Weekend

1947 Kata
"Sayang, besok Kakak jemput jam 8 pagi ya, kita mau kulineran, sudah lama kita ga kulineran. Kencannya kalo ga di apartemen kamu, penthouse sama kantor kakak. Paling top kita ke mall aja buat nonton. Sudah lama kita ga jalan - jalan". Ajak Alvaro karena sudah hampir tiga bulan mereka disibukkan dengan pekerjaannya masing - masing. "Siyapppp my king". Jawab Quenny antusias karena dirinya pun sudah lama tidak refreshing. Baru selesai masa high season pekerjaannya, dirinya sudah disibukkan kembali dengan grup besar ke Bali. Quenny bersama teamnya harus bekerja extra teliti karena pesertanya dari seluruh Indonesia karena itu mereka harus memesan pesawat sesuai dengan daerah masing - masing peserta yang hampir 50 persen dari mereka belum pernah naik pesawat. Bisa kebayang kan bagaimana repotnya mereka menjawab pertanyaan - pertanyaan lugu dan polos dari para pesertanya. "Sekarang kamu mau pulang kemana? Rumah atau apartemen?" Tanya Alvaro setelah Quenny menyusulnya ke kantor sesuai dengan permintaan sang kekasih setelah Quenny pulang dari kantornya. "Apartemen aja, dirumah ga ada siapa - siapa, mom sama dad lagi ke Singapura buat cek kesehatan, Kak Ab lagi ke Yogya, si Av weekend begini pasti hang out sama teman - temannya" Terang Quenny untuk mengantarnya pulang ke apartemennya saja. "Ya sudah, kakak sekalian tidur di tempatmu saja ya, biar besok ga perlu bolak balik jemput kamunya". Ucap Alvaro tersenyum dan mencium punggung tangan sang kekasih. "Baiklah, tapi sebelum pulang kita mampir beli bahan makanan untuk sarapan besok di supermarket dekat apartemen Ce ya". Ujar Quenny karena dirinya ingat jika sudah tidak ada bahan - bahan makanan di kulkasnya. "Titah my queen, akan hamba laksanakan". Canda Alvaro kepada Quenny. **** "Kak, kakak tidur duluan saja, Ce masih mau cek email sebentar. Tadi Pak Boss chat kalo doi kirim email buat grup Ce yang ke Beijing dua bulan lagi". Ujar Quenny yang saat itu sedang duduk diruang tamunya sambil membaca email di laptopnya. "Ohh ya sudah kakak ke kamar dulu ya". Alvaro menjawab Quenny dan berjalan menuju kamar Quenny yang kecil namun rapi. Kamar Quenny besarnya sama dengan kamar mandi di penthouse miliknya. "Lohh kakak belum tidur?" Tanya Quenny yang berada di kamarnya karena sudah menyelesaikan pekerjaannya dan setibanya di kamar, dilihatnya Alvaro belum tertidur namun masih memegang henponnya. "Belum, nunggu kamu sayang". Ucap Alvaro menaruh henponnya diatas nakas. "Ga bisa tidur ya kalau ga peluk - peluk aku?" Goda Quenny sambil tersenyum - senyum karena ucapannya. "Sudah tahu masih aja nanya. Kamu itu candunya kakak, sudah lama kita ga tidur bersama". Ucap Alvaro menarik tangan Quenny untuk duduk dan mengangkang di pangkuannya. Dirinya mulai menciumi bibir Quenny secara lembut dan Quenny pun menyambutnya dengan membuka sedikit mulutnya agar lidah Alvaro bisa masuk untuk bergulat didalam dengan lidahnya Quenny. "Eunggghhhh" Quenny sudah mendesah akibat remasan dari tangan kirinya Alvaro di bukit kembarnya, sedang tangan kanannya memegang tengkuk Quenny untuk memperdalam ciuman mereka. Desahan dari Quenny semakin membuat Alvaro semangat untuk mencumbui kekasihnya. Ciumannya sudah mulai turun ke leher kekasihnya dan Alvaro mengangkat tubuh Quenny ke atas ranjang dengan selembut mungkin. Alvaro menganggap Quenny itu barang berharga miliknya yang mudah retak jadi harus meletakkannya sepelan dan selembut mungkin Dibukanya kancing piyama Quenny yang berwarna biru dongker polos tanpa motif, lalu dilucutinya celana piyama milik kekasihnya. Alvaro mulai menciumi Quenny kembali sambil tangannya menahan beban disamping tubuh kekasihnya, sedang tangan satunya mulai mencari pengait bra milik Quenny yang berwarna merah sama seperti warna celana dalam yang dipakainya. Quenny memang suka sekali mengoleksi pakaian dalam yang berwarna - warni dan itu harus sewarna atas dan bawah.  Dilemparnya bra milik Quenny dengan sembarangan, dan Alvaro sudah mulai memainkan puncak bukit kembar milik Quenny dengan tangannya, sedangkan mulut Alvaro sibuk membuat tanda dengan menyesap serta menghisap puncak satunya dengan hasrat yang menggebu - gebu berharap bisa seperti seorang bayi yang menghisap p****g s**u ibunya agar menghilangkan rasa dahaga dan lapar dari seorang bayi. "Arrrggghhhhh" Quenny kembali mendesah dengan permainan tangan Alvaro dan lidahnya yang berada di d**a Quenny. Tak hanya permainan di seputar d**a, Alvaro mulai menurunkan tangan nya menuju l**************n milik kekasihnya. Diloloskannya celana Quenny agar jarinya lebih leluasa bermain di l**************n Quenny. Dan Alvaro mulai turun kebawah lagi menuju milik Quenny untuk menobrak abrik isi didalamnya dengan lidahnya. Dihisap dan dijilatnya milik Quenny memasukan satu jari miliknya terlebih dahulu. Dikeluarkan dan masukkannya jari milik Alvaro dengan gerak yang pelan, sang kekasih mulai menaikkan dadanya karena merasa nikmat karena jari Alvaro.  "Aaasshhhhhh... kakkkk" Quenny mulai mencengkram bantalnya guna merasakan kenikmatan yang sempurna. Alvaro mulai memasukkan kembali jarinya yang lain untuk memberikan lebih lagi kenikmatan bagi kekasihnya. "Pleaseeeeee...." Quenny memohon pada Alvaro. "Kamu mau apa sayang? Coba bilang". Alvaro berbisik sambil menjilati telinga Quenny dengan suara yang parau karena hasratnya menguasai pikirannya. "Fasss...  terrrr pleaseeeeee". Alvaro mulai menambahkan kecepatan permainan jarinya di milik Quenny dengan semangat. "Aku mau keluar kakkk". Quenny meracau dengan pelan dan miliknya mulai berkedut. "Sebut nama kakak, sayang". Alvaro menciumi bibir Quenny kembali namun tangannya masih berada dibawah dengan gerak yang semakin dipercepat. "Ahhhhhhh.. Alllllllll". Teriak Quenny lepas karena sudah berhasil melepaskan cairannya. Dan tangan Alvaro pun berhenti, dia menjilati cairan yang dikeluarkan Quenny. Alvaro sangat menyukainya. "Sini giliran kakak". Ucap Quenny bangun dan mendorong tubuh Alvaro untuk tidur terlentang.  Tanpa diajari lagi oleh Alvaro, Quenny mengambil alih tubuh Alvaro guna dipuaskan oleh dirinya. Pertama - tama Quenny mulai menjilati telinga sang kekasih untuk membangunkan hasrat yang terpendam, lalu turun ke lehernya. Tangan Quenny mulai meraba d**a Alvaro dan mulai menciumi parfum yang masih menempel di tubuh kekasihnya. Dia menjilati d**a kekasih sampai turun ke bawah, dimana sang junior sudah menantang ke langit sejak awal mereka berciuman. "Kamu benar - benar nakal sayang.... arrhhhh". Alvaro mendesah menikmati sentuhan tangan dan lidah kekasihnya. Quenny sekarang mulai fokus pada junior sang kekasihnya.  Dipandanginya milik Alvaro yang besar dan sudah keras sekali sambil tangannya mulai mengurut dengan pelan. "Euughhh.. sayangggg". Alvaro memejamkan matanya menikmati permainan tangan Quenny.  Lalu Quenny memulai aksinya dengan menjilati milik Alvaro dengan nikmat seperti dirinya menjilati es krim rasa strawberry kesukaanya dan tak sampai disitu, dirinya pun mulai mengulum milik Alvaro seakan - akan yang dikulumnya adalah lolipop warna - warni yang berbagai macam rasanya jadi satu. Masih belum puas, Quenny pun menghisap puncak junior milik Alvaro. "Aaarrrgghhh.. sayanggg.. enak sekali.. kamu luar biasa.. sangat nikmatttt ... euuggghhh" Alvaro  kembali meracau dan mendesah. Quenny mulai mengurut milik Alvaro dengan mulut dan tangannya bergantian. Sedang Alvaro semakin meracau tak jelas karena permainan yang diberikan kekasihnya. "Ahhhhhh... Quennnnnnn" Teriak Alvaro dengan puas karena dirinya sudah mengeluarkan cairan yang berwarna putih, lepas sudah rasa sesak yang sedari tadi junior nya rasakan dan kepuasan tercipta di wajah Alvaro. Kekasihnya benar - benar tahu apa yang harus dilakukannya, cukup diajari sekali dan mengikuti naluri, kekasihnya sudah mahir sekarang. "Hoekkkkkk". Quenny langsung berlari menuju kamar mandi untuk memuntahkan cairan milik kekasihnya yang sempat tertelan. Alvaro tersenyum karena Quenny langsung berlari menuju kamar mandi dan dirinya langsung menyusul Quenny dan membawa air putih untuk diberikan kepada kekasihnya. "Ketelan ya sayang? Maaf ya kakak lupa mencabutnya, habis enak dan nikmat pake banget sih". Ucap Alvaro sambil tersenyum dan mengelap sisa muntahan Quenny. Dibasuhnya mulut Quenny dengan air dan Alvaro memberikan air putih untuk Quenny minum. Alvaro pun mengambil handuk untuk membersihkan area kewanitaan milik kekasihnya yang basah dan lembab akibat permainan mereka tadi. "Hmmm... aku ga mau lagi lah kak, bau pemutih pakaian". Ungkap Quenny cemberut. "Iya.. nanti kakak akan cabut kalau sudah mau keluar. Nanti kalau kita sudah menikah baru kakak tidak akan cabut dan akan kakak benamkan yang lama di milikmu biar cepet jadi". Jawab Alvaro tersenyum dan mencium kening sang kekasihnya. "Ayo sini kakak pakaikan celana sama piyama kamu, kalau kita tidak pakai baju. Kakak takut khilaf, bisa terkam kamu setiap saat". Kekeh Alvaro sambil memakaikan celana dalam serta piyama kekasihnya, selanjutnya dirinyapun memakai piyamanya sendiri tanpa bantuan Quenny. "Makasih sayangku .. my king". Ucap Quenny setelah kekasihnya membantu memakaikan piyama tidurnya. "Sama - sama hunnn... ayo sini tidur, kakak peluk". Alvaro merebahkan dirinya bersama Quenny dan mulai memeluk sang kekasih serta mengelus punggung Quenny agar cepat tertidur. "CUP.. good night my king, sleep well". Quenny mencium pipi sang kekasih dan mulai memejamkan matanya karena merasakan elusan di punggungnya serta pelukan nyaman dari Alvaro. "Good night hunn... sleep tight and love you". Balas Alvaro mencium kening kekasihnya dan dirinya juga mulai memejamkan matanya untuk menyusul Quenny yang nafasnya sudah mulai teratur menandakan bahwa kekasihnya sudah tertidur. **** "Morning kak". Sapa Quenny pada Alvaro yang baru saja bangun dari tidurnya lalu menghampiri Quenny yang sedang menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. "CUP.. morning sayang". Alvaro mencium pelipis sambil memeluk kekasihnya dari belakang. "Kakak bahagia sekali, lihat kamu disamping kakak seoerti ini dan menyiapkan sarapan buat kita sambil berpelukan terus berciuman di dapur. Kita nikah sekarang aja yok". Ucap Alvaro sambil menciumi puncak kepala Quenny tetapi tangannya sedang meremas kedua bukit kembar kekasihnya. "Arrgghhhh". Quenny mendesah karena tangan Alvaro sudah mulai menjalar kebawah kedalam celananya. "Pleaseeee.. Arrggghhh kakkk.. akuuu selesaikan buat sarapan kita dulu, nanti gosong nasi gorengnya". Quenny mulai memejamkan matanya menikmati tangan Alvaro yang masih bertahan dibawah. "Pleaseee