Hujan mengguyur deras kota Surabaya. Sebuah toko elektronik yang sedang tutup menjadi tempat berteduh Citra dan motornya. Sore ini dia baru pulang. Bicara banyak dengan Kalisa seperti bicara dengan konsultan cinta. Menunduk merenungkan apa yang dia dengar. Rintikan hujan bergema di telinganya. Cukup isyarat kalbu yang membuka mata hati Citra. Dia mengerti, benar-benar sudah mengerti. Pertanyaannya, apakah Panji sepemikiran dengannya? 'Nggak mungkin. Itu mustahil,' jawab Citra dalam hati. Lagi dan lagi membiarkan pikiran dan hatinya berseteru. Berkali-kali menghembuskan napas gusar. Sabar, semua pasti terlihat pada waktunya. "Fokus, Citra. Pikirkan jangan ngelayap kemana-mana." menggeleng pelan. Kakinya gemetar kedinginan. Sampai kapan dia harus menunggu hujan reda? Hari semakin mala

