Aroma nikmat kopi yang baru diseduh membangunkan seorang gadis yang masih berkelung selimut. Rambutnya sedikit berantakan dan wajah kusut berbau bantal mendadak melebarkan mata mengingat dia ada tugas penting di pekerjaan. Segera loncat dari ranjang menuju kamar mandi bahkan menutup pintu d Ngan suara keras sampai membuat Panji kaget di dapur. Untung saja masakannya tidak berantakan.
"Citra, hati-hati! Kalau nggak bisa mandi nggak usah mandi!" seru Panji memperingati.
"Aku buru-buru soalnya!" balas Citra berteriak. Suaranya teredam kamar mandi.
Panji hanya menggeleng dan meneruskan aksinya. Memasak spaghetti salah satu menu di restorannya untuk sarapan. Niatnya ingin membuatkan Citra bekal juga, tapi itu terlalu tidak lazim baginya. Segelas s**u cokelat hangat untuk Citra dan secangkir kopi harum untuknya sudah siap. Tinggal sentuhan terakhir yaitu menaruh spaghetti dalam piring.
"Citra, sarapannya udah siap. Nggak usah buru-buru ini masih jam... Tujuh pagi!"
Citra sudah sibuk di kamar memilah apa saja yang perlu dia bawa hari ini. Seketika Citra terdiam. Melihat jam dinding yang memang benar menunjuk ke arah jam tujuh. Dia menghela napasnya panjang. Berlahan lunglai menghampiri Panji di ruang makan. Kopi memang menggugah selera. Ketika Citra duduk di depannya dengan wajah lesu Panji tak sadar tertawa hampir saja menyemburkan kopi.
"Haha, kenapa wajah ditekuk begitu? Tadi semangat buru-buru sejalan jadi lesu?" goda Panji sambil lanjut meminum kopinya.
"Huft, ngagetin aja. Tau gini aku mau lanjut tidur bentar." menyangga kepalanya malas.
"Itu dimakan dulu!" suruh Panji.
Citra mencium aroma spaghetti miliknya. "Ini menu di restoran, ya?"
"Iya, aku yang buat." jawab Panji santai.
"Oh," jawab Citra masih malas.
Namun, dia tetap saja memakannya. Semua tandas sebelum Panji menyelesaikan sarapannya.
"Tumben kamu agak bening dikit. Dandan, ya?" Panji mulai memancing pertikaian.
"Aku malas ngadepin kamu. Bajuku warnanya putih, jadi wajar aja kena cahaya jadi cerahnya nyalur ke wajah." Citra menjelaskannya sambil diperagakan.
"Oh, kirain pakai bedak baru. Udah bosan pakai bedak bayi?" memakan suapan terakhirnya.
"Dandan juga buat apa? Aku udah cantik dari lahir nggak perlu polesan make up lagi." mengibaskan rambutnya percaya diri.
"Hahh, terserah. Nanti kalau ada apa-apa bilang sama kau. Kalau bisa aku bakalan bantu." Panji membawa piringnya dan piring Citra ke dapur. Citra masih asik menyangga kepala memandang punggungnya.
"Tinggal nanti aja deh gimana," jawab Citra.
"Nanti aku antar ke kantor." kata Panji seiring tangannya mencuci piring.
Citra terjingkat, "Nggak usah, aku bisa sendiri. Ada tukang ojek online banyak yang ngantri. Kamu langsung ke restoran aja."
"Nggak apa-apa. Sekali-kali, lagian aku juga ada main sebelum pergi ke restoran. Jalannya searah," kilah Panji.
Citra agak ragu menerima tawarannya. "Eee, yaudah kalau gitu."
'Dia jadi berubah baik sejak kemarin malam, 'kan? Ada aja topik buat bicara sama aku. Apa Panji juga lagi kena masalah?' batin Citra.
Masalah yang sangat besar yaitu ketidakrelaan karena dirinya akan kerja sampai malam. Tidak tahu mengapa padahal Panji sudah menahannya sebisa mungkin dan tidak peduli dengan Citra yang lembur atau tidak. Namun, hati nuraninya merasa kasihan karena ingat Citra yang selalu kedinginan di malam hari. Itu bisa dikatakan perhatian wajar atau tidak?
Rasanya duduk di boncengan Panji sedikit tidak nyaman. Dia tidak berani memegang jaket Panji agar tidak jatuh. Tetap saja ujung-ujungnya akan berpegangan. Kalau jatuh bisa bahaya. Citra masih ingin hidup untuk beberapa tahun kemudian dan melihat apakah dia dan Panji akan tetap berjarak selamanya.
Setibanya dia di kantor langsung masuk setelah pamitan dengan Panji. Panji bohong jika ada urusan lain sebelum berangkat ke restoran. Dia mengatakan hal itu hanya agar Citra mau menerima ajakannya. Sesuai dugaan Citra, semua pegawai staf keuangan berangkat lebih awal.
"Gimana laporannya? Kayaknya ini kesalahan besar." datang-datang langsung menanyakan pekerjaan. Menaruh tas di mejanya dan membuka laptop menyalin data yang dimiliki semua tim-nya.
"Jumlahnya terlalu besar, Cit. Semalam aku dapat laporan dari tim produksi. Apa kamu juga dapat?" jawab Nuri serius tanpa ada raut bercanda.
Citra mengamati laporan itu, "Sama seperti yang aku punya. Kayaknya mereka mengirimnya ke beberapa anak staf keuangan. Laporanku sama punya Kalisa berbeda. Coba kita kumpulin semua datanya jadi satu dulu baru kita telusuri dari awal!" saran Citra.
Mereka setuju dan saling bertukar file. Suasana panas di pagi hari cukup membuat kepala pusing. Nominal-nominal yang membingungkan dan juga tertulis sangat rapi hampir tidak ada celah kesalahan. Namun, selalu saja hasil akhirnya berbeda. Mereka terus mengulang untuk meneliti semua laporan itu sampai matahari terus naik menunjukkan pukul sepuluh pagi.
Suar bising dari bagian produksi karena memperbaiki mesin yang rusak mengganggu konsentrasi mereka. Lembur pun dipastikan akan terjadi.
"Laporan dari pihak pemasaran tolong berikan padaku!"
"Tidak ada kesalahan apapun di pembelian mesin kemarin!"
"Hasilnya tidak seimbang! Pengeluaran yang kita keluarkan tidak sama dengan laporan dari pembelian mesin!"
Citra semakin panas karena teman-temannya kebingungan. Dia butuh konsentrasi untuk menilai semua angka keramat itu. Karena berurusan dengan uang perusahaan tidak boleh main-main. Kalau tidak dia dan seluruh tim-nya akan dimarahi dan disalahkan. Kesalahan kecil mungkin masih bisa dimaklumi, tapi menghilangkan uang sebesar ini tidak bisa diampuni.
'Apa namanya kalau bukan korupsi? Siapa yang korupsi dan mana buktinya aku harus bisa menemukannya segera,' batin Citra.
"Tunggu dulu. Kalau bukan dari laporan pembelian mesin berarti dari kerusakan mesin," gumam Citra tanpa berpaling dari laptopnya.
"Maksudnya?" tanya Kalisa.
"Di kita jelas tertulis bulan lalu ada mesin yang rusak. Lalu, kenapa sekarang ada mesin yang rusak lagi? Terus laporan yang ada hanya mesin rusak kemarin. Kemana laporan dari bulan lalu? Kenapa dulu juga tidak membeli mesin baru? Ini aneh bukan?" Citra menatap Kalisa dengan mata lebar.
Kalisa juga melebarkan matanya. "Kau benar! Segera cari laporan kerusakan dan kerugian uang yang kita alami dari mesin rusak bulan lalu!" serunya dan salah satu dari mereka ad yang mencari.
Sampai malam mata mereka tak henti-hentinya berhadapan dengan angka dan laporan. Rasanya sudah kenyang tanpa makan dan minum hanya melihat laporan.
Di rumah rasanya seperti kembali melajang. Panji Sasena sibuk bermain handphone malas tanpa ada teman yang dia ganggu. Sepi dan sunyi. Biasanya dia mendengar suara bising Citra atau ulah Citra. Sekarang jangkrik saja tidak mau berbunyi di sekitar rumahnya.
Dia mulai memikirkan ucapan Rama jika dia yang pergi dari rumah pasti akan merindukan Citra terlebih dahulu. Sekarang tidak perlu kabur dari rumah untuk merasakan rindu pada gadis itu, cukup Citra yang sibuk bekerja meninggalkannya semalaman sudah berhasil membuat hatinya tak karuan.
Dia kesepian. Beberapa hari ini biasa tidur dengan Citra, sekarang hanya bantal dan guling yang menemani. Dia sampai berdecak kesal karena dibuat pusing oleh Citra. Kepalanya terasa dipenuhi Citra.
"Dia itu manusia apa hantu sebenarnya? Raganya ada di kantor kenapa sosok ya ada di kepalaku sekarang?" herannya sembari menggaruk kepalanya mengakibatkan rambutnya berantakan.
Citra dan teman-temannya istirahat sebentar. Di kantin kantor yang dingin dan terang berubah jadi hangat karena dipenuhi staf keuangan. Penjual di kantin sampai heran karena tidak biasanya semua yang makan malam hari di kantinnya adalah anak-anak di bidang keuangan. Melihat dari kejauhan saja sudah sangat jelas kalau meeka frustasi dan kelelahan. Laporan bulan lalu sudah didapatkan, tetapi masih tidak bisa menemukan penyebabnya ketidak seimbangan itu.
"Masalah ya ada di mana, sih, sebenarnya? Rambutnya rasanya rontok. Iya kalau uangnya cuma seratus ribu. Ini berjuta-juta, Bray!" kata salah satu teman laki-laki Citra.
"Andai aja itu angka bisa berubah jadi uang beneran. Pastinya liar biasa. Setidaknya enggak bakal memusingkan kayak gini," balas salah satu dari mereka.
"Makan dulu, yuk! Makan yang banyak isi amunisi buat semalam penuh. Pokoknya malam ini juga kita harus bisa mecahin masalahnya. Kalau enggak laporan sehari-hari keuangan perusahaan bisa nggak kepegang. Bener nggak?" kata Kalisa ikut bicara seperti orang demo.
"Bener banget tuh! Aku jadi takut kalau gajiku dipotong." Nuri menunduk.
"Masih mending dipotong. Nah, kalau dipecat? Mau nyari kerja di mana lagi? Kerjaan sekarang susah!" balas seseorang di samping Nuri.
Mereka semua mengangguk dan mulai makan dengan tenang. Hanya suaranya saja yang tenang, tetapi pikiran tidak. Citra juga sedang berpikir karena dia teringat Panji lagi.
'Apa aku harus minta bantuan Panji? Dia juga jago ngatur keuangan. Lagian kalau dia dikasih tugas pasti seneng. Sekarang udah tidur belum, ya?' batinnya.
Membuka aplikasi chat dan mencari nama Panji. Dia mengirimkan pesan pada Panji, tetapi Panji bukannya menjawab justru memanggilnya. Terpaksa Citra harus menepi sebentar untuk mengangkat telepon.
"Kenapa kirim pesan? Kangen?" tanya Panji yang ada di rumah. Kentara sekali dari suaranya kalau dia tidak bisa tidur.
"Diam kamu! Eh, aku mau minta tolong ini. Anggap aja misi!" desis Citra.
"Hmm, misi apa?"
"Tolong bantu aku telusuri sumber kesalahan alias korupsi di dua laporan ini. Kalau ketemu buruan kasih tau aku. Besok kita harus selesai soalnya. Mereka juga mikir ini korupsi, tapai kalau nggak ada bukti gimana caranya yakinin atasan?" bisik Citra.
"Siap! Kirim aja laporannya sekarang juga. Kenapa nggak dari semalam aja minta tolong?" Panji sangat bersemangat.
"Laporan yang satunya baru kepikiran tadi. Buruan kasih tau aku, ya, kalau udah diteliti. Aku kirim sekarang!" Citra hendak mematikan panggilannya.
"Eh, tunggu-tunggu!" Panji menghentikannya.
"Apa?" Citra mengerutkan dahi karena sejak tadi Kalisa dan Nuri memperhatikannya.
"Kamu udah makan belum?" tanya Panji dengan nada bicara sedikit berbeda dari yang sebelumnya.
"Ini lagi makan. Baru beberapa suap terus chat kamu. Udah, aku nggak enak dilihatin temen-temen. Dikira ada apaan lagi. Aku tutup teleponnya!" Citra langsung menekan tombol merah sebelum Panji menghentikannya lagi.
"Huft, grogi gini, ya, ngomong sama dia lewat telepon?" gumamnya.
Kemudian, mengirim dua laporan atas pembelian mesin baru kemarin serta kerugian karena mesin rusak bulan lalu. Setelah itu dia kembali bersama teman-temannya.
"Dari siapa, Cit?" tanya laki-laki yang protes pertama kali barusan. Citra nampak ragu menjawab.
"Dari siapa lagi kalau bukan suami tercinta?" goda Kalisa.
Mereka tertawa membuat Citra menahan malu.
"Oh, iya. Dia baru nikah bum aja sebulan, 'kan? Pantes aja masih anget-angetnya ini!"
Teman-temannya semakin gencar menggoda dan Citra hanya bisa menggeleng tanpa berkilah.
'Dasar Kalisa ember! Jadi malu tau!' batinnya.
Du jam kemudian ketika dia dan yang lainnya sudah kembali ke kantor, Citra mendapatkan pesan dari Panji berupa hasil yang di dapat. Sungguh Citra terkejut tidak terkira. Panji berhasil menemukan titik terang dari Panji. Dua hal laporan yang dilingkari Panji adalah tanggal dimana uang dikeluarkan dengan jumlah yang besar dalam memperbaiki mesin rusak bulan lalu dan jumlah uang guna mesin baru yang dibeli tanpa adanya kerusakan mesin. Keduanya sama besar dan keduanya tidak memiliki akhir yang jelas.
"Benar! Kerusakan mesin bulan lalu kita mengeluarkan biaya cukup besar, tetapi pihak produksi tidak memberi kabar apapun jika mesin berhasil diperbaiki. Kita hanya menerima laporan jika uangnya habis. Tentunya kita berpikir jika mesinnya baik-baik saja. Lalu, sekarang membeli mesin baru dan ada mesin yang rusak. Kita juga mengeluarkan banyak uang. Sepertinya mesin rusak sebulan yang lalu tidak dibenahi dan orang yang berwenang dalam hal ini menunggu waktu yang tepat yaitu berjarak satu bulan untuk mendapatkan uang lebih dengan alasan membeli mesin baru dan mesin itu digunakan untuk mengganti mesin yang rusak." Citra membaca keterangan yang diberikan Panji.
Semua orang mendengarnya dan mengerumuni kubikel Citra.
"Kamu tau dari mana? Jangan asal nuduh, bahaya!" kata Kalisa.
"Tapi kalau mesin sebulan yang lalu nggak diperbaiki gimana bisa nyetak kertas?" heran Nuri.
"Karena memanipulasi kita di bulan itu. Sebenarnya mesinnya belum rusak parah atau mungkin hanya memerlukan perawatan saja, tetapi sang pelaku menulis laporan jika mesinnya rusak. Sehingga kita mengeluarkan banyak biaya. Kalau hanya membutuhkan perawatan seharusnya biayanya tidak sebesar ini, 'kan?" jawab Citra memandang mereka semua.
"Bisa jadi! Semua kemungkinan bisa saja terjadi!" Kalisa setuju dan semua orang mengangguk.
"Coba kita lihat sekali lagi khusus pada dua laporan itu dan laporan uang yang kita keluarkan. Aku masih bingung ke apa pihak produksi yang melaporkan keganjilan laporannya pada kita? Apa mereka baru sadar kalau ada yang salah?" Citra sibuk memilah file di laptopnya lagi.
Mereka kembali ke tempat kerja masing-masing dan membantu Citra memeriksa sekali lagi.
"Jangan-jangan pihak produksi nggak tau kalau ada orang dalam yang mempermainkan uang mereka. Mainnya rapi sekali!" Nuri berasumsi.
"Kayaknya emang gitu, tapi siapa pelakunya?" Kalisa menggerutu sambil memakan camilan.
Citra mengirim pesan pada Panji jika bukan pihak produksi yang menjadi tersangka, maka siapa pelaku aslinya? Apakah berkaitan dengan orang yang melakukan perawatan mesin? Citra hanya menerkanya saja.
Sambil menunggu jawaban dari Panji dia telah berhasil menemukan keganjilan pada laporan keuangan mesin yang rusak. Nominal yang ditulis dengan jumlah uang yang dikeluarkan berbeda.
"Astaga! Dugaan kita benar, Teman-teman! Ini dia penyebabnya!" Citra menunjukkan dua hal laporan yang dia lingkari hasil akhirnya. Mereka semua syok.
"Ditulis dengan jumlah yang berbeda kita sudah tahu sebelumnya karena itu kita mencari penyebabnya. Ternyata... semua uang yang kita keluarkan baik itu untuk memperbaiki mesin yang rusak atau membeli mesin baru itu dikorupsi oleh seseorang. Dia menulis di laporannya telah menggunakan semua uang untuk mesin rusak dan menulis sedikit jumlah di saat membeli mesin baru padahal kita memberikan banyak uang. Untuk itu dia mendapatkan keuntungan besar seperti yang aku jelaskan sebelumnya jika dia menimbun uangnya dan membodohi kita. Sayangnya dia tidak tahu jika laporan keuangan memiliki nilai kepastian. Ketidakseimbangan di hasil akhir menjadi bukti. Orang yang melakukan korupsi ini tidak tahu kalau kita bisa melacak sumber uang yang tersisa dan dia tidak menyisakan uang sedikitpun di laporan bahkan uang aslinya tidak kembali ke kas kita. Jadi jelas saja laporannya berbeda. Dia pasti bukan dari tim produksi." jelas Citra membacakan hasil yang dia lingkari. Kemudian, diam-diam melihat jawaban dari Panji yang juga sama seperti dirinya. Citra sungguh terkejut jika pemikiran mereka sama. Padahal Panji tidak tahu situasi di kantor dan dia hanya diberi dua laporan saja.
"Wah, Citra! Kamu kejam sekali! Punya otak pintar kenapa nggak dibagi-bagi?" gumam salah satu dari mereka.
"Tapi dari tadi kita nggak nemuin solusinya, kenapa kamu bisa ketemu sekarang?" tanya Kalisa.
"Karena aku baru sadar soal sisa uang yang tidak dikembalikan, haha. Mikirin uang jadi pusing begini, ya." Citra menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Mereka saling pandang kemudian tertawa bodoh bersama.
"Hanya perkara uang kembalian membuat kita pusing tujuh keliling. Tapi kalau enggak lihat data dari laporan mesin rusak bulan lalu juga nggak bakalan bisa nemuin jalan keluarnya." Kalisa ikut menggaruk kepala merasa bodoh.
Mereka masih tergelak dan Citra semakin merasa gemas ingin membalas chat dari Panji hanya untum mengucapkan terima kasih, tetapi tidak bisa karena nanti ketahuan oleh Kalisa dan Nuri.
"Bagaimana kalau kita langsung hubungi pihak yang bersangkutan memperbaiki mesin rusak tadi? Dia bukan dari tim produksi, 'kan?" Nuri memberi saran.
"Ide bagus! Tapi sekarang udah malam, Sayang! Besok aja gimana?" Kalisa menyahut.
"Besok juga boleh. Kita hubungi pihak produksi dulu buat diajak kerja sama. Menurut kalian siapa dalangnya? Menurutku, sih, orang yang menangani kerusakan mesin itu." Citra menjentikkan jarinya.
Mereka semua setuju jadi Citra langsung menghubungi pihak produksi. Setelah itu misi dilanjutkan besok. Mereka kompak melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul dua belas malam.
"Bagaimana kalau kita pulang? Hati ini udah terlalu kompak bukan?" kata salah satu dari mereka.
"Bukan cuma kompak, tapi terlalu kompak, haha!" sahut yang lainnya.
"Mari pulang, hati-hati di jalan. Kalau takut bisa minta dijemput. Aku nggak mau nganterin." Kalisa mulai berbenah.
Mereka juga sibuk berbenah dan mulai berhamburan keluar ruangan. Citra juga sudah mengemasi semua barangnya dan berjalan lunglai hingga ke parkiran.
"Nuri, Kamu takut nggak pulang sendirian?" tanya Citra seiring berjalan menuju parkiran bersama Nuri.
"Emm, sedikit. Karena rumahku dekat jadinya agak berani, hehe." Nuri meringis.
"Oh, gitu. Aku yang jauh dong sekarang? Semua udah pada balik," lanjut Citra.
"Minta jemput aja sama Panji kalau takut. Aku balik duluan, ya!" Nuri lari ke arah motornya dan segera mengendarainya. Melambaikan tangan pada Citra membuat Citra terkekeh. .
Citra tak mau merepotkan Panji hanya untuk menjemputnya. Dia bisa mengucapkan rasa terima kasihnya nanti setelah tiba di rumah.