Serum Melupakan Masa Lalu
Lelaki itu tampan. Dilihat dari sisi manapun, dibolak-balik, tetap saja dia tampan.
Sebagian perempuan fanatik menyebut lelaki ini tampan paripurna. Sebagian lagi menyebutnya pangeran berkuda putih atau future husband. Dan kaum paling alay akan menyebutnya pemuda cucok meong bukan kaleng-kaleng.
Sekalipun mahluk setinggi seratus delapan puluh sentimeter ini kerap dimaki kampretos, tetap saja menjerit-jerit fansnya. Itu ketika mereka mampu membuat sejumput senyum, pada lelaki dengan roti sobek enam di perutnya ini.
Dia tidak kampretos. Namun, barisan patah hati akan lantang meneriakinya dengan makian itu.
Naasnya, lelaki ini sedang tak berdaya. Seluruh persendiannya lunglai, terkulai tanpa sehelai benang pada separuh bagian atasnya. Bulu-bulu terpampang, menjalar dari bawah leher hingga ke pusarnya.
Cuaca sejuk di dalam ruang tidur bukan karena adanya pendingin udara. Namun, itu karena interior vila yang lega dengan plafon yang letaknya jauh di atas, tak terjangkau.
Lelaki idaman itu baru saja terjaga. Ia sedang terlentang dan menatap sekeliling ruangan yang remang-remang.
Belum ada satu titik cahaya pun yang membantu netranya. Faruq Dirza Dirgantara, nama lengkapnya.
Pemuda kesohor di jaman now, karena ketampanannya yang paripurna dan sifat baik hatinya. Sejak jaman mahasiswa sampai menjadi seorang advokat, ia sangat terkenal.
“Aku di mana ini? Kenapa malah ada di sini dan bukan di kamarku?” seru Faruq saat sudah meraih kesadarannya.
Ia bangkit dari ranjang. Mencoba mendekati tembok di sekitarnya untuk mencari sumber pemantik cahaya.
Ia temukan beberapa detik kemudian. Ia harus mengerjapkan matanya beberapa kali, barulah beradaptasi pada terang dan gelap di kamar.
Faruq menatap tubuhnya sendiri. Lelaki dengan otot pergelangan yang terbentuk sempurna ini terkejut.
“Ke ... kenapa aku seperti ini?” Faruq tercengang.
Seingatnya, dia masih berpakaian resmi. Baju putih tangan panjang lengkap dengan dasi dan rompi dalaman jas.
Lalu, dia temukan semua itu tercecer di samping ranjang. Sebuah anomali.
Sepatunya masih bertengger di ujung kakinya, demikian juga celananya masih terkatup rapi. Namun, tanpa busana atasan.
Kepalanya agak pening. Namun, ingatannya tak bermasalah. Ia sadar betul kalau sudah tidak berada di kamarnya.
“Aku harusnya ada bersama Sukma, melakukan akad nikah. Di mana Sukma?” ia bergumam.
Faruq menuju pintu kamar. Gagang yang begitu besar dan berat bergeser tapi tidak bisa dibuka. ‘Pintunya terkunci. Aku di mana?’ batin Faruq mulai cemas.
Ia mengecek saku celana dan kemejanya tapi kosong. Ia bongkar tempat tidur untuk menemukan benda apa pun yang bisa menghubungkannya dengan dunia luar, tetapi tidak ia temukan.
Tak ada penunjuk waktu di dalam kamar. Hanya lukisan abstrak raksasa tanpa makna apa pun untuk Faruq.
“Mengapa aku ada di sini?” imbuhnya.
Ia menuju jendela kaca berbingkai lebar. Pahatan kayu yang kokoh dan kaca yang tebal, membuat semakin mustahil baginya untuk meloloskan diri.
Faruq mengusap kaca yang mengaburkan pandangannya. Gelap di luar.
Pemandangan akan kelap kelip lampu, selayaknya menghiasi kota di malam hari tak nampak. Hanya ada cahaya bintang namun samar-samar.
“Ini di mana?” gumamnya lagi semakin khawatir.
Ia ingat kalau seharusnya ia ada dalam acara akad nikah dan resepsi setelahnya. Calon istrinya bernama Sukma Wati. Namun, ia terbangun di kamar asing tanpa istrinya di samping.
Faruq kembali ke pintu dan menggedornya beberapa kali. Harapannya akan bunyi nyaring tidak terdengar sama sekali. Bunyi pukulan tangan seperti hilang terbawa heningnya kamar.
“Ada orang di luar? Buka pintunya!” teriak pemuda itu lagi.
Suaranya melengking tinggi. Sudah ia kerahkan semua kekuatannya. Tapi, lagi-lagi suaranya lenyap menembus tembok kamar.
Faruq menyugar rambutnya frustasi. Ia mengitari kamar sekali lagi. Membuka pintu lainnya yang berujung pada kamar mandi berfasilitas nomor wahid.
Ia menutupnya kembali. Faruq berbalik dan langsung berhadapan dengan pantulan dirinya sendiri. Ada sebuah cermin besar di salah satu sisi tembok. Dekat dengan lemari.
Faruq bisa melihat duplikat dirinya di sana. Wajah kuyu yang bingung.
“Hei, siapa pun di sana? Buka pintunya! Cepat!” teriaknya sekali lagi sambil mendongak dan melihat ke setiap sudut kamar. Ia sangat kesal dan marah.
Ia terduduk di pinggir tempat tidur membelakangi kaca rias tadi. Ia terperangkap.
Tak ada ponsel. Tak ada telepon atau interkom di kamar.
Kalau ini seperti hotel, harusnya ada alat komunikasi penghubung dengan lobi atau kamar lainnya. Namun, nihil.