kakkk, jangan siksa aku seperti ini, nasinya sebentar lagi selesai". Quenny menahan gejolak dalam tubuhnya untuk tetap fokus dengan masakannya. Alvaro melirik nasi yang sedang dimasak oleh Quenny yang menurut dirinya sudah matang dan mematikan kompor tersebut. "Kakkkkk... sebentar lagiii". Rengek Quenny karena Alvaro sudah mematikan kompornya yang menurut Quenny tinggal dua menit lagi selesai. Alvaro tidak memedulikan rengekan sang kekasih, dia menulikan telinganya. Alvaro membalikkan tubuh Quenny untuk berhadapan dengannya, dia sudah mulai sibuk menciumi leher Quenny dan Alvaro langsung menggendong kekasihnya seperti menggendong anak koala. Quenny langsung memeluk kepala sang kekasih sambil menengadahkan kepalanya untuk menikmati cumbuan dari Alvaro di lehernya. Lalu Alvaro berjalan menuju kamar mandi untuk memulai aktivitas pagi yang mungkin sudah mengarah siang hari dengan make out di dalam kamar mandi. Satu jam mereka baru menyelesaikan acara mandi mereka bersama. Setelah selesai berpakaian mereka menuju meja makan untuk memulai makannya yang sudah memasuki jam makan siang. "Kak, kita jadi kulinerannya? Sudah siang, kita nonton dirumah aja ya. Kulinerannya kita tunda dua minggu lagi ya". Ucap Quenny karena sejujurnya dia sedang malas untuk jalan - jalan hanya ingin tidur - tiduran saja di apartemennya. "Ya sudah, tapi kok lama amat ya nunggunya sampai dua minggu lagi, memang minggu depan kamu mau kemana?" Tanya Alvaro dengan penasaran. "Minggu depan itu aku ada acara reunian sama peserta yang waktu itu pergi ke Jepang". Terang Quenny sambil membereskan sendok dan garpunya yang sudah selesai digunakan. "Emang ada ya acara reunian tour gitu?" Tanya Alvaro masih dengan rasa penasarannya. "Mereka yang minta ketemuan buat ngumpul - ngumpul, mereka merasa menemukan kecocokan dengan peserta masing - masing. Mereka merasa sudah seperti ketemu teman yang pas, jadinya mereka ingin kumpul dan bersenda gurau sambil mengingat kembali perjalanan mereka" Terang Quenny kembali kepada kekasihnya. "Ya sudah nanti kakak temani kamu,  jam berapa acaranya?" Tanya Alvaro sambil melihat jadwalnya untuk minggu depan apakah bisa mendampingi Quenny untuk reunian bersama pesertanya yang dulu. "Jam lima sore kan di restauran Angke yang di Kelapa Gading". Jawab Quenny. "Hmmmm.. jam segitu kakak belum bisa karena kakak janji bertemu dengan client jam empat sore, takutnya nanti ga keburu. Kakak jemput kamu aja kalau begitu". Ucap Alvaro setelah menandakan alarm di henpon nya untuk janjinya bersama sang kekasih. "Kita ke apartemen kakak aja kalo gitu, kalau kamu hanya mau dirumah aja? Jangan lupa bawa gaun yang simple aja". Perintah Alvaro kepada Quenny. "Mau ngapain aku bawa gaun kak? Memang kita mau dinner?" Tanya Quenny dengan antusiasnya. "Kita dinner di rumah kakak, mami ingin kenalan sama kamu". Jawab Alvaro sambil menjawil dagu Quenny. "WHATTTT". Quenny terdiam sejenak antara kaget dan bingung harus menjawab apa. "Kak... aku takut... aku ga pede ketemu sama mami kamu, nanti kalau mami kamu ga suka, gimana?" Tanya Quenny ragu - ragu. Dirinya mending bertemu dengan calon peserta tournya yang bawel dan banyak maunya daripada ketemu dengan orang tua sang kekasih. "Tenang sayang... mami ga akan gigit kamu kok, mami cuma mau nyubit kamu doank". Kelakar Alvaro sambil merangkul pundak Quenny berjalan menuju kamarnya untuk bersiap - siap. "Ishhhhhh... orang seriussss diajak bercanda". Gerutu Quenny dan Alvaro hanya tertawa. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN