Unforgettable Memories

2308 Kata
"Kak, aku otw hotel" Read "Kakak tunggu di lobby" Read Alvaro menunggu kekasihnya yang sebentar lagi akan tiba di hotel. Dirinya sudah tidak sabar untuk berkencan dengan Quenny, apalagi sekarang mereka berada di Paris, city of love. Alvaro sengaja menunggu Quenny menyelesaikan tugas tour leadernya hari itu, dengan begitu dia akan leluasa berduaan dengan sang pujaan hati tanpa perlu bersikap tidak profesional. Quenny sudah menyelesaikan tugasnya untuk hari ini. "Baik Bapak/Ibu sekalian, terima kasih buat hari ini, selamat istirahat dan jangan lupa besok wake up call jam 7 pagi, jam 8 kita sarapan dan jam 9 kita memulai perjalanan kita ke Marne la Valle untuk shopping sepuasnya. Besok jangan sampai telat ya Bapak/Ibu". Ucap Quenny kepada para pesertanya. Setelah melepas para pesertanya di lobby hotel untuk kembali ke kamarnya masing - masing, Quenny langsung menghampiri Alvaro yang sudah duduk menunggunya. "Kamu capek sayang?" Tanya Alvaro sambil menyambut tangan Quenny untuk menggenggamnya. Dan Quenny hanya menggeleng tersenyum. "Baiklah Pak Alvaro, dikarenakan Bapak datang ke Paris sendirian, saya akan memandu Bapak untuk menikmati kota Paris di malam hari dan jangan lupa berikan saya tips yang banyak ya karena ini private tour, khusus buat Bapak Alvaro yang ganteng". Ucap Quenny sambil menggoda Alvaro. "Baiklah nona Quenny, saya ingin kamu menemani saya untuk dinner on the Seine Cruise. Namun sebelum kita pergi, kamu mandi dulu biar kamu kelihatan segar. Kakak sudah menyiapkan pakaian untuk kamu pakai. Kakak sudah pesan untuk dinner kita jam 8.30 malam, jadi kamu hanya punya waktu 15 menit untuk bersiap - siap karena supir sudah menunggu kita". Terang Alvaro dan mengajak Quenny menuju kamarnya untuk segera mandi dan berganti pakaian. "Wowww.. Kakak pesan semua itu sendiri atau menyuruh sekretaris kakak". Quenny bertanya dengan penasarannya. Dan Alvaro menjawabnya hanya menunjukkan jari telunjuknya ke arah matanya. Quenny tidak bisa berkata apa - apa lagi karena perilaku Alvaro yang menurutnya sangat manis. "Kamu bersiap - siap dulu, nanti kakak jemput ke kamar kamu, ingat ya hanya 15 menit, kakak mau ganti pakaian juga". Perintah Alvaro sambil mengedipkan matanya. "Siap my king". Quenny memperagakan sikap hormat benderanya kepada Alvaro. Ting Tong... "Just a moment please". Teriak Quenny dari dalam kamarnya. Sambil merapikan rambutnya yang hanya menggunakan bando bermodelkan mutiara, Quenny membuka pintu. "OMG .. ganteng banget kak Al, pakai tuksedo dengan dasi kupu - kupunya sangat serasi dengan badannya yang atletis". Guman Quenny dalam hati sambil menikmati ciptaan Tuhan yang maha sempurna. "Njiiirrr.. cantik banget my lil queen, bajunya sangat cocok dengan kulitnya yang putih dengan tubuh yang mungil dan imut, bibirnya juga yang berwarna merah ke pink-pink an, sangat serasi dengan gaun merah marunnya yang berbentuk sabrina dengan model off shoulder. Bibirnya sangat cipokable banget sih. Hadeeeehhhh adik gue jadi on dahhh cuma liat Quenny pakai gini aja". Guman Alvaro terpesona dengan kecantikan Quenny namun sekaligus dirinya merutuki pikiran mesumnya.  Mereka sama - sama diam membeku, saling berpandang - pandangan memuji pasangannya dalam hati untuk beberapa detik lamanya. "Hmmm.. yok kita jalan, supir sudah menunggu di depan". Ajak Alvaro sambil memegang pinggang Quenny dengan posesif. Siapa yang rela kalau kekasihnya diambil orang, jangankan diambil, dilihat sama orang lain aja, Alvaro tidak rela. "Good evening Sir, I book dinner under name Alvaro Scott". Ucap Alvaro kepada penerima tamu. "Please follow me, Sir". Staff penerima tamu itu membimbing Alvaro ke meja yang dipesannya. "Please have a seat Madam". Ucap staff tersebut menarik bangku untuk Quenny tempati. "Thank you very much" Ucap Quenny kepada staff pria tersebut.  Quenny hanya diam saja, dirinya tidak bisa berkata apa - apa lagi karena kejutan yang bertubi - tubi dari Alvaro sejak siang tadi. Quenny menatap Alvaro dengan takjub dan tidak menyangka jika dirinya akan dinner sambil mengarungi sungai Seine di dalam kapal Bateux Parisien dan Alvaro khusus memesan tempat dengan Premier Service yang berada di bagian depan kapal dengan harga yang cukup menguras kantong bagi seorang pekerja seperti Quenny, tapi tidak ada apa - apanya bagi Alvaro. Dari posisi tempat duduk itu, mereka dapat melihat keindahan kota Paris sambil menikmati makan malam yang romantis. "Tos". Alvaro mengangkat gelas yang berisi Champagne, ia mengajak Quenny untuk bersulang dengan meminum Champagne selamat datang di kapal. Queeny mengangkat gelasnya dan melakukan tos untuk bersulang dengan Alvaro. Dan tak lama kemudian makanan datang dan dihidangkan kepada mereka berdua. "Kamu kenapa sayang? Kok diam saja? Kamu ga suka dinner disini? Kalo ga suka, kita kembali ke hotel ya". Ucap Alvaro yang menatap Quenny bingung karena sedari tadi, setibanya mereka sampai di depan kapal Bateux Parisien, Quenny mendadak diam. Mata Quenny tiba - tiba berkaca - kaca karena perilaku Alvaro. "Loh, kamu kenapa sayang, kok menangis?" Alvaro menghampiri Quenny sambil berlutut untuk membingkai muka Quenny dan akhirnya airmata Quenny pun kerluar karena tidak tahan lagi. "Heii... sayang kamu kenapa menangis? Kamu ga suka kita ada disini? Atau kamu lagi sakit sekarang?" Tanya Alvaro dan langsung memeluk Quenny. "Aa..ku bahagia sekali" Ucap Quenny dengan terbata. "Ce tidak menyangka kalo kak Al berbuat sampai seperti ini.. Ce sayang banget sama Kak Al". Ucap Quenny kembali sambil memeluk erat Alvaro. Alvaro melerai pelukkannya dan menghapus sisa air mata bahagianya Quenny dengan jari jempolnya. "Kamu pantas mendapatkan ini sayang, ini tidak ada apa - apanya jika dibandingkan dengan perlakuan kamu kepada kakak. Kamu tidak ingat waktu dulu kakak sakit, kamu begadang hanya untuk menjagai kakak yang sakit, belum lagi kamu selalu siap jika kakak minta dimasakin makanan walaupun sudah malam sekali dan kakak tahu kalau kamu itu sudah lelah. Tapi kamu tidak pernah mengucapkannya, kamu selalu tersenyum setiap saat untuk kakak". Ungkap Alvaro sambil mencium kening Quenny. "Kakak juga sayang sama kamu, ayo kita makan dulu, nanti makanannya jadi dingin". Alvaro memerintahkan Quenny untuk makan dan dirinya kembali ke kursinya. Mereka menikmati makan malamnya dalam diam sambil berpandangan menatap pasangannya yang tampak dimata mereka masing - masing jikalau mereka sedang jatuh cinta dan rindu yang berat akibat