Cecilia masuk ke dalam kamar tamu di vilanya. Faruq yang sedang duduk di tempat tidur segera berdiri.
“Kamu?” teriak Faruq tak percaya dengan sosok yang baru saja masuk. Faruq segera mengambil kemejanya, lalu memasangnya.
“Selamat datang di vila keluargaku. Aku minta maaf jika pegawaiku memperlakukanmu dengan tidak sopan. Mari ikut, aku!” balas Cecilia dengan lembut.
“Mengapa aku ada di sini? Jawab aku!” teriak Faruq menyalurkan kekesalannya.
“Kamu butuh makan, aku juga lapar. Setelah itu, kita bisa bicara. Kamu aman dan sudah berada di tempat terbaik.”
“Aku tidak lapar. Aku ingin penjelasan!” sanggah Faruq tidak mau bertekuk lutut.
“Faruq, Sayang. Aku butuh asupan gizi agar bisa menjelaskan semuanya dengan baik padamu. Kalau memang kamu tidak mau makan, setidaknya kamu bisa keluar dari kamar suram ini.”
Cecil berbalik dan keluar dari kamar. Pintu ia biarkan terbuka lebar. Lilis dan Gita setia membuntutinya.
“Kamu bisa pergi. Tetap awasi dia dari jauh!” tegas Cecil pada pengawal di depan pintu.
Bagi Cecil, di depan Faruq ia harus bersikap seperti seorang nona muda yang santun. Ia tidak ingin terlihat manja dan kekanak-kanakan. Faruq tidak suka dengan gadis yang ceroboh.
Sementara Faruq masih bergeming. Ia marah karena diperlakukan seperti orang bodoh.
Tapi, ia memang tidak berdaya dan harus bisa menurunkan egonya. Ia harus bisa bekerja sama. Ia tidak memiliki kuasa sekarang. Kendali ada di tangan tuan rumah.
Faruq lupa nama gadis yang mengaku sebagai pemilik dari tempat ia berada sekarang. Vila, hotel atau istana, Faruq masih belum jelas.
Tapi, ia beberapa kali berjumpa di kampus dan di agensi. Faruq yakin, perempuan berambut ombre coklat ini salah satu model di sana. Dandanan modisnya tadi juga menjadi bukti.
Berat rasanya berdamai dengan egonya. Tapi, ia harus mengalah agar bisa bebas. Bisa jadi, juga demi keselamatan pribadinya.
Melihat Cecil sudah hampir hilang dari pandangannya, Faruq setengah berlari kecil keluar dari kamar.
Dari kamar yang suram, mereka ternyata masuk ke bagian lain vila yang lebih modern. Desain interiornya persis seperti hotel bintang lima yang ada di kota.
Sorotan lampu yang lebih cemerlang. Warna tembok yang cerah dan mengilap dengan wallpaper yang senada warnanya sehingga tidak membuat sakit mata. Tak lupa, patung-patung bergaya modern, yang membuat tempat ini semakin mewah.
Mereka sampai ke ruang makan. Ruangan dengan meja jati berukir pola geometris.
Faruq awalnya tidak merasa lapar karena terlalu khawatir. Begitu melihat beragam hidangan yang ada, ia abaikan protesnya tadi.
Ia juga ikut duduk di salah satu kursi yang kosong. Memilih tempat duduk yang paling jauh dari ketiga wanita yang terlihat seperti kembar.
Faruq menganggap kembar, karena dandanan mereka mirip dan gerak gerik yang hampir sama. Apa yang dilakukan oleh gadis yang berbicara tadi, juga diikuti oleh dua gadis lainnya. Faruq sudah paham dengan jenis pertemanan yang demikian.
Cecil tersenyum puas saat melihat Faruq akhirnya mau juga duduk semeja dengannya. Walaupun masih begitu jauh jarak di antara mereka. Dirinya di ujung utara dan Faruq di bagian selatan dari meja makan.
“Pelayan!” teriak Cecil bertepuk tangan dua kali.
Membuat dua pasang pelayan berseragam, yang berdiri di pojok ruangan langsung bergerak. Masing-masing langsung melayani satu orang tamu.
Faruq tidak berbicara sambil makan. Ia hanya bersikap ramah pada pelayan yang setia menungguinya.
Sungguh, seperti tinggal dalam istana atau keraton, tapi dengan nuansa kekinian. Segalanya sudah tersedia, termasuk pelayan khusus. Faruq mematri wajah pria yang melayaninya.
Ia harus mulai mencari teman untuk bisa keluar dari penjara mewah yang dirancang seseorang untuknya. Ia akan berupaya cerdik seperti kancil dan tulus seperti merpati.
Ia butuh untuk bertemu dan berbicara pada orang yang tepat. Otaknya mulai merancang strategi untuk kabur.
Kurang dari satu jam mereka sudah selesai dengan hidangan penutup.
“Kita harus bicara. Kamu janji akan lakukan setelah kita makan,” kata Faruq bangkit dari duduknya dan menghampiri Cecil.
“Kalian boleh kembali ke kamar. Aku perlu bicara dengan Faruq,” kata Cecil pada kedua pengikut setianya.
Gita dan Lilis patuh. Cecil juga ikut keluar dari ruang makan dengan Faruq membuntutinya.
Kali ini, Cecil mengajak Faruq ke sebuah balkon. Masih di lantai yang sama dengan ruang makan. Dari sana mereka bisa melihat dengan jelas pemandangan di luar.
Faruq harus menelan salivanya beberapa kali. Ia baru sadar kalau mereka seperti sedang berada di ketinggian.
Saat ia pandang ke bawah, hanya ada kegelapan. Tetapi ada bunyi desiran seperti dua buah permukaan yang beradu. Entah dedaunan ataukah hempasan cairan pada sesuatu yang padat, ia masih belum jelas.
“Vila tersembunyi, itulah nama dari tempat ini jika kamu ingin tahu di mana kita sekarang. Dibeli oleh kakekku dua puluh tahun yang lalu dari rekan bisnisnya,” kata Cecil.
Faruq masih setia menghening. Dia membiarkan Cecil berbicara.
“Keluarga besar kami biasanya berkumpul di sini tiga tahun sekali. Baru tahun lalu sebenarnya, terakhir kami berkumpul.”
“Kenapa kamu membawaku ke sini?” tandas Faruq sudah tak sabar lagi.
“Kamu ternyata berbeda dari yang aku kenal. Setahuku, kamu ramah saat kita bertemu di kampus atau di agensi,” timpal Cecil menatap Faruq sambil tersenyum manis.
Pemuda itu membuang muka. Menolak untuk menatap lawan bicaranya.
“Untuk bisa sampai ke tempat ini, ada helikopter khusus. Jangan lupa, kunci pintu gerbang hanya bisa dibuka dengan sidik jari,” jelas Cecil sinis. Terus saja dia berceloteh tentang villa canggihnya.
Faruq menganga. Dia masih tak mengerti, kenapa gadis ini membawanya ke sini? Lalu, kenapa pula dia tidak mengingat proses itu?
“Itu pun hanya beberapa anggota keluarga kami dan satu orang penjaga kepercayaan papaku, yang bisa membukanya.”
“Tapi, vila ini terlihat begitu luas dan sunyi. Kenapa kamu mengajakku ke sini?” balas Faruq. Ia memang harus bisa bersabar untuk mengikuti alur berpikir Cecil. Egonya harus ia tekan rapat-rapat.
“Besok, aku akan mengajakmu berkeliling. Ada banyak orang, sebenarnya. Hanya saja, saat malam seperti ini, semua orang sudah berdiam di kamar mereka masing-masing.”
“Kamu belum menjawab pertanyaanku,” imbuh Faruq.
“Kamu tidak pantas menikah dengan perempuan itu. Sukma Wati. Dia bukan siapa-siapa. Kalau aku tidak bisa memilikimu, maka tidak akan ada seorang wanita pun juga yang bisa bersanding denganmu.”
“Kamu gila. Aku tidak mencintaimu.” Faruq sudah mengepalkan kedua tangannya.
Rasanya seperti bara api menumpuk di kepalanya mendengar pengakuan Cecil barusan. Ia tidak menyangka akan ada dalam cengkeraman seorang wanita tak ia kenal dekat, hanya karena cinta terpendamnya yang membabi buta.
“Aku memang tergila-gila padamu. Lagipula, cinta tumbuh dari kebersamaan. Jika tidak percaya, mari kita buktikan selama kamu di sini.”
“Tidak perlu!”
“Kamu harus mau, Faruq!” sengit Cecil.
“Kamu tak waras! Kita hanya kenal, ya, kenal saja. Aku bahkan lupa namamu tadi!”
Cecil tertawa angkuh. Dia sibak rambutnya. Barangkali, aroma sampo dari bebungaan tropis ini bisa membuat Faruq luluh.
Percuma. Lelaki ini masih murka padanya.
“Untuk saat ini, aku pastikan kalau kamu tidak akan bisa ke mana-mana. Kita ditakdirkan untuk menguasai vila ini. Seperti katamu tadi, terlalu sunyi. Untuk itu, kita akan penuhi dengan tawa anak-anak kita berdua.”
“Ka ... kamu sinting!”
“Sampai jumpa besok, Sayang. Seseorang akan mengantarmu ke kamar yang baru,” kata Cecil.
Cecil menghilang dari pandangan Faruq. Langkah kaki jenjangnya meninggalkan amarah tersembunyi dalam diri Faruq.
‘Apa yang sebenarnya telah aku lakukan sehingga gadis itu terobsesi padaku. Tidak pernah aku memberikan harapan dalam bentuk apa pun padanya. Aku bahkan hanya menyapanya karena alasan sopan santun. b******k, aku bahkan belum tahu cara menghubungi keluargaku,’ batin Faruq.