Dinner

1757 Kata
"Kakkkk". Quenny memanggil kekasihnya dengan nada yang manja. "Hmmm". Alvaro hanya berdehem saja karena masih fokus dengan henpon yang sedang dilihatnya karena ada email masuk dari teman SMA nya. "Kakkkkkkkkk". Kali ini Quenny memanggil kekasihnya dengan menaiki satu oktaf lebih tinggi. "Iya". Jawab Alvaro singkat "Kakkkk Allllllll" Teriak Quenny dengan kesal karena sang kekasih masih belum melihat dirinya. "Apa sayang? Kok teriak - teriak sih?" Jawab Alvaro dengan senyum dan melihat sang kekasih. Jika dirinya tidak segera meninggalkan fokusnya dari henpon dan fokus ke Quenny, bisa panjang urusannya. "Ada apa sayang?" Alvaro mulai menghampiri sang kekasih dan dirinya melihat sang kekasih dari atas sampai bawah dari dari bawah kembali ke atas. "Kamu cantik sekali sayang, hanya gaun simple ini saja kamu terlihat cantik, bagaimana kalau kamu pakai baju pengantin?" Goda Alvaro namun melihat kekasihnya dengan tatapan memujanya. "Recehhh". Dengan nada jutek Quenny menjawab kekasihnya. "Ce ga pede dinner dirumah kakak". Kali ini Quenny mulai merajuk dan berharap jika kekasihnya membatalkan rencana mereka untuk dinner di rumah orang tua Alvaro. "Sayanggg... kemana rasa percaya diri yang tinggi itu? " Tanya nya dengan lembut. "Masa kamu ngadepin peserta kamu yang pada bawel dan banyak maunya, kamu bisa dan masih berani, masa ngadepin camer aja jiperrr?" Tanya Alvaro sambil bercanda dengan nada menggoda.  "Ihhhh.. aku kan grogi, kita tunda dulu ya... ya...". Quenny mencoba negosiasi dengan Alvaro. "No.. cepat atau lambat kamu harus bertemu dengan keluarga kakak. Semakin cepat, semakin bagus biar kakak bisa menikahi kamu secepatnya. Kalau bisa besok kita nikahnya". Ujar Alvaro tegas dan mantap tanpa mau dibantah lagi oleh Quenny, sang kekasihnya. Alvaro ingin mengenalkan Quenny sesegera mungkin karena dirinya sudah tidak bisa jauh dari kekasihnya. Hatinya sudah mentok di Quenny. "Ishhhh siapa juga yang mau nikah sama kak Al?" Jawab Quenny dengan juteknya tapi dalam hatinya sangat senang sekali karena Alvaro berniat menikahinya. "Kamu benar tidak mau nikah sama Alvaro Kalandra Scott? Pria paling ganteng, seksi, kaya, baik hati dan tidak sombong". Jawab Alvaro menantang kekasihnya sambil menyombongkan dirinya. "Ihhh pede banget". Sarkas Quenny tapi dalam hati, dirinya mengakui apa yang sudah diucapkan oleh Alvaro. "Kamu benar nih ga mau nikah sama kakak? Kamu, mau kakak hukum?" Alvaro mulai mendekati Quenny dan mulai mengikis jarak mereka serta menarik dagu Quenny untuk melihatnya. "Beranilahhh... siapa takut". Quenny menantang kekasihnya sambil senyum menggoda. Dan Alvaro mulai menangkup muka Quenny dan mulai meciumi seluruh mukanya. Quenny terkikik dengan tingkah laku Alvaro yang membasahi semua muka nya dengan ciumannya sehingga saliva milik kekasihnya berbekas sedikit demi sedikit. "Cukupp.. cukup... ampun". Quenny memohon agar Alvaro menghentikan ciumannya. "Ce mau perbaiki riasan dulu, kakak sudah menghancurkan semuanya, basah semua ini muka". Ucap Quenny dengan sedikit merajuk. "Baiklah, kakak tunggu di ruang tamu, kalau sudah kita langsung ke rumah kakak". Perintah Alvaro kepada kekasihnya. Quenny hanya mengacungkan jari jempolnya tanda dirinya menyetujui ucapan Alvaro dan berjalan menuju kamar Alvaro untuk memperbaiki riasannya. **** "Kita sudah sampai sayang". Ucap Alvaro setelah mereka sudah memarkirkan mobilnya di pekarangan mansion milik orang tuanya. Mansion milik orang tua Alvaro besar sekali, mansion yang dimiliki orang tua Quenny kalah besar dari milik orang tua Alvaro.  "Ayo sayang". Alvaro mengajak kekasihnya turun dari mobil. Dirinya berjalan kearah pintu mobil disebelah kekasihnya duduk untuk membuka pintu mobil. Alvaro menarik dan menggenggam tangan Quenny yang sudah dingin karena gugup. "Jangan gugup sayang... tarik nafas dalam - dalam lalu hembuskan... sudah? Sini kakak peluk dulu biar kamu jangan gugup". Alvaro memerintahkan Quenny berusaha untuk santai dan dirinya memeluk erat sang kekasih untuk menyalurkan rasa cintanya yang besar dan mencium keningnya dengan lembut dan lama untuk mengurangi kegugupan kekasihnya. Quenny berusaha mengendalikan dirinya dan mulai merasa tenang karena Alvaro sudah menyalurkan cintanya dengan pelukan yang hangat. "Ayo kita masuk" Quenny mengajak Alvaro untuk memasuki rumahnya, percaya dirinya sudah kembali ke diri Quenny. Dengan langkah yang pasti, Quenny mulai memasuki rumah Alvaro. "Malam pi.. malam mi.. malam An". Alvaro menyapa keluarganya sambil memeluk sang papinya. Sedangkan sang mami berserta dengan adiknya, Alvaro menciumi pipi mereka masing - masing sambil memeluknya. "Malam om.. malam tante.. malam An". Sapa Quenny dengan sopan dan sedikit menundukkan kepalanya yang menandakan hormat kepada yang lebih tua. "Pi.. Mi.. kenalkan ini pacar Al". Alvaro mengenalkan Quenny kepada orang tuanya. "Saya Quenny Acelin om.. tante". Quenny menjabat tangan kedua orang tua Alvaro serta adik perempuannya dengan memberikan senyuman yang terbaiknya guna menarik simpati calon mertuanya. Tetapi mami serta adiknya Alvaro memeluk serta menciumi pipi kanan dan kiri Quenny. "Saya papinya Varo, David Scott dan ini istri saya Maria Scott". Papinya Alvaro menjabat tangan Quenny sedang tangan satunya memang pinggang istrinya dengan posesif. "Saya maminya Alvaro, Maria Scott... panggil saya mami saja ya, seperti Varo memanggil saya". Ungkap maminya Al dengan senyum sumingrah dan tulus. "Saya Alana Jovanka Scott". Adiknya Alvaro menerangkan namanya. "Mari kita lanjut ke meja makan saja obrolannya, mami sudah masak lauk yang banyak". Ajak maminya Alvaro untuk makan bersama. "Yakin mami yang masak? Bukannya koki nih?" Goda Alana, anak perempuannya. "Yakinlah mami yang masak.. mami kan sudah masak nasi sama siapin lalapan". Ujar mami Alvaro tidak mau kalah sama anak perempuannya. "Itu sih bukan masak lauk mamiiiii... cuma masak nasi doankkk sama lalapan... itu sama aja bohonggg.. Ishhh mami ini ga bisa bedain masak lauk sama masak nasi". Ujar Alana yang tidak mau kalah juga karena dia tahu kalau maminya itu tidak bisa masak. Semua dikerjakan oleh koki serta asisten rumah tangganya. Papinya tidak membiarkan istri tercintanya lelah karena pekerjaan rumah tangga. "Judulnya yang penting mami masak... jarang - jarang mami masak nasi kalo ga kepepet". Jawab maminya masih tidak mau kalah. "Iya.. iya... mami masak kok, makasih ya mamiku sayang sudah masak buat kami dan calon mantu". Alvaro meleraikan debat antara maminya dan adiknya itu. Karena kalau tidak dilerai perdebatan dua wanita cantik itu, bisa tidak makan - makan mereka. "Masakan mami enak kok, kamu belum pernah coba ya? Walaupun hanya masak nasi juga tetap saja nasinya enak". Ucap sang kepala keluarga membela istrinya. "Ya elahhhh pi... tau sih kalo yang bucin nya mami". Ucap Alana malas dan memutarkan bola matanya. Sedangkan yang lain hanya senyum - senyum saja. "Ihh .. kamu sirik aja, makanya cari pacar, jangan jomblo terus". Goda maminya. "Mami.. aku ini bukan jomblo, aku ini single, aku ini masih mencari yang tepat". Ucap Alana dengan kesalnya karena sang mami selalu menyinggungnya kalau dirinya belum punya pasangan. "Sudah - sudah, ayo kita makan dulu". Lerai David pada istri dan anaknya. "Makan nak Quenn yang banyak biar ga mungil terus". Goda maminya Alvaro. "Iya tan... terima kasih". Quenny menjawab dengan senyum dan sungkan. "Kamu kerja dimana Queen?" Tanya David sang kepala keluarga. "Aku kerja di travel agent bagian tour nya om". Jawab Quenny atas pertanyaan papinya Alvaro. "Berarti kamu jalan - jalan terus donk, kan kerja di bagian tournya, jadi tour leader ya?" Tanya Maria, sang mami dengan penasaran. "Iya tan.. saya kerja di departemen tour merangkap tour leader juga". Jawab Quenny dengan sopan. "Wahhhh kakak jadi jalan - jalan terus ya... enak bangettt... aku juga pengen sihhh". Ujar Alana dengan mata yang berbinar - binar. "Itu bonusnya kita bisa jalan - jalan, tapi dari menyiapkan suatu grup sampai dengan selesai itu membutuhkan kerja keras yang maksimal dan extra sabar. Mungkin orang yang lihatnya pekerjaan kami ini enak, bisa jalan - jalan keliling dunia tapi tugas kami berat, kami harus siap sedia 24 jam mengurus tamu. Jika kami sedang bawa