tidak bertemu hampir dua minggu. Sesekali mereka tersenyum dengan tingkah mereka sendiri dan sesekali mereka melihat pemandangan kota Paris di waktu malam. Alunan musik yang sangat merdu menambah terciptanya suasana romantis. Lalu Alvaro menuju kursi Quenny dan menyodorkan tangan sambil membungkukkan tubuhnya untuk mengajak Quenny berdansa dengan lagu Perfect nya Ed Sheran. "Aku ga bisa dansa kak?" Ucap Quenny takut dan grogi diajak dansa oleh Alvaro. "Kamu jangan takut, ikuti langkah kakak dan letakkan tanganmu dipundak kakak". Ajar Alvaro kepada Quenny untuk mengikuti gerak langkah kakinya. Mereka mulai berdansa dengan mengikuti lagunya Ed Sheran sampai habis. Setelah selesai Alvaro mengajak Quenny ke ujung kapal, mereka berdiri disana menikmati kerlap kerlip lampu kota Paris dan juga lampu yang terpancar dari menara Eiffel yang dinyalakan pada malam hari. Quenny mengusap - usapkan lengannya karena mulai terasa dingin karena angin malam. Alvaro melihat kekasihnya mulai kedinginan, ia lantas membuka jas nya dan menyampirkan jas tersebut ke Quenny dan memeluknya untuk menghantarkan hangat yang dimilikinya ke tubuh Quenny. Kemudian Alvaro memasukkan tangannya ke dalam saku celananya untuk mengambil benda yang sempat tadi siang ia beli dekat hotelnya. Ia mengeluarkan dan memakaikan kalung yang sduah dibelinya ke leher Quenny, ya.. dirinya membeli kalung emas putih yang sangat sederhana dengan bandul yang berbentuk hati. Sebenarnya Alvaro ingin membelikan berlian untuk Quenny, namun dirinya tidak menemukan toko berlian didekat hotelnya, harus ke mall terlebih dahulu untuk membeli berlian sedangkan Alvaro sudah tidak punya waktu lagi. Dia hanya ingin membelikan Quenny sesuatu, dia berpikir akan menggantinya dengan membeli berlian setibanya di Indonesia. Quenny melihat pemberian Alvaro dengan mata yang berbinar - binar. "Thank you kak Al... Ce suka sekali, sangat simple". Ucap Quenny sambil berterima kasih dan membalikkan tubuhnya untuk mencium bibir Alvaro dengan lembut dan hangat. Dan Alvaro pun membalas ciuman yang Quenny berikan dengan lembut tanpa menuntut. Alvaro membisikkan kalimat ke telinga Quenny setelah mereka selesai berciuman. "Love you hunnn". Dan Quenny hanya tersenyum hangat tanpa menjawab kalimat keramat dari Alvaro, "Sebentar lagi kita akan menepi, ayo kita siap - siap sayang". Ajak Quenny karena waktu untuk mengarungi sungai Seine sudah hampir habis. "Ayo kak". Quenny memegang pinggang Alvaro takut tertinggal. Dan Alvaro pun merangkul pundak kekasihnya. **** "Loh babe.. dari mana? cantik amat pakai gaun". Cecar Teo dengan pertanyaannya karena mereka tidak sengaja bertemu di lobby yang kebetulan grup mereka satu hotel. "Habis dinner di Bateux Parisien". Jawab Quenny dengan senyuman manisnya. "Sama siapa, nah ini jas siapa yang elo pake, babe?" Tanya Teo kembali dengan rasa penasarannya. "Sama saya". Ucap Alvaro yang melihat Teo sedang bercakap - cakap dengan kekasihnya. Quenny memang masuk terlebih dahulu karena disuruh oleh Alvaro biar tidak kedinginan, sedangkan Alvaro sedang memberikan tips untuk sang supir yang sudah menunggu mereka selama dinner. "Ayo sayang kita kembali ke kamar, kamu harus istirahat, besok kan masih jalan lagi buat shopping". Ujar Alvaro kepada Quenny sambil merangkul pundak kekasihnya menuju lift.  "Gue duluan ya Te, besok elo titidj, see you in Jekardahh". Ucap Quenny meninggalkan Teo di lobby sendirian. Dan Teo menatap kepergian Quenny dengan sedih dan pandangan yang nanar. " Gue kalah cepat sama tuh cowok". Ucap Teo dengan lirih. "Nanti aku ke kamarmu ya sayang, aku mau tidur pelukin kamu, aku sudah kanget berat. Kakak ganti pakaian dulu ya, kamu jangan tidur dulu". Perintah Alvaro. "Baiklah kak Al yang ganteng .. kesayangannya Ce". Jawab Quenny dengan tersenyum manis. Ting tong.. Ceklek.. "Ayo kita tidur, sudah malam, sini kakak peluk kamu". Ajak Alvaro menarik tangan Quenny menuju ranjang ukuran queen size di kamar Quenny. Mereka mulai memejamkan matanya sambil pelukan yang mana Quenny tidur menghadapi tubuh Alvaro. Namun tiba - tiba Quenny membuka matanya. "Thank you so much kak Al.. Ce bahagia sekali hari ini. Hari yang tidak bisa Ce lupakan seumur hidup. You are so sweet my king". Ungkap Quenny sambil mencium bibir Alvaro sekilas. Alvaro menatap mata Quenny dengan rasa sayangnya. "Kakak juga berterima kasih sama kamu, you are so adorable". Ucap Alvaro mulai menciumi bibir Quenny karena dia belum puas untuk mencicipi nya hari ini.  Dengan pelan dan lembut Alvaro menciumi bibir Quenny namun lama kelamaan jadi menuntut. Quenny pun membuka mulutnya untuk memberikan kesempatan bagi lidah Alvaro masuk membuat absen di  giginya. Tangan Alvaro pun mulai meraba bukit kembar Quenny, sedangkan tangan satunya menahan tubuhnya supaya tidak menimpa Quenny. Alvaro mulai membuka kancing piyama yang Quenny pakai satu persatu dan menampak bra Quenny yang berwarna ungu. Tangan Alvaro mulai mencari pengait bra dan melepaskannya, tampaklah bukit kembar yang puncaknya berwarna pink. Hasrat Alvaro meningkat tajam, matanya mulai berkabut melihat pemadangan bukit kembar milik kekasihnya. Sewaktu Alvaro membuka bra Quenny di dalam mobil waktu dulu, dirinya tidak melihat dengan jelas karena sudah malam dan gelap, lagipula kalaupun lampu dalam mobilnya dinyalakan, akan kelihatan dari luar apa yang sedang mereka lakukan waktu itu. Ciuman Alvaro mulai turun ke leher dan d**a Quenny. Dia membuat tanda merah yang banyak di sekitar d**a Quenny. Alvaro ingat ucapan Quenny agar jangan membuat tanda merah di tempat yang mudah dilihat orang lain. Alvaro menghisap pucak p******a Quenny, menjilatnya dan menyesapnya dengan rakus seperti anak bayi yang haus akan s**u ibunya.  "Euuhhhmmm" terdengar suara lenguhan Quenny dan tambah semangatlah Alvaro untuk menikmati tubuh Quenny. Tangan Alvaro sudah mulai turun ke arah l**************n Quenny. Jarinya mulai dimasukkan ke dalam celana dalam Quenny yang berwarna ungu. "Aasshhhh... eeeuuughhh" Quenny kembali mendesah karena nikmat dengan perlakukan Alvaro. Quenny pun sudah tidak sadar jika dirinya sudah tidak memakai sehelai benangpun, semua sudah dilepaskan oleh Alvaro.  Alvaro menciumi tubuh Quenny sampai kebawah, sekarang kepala Alvaro sudah berada tepat di l**************n milik kekasihnya. Dirinya sangat memuja milik Quenny, sesuai dengan perkiraannya. Alvaro mulai menjilati dan menyesap milik Quenny. "Aarrrggghhh... eeeuuughhh" Quenny mulai meracau. "Assshhhh.. kak Allll.." Quenny menyebut nama kekasihnya karena 2 jari Al sudah keluar masuk di l**************n Quenny. Tangan Alvaro sibuk keluar masuk, dan Alvaro kembali berbisik sambil menciumi Quenny. "Keluarkan saja sayang, jangan ditahan, sebut nama kakak".  "Aaarrrhhhh .. Ce sudah ga tahan, ce mau keluar". Quenny berkata sambil menahan hasratnya yang sudah membuncah. Alvaro menambahkan kecepatan jarinya dan sudah merasakan milik Quenny mulai berkedut dan tak berapa lama langsung keluar cairan milik Quenny. "Aaarggghhhh.. Alllllll" Alvaro pun menjilati tangannya yang kena cairan Quenny. "Hmmm harum dan wangi". Ucap Alvaro pelan. "Now, my turn sayang". Ucap Alvaro. Dirinya mulai melepaskan celana piyamanya, si Junior milik Alvaro sudah keras dari tadi dan sudah saatnya dilepaskan supaya tidak berontak. Quenny melihat milik Alvaro yang besar dan panjang serta berurat - urat antara takjub dan takut. "Kamu jangan takut sayang, dia tidak akan memakanmu". Ucap Alvaro. "Ce takut kak". Ucap Quenny. "Tenang aja, kamu percaya pada kakak. Kamu tidak akan kakak 'masuki'. Kakak hanya ingin melepaskannya saja biar tidak sesak". Ujar Alvaro dan mulai mengambil tangan Quenny untuk mengajarinya. "Kamu cukup masukan punya kakak ke dalam mulut kamu seperti kamu makan lolipop dan menjilati seperti menjilati es krim sambil kamu urut - urut". Alvaro mengajari Quenny yang memang dia belum pernah melakukan sama sekali kepada siapapun. Ini yang pertama kalinya dan dia lakukan bersama Alvaro. Quenny mulai menjilati milik Alvaro seperti menjilati es krim dan mengulum nya seperti mengulum lolipop. Tangan Quenny pun tak hentinya mengurut kepunyaan Alvaro. "Arrrrgggghhhh.. Quenny.. kamu hebat sekali sayang... kamu sangat luar biasa". Alvaro mendesah dan merancau nama Quenny karena kekasihnya berhasil membuatnya merasakan nikmat dunia.  Alvaro mencabut miliknya dari mulut Quenny karena dia merasakan miliknya sudah mau keluar. Alvaro mendorong tubuh Quenny untuk tidur terlentang, lalu Alvaro mengeluarkan cairan miliknya di perut Quenny. "Ahhhhhh Queennnn" Suara Alvaro terdengar puas karena sudah berhasil melepaskan rasa sesak yang dirasakan oleh junior nya.  Alvaro mengambil tissue untuk membersihkan cairan yang ditumpahkan di tubuh Quenny dengan lembut dan memakaikan Quenny piyamanya kembali tetapi Alvaro tidak memakaikan bra nya Quenny karena tidak baik bagi kesehatan tidur dengan memakai bra. "Terima kasih sayang... tidur ya sudah jam 1 dini hari, besok kamu harus bangun pagi kan". Ucap Alvaro yang sudah selesai memakai piyamanya sendiri dan mengecup lembut kening Quenny. "Night my king". Quenny pun mulai memejamkan matanya dan tak butuh waktu lama Quenny sudah memasuki alam mimpi. Sedangkan Alvaro menatap Quenny dengan tatapan cinta. Dirinya masih belum bisa tidur karna jetlag. Dari waktu lokal Indonesia menjadi waktu lokal Paris.  Alvaro berusaha memejamkan matanya untuk segera beristihat guna menyesuaikan waktu setempat. Tak berapa lama, Alvaro pun menyusul Quenny ke alam mimpi dengan senyum yang tercetak di wajahnya saat tidur. Dirinya sangat senang luar biasa dan seperti kata Quenny jika hari ini adalah hari yang terindah yang tak akan terlupakan seumur hidupnya. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN