36. Auristela-Cincin dan Darah

1218 Kata

Hari semakin gelap. Auris merasa semakin lemas setelah sebagian tenaganya ia pergunakan untuk membuka ikatan atau meraih handphone di pinggang celana pensil yang ia kenakan. Auris mendongak, sangat terkejut ketika pintu dibuka dengan kasar. "Auristela Atmadiraja!" teriaknya. Mabuk. Dia mabuk... Auris semakin takut mendengar suara pria gila itu yang sepertinya sedang mabuk. "Hai sayang, selamat malam." Dia berjalan sedikit sempoyong. "Kita... akan jalan-jalan." Membuka ikatan tangan Auris. Menahan kedua tangannya di belakang punggung kemudian membawanya keluar. Auris memilih tak melawan, percuma saja. Ia akan melihat situasi yang tepat untuk melawan. Ketika mencapai mobil, Auris memperhatikan situasi yang memang sangat percuma jika ia berteriak. Sepi sekali. Seperti di tengah hutan.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN