Ada keheningan menyelimuti Axel dan juga Selly. Dokter psikiater Axel itu tampaknya menunggu, pria di sampingnya mau bercerita dengan sendirinya. "Dia. Dia perempuan yang di jodohkan kedua orangtuaku Selly." Selly manggut-manggut mendengarnya setia menjadi pendengar yang baik untuk pria yang sudah lama menjadi pasiennya tersebut. Sebab, baru kali ini tidak ada nama Avril di dalam ucapan pria itu. Masa lalu yang selalu menghantuinya. Menurut Selly ini sebuah keajaiban dan perkembangan untuk kesembuhan pria tampan tersebut. "Dia pasti cantik, iya kan?" Axel menoleh kemudian mengangguk membenarkan. "Iya, dia sangat cantik. Aku terkadang merasa bertanya-tanya mengapa gadis itu menyetujui perjodohan orangtua kami. Dia gadis muda, ceria, masa depannya masih panjang. Sedangkan aku hanya pri