tour, paling lama bagi kami itu tidur hanya lima jam. Itu suatu anugerah terbesar buat kami. Biasa kami hanya tidur dua sampai empat jam saja". Terang Quenny dengan sabar mengenai pekerjaannya. "Semua setiap pekerjaan itu harus dikerjakan dengan fokus, agar hasilnya bisa maksimal". Ujar sang kepala keluarga. "Orang tua kamu kerja apa Quenn?" Kini sang mami bertanya. "Usaha kecil - kecilan saja tan". Jawab Quenny. "Usaha apa yang kecil - kecilan? Kamu ini ada - ada saja sayanggg". Kali ini Alvaro yang bersuara. "Quenny ini salah satu anak Aryana Pradipta, papi tahu kan siapa Aryana Pradipta itu? Perusahaan yang bergerak di bidang properti, PT. Anugerah Perkasa, kakaknya itu kan teman kuliahku waktu di London". Terang Alvaro dengan antusiasnya. "Ohhh kamu anaknya Aryana tohh, pengusaha yang sangat sukses di bidang properti, AP Corp. Tapi kok kamu malah kerja di travel agent? Kamu kok tidak bantu di perusahan keluarga kamu Quenn?" Tanya David dengan penasarannya. "Passion saya di travel agent om... saya tidak bisa lama - lama bekerja di belakang meja. Saya suka sekali bertemu dengan banyak orang, banyak karakter serta sifat orang - orang. Kadang suka lucu melihatnya tapi kadang juga suka menjengkelkan. Tapi saya menikmati itu semua". Jawab Quenny dengan senyum mautnya. "Quenny itu wanita yang mandiri pi, dia aja tidak tinggal di rumah orang tuanya. Dia tinggal di apartemen yang dibelinya dari hasil jerih payahnya selama dirinya bekerja dari lulus SMA sampai sekarang ini. Dia juga sudah beli mobil dengan hasil keringatnya sendiri, walaupun mobil mungil seperti dirinya". Terang Alvaro sambil menggoda Quenny. "Yang penting nyaman dipakai dan juga ga minta sama kamu kan belinya?" Gerutu Quenny karena dirinya kesal kalau Alvaro sudah menghina mobil brio nya yang dibeli dari hasil keringatnya membawa tour. "Kamu dikasih kartu kredit aja ga mau, gimana mau saya beliinkan  mobil?" Tanya Alvaro dengan mode kesalnya karena dirinya pernah ditolak sewaktu di Paris, Alvaro hendak memberikan kartu kreditnya untuk sang kekasih. "Mana mau saya, kalaupun mau, saya sudah minta dibelikan sama babang ganteng saya". Ejek Quenny sambil memeletkan lidahnya. "Saya sama babang gantengmu itu masih kaya an saya". Alvaro kembali berdebat dengan Quenny karena ucapan kekasihnya. "Ga usah takabur massss... diatas kita masih ada yang lebih lagi". Ucap Quenny dengan santainya. "Huhhhh". Alvaro mendengus karena ucapan Quenny. Sedangkan orang tua Alvaro serta adiknya hanya tersenyum - senyum sipu mendengar perdebatan sepasang kekasih itu. "Sudah - sudah makannya dilanjutkan, debatnya nanti dilanjutkan di kamar aja". Goda David kepada anaknya dan Quenny. "Blushhh" Muka Quenny langsung memerah karena ucapan papinya Alvaro. Sedangkan yang lainnya tertawa melihat muka Quenny yang merah seperti kepiting rebus. Dan Alvaro hanya senyum - senyum menahan tawanya akibat ulah keusilan sang papi. "Kalian sudah pacaran berapa lama?" Tanya mami Alvaro. "Lumayan mi, waktu perusahaanku ke Hongkong, aku tembak si Quenny, pas lagi naik Cable Car di Ngong Ping". Ucap Alvaro sambil tersenyum mengingat kejadian itu. "Njirrrr.. romantis kaleeee kakak gue ini". Ucap Alana sedikit berteriak. Sedangkan Quenny hanya tersenyum sipu dan Alvaro tersenyum bangga. "Language please". David menegur Alana. "Sorry boss". Alana hanya menampakkan cengirannya. "Ohh jadi kalian itu cinlok?" Tanya sang mami yang kepo nya muncul. "Ga kok mi, aku tuh pertama lihat Quenny waktu dia nabrak aku?" Jawab Alvaro singkat. "Maksud kamu nabrak itu apa ya?" Tanya maminya lagi. "Aku tidak sengaja nabrak kak Al di depan pintu cafe. Nah terus kopinya kena ke kemeja kak Al. Aku mau ganti biaya laundrynya, tapi dia ga mau tan, dia jawab aku dengan jutek". Terang Quenny sambil mengadu tentang tingkah laku anak lelakinya. "Anak itu memang jutek, sok cool.. entah salah apa mami waktu ngidam dia dulu?" Tanya maminya sendiri kepada dirinya karena kelakukan Alvaro. Dan semua tertawa dengan ucapan sang nyonya rumah, terkecuali Alvaro karena maminya sudah membullynya. ****  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN