Gita bawel:
"Gaessss, kita nongki tempat biasa ya lusa, uda pada landing semua kan elo semuanya?"
Vanni Modis:
"Gw masih di Dubai for connecting flight to Jekardahhh".
Teo bencong:
"Gw baru landing di Soetta".
Quenny Acelin:
"Gue otw back home, lagi check in grup di airport".
Gita bawel:
"Jadi bisa semua ya? Gue book dulu tempatnya karena takut penuh, lusa kan weekend".
Queeny Acelin:
"Lebang mana neh? Doi belum konfirmasi bisa apa ga nya".
"Gita bawel:
"Si Lebang setuju n doi uda pulang molor, tadi dia uda setor tampang sebentar di kantor".
Vanni modis:
"Oklah.. c u there".
Teo bencong:
"C u n titidj Quenn".
Gita bawel:
"C u 2 gaess... titidj cong, jangan lupa beliin kita macaron yang banyak yakk".
Quenny Acelin:
"C u gaesss n thank you... nti gue beliin pabriknya macaron khusus buat elo conggg :p".
Gita bawel:
"Awasss luuhhhh ya kalo bohong, gue suruh Teo cipok elo biar dia balik ke kodratnya... wkwkwkwkwkwk"
Teo:
"Wanna try Quennn?"
Quenny Acelin:
"Gelooo semua eloo padeeeee".
Quenny tersenyum dengan obrolan bersama teman - temannya di obrolan grup.
"Sayang, seat kamu sudah kakak upgrade ke business class, jadi kamu bersama kakak dan jauh dari peserta kamu. Penerbangan kita ini kan lama sekali jadi biar kamu bisa istirahat". Terang Alvaro yang sudah membantunya untuk check in diri mereka serta bagasinya. Sedangkan Quenny sibuk membantu para pesertanya untuk check in di counter penerbangan yang mereka gunakan.
"Kapan kakak upgrade tiket aku?" Tanya Quenny penasaran.
"Pas kakak book tiket kesini, sekalian upgrade in tiket kamu suruh si Sisca". Jawab Alvaro sambil mengecek henponnya memeriksa email yang dikirimkan oleh karyawan serta rekan bisnisnya.
"Ohhh... tengkiyu my king". Jawab Quenny dengan tidak berminat.
"Kak, nanti aku beli macaron dulu ya, teman kantor pada nitip". Ucap Quenny.
"Ok, tolong beli lebihan sayang, sekalian buat si mami sama bontot yang di rumah. Mereka penggemar berat macaron buatan langsung dari Paris". Jawab Alvaro dan sekalian meminta tolong kekasih untuk membelikannya juga.
****
"Nihh buat kalian macaron satu - satu". Quenny menyodorkan empat kotak macaron untuk teman - temannya. Saat ini mereka sedang berkumpul di tempat biasanya mereka janjian yang sesuai dengan obrolan grup mereka beberapa hari yang lalu.
"Widihhhh... tumben neh dikasih satu kotak satu orang. Biasanya juga satu kotak rame - rame". Ucap Gita.
"Kayaknya tembus neh grupnya babe. Cair neh tips nya". Goda Leon sambil tersenyum dan menaik turunkan alisnya.
"Iyee tembus sampe tenggorokan. Capek tauuu Lebangggg. Dua minggu coyyyyy". Jawab Quenny malas.
"Cowok elo yang beliin ya Quenn?" Tanya Teo dengan sedikit penasaran.
"Hmmm". Quenny hanya berdeham menandakan kalau dirinya menyetujui pertanyaan Teo.
"Weitttsss... kayaknya gue ketinggalan cerita neh. Kok bisa cowok elo beliin? Sejak kapan elo punya cowok? Kok gue ga tau sih conggg? Kok elo ga cerita sih sama kita - kita, congg?" Cecar Gita dengan pertanyaan yang menjurus ke arah penasaran.
"Gimana gue mau cerita ma elo - elo padaaa... kita kan lagi sibuk high season, nah elo semua sibuk ampe pada senggol bacok. Ya gue lupa lah mau cerita - cerita karena sibuk sama kerjaan". Kilah Quenny yang tidak mau disalahkan
"Cowok mana? Kenalin kita - kita donk". Masih dengan penasaran Gita bertanya.
"Anak travel mana cong?" Tanya temannya yang satu lagi bernama Vanni.
"Bukan anak travel, malas gue sama anak travel, nanti ketahuan lagi belangnya gue". Jawab Quenny sambil terkekeh.
"Tunggu ... tunggu, gimana caranya cowok elo bisa beliin ini kue cong?" Gita bingung karena kata Teo kalau macaron yang dibawa Quenny itu pemberian cowoknya.
"Cowoknya ikut dia ke Eropa". Jawab Teo dengan datar.
"Mank doi peserta elo babe?" Tanya Leon pun dengan penasaran.
"Mantan peserta gue". Jawab Quenny sambil menghirup jus jeruknya.
"Mantannnn?" Kini Vanni yang bertanya.
"Iya... dulu dia itu peserta gue yang ke Hongkong". Jawab Quenny singkat.
"Trus cowok elo ikut sama grup elo gitu, babe?" Giliran Leon yang bertanya kembali.
"Dia ga ikut grup gue, dia cuma nyusul gue pas grup gue uda di Paris, di ending my trip". Ucap Quenny.
"WHATTTTT?" Mereka serempak bertanya penasaran sambil penasaran.
"Gue speechless conggg.. pasti cowok elo orang kaya". Vanni memberikan pernyataan yang membuatnya tidak habis pikir. Demi Quenny, pacarnya khusus menyusulnya datang ke Paris yang hanya sisa beberapa hari perjalanan grup nya berakhir.
"Doi orang kaya ya cong sampe nyusul elo ke Paris, padahal kan elo bentar lagi pulang". Tanya Gita kembali.
"Ya pasti orang kaya lahh babe, sampe doi nyusul ke Paris demi si benconggg satu ini". Jawab Vanni sambil menimpukkan gulungan tissue ke arah Quenny.
"Lumayan sih". Jawab Quenny santai.
"Mantab kaleeeee... sambil kerja sambil pacaran, di Paris pula... arrrhhhh romantis sekaleeee". Ujar Gita dengan muka kepengennya.
"Ouuchhhh... jadi pengen iri gue ma elo congg". Goda Vanni sambil menoel - noel pipi Quenny.
"Kayaknya ada yang uda lepas keperawan neh, uda make love donk elo di Paris. Jauh - jauh juga disusulin. Suasannya mendukung pula, kota Paris, city of love... ohhh Eiffel I'm love". Goda Leon dengan mesumnya.
"Enakkkk aja luhhh... gue masih perawan lagiii. Gue ga make love kok, cuma make out doank". Ucap Quenny dengan polos.
"Upsss... kelepasan kan gue jadinya gara - gara elo Lebanggg... dasar Leon bangkeeeee". Quenny kesal karena dirinya keceplosan dan karena kesal dirinya memukuli Leon pake bantal yang sedari tadi dipangkunya.
"Njirrrrrrr... make out coyyyy .. Jadi tegang kan adik gue nya.. Jadi kepengen dehh". Leon tertawa terbahak - bahak
Teman - teman Quenny pada tertawa karena kepolosan Quenny namum hanya Teo yang tersenyum kecut dengan omongan Quenny.
"Cipokan terus donk elo selama di Paris?" Tanya Leon masih dengan otak mesumnya.
"Ya iyalahhhhh, rugi lah kalo ga cipokan, kapan lagi gue bisa cipokan di Eiffel malam hari dengan sinar lampu yang begitu romantis trus di Champs Elysees". Ujar Quenny yang jujur sambil membayangkan apa yang sudah dilakukannya bersama Alvaro.
"Sadissssssss". Teriak teman - temannya lagi kecuali Teo.
"Ke Paris itu kerja benconggggggg... bukan cipokaannnn". Gita menggoda Quenny sambil menoyor kepalanya.
"Ya kerjalah, sapa bilang gue ga kerja. Habis kelar gue masupin tuh orang - orang ke hotel, barulah gue kencan ma cowok gue. Tanya tuh Teo, dia liat gue kok waktu di lobby hotel". Terang Quenny dengan antusiasnya.
"Hmmm". Teo hanya berdehem untuk mengiyakan pernyataan Quenny.
"Mank elo kencan kemana aja cong". Tanya Vanni kepada sahabatnya itu.
"Gue cuma dinner di Bateux Parisien malam pertamanya, trus malam kedua gue cuma Paris Night Tour yang open roof itu". Jelas Quenny dengan pertanyaan dari Vanni.
"Mantabbbbbbb". Leon menjawab dari pernyataan Quenny dengan mengacungkan jempolnya.
"Lah terus siangnya ngapain cowok elo cong, elo kan lagi bawa tour?" Tanya Gita yang kepo nya sudah akut.
"Hari pertama kan ketemu gue di Eiffel bareng Teo, dia dari bandara langsung nyusul gue disono. Trus hari kedua, dia ke kantor cabangnya, sorenya baru nyusul gue ke Galeries Lafayette. Besoknya kan kita balik Indo". Quenny menjelaskan secara detail apa yang sudah dilakukannya berdua dengan Alvaro selama di Paris.
"Ohhh, gue kira dia ngintilin elo seharian. Gue kira dia nyelundup ke bis grup elo cong". Vanni menganggukkan kepalanya jika dirinya mengerti apa yang sudah dilakukan pacarnya Quenny.
"Ga propesional luhh kalo nyelundupin penumpang ke bis". Celetuk Leon menimpali omongan Vanni.
"Ya kagaklahhh... gue juga tau itu ga propesonal bangkeee. Makanya cowok gue ga ikut gue jalan - jalan. Cowok gue kan ke kantor cabangnya yang di Paris, jadi dia mau lihat kinerja karyawannya yang disana". Terang Quenny kembali
"Widihhhhhh... sadissss... punya kantor cabang di Paris coyyyy". Teriak Gita.
"Mank doi boss ya? Usaha apaan?" Kini Vanni bertanya karena bertambah penasaran.
"Yang punya PT. Angkasa Cemerlang, yang kemaren itu gue bawa ke Hongkong". Jawab Quenny dengan polosnya.
"Anjirrrrrrrrrr....". Gita berteriak karena terkejutnya.
"Sadissssss...". Vanni berteriak karena kaget juga dengan kenyataan yang diberikan oleh sahabatnya.
"Mantabbbb babe... lanjutkan... jangan sampe dilepas". Leon memberi semangat kepada sahabatnya.
"Sudah kalah langkah, kalah kaya pula gue, gimana bisa menang kalau saingannya gini". Teo berguman dalam hati dan tersenyum kecut karena kenyataan yang sudah jelas didepan matanya kalau Quenny, wanita yang sudah ada di hatinya, sudah dimiliki pria lain dan kekayaannya tidak ada apa - apanya jika dibandingkan dirinya yang hanya seorang staff kantoran.
"Babe, kok lesu, kenapa lo?" Tanya Quenny kepada Teo yang sedari tadi hanya diam saja.
"Ohhh.. lagi ga enak badan aja kok, tidur malam terus disana, mana di pesawat ga bisa tidur pula". Terang Teo karena pertanyaan dari Quenny.
"Istirahat yang cukup sama minum vitamin ples obat babe, biar cepet sembuh". Ucap Quenny kembali.
"Ya, tengkiyu". Jawab Teo kembali.
