Malam yang ditunggu
Minggu itu berjalan dengan sangat lambat bagi Eveline. Setiap detik terasa berat, setiap menit terasa seperti jam. Ia tahu, minggu depan ia akan berhadapan langsung dengan pria yang selama ini menghantui hidupnya—Andrew, pemimpin clan mafia paling berbahaya, dan pria yang telah membunuh ayahnya.
Malam sebelum pertemuan, Eveline berdiri di depan cermin. Gaun hitam elegan membalut tubuhnya, rambutnya disanggul rapi dengan beberapa helai dibiarkan jatuh menambah kesan anggun. Make-up tipis menonjolkan mata tajamnya. Dari luar, ia terlihat seperti wanita penuh percaya diri, tapi di balik itu jantungnya berdetak cepat, seolah ingin meloncat keluar.
“Ini saatnya…” bisiknya pada pantulan di cermin. “Ayah, aku akan menatap wajahnya. Aku akan melihat mata pembunuhmu.”
Tangannya menyentuh kalung kecil berbentuk salib yang tergantung di leher—warisan dari ayahnya. Itu satu-satunya benda yang selalu mengingatkannya untuk tetap teguh.
Telepon genggamnya bergetar. Pesan singkat dari Marcus: “Pukul delapan. Jangan terlambat. Lokasi sudah kau tahu.”
Eveline menarik napas panjang. Ia mengambil pistol kecil yang disembunyikan di kotak perhiasan, memastikan pelurunya terisi penuh, lalu memasukkannya ke dalam tas kecilnya. Mungkin ia tidak akan menggunakannya malam ini, tapi hanya dengan membawanya saja, ia merasa sedikit lebih kuat.
Mobil hitam menjemputnya di depan apartemen. Dua pria bercincin singa mengapitnya di kursi belakang, sama seperti malam pertama ia dibawa ke gudang karatan. Namun kali ini tujuannya berbeda: markas besar Andrew.
Gedung itu tampak seperti hotel mewah dari luar, dengan lampu-lampu emas yang berkilauan, pintu kaca berputar, dan penjaga berbaju rapi yang berdiri gagah. Namun Eveline tahu, di balik fasad megah itu tersembunyi dunia yang kelam.
Begitu masuk, mereka melewati lorong panjang berlapis marmer. Kamera pengawas terpasang di setiap sudut, dan pria-pria bersetelan hitam berdiri di setiap pintu. Semua orang yang lewat memberi hormat singkat pada Marcus, tanda betapa ia dihormati sebagai tangan kanan Andrew.
“Jangan bicara kecuali ditanya,” bisik Marcus di telinga Eveline saat mereka menaiki lift kaca menuju lantai teratas. “Dan jangan sekalipun menatap bos terlalu lama. Itu dianggap tidak sopan.”
Eveline hanya mengangguk. Tangannya mengepal di sisi tubuh, berusaha menahan gemetar.
Lift berhenti di lantai 30. Pintu terbuka, memperlihatkan lorong luas dengan karpet merah dan dinding berlapis kayu mahoni. Dua pria besar bersenjata berdiri di depan pintu ganda hitam di ujung lorong. Begitu Marcus mendekat, mereka membukakan pintu.
Ruangan itu sangat luas, dindingnya dipenuhi lukisan-lukisan klasik dan rak penuh buku. Aroma cerutu bercampur dengan wangi bourbon mahal memenuhi udara. Di tengah ruangan, sebuah meja kayu besar berdiri kokoh.
Dan di balik meja itu, duduklah seorang pria.
Andrew.
Eveline hampir kehilangan napas saat melihatnya.
Pria itu jauh berbeda dari bayangan di kepalanya. Ia tidak tampak seperti monster yang ia bayangkan selama ini. Wajahnya tampan, berusia sekitar akhir tiga puluhan, dengan rahang tegas dan mata abu-abu dingin yang seakan bisa menembus jiwa. Rambut hitamnya tersisir rapi ke belakang, jas hitamnya terpotong sempurna, dan di tangannya ia memegang segelas bourbon yang berkilau di bawah lampu gantung kristal.
Tatapannya terangkat ketika Eveline melangkah masuk. Senyum tipis terukir di bibirnya—bukan senyum hangat, melainkan senyum penuh kuasa.
“Inikah gadis yang kau ceritakan, Marcus?” suaranya dalam, tenang, namun penuh wibawa.
Marcus menunduk hormat. “Ya, Boss. Eveline Black. Dia sudah lulus dari setiap ujian yang ku berikan. Pintar, berani, dan tidak pernah goyah.”
Andrew menaruh gelasnya, lalu berdiri perlahan. Tingginya menjulang, membuat Eveline merasa kecil di hadapannya. Ia melangkah mendekat, setiap langkahnya berat, namun elegan.
“Eveline…” ia menyebut namanya dengan nada yang membuat bulu kuduk meremang. “Nama yang indah. Tapi aku penasaran… apa yang membuat seorang wanita seperti dirimu masuk ke dunia kami?”
Eveline menelan ludah. Inilah momen yang ia takutkan—pertanyaan langsung dari Andrew.
“Aku… aku butuh tempat untuk bertahan hidup,” jawabnya pelan, berusaha terdengar meyakinkan. “Aku tidak percaya pada hukum. Dunia ini hanya milik mereka yang kuat. Dan aku ingin menjadi bagian dari yang kuat.”
Andrew mengangkat alis, seolah menilai kebohongan kecil itu. Ia mendekat lebih jauh, jaraknya hanya beberapa langkah dari Eveline. Tatapannya tajam menelusuri wajah gadis itu, seakan mencari celah.
“Keberanianmu mengesankan,” katanya akhirnya. “Tapi di tempat ini, keberanian saja tidak cukup. Kesetiaanlah yang menentukan apakah kau hidup… atau mati.”
Andrew memberi isyarat dengan tangannya. Dua pria lain mendorong pintu samping, memperlihatkan ruangan makan besar dengan meja panjang penuh kristal dan lilin menyala. Beberapa orang sudah duduk di sana—para bos kecil, tangan kanan, dan tokoh penting dalam organisasi.
Andrew berjalan di depan, diikuti Marcus dan Eveline. Semua orang berdiri ketika Andrew masuk, lalu duduk kembali setelah ia mengambil tempat di ujung meja. Marcus duduk di sisi kanannya, sementara Eveline diarahkan duduk agak jauh, di sisi kiri.
Percakapan dimulai—tentang bisnis, pengiriman senjata, perjanjian dengan kelompok luar negeri. Eveline duduk diam, mendengarkan setiap kata. Sesekali matanya melirik ke arah Andrew. Gerakannya tenang, setiap ucapannya penuh otoritas. Tidak ada yang berani menyela tanpa izin.
Namun di balik ketenangan itu, Eveline melihat sesuatu yang lain. Ada tatapan kosong sesekali ketika Andrew diam, seolah ia menyembunyikan beban besar.
Hatinya bergetar. Bagaimana mungkin pria ini, pembunuh ayahnya, tampak begitu manusiawi?
Ia menggenggam kalung salib di bawah meja, mengingatkan dirinya jika ia Jangan goyah. Dia musuhmu.
Setelah makan malam, Andrew berdiri dan menepuk tangan. Dua anak buah mendorong seorang pria ke dalam ruangan—wajahnya penuh luka, pakaiannya compang-camping.
Andrew menatap pria itu dengan dingin. “Pengkhianat.”
Pria itu merangkak, menangis, memohon ampun. “Boss, aku… aku tidak bermaksud! Aku hanya… aku hanya ingin menyelamatkan keluargaku!”
Andrew tidak bergeming. Ia hanya menoleh pada Marcus. “Kau bilang gadis ini berani. Mari kita uji.”
Marcus menoleh pada Eveline, lalu melemparkan pistol ke arah meja di depannya.
“Eveline,” suara Andrew tenang, tapi menusuk. “Buktikan kesetiaanmu. Bunuh dia.”
Dunia serasa berhenti. Eveline terbelalak ia menoleh dan menatap pistol itu, lalu pria yang berlutut menangis di lantai. Tangannya gemetar.
“Aku… aku tidak pernah membunuh siapa pun…” bisiknya hampir tak terdengar.
Andrew mendekat, wajahnya hanya beberapa inci dari Eveline. “Jika kau tidak bisa melakukan ini, kau tidak pantas berada di sini. Pilihannya sederhana: dia mati… atau kau.”
Ruangan itu sunyi. Semua mata menatap Eveline.
Air mata hampir jatuh, tapi Eveline menahannya. Ia tahu, jika ia menolak, misi balas dendamnya berakhir di sini. Tapi jika ia menembak, ia akan menodai tangannya dengan darah tak bersalah.
Tangannya perlahan meraih pistol. Ia mengangkatnya, mengarahkannya ke kepala pria itu. Nafasnya tercekat.
“Maafkan aku…” bisiknya.
Jari telunjuknya menekan pelatuk—
Klik.
Tidak ada peluru.
Andrew tersenyum tipis. “Bagus. Kau punya nyali untuk menarik pelatuk.” Ia menepuk bahu Eveline, lalu memberi isyarat pada Marcus. Marcus maju, menembak pria itu dengan peluru sungguhan. Darah menyembur di lantai.
Eveline hampir muntah, tapi ia menahan diri. Andrew menatapnya sekali lagi. “Mulai malam ini, kau bagian dari kami.”
Malam itu, Eveline kembali ke apartemennya dengan tubuh gemetar. Ia masuk kamar mandi, muntah hingga perutnya kosong. Wajahnya pucat, matanya merah karena menahan tangis.
Namun di balik rasa ngeri itu, ada sesuatu yang lain—perasaan aneh saat menatap Andrew dari dekat.
Ia mengingat tatapan mata abu-abu itu, senyum tipisnya, bahkan cara ia menguji Eveline dengan pistol kosong. Ada sesuatu yang menggetarkan hatinya, sesuatu yang seharusnya tidak ada.
“Tidak… tidak mungkin…” Eveline menatap dirinya di cermin dengan mata marah. “Dia musuhmu! Dia membunuh ayahmu! Kau tidak boleh merasa apa pun selain benci!”
Namun hatinya tidak mau diam. Setiap kali ia memejamkan mata, wajah Andrew muncul—dan itu membuatnya semakin kacau.
Di luar jendela, lampu kota berkelip. Eveline tahu satu hal pasti: permainan baru saja dimulai. Dan taruhannya bukan hanya nyawanya, tapi juga hatinya sendiri.