Air mendidih membuyarkan pikiran mereka. Sontak Panji bergerak mematikan kompor. Citra tetap diam mematung merasakan detak jantungnya. "Wow, panas-panas!" Panji mengangkat panci berisi air mendidih itu. Kesakitan ketika tangannya terkena uap air. Citra mengambil kembali sapu dan kemocengnya lalu menoleh. Panji pun menatapnya menunjukkan deretan giginya yang rapi. "Yahh, sampai lupa lagi masak air. Kamu... Mandi sama air hangat aja biar nggak kedinginan. Tuh, udah keringetan muka kamu sampai merah," tanpa sadar itu membuat wajah Citra semakin memerah. Citra memegang kedua pipinya. Panji terkekeh, "Aku siapin airnya, ya." hendak mengangkat panci panas itu lagi. Namun, Citra menghentikannya. "Nggak usah, biar aku aja," suaranya masih lelah seperti sebelumnya. Panji tersenyum dan menyerahk

