Bayangan Cecil benar menghilang, tapi aroma parfumnya masih beredar di sekitar Faruq. Menyengat sejenis wangi tanaman namun Faruq tak tahu jenisnya.
“Mari ikut saya, Tuan.” Suara seorang pria menghilangkan lamunan Faruq. Tak ada pilihan, ia menjajari langkah pria itu.
“Pak, boleh saya tahu apa nama tempat ini?”
“Maaf, Tuan. Saya dilarang berbicara dengan tamu.”
“Apa Bapak sudah lama bekerja di sini?”
Pria itu bungkam. Ia terus melangkah dengan cepat membuat Faruq kadang setengah berlari untuk bisa menjajarinya.
“Apa saya bisa pinjam ponsel Bapak, agar saya bisa menghubungi keluarga saya?”
Tak ada balasan tapi Faruq masih tidak putus asa.
“Saya akan bayar Bapak berapa pun, yang penting saya bisa menghubungi seseorang di luar vila ini.” Faruq menelan kembali perkataannya yang sudah terlanjur keluar. Dia tak punya apa-apa sebenarnya.
“Silakan. Ini kamar Tuan. Selamat malam.” Pria itu berbalik dan melangkah menjauh.
Faruq masuk ke dalam kamar lalu menutup kembali pintu. Kali ini ia menguncinya dari dalam. Ia tidak ingin wanita tadi langsung masuk tanpa ia ijinkan.
“Arrrrgh!” teriaknya frustasi sambil meninju daun pintu beberapa kali karena kesal. Perih mulai terasa pada kepalan tangannya membuatnya menghentikan aksinya.
“Aku pasti sudah dicap sebagai pria paling b******k di dunia ini oleh Sukma dan keluarganya. Orang tuaku juga pasti sangat kecewa dengan tindakanku. Lari di hari pernikahan.”
Faruq menghentakkkan kakinya. Dia meraup Oksigen serakusnya.
“Mereka pasti menuduh begitu, karena aku tak bisa dihubungi sama sekali. Semoga ada yang melihat aku menghilang dan mereka mulai mencariku,” gumam Faruq. Ia melangkah mondar mandir di kamar yang baru dengan menjambak rambutnya.
Faruq akhirnya lelah. Ia duduk di salah satu sofa dalam kamar.
Saat itulah baru ia memperhatikan keadaan di kamar. Jauh lebih modern. Juga sangat maskulin. Tidak ada corak feminin sama sekali. Interior dan perabot kombinasi warna putih dan abu-abu. Faruq sedikit lega. Suasana kamar ini tidak mengintimidasinya. Berbeda dengan kamar sebelumnya saat ia terbangun.
Ada lemari tembok di sudut kanannya. Ia menuju ke sana.
Saat ia buka, tampak penuh dengan pakaian untuk pria. Faruq menatap dirinya. Ia memang terlihat kusut dan lusuh, meski masih dalam balutan busana formil.
Nyeri pada kepalan tangan kanannya menarik netranya. Terlihat titik-titik darah yang sudah membeku.
Ia mengeluarkan satu hembusan napas panjang. Menyeret kakinya masuk ke dalam kamar mandi.
Ia sempat lepaskan sepatunya terlebih dahulu di depan pintu. Menjejak dengan kaos kaki, lalu menghilang di balik daun pintu berwarna putih.
Di dalam kamar mandi itu, ia lucuti semua yang menempel di tubuhnya. Membiarkan otot-otot sempurnanya terbuka.
Sejenak, ia melihat sekeliling. Mencari CCTV.
“Aman,” desis Faruq. Lalu, sejurus kemudian suara shower beriak-riak.
Dia perlu mandi. Setidaknya, dengan begitu, pikirannya akan lebih tenang.
***
Sementara di jam yang sama, tapi tempat yang berbeda. Ada rupa kesedihan.
Seorang gadis manis sedang menyandar di kepala tempat tidur. Bunyi daun pintu kamar yang terkuak membuatnya menoleh.
Sukma Wati namanya. Gadis manis berambut panjang sepinggang, berwarna hitam legam.
Gadis ini sangat menarik. Bermata coklat dengan tulang hidung dan pipi yang proporsional. Berkulit sawo matang dengan tinggi lebih dari 165 cm.
Dia duduk di bangku kuliah semester akhir. Mengambil jurusan bisnis perbankan. Anak kedua dari tiga bersaudara. Ramah dalam bergaul namun tegas untuk hal yang sangat prinsip dalam hidupnya.
Seorang wanita paruh baya masuk dengan satu nampan yang telah ia letakkan di atas nakas. Ada semangkuk bubur ayam yang masih hangat dan teh panas manis tinggi untuk putrinya.
Ia khawatir Sukma sakit. Lambung Sukma sudah pasti penuh dengan gas sekarang.
“Sukma, kamu belum makan dari siang. Ayolah! Ingat kesehatan kamu, Nak.”