"CUP" Puncak kepala Quenny dicium seseorang dan setelah melihatnya, Quenny langsung tersenyum.
"Baru datang kak? Sini.. kenalin teman - teman Ce". Quenny menarik tangan Alvaro untuk duduk dekatnya dan Vanni bergeser duduknya ke bangku sebelah Leon yang kosong.
"Alvaro Kalandra" Alvaro menjabat tangannya kepada teman - temannya Quenny kecuali Teo karena mereka sudah berkenalan waktu itu di Eiffel.
"Anggita Anggraeni"
"Vannia Fredella"
"Leon Alexander"
Mereka berjabat tangan satu persatu untuk memperkenalkan diri mereka masing - masih. Dan tiba di giliran Teo. "Kita sudah berkenalan kan di Eiffel waktu itu". Teo menolak berjabatan tangan.
"Gimana kabar kamu Teo, lancarkan perjalanan pulang kemarin?" Tanya Alvaro kepada Teo.
"Baik dan lancar tanpa hambatan" Teo menjawab dengan enggannya.
"Kalian sudah pada makan semuanya?" Tanya alvaro kepada semua teman - teman Quenny.
"Sudah kok, tengkiyu". Ucap Gita
"Mau tambah lagi ga makanannya, saya yang traktir, anggap saja PJ saya sudah berpacaran dengan teman kalian". Terang Alvaro kepada teman Quenny.
"Engg... enggak kok, terima kasih.. kami sudah kenyang". Kini giliran Vanni yang menjawab.
"Ya sudah bill yang sudah kalian pesan, saya aja yang bayar ya, saya ke kasir dulu". Alvaro berjalan menuju kasir untuk membayar semua tagihan yang sudah dipesan Quenny bersama - sama dengan temannya.
"Njirrrrrrr... bencongggggg ganteng amat cowok elo.. jadi kepengen gue kayak gitu.. ketemu dimana sih elo? Cariin gue yang kayak gitu juga sihhhhh?" Gita memohon pada Quenny dengan muka yang memelas dan tersepona dengan kegantengan pacar dari temannya itu.
"Geloooooo... bibirnya cipokable banget congggg.. pantesan aja elo cipokan mulu disono... sadissss". Kini giliran Vanni yang memuja kegantengan pacar temannya itu.
"Ngapain elo berdua cari jauh - jauh babe, kita berdua aja ganteng kok, ya ga Te?" Leon menyeletuk ucapan Gita dan Vanni.
"Kalian berdua ganteng bangetttt, apalagi kalau liat dari puncak Eiffel trus pake sedotan balon trus lagi posisi elonya di Jakarta, yang liatnya di Paris.... Ganteng pake bangettttt... Sule aja kalah gantengnya". Ucap gita dengan sarkasnya. Hal yang mustahil melakukan tindakan seperti itu.
Dan para wanita - wanita itu tertawa terbahak - bahak, sedangkan para pria nya hanya mendengus.
"Sialan looooo". Ucap Leon sambil menoyor kepala Gita.
"Makanya sadar diri Lebangggggg". Ucap Gita kembali sambil terkekeh.
"Ayo sayang kita pulang dulu, sudah malam". Ajak Alvaro sambil mengambil tangan Quenny dengan lembut.
"Let's go.. Gue cabs dulu ya gaesss... see you at da opis". Quenny berpamitan dengan teman - temannya untuk pulang bersama dengan Alvaro. Dan Alvaro langsung merangkul pundak Quenny dengan mesranya.
"Bye.. ci yu et di opisss". Teriak Gita.
"Pulang ke rumah babe, jangan ke hotel". Teriak Leon sambil tertawa menggoda Quenny.
Queeny tersenyum kecut karena kemesuman otaknya Leon dan tanpa berbalik Quenny mengacungkan jari tengahnya ke Leon. Dan teman - teman Quenny semuanya tertawa terbahak - bahak karena ulahnya Quenny.
****