjak dia mengikuti jejak Panji. Padahal misi pertamanya saja belum terlaksana. Sebelumnya dia mana pernah memecahkan kasus seperti ini? Tidak tahu disebut berkah atau cobaan, tetapi Citra menikmatinya. Ada rasa pusing yang aneh ketika dia melakukan itu semua. Namun, ada rasa senang seperti kembang api meletup di udara ketika misinya berhasil dipecahkan.
"Panji? Kamu udah pulang belum?" sapa Citra berteriak setelah memberi salam masuk rumah. Namun, Panji tidak ada di sana. Dia langsung menuju restoran berharap Panji masih setia menyaksikan pelanggan keluar-masuk restorannya. Sayangnya Panji juga tidak di sana. Citra tidak tahu kemana lagi dia harus mencari Panji.
"Dalam keadaan pusing begitu dia bisa kemana? Udah sembuh belum pusingnya? Aku jadi penasaran campur aduk begini." perasaan Citra tidak enak.
Dia takut hak buruk akan terjadi pada Panji. Pasalnya pusing yang Panji alami tadi bukan pusing biasa. Jika hanya sakit kepala tidak mungkin laki-laki itu akan mengeluh. Handphone-nya juga tidak aktif. Citra kalang kabut di teras restoran. Dia lupa kalau ada ruangan rahasia di restoran. Dia langsung kembali masuk dan membuka ruangan itu. Ternyata Panji bersembunyi di sana.
Merebahkan kepala di meja yang kosong dan dia tidur. Citra menghela napas lega. Paniknya tak beralasan. Citra ikut duduk menyandarkan diri di meja Panji.
"Kukira kamu kemana, nyatanya ada di sini. Pantesan ditelepon nggak diangkat, ternyata lagi tidur. Udah berapa lama tidurnya? Jangan bilang mulai dari pulang dari kantor tadi," gumam Citra lemas.
Dia sendiri belum makan dan minum. Seharian penat dan sekarang masih belum selesai lelahnya yang di kepala. Dia mengambil sebuah koran yang disimpannya tadi. Melihatnya teliti sampai kepalanya meneleng.
"Kalau Panji sakit kepala setelah lihat ini pasti ada sesuatu yang dia ingat dan itu menyangkut dirinya. Sebagian tulisan di koran ini sudah memudar. Sulit dibaca, jadi aku harus nyari tau dimana lokasi gedung tua ini," gumamnya merencanakan sesuatu. "Besok ajak Panji temui Rama. Dia, 'kan berkelana ke mana-mana. Pasti tau lokasi gedung ini di mana," sambungnya.
Lama kelamaan Citra juga mengantuk. Dia tidur bersandar meja tanpa peduli sekarang sudah pukul berapa. Tidak tahu masalah apa lagi yang akan dihadapinya di kemudian hari. Setidaknya dia bisa menyelesaikannya dengan baik. Adanya Panji membuatnya lebih semangat karena percaya jika apa yang dilakukan temannya itu bukan hal yang sulit diatasi walaupun kenyataannya sulit.
Banyak perkara tidak terduga datang. Mulai dari matinya listrik di rumah sampai ciuman pertama mereka yang meresahkan hingga sekarang. Namun, mereka masih asik bercengkrama membicarakan hal-hal kecil yang sederhana membuat pertemanan merek tetap hidup. Apa itu termasuk dalam kategori cinta? Mereka tidak tahu jawabannya.