“Sukma tidak lapar, Bunda. Sukma hanya ingin tidur tapi belum bisa.” Ada getar dalam nada bicaranya.
Matanya merah membengkak. Seharian ia menangis karena sakit hati yang tak terkirakan.
Semuanya berawal dari gagalnya pernikahan yang telah ia rancang dalam enam bulan terakhir. Naas nasibnya.
Dia ditinggalkan oleh calon pengantin pria tepat di hari akad nikah. Faruq Dirza Dirgantara, advokat muda yang sudah menjadi tunangannya selama satu tahun.
Pedih hati Sukma karena apa yang biasanya ia saksikan sebagai kisah fiksi, jadi nyata bagi dirinya. Kata penata riasnya, semua undangan sudah hadir sebelum penghulu datang. Jadi, mereka mempercepat kerja mereka.
Tapi setelah riasannya tuntas, ia tidak juga dijemput untuk menghadap penghulu. Membuat riasan itu dipenuhi bulir-bulir keringat jagung nan dingin.
Satu jam kemudian barulah Sukma diberitahu kalau Faruq, calon suaminya tidak ada di rumahnya. Ponselnya tidak dapat dihubungi dan tidak ada yang melihat kepergian Faruq.
Sukma tentu saja tidak percaya. Ia bergegas mencari ponselnya dan mengontak nomor kekasihnya.
Tidak ada nada sambung. Langsung putus. Layaknya kartu seluler yang sudah rusak.
Tak bisa terima kenyataan, Sukma langsung terjatuh. Kerabatnya yang juga ada di dalam kamar terkejut.
Kerabat itu harus minta tolong pada yang lain agar bisa memapah tubuh gadis malang itu. Mereka baringkan Sukma di atas tempat tidur baru memanggil ibunya.
Mereka mencari minyak untuk membantu Sukma agar bisa siuman. Ibunya juga sudah berlinangan air mata ikut merasakan kesedihan putrinya. Mereka tidak menyangka kalau Faruq akan mempermalukan mereka pada hari penting itu.
Setelah beberapa menit barulah Sukma membuka matanya. Sejak saat itulah ia masih tetap ada di atas ranjangnya.
Sampai dengan hampir tengah malam, Sukma masih belum mau makan. Hanya segelas air putih yang menemaninya. Selebihnya ia tidak ingin makan atau minum apa pun.
Lidia, ibu dari Sukma duduk di pinggir tempat tidur. Netranya memendar iba bercampur perih.
“Bunda tahu, apa pun yang kami ucapkan tidak akan bisa membuatmu menjadi lebih baik. Tapi, kamu tidak bisa menghukum dirimu sendiri dengan tidak makan.”
“Aku tidak lapar, Bun,” kata Sekar, masih menolak.
“Kamu harus makan. Kamu butuh sehat dan kuat untuk bisa mencari calon suami kamu,” pinta Lidia.
“Heh! Mencarinya? Tidak perlu Bunda. Untuk apa dicari. Pria b******k itu sudah menentukan pilihannya sendiri.” Sukma membalas dengan nada sinis.
“Maafkan Bunda. Maksud Bunda, kamu harus kuat untuk melanjutkan hidupmu. Ada banyak tanggung jawab yang perlu kamu jalani setelah ini. Jangan sampai kesedihan menghancurkan masa depanmu.”
“Lelaki itu k*****t! Tidak, kampretnya berlipat-lipat, jadinya KAMPRETOS!” ceracau Sukma semaunya.
Tetes air mata luruh tak terbendungkan dari manik indah milik Sukma. Dengan segera ia seka dengan punggung tangannya.
“Tinggalkan Sukma sendiri, Bunda. Tolong padamkan lampu.” Tanpa menanti tanggapan dari Lidia, ia katupkan matanya dan menoleh ke samping.
Lidia tertegun. Rasanya begitu sakit melihat penderitaan putrinya. Tapi, ia tidak bisa berbuat apa-apa.
“Bunda tinggalkan teh panasnya. Jangan lupa diminum. Buburnya sudah Bunda bawa.”
Kalimat terakhir yang wanita itu ucapkan sebelum meninggalkan kamar putrinya. Gelap meliputi seiring pintu yang tertutup.
Isakan lembut lambat laun terdengar. Tidak nyaring tapi siapa pun yang sempat mendengarnya pasti tahu kalau si empunya tangis sedang bersedih. Mungkin juga berduka.
Harapannya hilang lenyap. Hati siapa yang tidak terluka jika dicampakkan begitu saja di saat janji suci perkawinan akan diikrarkan.
Jika ada pertengkaran sebelumnya mungkin, Sukma akan lebih lega. Tetapi, tidak ada masalah serius di antara dirinya dan Faruq sama sekali. Apa yang terjadi membuktikan pada Sukma bahwa semua laki-laki memang tidak bisa dipercaya.