bab 3

1419 Kata
Udara malam menusuk kulit saat mobil hitam dengan kaca gelap meluncur meninggalkan klub. Eveline duduk di kursi belakang, diapit dua pria bercincin singa. Tangannya mengepal di pangkuan, berusaha keras menahan getaran kecil yang sebenarnya ingin menguasai tubuhnya. Jantungnya berdegup kencang, namun wajahnya ia jaga tetap datar. Pria berambut pirang—yang kini Eveline tahu bernama Marcus—duduk di kursi depan, memegang rokok dengan santai seolah perjalanan ini hanyalah rutinitas. Dari kaca spion, tatapannya sesekali melirik Eveline, seakan menilai apakah gadis ini cukup bernyali atau hanya orang bodoh yang ingin mati cepat. “Namamu siapa, gadis?” Marcus akhirnya bertanya, suaranya dingin tapi penuh wibawa. “Eveline.” “Eveline apa?” Ia ragu sejenak. Nama lengkap bisa berbahaya, tapi nama palsu juga bisa menjadi jebakan jika mereka mencari tahu. Setelah menimbang cepat, ia menjawab singkat, “Eveline Black.” Marcus tersenyum miring. “Nama yang cantik… meskipun kedengarannya lebih cocok untuk wanita yang suka main-main dengan bahaya.” Eveline tidak menanggapi. Ia hanya menatap keluar jendela, melihat bayangan lampu kota semakin jarang berganti dengan jalanan gelap pinggiran. Mobil berhenti di sebuah gudang tua yang sepi. Cat temboknya mengelupas, pintunya berkarat, tapi di dalamnya sudah ada beberapa orang menunggu. Mereka turun. Bau minyak, debu, dan besi karatan langsung menyambut. Di tengah ruangan, seorang pria setengah baya dengan pakaian kusam terikat di kursi besi. Mulutnya disumpal kain, wajahnya lebam dengan darah kering di sudut bibir. Marcus melangkah mendekat, melepas sumpalan kain dari mulut pria itu. “Malam, Tuan Harris. Masih ingat janji kita minggu lalu?” Pria itu terisak, suaranya parau. “Aku… aku butuh waktu lagi… bisnis sepi, aku akan bayar, sumpah—” Marcus mendengus, lalu menoleh pada Eveline. “Inilah pekerjaanmu malam ini. Buat dia bicara. Buat dia mengaku di depan kita bahwa dia berbohong soal uangnya. Tunjukkan padaku kalau kau lebih dari sekadar gadis cantik yang tahu berkata manis.” Eveline membeku sejenak. Ini ujian yang sebenarnya. Ia tidak pernah melakukan interogasi sebelumnya, apalagi di bawah todongan mafia. Namun tatapan dingin Marcus menekan, seolah berkata: lakukan, atau mati. Dengan langkah pelan, Eveline mendekat. Ia menatap pria bernama Harris itu. Ketakutan jelas terlihat di matanya, tapi di baliknya ada kepanikan orang yang sedang menyembunyikan sesuatu. “Harris…” suara Eveline lembut, hampir seperti bisikan. “Mereka ingin kebenaran. Jika kau jujur sekarang, mungkin kau masih bisa bernapas besok.” “Aku—aku tidak punya uang! Aku butuh waktu!” Harris berteriak, tubuhnya bergetar di kursi. Eveline mendekatkan wajahnya, berbisik di telinganya. “Dengar… aku tahu kau berbohong. Orang seperti mereka tidak datang hanya karena keterlambatan kecil. Mereka sudah tahu kau menyembunyikan sesuatu. Kalau kau tidak bicara sekarang, mereka akan membuatmu menyesal lebih dalam.” Ia menatap Marcus sekilas, lalu kembali pada Harris. “Tolong aku, Harris. Katakan yang sebenarnya. Aku bisa membuat mereka sedikit lunak kalau kau jujur.” Harris terdiam, keringat dingin menetes dari keningnya. Sesaat ia tampak ragu, lalu akhirnya pecah. “Baik! Baik! Aku… aku menyimpan sebagian uangnya! Aku takut kalau kuberikan semua, keluargaku tidak bisa makan. Aku hanya… aku hanya ingin bertahan hidup!” Marcus tertawa pendek. “Nah, itu dia. Mudah sekali rupanya.” Eveline menegakkan tubuh, meski di dalam dirinya ada gelombang rasa bersalah. Ia baru saja memaksa seorang pria miskin mengaku, padahal sebenarnya ia tahu lelaki itu hanya korban sistem kejam mafia. Tapi ia tidak bisa menunjukkan simpati di sini—satu kelembutan bisa berarti kematian. Marcus berdiri, bertepuk tangan pelan. “Kau cepat belajar. Aku suka.” Ia memberi isyarat pada anak buahnya. Dua pria langsung maju, memukul Harris hingga terdiam pingsan. “Kita akan urus sisanya. Yang penting, kau lulus ujian pertamamu.” Eveline berusaha menahan ekspresi wajah tetap tenang, meski perutnya terasa mual melihat kekerasan itu. Marcus menepuk bahunya sambil tersenyum miring. “Selamat datang di dunia kami, Eveline Black.” Eveline pulang larut, tubuhnya masih gemetar. Ia mengunci pintu apartemen, melempar mantel ke kursi, lalu jatuh terduduk di lantai. Nafasnya tersengal. Ia menatap tangannya sendiri, seolah kotor oleh dosa. “Ya Tuhan…” bisiknya. “Apa yang baru saja kulakukan?” Namun wajah ayahnya kembali muncul di benak—darah, luka, dan tatapan terakhir yang membeku. Ingatan itu membakar rasa bersalahnya, mengubahnya menjadi bara dendam. “Ayah… aku harus melakukannya. Aku harus masuk lebih dalam. Hanya dengan cara ini aku bisa mendekati Andrew.” Tangannya meraih foto ayahnya di meja. Dengan suara bergetar, ia berjanji sekali lagi. “Aku akan mengakhirinya. Untukmu.” Hari-hari berikutnya Eveline semakin sering dipanggil Marcus. Awalnya hanya tugas-tugas kecil yaitu mengantarkan paket, memantau pertemuan, menyampaikan pesan. Tapi setiap kali, Marcus selalu mengawasinya, menguji kesetiaan dan keberanian gadis itu. Eveline bermain peran dengan sempurna. Ia bersikap tenang, sigap, bahkan terkadang terlihat lebih dingin dari yang mereka harapkan. Padahal di balik semua itu, ia selalu menahan gemuruh rasa takut. Suatu malam, Marcus membawanya ke sebuah pesta eksklusif. Klub malam penuh orang-orang kaya, para pebisnis yang bekerja sama dengan jaringan Andrew. Musik jazz mengalun lembut, minuman mahal mengalir bebas, dan percakapan penuh kode berlangsung di setiap meja. Eveline mengenakan gaun merah anggun, rambutnya disanggul rapi. Marcus memperkenalkannya sebagai “asisten barunya” pada beberapa bos kecil. Eveline tersenyum manis, menyembunyikan matanya yang terus mengamati setiap detail: siapa berbicara dengan siapa, siapa terlihat paling berkuasa, dan siapa yang tampaknya paling dekat dengan nama besar itu—Andrew. Di sudut ruangan, ia mendengar bisikan dua pria yang menyebut nama itu. “Kau dengar? Andrew akan datang minggu depan. Ada pertemuan besar di markas pusat.” “Ya. Hanya lingkaran dalam yang diundang.” Hatinya berdegup kencang. Itu artinya ia semakin dekat. Tapi bagaimana caranya agar ia bisa masuk ke lingkaran dalam? Marcus bisa jadi kunci, tapi ia harus membuat pria itu sepenuhnya percaya padanya. Beberapa malam kemudian, Marcus memanggilnya