Empat bersaudara beda orang tua, beda darah, satu aliran, dan satu ikatan yaitu persahabatan. Duduk melingkar di lantai ruangan Panji. Boneka lucu yang setia di tangan Rama menjadi pembawa acara. Indra masih tidak bisa mengontrol dirinya untuk tidak tertawa. Panji dan Citra saling acuh walau berdekatan.
"Baiklah, semuanya sudah hadir. Maka sidang pertemanan dibuka!" kata boneka di tangan Rama.
Citra dan Panji langsung menoleh.
"Tuh, boneka aja ngerti kalau lagi sidang. Kalian malah singkur-singkuran," kata Rama.
"Nggak tau lagi harus gimana, Ram. Dinasehati pada nggak bisa. Susah emang." Indra menggeleng.
"Citra kenapa pakai masker?" tanya Rama membuat Panji melirik Citra.
"Bibirnya bengkak gara-gara tadi digosok mulu. Terkontaminasi katanya," jawab Indra berbisik.
Citra mengangguk lemas Panji melotot.
"Sembarangan bilang terkontaminasi? Kamu yang nggak tau diri! Balikin ciuman pertamaku dan jangan dekat-dekat sama aku. Jijik tau nggak!" Panji bergidik.
"Eh, kalau Citra beneran balikin juga gimana caranya? Nyium kamu lagi gitu?" Rama mulai pusing.
Indra terdiam hanya matanya lirik sana-sini dan tersenyum manis. Sekarang Citra dan Panji menjadi bahan incaran mereka untuk digoda. Bukan, tepatnya untuk dinasehati. Masalah rumah tangga sekecil itu dipermasalahkan. Orang yang belum menikah saja juga bisa melakukan sentuhan fisik. Dua orang itu sangat sensitif dan berlebihan.
*Kalian lihat aja kita berdua. Aku udah nikah punya anak satu. Cewek masih kecil cerewet banget kayak Citra. Lucu kalau marah. Apa-apa ngikut malah sekarang mau bikin cerita dongeng sendiri. Kenapa aku bisa punya anak? Ya, karena hubungan kasih sayang itu sangat kuat. Contoh lagi Indra. Dia udah lama nikah tapi belum dikaruniai keturunan, nggak masalah. Cintanya terlalu kuat sama istri. Ikatan batin itu nggak bisa dinalar apalagi dibenci, Kawan! Sekarang terima aja kalian kalau udah nikah. Masalah simpel begini harus larinya ke aku sama Indra? Gimana bisa punya anak ntar? Coba rasain deh ketertarikan, kenyamanan, antar diri kalian. Pasti ada sesuatu yang terselip di sudut hati kalian," ucap Rama panjang.
"Itu benar! Rasakanlah, rasakan!" sahut boneka di tangan Rama berhasil membuat Citra tersenyum.
'Tapi kita udah buat perjanjian buat nggak kontak fisik apalagi punya anak, kecuali kaya emang saking jatuh cinta. Sshhh, itu nggak mungkin terjadi, 'kan?' batin Citra.
'Sialan! Rama bikin hatiku kayak dipalu terus menerus!' batin Panji.
"Kalian kenal dari kecil masih aja kayak gini. Kalau terjadi ciuman atau sentuhan fisik yang wajar antara kalian terus larinya ke aku atau Indra nggak bakalan kita terima. Kita kabur aja, ya, Ndra!" sambung Rama.
"Hmm, dengerin tuh, Citra! Dari awal aku bilang juga apa? Kalian itu mesti butuh benang pengikat antar sukma biar cepet paham. Tau deh, aku lapar. Ikan bakar saus tomatnya masih ada nggak? Menu baru nan spesial dadakan dari Citra, haha. Haduh, kasihan Panji!" Indra terkekeh lalu pergi ke dapur memesan makanan.
Mendengar sindiran Indra, Panji jadi memasang tatapan permusuhan pada Citra. "Tau nggak? Aku sama Rama kelagapan benerin menu yang kamu buat eror. Semua pelanggan protes. Untung aja yang pesan online bisa diatur," marahnya.
"Ya, maaf kalau itu. Habisnya kesel aja. Makanya jangan nyari gara-gara segala isi kulkas dibuang. Itu yang beli aku loh," jawab Citra tak mau menatap Panji.
"Lagian semalam kamu menakutkan," balas Panji.
"Mana aku tau? Aku tidur," Citra tak mau kalah.
"Sebelum tidur kamu masih sadar. Tau nggak batasan antara laki-laki sama perempuan itu apa? Susah napas tau kamu bekap," Panji juga terus mengomel.
"Aku, 'kan nyari kehangatan. Badanmu panas, aku dingin. Jadi, ya, jangan marah kalau kamu aku tindih," elak Citra.
Rama menepuk dahinya. "Pembicaraan macam apa ini?" gumamnya pasrah.
Dia biarkan saja Citra dan Panji mengoceh saling menyalahkan dan membela diri sampai Indra datang membawa empat porsi ikan bakar saus tomat.
"Udah-udah, gitu doang masih ribut. Nih, makanan gratis yang ikannya terlanjut dibeli. Citra, tanggung jawab habis ini. Bayar denda ke Panji sana!" goda Indra seraya menyajikan empat porsi ikan bakar.
"Bayar, ya, tinggal bayar. Kali ini emang aku yang salah. Udah puas? Aku ngalah nih. Cowok kok nggak mau ngalah sama cewek," Citra masih acuh.
"Dasar nggak ikhlas!" tekan Panji.
Mereka berdamai dengan sendirinya dan memakan ikan itu dengan seksama. Rasanya tidak begitu buruk. Padahal sayang jika tidak dimasukkan dalam menu. Hari sudah berubah jadi malam. Indra dan Rama terpaksa harus pulang.
"Tunggu sebentar! Kalau tadi Citra berangkat sama aku, terus motornya kemana?" tanya Indra sebelum pergi.
"Aku tinggal di kantor. Datang ke kampus naik ojek online," jawab Citra masih mempertahankan bibirnya yang mengerucut. Masker sudah dilepas sedari tadi. Membuatnya bisa bernapas lega.
"Berarti besok kerja berangkat pakai apa?" tanya Indra seperti seorang kakak.
"Sama Panji lah, apa lagi?" sahut Rama jahil.
"Ck, aku jahit mulutmu baru tau rasa! Ojek online banyak ngapain nebeng sama dia?" Citra nyelonong masuk ke mobil Indra.
"Loh, dia masuk ke mobilku lagi. Panji, tarik keluar itu istrimu. Aku mau cepat-cepat pulang," resah Indra.
Panji berdecak dan membuka pintu mobil Indra, "Pulang sama aku." menarik Citra paksa hingga keluar mobil.
Tidak memberi kesempatan untuk Citra protes, Indra langsung masuk ke mobilnya dan pergi. Rama juga pamitan pergi. Sekarang Panji tak mau melepaskan tangan Citra walau yang dipandang adalah jalan raya.
"Ayo pulang!" ujar Panji singkat.
Tanpa basa-basi menyuruh Citra naik ke motornya. Ekspresinya datar, tidak ada kesan marah atau senang. Kalau sudah begitu Citra juga hanya bisa menurut diam. Dia juga kalut dengan pikirannya sendiri. Hampir saja jatuh ketika Panji menaiki motornya dan memakai helm. Dengan paksa juga Panji menarik tangan Citra untuk memegang jaketnya agar tidak jatuh. Citra merengut ingin sekali memukul kepala Panji.
Sepanjang jalan mereka berdua sedang bertarung dengan pikiran masing-masing. Sunyi hanya ada deru kendaraan yang melintas bersamanya di jalan raya. Ucapan Rama begitu menusuk relung hati Panji. Apa yang Indra katakan juga benar adanya. Citra sudah sering mendengar nasehat yang sama dari Indra.
'Tapi yang namanya perasaan nggak bisa dipaksakan, 'kan? Kalau aku bilang nggak ada rasa suka sama sekali sama Panji gimana? Apa dunia juga tetap mengelak?' batin Citra.
'Unsur suka dan berpikir menggunakan perasaan. Dari mana aku bisa tau soal itu? Aku bukan Rama apalagi Indra yang fasih urusan asmara. Perempuan yang berhasil menyentuh dan membuatku hangat barulah Citra. Mungkin memang hanya Citra dan seterusnya tetap Citra. Jadi, ini apa?' batin Panji.
Memberi perlawanan pada diri sendiri itu tidak baik. Nyatanya mereka tetap diam setelah sampai di rumah dengan pemikiran yang sama. Citra tidak berani memandang Panji, begitu juga Panji yang tidak berani memandang Citra.
Berusaha sekuat tenaga untuk mengingat bagaimana cara dia mencium Panji semalam, tetapi tetap tidak bisa. Hingga sebuah chat sosial media masuk dari salah satu teman produksinya yang memberikan laporan berupa file padanya. Citra memilih memusingkan otak dengan pekerjaan dari pada pusing memikirkan hubungannya dengan Panji.
Membuka laptop duduk di teras halaman belakang. Dingin sudah tidak mempengaruhinya lagi. Citra memindahkan file itu ke laptop dan mulai memeriksanya. Tiba-tiba handphone-nya bergetar mendapat panggilan dari Kalisa.
"Tumben dia telepon malam-malam. Ada apa?" gumamnya seraya mengangkat panggilan itu.
"Halo? Kenapa manggil?" sapa Citra selagi tangannya memilah file barusan di antara file-file yang lain.
"Citra, udah dapat laporannya? Laporan tim produksi sama pengeluaran buat beli mesin baru salah. Datanya nggak benar. Tadi aku dapat dari temen-temen. Kamu udah belum?" di seberang sana Kalisa terdengar panik.
Citra mengerutkan dahi, "Tunggu-tunggu. Jangan-jangan data yang baru kudapat ini laporan yang kamu maksud." Citra mengaktifkan loud speaker sementara dia membaca file itu dengan teliti.
"Kayaknya iya. Coba lihat betul-betul! Besok kita harus telusuri kalau enggak laporan bulan ini bermasalah," kata Kalisa.
"Iya, bentar nanti aku kabari lagi." Citra mematikan panggilannya dan meneliti kembali dari atas dengan sangat jeli.
"Laporan keuangan dari pembelian mesin kemarin nggak ada masalah. Tapi hasil akhirnya kenapa bermasalah? Kayaknya ada unsur lain yang dimasukkan yang jelas bukan dari pembelian mesin baru," gumam Citra.
"Mesin apa yang bermasalah?"
Citra terjingkat sampai mengelus d**a. Menoleh ke belakang sebentar lalu lanjut fokus ke layar laptop. "Astaga, Panji! Ngagetin aja," gumamnya.
Panji menggaruk-garuk tengkuknya tanda ingin bicara. Dia duduk di sebelah Citra agak berjauhan. "Eee, aku mau minta maaf soal tadi. Kalau misalnya kelewatan atau nyakitin hati kamu, maaf deh. Tapi kamu tetep harus ganti rugi. Aku nggak mau rugi soalnya," ucapnya.
"Iya-iya, besok aku transfer," jawab Citra masih serius dengan pekerjaannya.
Panji sedikit menelengkan kepala melihat apa yang Citra kerjakan. Banyak angka yang merupakan jumlah uang yang begitu besar. Panji menatap Citra dan laptop itu bergantian.
"Ada yang salah sama kerjaan?" tanya Panji hati-hati.
"Nggak berani bertindak jauh apalagi salah sangka, tapi ini kayaknya soal korupsi," jawab Citra berhasil membuat Panji melebarkan matanya.
"Apa? Kok bisa?!" ikut melihat laporan itu.
"Dananya nggak sama. Kalau lihat laporan dari ini doang buktinya nggak kuat. Nggak bisa dipecahin juga kalau misal ini beneran korupsi. Aku butuh laporan lain." Citra menelepon Kalisa untuk memberikan konfirmasi.
"Gimana?" tanya Kalisa di seberang sana.
"Iya, bener. Besok kita satu tim lakukan investigasi asal jangan sampai menimbulkan pro dan kontra. Kita kayak kerja biasa aja, takutnya malah buat masalah di kantor. Anak produksi sama tim pemasaran mintai datanya juga. Pak manager udah tau belum?" ucap Citra.
Panji menatapnya saja tanpa berkedip.
"Aku nggak tau, tapi besok kita kerjakan sama-sama. Yaudah, gitu aja. Kemungkinan besok lembur soalnya ada perbaikan mesin juga. Nggak menjamin kita bisa dapat laporannya cepat kalau nyari tau sumber masalahnya diam-diam," kata Kalisa.
"Perbaikan mesin? Itu mesin rusak terus diganti yang baru kemarin, 'kan? Bukannya enggak ada kabar mesin rusak sebelumnya? Beli mesin cuma buat nambah kualitas produksi doang, 'kan?" Citra jadi bingung.
"Ini juga baru sore ini hebohnya. Ternyata beli mesin itu buat gantiin mesin yang rusak. Pokoknya itu yang bener." jelas Kalisa.
"Yaudah, kalah gitu sampai jumpa besok di kantor. Makasih, ya, infonya." Citra mematikan panggilannya lagi.
Dia kembali menatap laptop dan menyimpan file itu dalam folder tersendiri.
"Kayaknya kamu bakal kerja keras besok," kata Panji.
"Kemungkinan aku lembur. Maaf, kalau nggak bisa bersih-bersih rumah besok." Citra mematikan laptopnya.
"Lembur sampai kapan?" tanya Panji mulai tertarik.
"Nggak tau. Tinggal nurutin kemauan manajer sama staf keuangan lainnya." menatap Panji setelah menutup laptopnya.
Panji mendesah dan memberikan senyum hangat, "Jaga kesehatan kalau lembur. Jangan lupa makan sama bawa jaket. Kamu selalu kedinginan kalau malam."
Setelah mengatakan itu Panji masuk ke rumah. Citra menjadi tidak mengerti dengan apa yang ada di pikiran Panji sekarang.
"Kenapa jadi sok perhatian?" gumamnya.
Laptop memang sudah tertutup, tetapi handphone masih setia menemani. Masuk ke dunia Maya lewat sosial media membuatnya mengerti banyak hal seperti berita dan gosip. Dia saling bertukar kabar dengan teman staf keuangan seperti dirinya. Sumber masalah belum jelas dan kesalahannya juga belum pasti karena adanya laporan yang kurang.
'Pasti ini ada yang main anggaran perusahaan. Kalau beneran korupsi apa nggak lebih baik lapor pihak berwajib?' batin Citra.
Kedua alisnya terangkat ketika ingat sesuatu. "Apa mungkin minta bantuan Panji?"
Ketika dia masuk dan menutup pintu belakang, terdengar suara televisi yang masih menyala. Sebuah film kartun berhasil membuat Panji terkekeh diam-diam. Citra ingin menghampirinya, akan tetapi kakinya langsung melangkah ke kamar. Panji mengetahui hal itu. Dia ingin menghentikan Citra, tetapi yang dia lakukan hanyalah menatap Citra dari belakang dan hilang di balik pintu kamar.
Mereka mendesah bersamaan di lain tempat. Citra menyimpan kembali laptopnya dan memilik merebahkan diri di kamar. Sebuah aplikasi menggambar di handphone-nya dibuka. Pikirannya kembali melayang tentang Panji.
Di sisi lain film kartun yang tadinya menyenangkan berubah membosankan tanpa sebab. Sepertinya karena Citra tidak menunjukkan ekspresi apapun padanya.
'Apa rasa ini juga disebut perasaan kayak yang Rama katakan? Hambar,' batin Panji.
'Kenapa setiap kali melakukan sesuatu pasti yang kuingat pertama kali adalah Panji. Emang ya ada apa sama dia? Harusnya yang kupikirkan adalah ayah, ibu, sama pekerjaan,' batin Citra.
Dia mulai memainkan jarinya di layar handphone. Seperti menari dengan begitu anggunnya dia menggambar seorang gadis yang hanya nampak kepala dengan rambut panjang bergelombang. Terselip sebuah bunga di telinganya. Gambaran yang sempurna tanpa warna dan Citra menyimpannya sebagi tambahan koleksi. Sudah banyak sekali gambaran yang dia kumpulkan. Semuanya tidak berwarna. Jika dia mau mencetaknya pasti akan memenuhi kamar.
Matanya tak kunjung ingin terpejam. Dia menoleh kaget ketika Panji mengetuk pintunya.
'Tumben Panji ngetuk pintu?' batinnya.
"Citra? Udah tidur belum?" tanya Panji di luar kamar.
"Belum. Kenapa?" jawab Citra.
"Mau jalan-jalan ke taman kompleks nggak? Aku juga nggak bisa tidur," ajak Panji.
Citra tersenyum manis, 'Kayaknya udah nggak ngasih jarak tegang kayak tadi sore. Ikut deh," batinnya.
"Ayo! Aku ambil jaket dulu, ya!" seru Citra.
Panji senang di luar sana, "Aku tunggu di luar!"
Citra mengangguk lalu menepuk dahinya. "Panji mana tau aku lagi ngangguk?" sadarnya. Kemudian memakai jaket cepat dan menemui Panji di teras depan.
"Kamu nggak pakai jaket?" tanya Citra.
"Nggak kamu pakaiin kayak kemarin?" jawab Panji jahil.
"Ck, apa, sih? Khilaf, tau khilaf!" Citra cemberut.
"Hahaha, nggak apa-apa. Daya tahanku lebih kuat dari kamu. Dingin nggak bisa mempengaruhiku." Panji memasukkan tangannya ke saku celana dan mendahului berjalan.
Citra mengikutinya. Melirik kanan-kiri yang sepi. Hanya lampu teras dan jalanan yang menyala. Masih ramai orang di masjid kompleks dan juga pos ronda yang ada di dekatnya. Citra tersenyum lega karena masih ada orang yang terjaga. Panji menyapa orang-orang itu, justru dia dapat godaan karena berduaan dengan Citra. Wajahnya kembali memerah dan memasang cengiran bodoh.
"Panji, emangnya jam segini ada orang di kompleks?" Citra tidak menghiraukan godaan orang-orang tadi.
Panji menoleh, "Ada dong. Kadang ramai, kadang sepi. Kenapa? Takut, ya?"
"Enggak, soalnya ini udah malam. Ngapain orang-orang ke taman kompleks?" Citra menggosok kedua telapak tangannya.
"Baru pukul delapan malam masih ada orang di sana. Sekadar jalan-jalan menghirup udara segar di malam hari dan menyegarkan pikiran. Katanya kalau malam lebih tenang mengitari taman," jelas Panji.
"Oh, gitu. Aku nggak pernah tuh ke taman kompleks malam-malam. Kalau ke taman kota sering, tapi nggak ramai juga nyatanya," kilah Citra.
"Kan dibilang kadang ramai kadang enggak," balas Panji.
Citra mengangguk paham. Mereka tiba di taman kompleks. Berhenti sebentar karena Citra menganga kagum melihat banyak lampu warna-warni menerangi taman sampai terang benderang lebih terang daripada rumahnya. Mulai dari lampu besar hingga kecil, bentuk ini dan itu, warna ini dan itu, semuanya bercampur jadi satu. Lebih mirip sebagai taman lampu atau festival lampu menurut Citra. Tidak sedikit juga orang yang berlalu-lalang di depannya. Panji senang bisa membuat Citra tersenyum lagi setelah berpikir berat akan lembur tadi.
"Bagus, 'kan? Apa aku bilang," kata Panji.
"Wah! Aku baru tau kalau taman kompleks sebagus ini waktu malam. Kalau tau begini dari dulu udah ke sini tiap malam. Keren, kayak festival lampu! Orangnya juga ramai lagi!" pekik Citra.
"Asal kamu tau aja, taman di kompleks kita emang sengaja di buat ramai sama penduduk sekitar. Soalnya banyak pekerja kayak kita yang butuh hiburan dan menghirup udara segar tiap malam. Anak kecil juga bisa main kapan saja. Kalau taman kompleks lain mungkin nggak kayak gini. Termasuk taman kompleks di sekitar rumah orang tua kita yang biasa-biasa aja," terang Panji.
"Kamu tau banyak ternyata! Eh, ada yang jualan wedang jahe! Mampir, yuk!" Citra menyahut tangan Panji dan dibawa ke kedai wedang jahe yang ada dua orang bapak-bapak sedang duduk sebagai pelanggan di sana.
"Mbak, pesan wedang jahenya dua!" Citra langsung memesan membuat Panji menepuk dahinya.
"Kita dilihatin sama yang lain tuh. Nggak takut?" bisik Panji.
Citra melihat dua orang di sampingnya, "Ngapain mesti takut? Biarin aja."
'Bukan itu yang aku maksud, Citra. Mereka merhatiin kamu, bukan aku,' batin Panji.
Setelah pesanannya siap, Citra memaksa untuk membawa kedua gelas wedang jahe untuk berjalan-jalan ke taman. Panji bersyukur dalam hati karena dia pikir Citra akan meminumnya di tempat.
"Kenapa suka wedang jahe?" tanya Panji seraya menghangatkan tangannya dengan memegang gelas wedang jahe miliknya. Mereka kembali menyusuri jalanan taman bergabung dengan orang-orang.
"Karena hangat," jawab Citra singkat.
"Teh, kopi, atau yang lainnya juga bisa. Mereka hangat kalau diseduh pakai air panas," balas Panji.
"Emm, aku lebih suka jahe. Nggak biasa minum kopi atau teh. Kalau minuman tradisional kayak wedang jahe, serai, kencur, kunyit, asam jawa, dan masih banyak lagi itu aku suka. Rasanya beda aja. Hangatnya nyaman di badan, hehe." cengirnya lebar.
"Ini, nih yang bikin kamu beda sama cewek yang lain. Satu poin keanehan kamu lagi yang menunjukkan kamu beda dari yang lainnya, haha. Kayak orang tua dulu-dulu." Panji mengendikkan bahu.
"Emangnya kamu nggak aneh? Kau di rumah sering-sering ngaca biar tau diri. Kamu itu mirip cowok nggak normal tau nggak. Paling nggak normal dari yang aku tau, haha. Bercanda, ya, walau beneran." Citra menunjukkan dua jarinya tanda damai.
Panji hanya terkekeh dan mendorong dahi Citra pelan. Gadis itu protes dan menimbulkan kesan tersendiri di setiap langkah kaki mereka.