Pikirannya sudah menerawang ke segala arah. Ia seperti ada dalam penjara yang mewah.
Kebebasannya terpasung. Tidak ada juga televisi. Perabot atau fasilitas lain yang dapat membantunya memprediksi waktu, keadaan di luar dan tempat dirinya berada sekarang.
***
Tak jauh dari posisi Faruq, di dalam kamar yang berbeda.
“Dia sudah terjaga,” teriak Lilis. Gadis muda, salah satu model dari agensi IDOLA.
“Benarkah?” seru seorang gadis jelita melompat turun dari ranjang.
Gadis ini terlahir dengan nama Cecilia Veronika. Keponakan dari pemilik agensi model IDOLA. Dititipkan pada keluarga kaya raya dengan orang tua yang super sibuk.
Cecil tersenyum bangga sambil melihat pada layar laptop. Kamera penghubung menampakkan suasana di kamar lainnya.
Seorang pemuda terlihat sedang bingung berjalan mengelilingi kamar, berusaha membuka pintu dan berdiri di jendela.
“Gelay! Seksi banget. Haduh, bulunya bikin merinding!”
“Iya. Bagus, ya. Indah banget pemandangan duniawi ini,” Lilis menyeka salivanya, yang hendak memeta dari sudut bibirnya.
“Heh! Kalian ingat baik-baik. Jangan pernah berpikir untuk memujanya. Dia milikku!” tegas Cecil.
“Ingatkan aku namanya. Aku lupa,” kata Gita juga sesama teman model yang selalu paling lambat dalam berpikir dan bertindak.
Cecil punya dua orang sahabat yang lebih sering diperlakukan seperti kacung. Mengikuti ke mana pun Cecil pergi. Mereka bertiga tak terpisahkan. Cecil, Lilis dan Gita.
Dering salah satu ponsel membuat ketiganya menoleh bersamaan ke sumber suara.
Cecil meraih benda pipih itu, menekan tombol hijau dan mengaktifkan pengeras suara. Dia biarkan tetap di atas nakas sambil berbicara.
“Iya, Ma.”
“Bagaimana kabar temanmu? Apa dia sudah terjaga?” tanya suara dari seberang. Ibunda dari Cecil.
Beliau seorang ahli kimia terkenal. Memiliki laboratorium sendiri dan selalu mendapatkan kepercayaan untuk terlibat dalam penelitian skala besar, proyek pemerintah dalam negri mau pun luar negri.
“Sudah, Ma. Sepertinya baru beberapa menit yang lalu. Apa yang harus aku lakukan sekarang?”
“Ingat kata Mama. Dia masih normal karena kita hanya memberinya obat pingsan. Jadi, kamu tetap harus memperlakukannya seperti manusia pada umumnya.”
“Bukankah Cecil minta Mama agar diberikan jenis yang bisa membuatnya lupa akan masa lalunya?”
“Tidak akan semudah itu, Sayang. Kita baru bisa melakukan itu, setelah ia diperiksa di laboratorium.”
“Ah, kalau dia bisa melupakan masa lalu, aku bisa memiliki atasnya, bawahnya, dan tengahnya,” Ritme suara Cecil terdengar gusar.
“Serum jenis ini sangat spesifik dan spesimennya sangat amat mahal. Mama tidak bisa menggunakan semuanya hanya untuk menyenangkanmu.”
“Padahal Mama sudah berjanji,” sahut Cecil dengan suara merajuk. Bibirnya juga Sudah ia majukan karena keinginannya masih tertunda.
“Iya, Sayang. Pasti bisa, tapi nanti. Jangan sekarang. Dia harus melakukannya dengan sukarela, tidak boleh dipaksa.”
“Aduh, sepertinya susah, nih,” Cecil sedikit pesimis.
“Kamu harus berjuang! Tekanan psikologi calon sampel juga jadi faktor penting. Akan sangat berpengaruh pada khasiatnya nanti.”
“Iya, Ma. Dia terlalu cerdas untuk dipaksa. Jadi apa yang harus kami lakukan sekarang setelah ia terjaga?”
“Ada di mana dia sekarang?”
“Cecil kunci di salah satu kamar tamu.”
“Jangan, Sayang. Buka saja pintunya. Sehebat apa pun ia mencoba, dia tidak akan bisa ke mana-mana. Kamu bisa membuatnya depresi dan rencanamu sendiri akan gagal.”
“Iya, Ma. Nanti kita bicara lagi.”
Perbincangan mereka terputus.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Gita lagi. Pertanyaannya telah diabaikan sebelumnya, sehingga kali ini ia berdiri tepat di depan Cecil dengan bercekak pinggang.
“Aku sedang minta mamaku menyiapkan serum khusus untuknya,” kata Cecil berbalik untuk meninggalkan kamar.
“Dia sudah tampan! Lalat-lalat terpeleset, kalau mengenai wajahnya. Untuk apa lagi serum skincare itu?” tanya Gita lugu.
“Apa aku berkata itu serum skincare? Sudah! Tidak usah banyak tanya,” kata Cecil kesal.
Lilis dan Gita otomatis mengikuti sahabatnya itu dari belakang. Pengawal setia.
Mereka turun satu lantai dan berjalan terus sampai di ujung lorong. Ada seorang penjaga yang duduk di depan pintu.
“Buka pintunya! Aku ingin masuk.”
Perintah nona muda tidak mungkin diabaikan. Penjaga itu memutar anak kunci dan meraih gagang daun pintu untuk di dorong ke dalam.
‘Duhai lelakiku, belahan hatimu datang,’ kata Cecil dalam hati, seraya tersipu malu.