ke ruang bawah tanah klub lagi. Kali ini suasana lebih tegang. Ada koper besar di atas meja, dijaga ketat oleh dua pria bersenjata. Marcus menyalakan cerutunya, lalu menatap Eveline. “Ada kiriman penting. Uang dalam jumlah besar. Aku butuh seseorang untuk membawanya ke lokasi tertentu. Masalahnya, jalur itu rawan disergap polisi. Kalau kau lolos, itu berarti kau benar-benar bisa dipercaya.” Eveline menelan ludah. Ini jauh lebih berbahaya dari sekadar interogasi atau mengantarkan pesan. Tapi ia tahu, ini jalannya. “Aku lakukan,” jawabnya mantap. Marcus tersenyum puas. “Bagus. Ingat, jika kau ditangkap, kami tidak mengenalmu. Jika kau kabur dengan uang ini, kami akan memburumu sampai ke ujung dunia. Jadi… selamat mencoba.” Malam itu Eveline mengendarai mobil sendirian, koper uang di kursi belakang. Jalanan sepi, hanya lampu jalan redup yang menemani. Di setiap tikungan, ia merasa seperti ada yang mengikuti. Benar saja, tak lama kemudian sebuah mobil patroli polisi muncul di belakang. Sirine menyala. Jantung Eveline hampir meloncat. Ia menepi, mencoba menjaga wajah tetap tenang. Dua polisi mendekat, menyorotkan senter ke wajahnya. “Lampu belakang mobilmu mati. Bisa kami lihat surat-suratmu?” Eveline menyerahkan SIM dengan tangan gemetar. Polisi itu menatapnya curiga, lalu menoleh ke kursi belakang. “Apa yang ada di koper itu?” Detik itu dunia terasa berhenti. Eveline tahu, jika koper itu diperiksa, semuanya berakhir. Ia harus memilih: menyerah, atau berbohong. Dengan suara bergetar tapi tegas, ia menjawab, “Itu… dokumen kantor. Aku baru pulang lembur.” Polisi itu mempersempit mata. “Buka.” Sebelum Eveline bisa menjawab, mobil hitam melaju cepat dari arah belakang dan berhenti mendadak. Dua pria bercincin singa turun, menunjukkan lencana palsu. “Kami agen khusus. Mobil ini di bawah pengawasan kami. Silakan kembali ke pos, petugas.” Polisi tampak bingung, tapi setelah argumen singkat, mereka akhirnya mundur. Eveline hampir pingsan karena lega. Setelah mobilnya melaju lagi, salah satu pria itu menoleh padanya. “Marcus benar. Kau punya nyali. Jangan sia-siakan kesempatan ini.” Setelah malam itu, Eveline resmi diakui sebagai bagian dari lingkaran Marcus. Ia kini sering diajak ke rapat penting, dipercaya memegang informasi lebih sensitif. Namun satu hal masih menghantui: kapan ia akan bertemu Andrew? Rico, informan yang dulu memberinya petunjuk, pernah bilang Andrew selalu menguji orang baru. Eveline tahu, ia sedang diuji—dan jika ia lolos, pintu menuju pria itu akan terbuka. Di dalam dirinya, api dendam semakin membesar. Tapi begitu pula bayangan rasa takut: apa yang akan ia lakukan ketika akhirnya bertemu Andrew? Membunuhnya langsung? Atau mencari cara lain untuk menghancurkan seluruh jaringannya? Pertanyaan itu menggantung setiap malam, saat ia menatap papan investigasi di apartemennya yang kini penuh catatan baru. Andrew. Nama itu semakin dekat. Nafasnya, bayangannya, seolah sudah mengitari langkah-langkah Eveline. Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Marcus berkata padanya: “Bersiaplah. Minggu depan, kau akan bertemu dengan bos kami.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN