"Pagi pak". Sapa karyawan Alvaro sambil menundukkan kepala. Namun Alvaro tidak menggubris sapaan karyawannya dan langsung berjalan menuju lift khusus yang diperuntukkan dirinya sebagai CEO perusahaannya.
"Sudah beberapa hari ini si boss kok mukanya butek sihh, kayak air di got rumah gue?" Tanya Sisi recepsionis perusahaan Alvaro sambil terkikik.
"Biar kata elo butek, tetep aja ganteng abisss... gue siap kok jadi istrinya yang kesekian". Ucap Dian, teman Sisi sesama penerima tamu PT. Angkasa cemerlang terkekeh karena ucapannya.
"Sisca, tolong siapkan meeting dalam 30 menit. Saya mau semua laporan seluruh direktur setiap departemen". Ucap Alvaro tegas dengan tatapan dinginnya.
"Baik Pak" Ucap sang sekretaris.
"Napa lagi sih boss sih, uda beberapa bulan ini mukanya cerah, senyum terus, tapi beberapa hari ini jadi dingin kayak freezer lagi sih, jadi balik kayak dulu lagi.. Haizzzz". Guman sisca dalam hati.
"Bu Sisca, kok tumben si boss ngajak meeting, biasanya akhir bulan meeting, ini baru mau masuk minggu kedua sudah minta laporan?" Tanya Pak Danang, direktur marketing"
"Kurang paham saya Pak Danang, tapi siap - siap aja karena muka si boss back to basic.. COOL Man". Ucap sekretaris CEO memberitahu bocoran pada direktur marketing itu.
"Hufffttt". Pak Danang membuang napas untuk menyiapkan dirinya jika sewaktu - waktu laporannya tidak sesuai dengan keinginan sang CEO.
"Semangat Pak Danang". Sisca memberikan semangat kepada sesama karyawan PT. Angkasa Cemerlang.
"Thank you". Ucap Pak Danang tanpa mengeluarkan suara serta mengepalkan dan menggoyangkan tangannya sebagai tanda dirinya harus bersemangat.
"Kemanalah si Quenny ini.. sudah hampir 5 hari telpon tidak diangkat". Guman Alvaro lesu karena diri sudah berusaha untuk melakukan video call namun selalu tidak diangkat. Hanya berupa pesan saja yang dibalas karena perbedaan waktu yang cukup jauh antara Indonesia dan Eropa. Quenny selalu membalas jam 3 dini hari waktu Indonesia, sedangkan Alvaro masih tertidur. Dan jika Alvaro balas dipagi hari, Quenny masih tertidur karena disana masih dini hari. Alvaro tidak tega untuk membangunkan Quenny karena Alvaro mengetahui sekali kalau Quenny pasti lelah dan butuh istirahat yang secukupnya.
Alvaro kembali melihat henpon nya untuk mengecek jika sewaktu - waktu Quenny menelpon atau mengirimkan pesan. "Ahhhh Quenny... gue kangen berat sama elo my lil queen". Ucap Alvaro dengan sedih dan pelan. "Tenyata berat juga ya rindu itu, biar si Dilan aja yang nanggung". Alvaro tersenyum kecut ingat salah satu adengan film di bioskop.
"Tok .. tok.. Pak, direktur semua departemen sudah siap di ruang meeting". Lapor Sisca kepada atasannya.
Tanpa menjawab sekretarisnya, Alvaro berjalan ke ruang meeting.
"Pagi pak". Ucap para direktur serempak memberi hormat kepada CEO nya. Dan Alvaro langsung menuju kursi kebesarannya yang berada di ruang meeting.
"Silakan dimulai". Ucap Alvaro kepada mereka yang ada diruang meeting. Tatapan Alvaro kedepan mendengar laporan yang diberikan para direktur tetapi pikirannya tidak fokus. Dirinya memikirkan sang kekasih, Quenny Acelin. Alvaro kembali memeriksa henponnya berharap Quenny menghubunginya, tapi tetap saja tidak ada pemberitahuan dari Quenny.
"Baik, kita sudahi meeting hari ini, nanti tolong hasilnya taruh dimeja saya". Perintah Alvaro kepada karyawannya yang menghadiri meeting.
"Baik pak". Jawab mereka serempak dan Alvaro meninggalkan ruang meeting menuju ruangannya.
"Sisca, tolong pesankan saya tiket ke Paris" Ucap Alvaro kepada Sisca lewat intercom.
Sisca bergegas menuju ruangan boss nya guna mencatat rencana perjalanan bossnya yang tiba - tiba karena di jadwal kerja boss nya tidak ada jadwal business trip dalam waktu dekat.
"Kamu bookingkan saya business class dengan Emirates buat lusa ke Paris. Tolong cocokkan jadwal kembali ke Jakarta sesuai dengan print out tiket itu. Dan untuk pulangnya, tolong upgrade seat, nama yang ada di print out tiket itu. Hotelnya juga tolong pesankan sesuai dengan yang saya tulis di kertas itu. Kamu kosongkan semua jadwal saya selama saya ke Paris". Perintah Alvaro.
"Baik Pak". Jawab Sisca dan kembali keluar setelah menyelesaikan tulisan yang ditugaskan bossnya.
"Loh.. ini kok namanya Quenny Acelin, bukannya mbak Quenny ini yang kerja di Travel Agent itu. Mereka pacaran kah, kok boss mau ke Paris, pulangnya bareng mbak Quenny pula?" Tanya Sisca dalam hati karena penasaran. "Pantas aja doi jutek lagi, ditinggal pacarnya gini lama". Ucap sang sekretaris tertawa pelan setelah melihat tanggal keberangkatan Quenny.
"I'll catch you my lil queen. Wait me at Eiffel". Ucap Alvaro berbicara sendiri sambil melihat jadwal perjalanan grup Quenny selama di Eropa. Untung Alvaro sudah meminta jadwal perjalanan dan print out tiket Quenny sebelum kekasihnya dinas ke Eropa.
****
"Babe, sudah otw Eiffel belum?"
Read
"Ini lagi otw, abis lunch gue"
Read
"C u there, gue tunggu elo di taman ya".
Read
"Ok"
Teo dan Quenny saling membalas pesan untuk janjian bertemu di tamannya Menara Eiffel.
"Baik Bapak/Ibu, kita sudah ada tiba di Eiffel, saya beri waktu bebas selama 1 jam untuk bapak/Ibu menikmati Eiffel sambil berfoto - foto, tempat romantis ini. Yang berpasangan.. selamat pol in lop lagi sama pasangannya di Paris, city of love ini, bagi yang jomblo, jangan baper liat orang yang berpasangan ya, makanya cari pasangan biar ga sendiri pergi ke Eiffelnya". Quenny terkikik dengan ucapannya.
"Saya pasangan sama mba Quenny aja, jadi kan ga baper liat yang berpasangan". Celetuk Niko, salah satu peserta yang ikut tour dan pergi sendirian.
"Maaf.. saya sudah taken". Ucap Quenny menolak dengan senyuman manisnya.
"Yahhhhhhh... penonton kecewaaaa". Teriak Bapak yang duduk dibelakang karena ucapan Quenny. Dan semua tertawa karena celetukan Bapak itu.
"Mari kita turun, saya akan tunjukkan titik kumpulnya. Saya akan tunggu Bapak/Ibu disitu selama waktu bebasnya". Ajak Quenny kepada para peserta tournya.
"Babe, gue nunggu ditempat biasa ya"
Read
"Ok"
Read
Quenny langsung menuju tempat janjiannya dengan Teo yang sudah menunggunya karena Teo sudah tiba 10 menit lebih dulu. Quenny sudah melihat Teo sedang bersandar di pagar menunggu pesertanya juga sambil memakan es krim.
"Hai, sudah lama sampainya Te?" Tanya Quenny kepada Teo sambil mengambil es krim yang disodorkan sahabatnya.
"Baru 10 menit, abis ini kalian kemana? Gue ke Galeries Laffayette. Besok gue balik". Terang Teo menjelaskan jawdal perjalanan milik grup nya.
"Abis ini ke Arc de Triomphe, besok ke Marne la Vallee. Jatah mereka shopping disana, abis lunch baru ke Galeries Laffayette, lusa baru balik. Gue uda kangen makan pecel lele, bakso, nasi padang... arrrrhhhh mati gaya gue, lama banget jalannya, jadi home sick gue". Terang Quenny tentang perjalanannya dan juga mencurahkan hatinya yang sudah rindu makanan Indonesia. Namun di dalam hati terkecilnya, dirinya merindukan kehadiran seseorang yang sudah beberapa hari ini susah dihubungi via video call, pesan pun hanya centrang satu.
"Sabar babe, bentar lagi kita balik, abis itu kita puas - puasin makan deh, gue juga uda kangen sama makanan Indo". Terang Teo, namun dirinya sangat rindu dengan wanita disebelahnya yang sedang makan es krim. Merekapun hampir dua minggu tidak ketemu, sebelum berangkat pun mereka hanya ngobrol dan bercanda sebentar karena pada sibuk menyiapkan grup masing - masing yang akan mereka bawa.
"Mawar putih untuk wanita cantik sepertimu". Quenny disodorkan setangkai mawar putih oleh seseorang.
"Suaranya sama wangi parfumnya kok seperti kak Al". Guman Quenny sambil melihat mawar dan setelah melihat siapa yang memberi mawar putih, Quenny terdiam dan membeku.
"Deggg.. kak Al, kok bisa ada disini? Kapan sampainya? Ngapain kesini? Kok tau Ce ada disini" Pertanyaan Quenny yang bertubi - tubi setelah selesai mengendalikan dirinya akibat terkejut dengan kehadiran Alvaro yang tiba - tiba. Quenny sempat membeku dan tidak bisa bicara apa - apa karena Alvaro yang sudah berdiri didepannya.
"CUP" Alvaro menarik tubuh kekasihnya, memeluknya dan mencium lama puncak kepala Quenny, menyalurkan rasa rindunya yang sudah tidak tertahankan.
"Banyak amat nanya nya, satu - satu donk, bingung neh mau jawab yang mana dulu". Kelakar Alvaro meredakan detak jantungnya karena sudah bertemu dengan pujaan hatinya.
"Ehhhmmm". Teo mendehem untuk menyadarkan Quenny dan pria yang sudah memeluk serta mencium wanita yang disukanya. Teo menggenggam tangannya sampai kukunya tertancam dan telapak tangannya memutih, Teo menahan marah akibat perilaku pria itu kepada Quenny.
"Ehhh Te.. kenalin ini kak Al... Kak Al.. ini Teo teman kantor, kebetulan grup kita jadwalnya hari ini ke Eiffel, jadi kita janjian". Terang Quenny sambil mengenalkan kedua pria tersebut satu dengan yang lain.
"Alvaro Kalandra". Alvaro menyodorkan tangannya untuk berjabatan tangan dengan Teo.
"Matteo Alexander, sahabat dan rekan kerja Quenny di kantor". Teo menerima sodoran tangan Alvaro dan berjabatan dengan menggenggam erat tangan Alvaro menandakan kalo dirinya tidak suka dengan kehadiran Alvaro diantara dirinya dan Quenny.
Alvaro meneliti Teo dari sudut pandangnya sekilas, dan Alvaro mengetahui sesuatu dari mata Teo, jika sahabatnya Quenny ini menyukai kekasihnya.
"Maaf ya, saya bawa KEKASIH saya pergi dulu ya, sudah lama kami tidak bertemu". Ucap Alvaro sambil menegaskan kata "kekasih" agar Teo mengerti tentang hubungannya dan Quenny.
"Oh Ok, babe.. elo utang cerita ma gue". Ujar Teo yang membiarkan Quenny dibawa Alvaro dengan tidak rela.
"Ok babe, nanti sampe Jakarta gue cerita ke kalian, kita nongki tempat biasa ya". Jawab Quenny sambil lalu karena tangannya sudah ditarik Alvaro.
"Sayang, sepertinya sahabatmu itu suka sama kamu deh". Ungkap Alvaro dengan tidak suka.
"Mana mungkin kak Al, kami ini bersahabat dengan 3 orang lagi. Sahabat itu ga ada dalam kamus kita jadi pacar. Lagian orang yang Ce suka dan sayang kan cuma Kak Alvaro Kalandra Scott". Goda Alvaro sambil menjelaskan status Quenny dan Teo.
"Kamu habis ini kemana lagi setelah dari sini?" Tanya Alvaro untuk menghindari percakapan tentang Teo lebih lanjut. Lebih baik dirinya berdua dengan Quenny .
"Ce habis ini ke Arc de Triomphe, habis itu makan malam trus ke hotel". Terang Quenny sambil memeluk pinggang Alvaro dan sang kekasihnya pun merangkul pundak Quenny.
"Kamu sudah mau jalankan? Kakak tunggu kamu di hotel ya, jangan lupa telpon kakak kalau sudah sampai hotel". Terang Alvaro sambil mencium kembali puncak kepala Quenny.
"Kakak kangen berat sama kamu, lain kali perginya jangan lama - lama kayak gini lagi ya.. Berat nahan rindu itu, biar si Dilan aja yang lakukan". Ucap Alvaro tersenyum dan Quenny langsung tertawa keras karena kalimat terakhir yang diucapkan Alvaro.
"Cooo cuittttt". Quenny berujar sambil mengerucutkan bibirnya membentuk ciuman dari jauh.
"Ya sudah kak, Ce balik lagi ke titik kumpul, mereka sepertinya sudah pada kumpul, see you at hotel". Ucap Quenny menyudahi pertemuan mereka di Eiffel.
"Kakak ke hotel dulu ya, dari bandara kakak langsung kesini, belum sempat check in". Alvaro pun berpamit pada kekasihnya dan menarik dagu Quenny untuk mencium bibir kekasihnya sekilas.
****