CHAPTER 10

1698 Kata
     Terdengar helaan napas panjang berkali kali keluar dari mulut Agatha. Tanpa sadar air mata menetes begitu saja.       Agatha Tak berkuasa menahan rasa sakit yang didukung diberikan. Dirinya sendiri punya kamar yang bisa dinilai bukan miliknya.      "Gatha sampai kapan kau diam seperti ini." Gunakan gadis yang dibiarkan sahabatnya Almira. Agatha hanya mengerdik bahunya, "entah lah." ucapnya pasrah. Drrrttt..Drrrrttt      "Gatha dari tadi tuh ponsel bunyi terus." Ucap Almira yang sedikit khawatir dengan kondisi Agatha seperti ini.      "Biarin aja." Ucap Agatha singkat. Tatapannya sangat kosong. Gadis itu sangat kecewa saat disetujui sendiri.      Hubungannya dengan Abby sulit. Ibu Abby juga tidak setuju Hal ini, begitu jugs dengan setuju. Agatha nampak protes dengan kehidupan cintanya. Dirinya sangat membingungkan apa yang harus dilakukan.       Agatha berdiri dan meraih ponselnya yang dari tadi sangat berisik. Almira hanya bisa melihat kelakuan Agatha yang terkesan kekanak kanak.      Panggilan tak terjawab 73      7 pesan      Agatha Buka percakapan tak terjawab. Semua panggilan tak terjawab dari Ayah, Erik, dan Abby.      7 saja pesan dari siapa pun. Pesan Erik      Erik: gatha kau mana ayahmu sangat khawatir.       Erik: Agatha kau kemana. Tolong angkat telponku.      Erik: Agatha kau mana buat aku dan ayahmu khawatir. Pesan MY BOY      Putraku: Sayang kau dimana. Dari tadi aku menelpon kenapa tak di angkat.      Anakku: Agatha angkat.      Anakku: sayang jangan buatku binging.      Anakku: angkat Sayang.      Agatha tak menghirau dengan pesan kedua pria itu. Agatha memilih menenangkan pikirannya di rumah Almira mungkin setelah tenang akan berbicara dengan abby kekasihnya. ***      Esok diterima Almira sudah siap diantar ke kampus dan menunggu agatha yang juga siap.      "Apa kau yakin sudah lebih baik," tanya Almira.      "Aku sudah lebih tenang. Kau tak perlu khawatir." Ucap Agatha yang sedang bercermin.      "Ayo Kita pergi." Ajak agatha menarik tangan Almira.      Sementara Abby sangat mencemaskan Agatha yang dari semalam belum juga ada kabar. Abby yang sudah berada di kelas menunggu Agatha. Yessy datang dengan jalan yang centilnya, yessy duduk tepat di kursinya.      "Yessy."      "Apa." Balasnya singkat.      "Dimana Agatha." Tanya Abby dengan wajah yang sangat khawatir. Sesekali dirinya melihat ke arah pintu kelasnya.       "Kau kan cowoknya. Seharusnya kau lebih tahu dari Aku." Jawab yessy menyengir. Yessy memang tidak tahu tentang masalah Agatha dan abby.       "Ih kau ini." Bentak Abby lalu pergi keluar kelas.        Disaat dia ingin keluar Agatha dan Almira pun datang. Abby terus mencari gadis itu dengan banyak pertanyaan di benaknya.      Agatha menyetujui kursinya. Dirinya menghela napas panjang. "Agatha kau kemana saja. Kenapa telpon ku tidak diangkat. Sayang aku cemas denganmu." Ucap Abby yang tergesa gesa.      Agatha hanya tersenyum pada pria itu tanpa menjawabnya.      Abby curiga ada yang terjadi pada Agatha. Agatha. Dirinya pun menarik Agatha dibawa ke taman kampus tak peduli Sebentar lagi akan Ada dosen masuk.      "Ikut aku." Abby menarik tangan agatha dengan kuat hingga Agatha tak mampu melepaskannya.      "Abby lepaskan. Kau ini apa apaan." Ucap Agatha yang berusaha melepaskannya.      Sekarang mereka berada di taman. Abby menyetujui Agatha di kursi panjang yang telah tersedia. Abby menatap Agatha dengan intens. Sementara Agatha masih berpindah tatapannya.      Abby berlutut hingga membuat Agatha luluh. "Apa ada yang salah denganku." Ucap Abby yang berlutut di hadapan Agatha.      Agatha terdiam melihat binar mata Abby yang indah. "Aku hanya--"  TES      Tiba saja air mata Agatha terjatuh mengenai tangan Abby yang memegang erat tangan Agatha. Abby tahu Ada yang tidak beres dengan kekasihnya.       "HIKS..HIKS.."      Abby berpindah posisi duduknya lalu merangkul pundak Agatha. "Sayang apa yang terjadi padamu." Ucap Abby yang sangat cemas.      "Ayah hiks..Hiks.. Ayah Abby." Ucap agatha dengan isakan tangisnya.      "Ayahmu kenapa.?!?" Tanya Abby mengeryit bingung.      "Hiks..Hiks..Hiks.."      "Agatha jawab pertanyaanku."      "Ayah tak setuju jika aku menikahi denganmu. Hiks." Tangisan Agatha semakin jadi.       "Aku sudah duga hal ini agatha." Ucap Abby menghembus napas panjangnya.      Setelah percakapan itu Abby membawa Agatha ke pantai untuk membuat agatha lebih tenang. Agatha sangat suka pantai.      "Kenapa kesini." Tanya Agatha dengan nada pelan menyandarkan kepalanya di bahu Abby. Abby mengelus lembut kepala Agatha. "Ini tempat favoritemu."      Agatha menatap langit penuh kesedihan. Mereka duduk di tepi pantai bahkan ombak pantai bisa mereka rasakan. Agatha terlihat baik baik saja meski dirinya terus menetes air matanya. Sebenarnya Agatha tak ingin menangis di hadapan Abby. Dia tahu ini sangat menyakitkan.      Satu sisi dia mencintai abby, disisi lain Ada Ayah yang sangat tegas dengan keputusannya. Dirinya mungkin tak sanggup untuk kehilangan keduanya.      Agatha mendengus kesal memikirkan semua ini. Entah setan Mana yang berani kan dirinya mengambil keputusan bodoh ini.      "Abby". Panggil Agatha yang sedari tadi menyandarkan kepalanya di bahu abby.      "Hmmm."      Agatha mengerjap kan matanya sejenak. "Kita kawin lari ajah."lirih Agatha namun Abby yang sangat terkejut. Dirinya terdiam tak satu kata pun keluar dari bibirnya.      Abby seakan ada desiran menimpa tubuhnya saat ini. Abby merasa ini ide gila ide Agatha membuat dirinya terombak ambik memikirkannya.      "Abby kenapa diam saja." Ucap Agatha menegakkan kepalanya dan kini menatap tajam Abby.      "Abby jawab.."teriak Agatha menggoyang tubuh Abby membuat pria tampan itu membuyar dari lamunannya.      Abby menatap wajah Agatha, "apa kau yakin Agatha. Ini tidak semudah yang kau bayangkan." Lirih Abby mengelus pipi Agatha.      "Apa kau ragu dengan ucapan ku barusan."      Abby benar di ambang keraguan yang mengentir dirinya. "Aku hanya takut ini salah."      Agatha merunduk menenggelamkan wajahnya karena kecewa. Abby menghela napasnya kasar. "Agatha baik kita akan kawin lari. Kita akan hidup bahagia bersama hanya berdua.      Agatha tersenyum mendongkakan kepalanya. "Abby Aku senang." Ucap Agatha semangat sambil memeluk erat Abby.      "Kau senang Sayang."ucap Abby membalas pelukan Agatha.      "Tentu abby, aku sangat bahagia. Aku pasti Aku selalu membantumu untuk meraih cita citamu sebagai photografer." Lirih Agatha mempererat pelukannya.       Abby menyeringai " sekarang hari semakin sore. Lebih baik kau pulang. Aku antar."       Agatha mengangguk. Diri tak berhenti tersenyum. Saat perjalanan Agatha terus membayangkan dirinya akan menikah bersama Abby pria yang di cintainya. ***      Malam pun tiba Agatha tak berhenti tersenyum. Ia berharap akan pergi dari rumah yang di anggap sebagai kuburan tanpa penghuni. Saat asyik memikirkan masa depan mata, Ada saja orang menganggu dirinya. Tok..Tok..Tok..      "Masuk ajah." CEKLEK      "Agatha sungguh kau keterlaluan." Ucap seorang pria yang marah padanya tak lain Erik.      "Erik kau kenapa datang marah marah."      "Kau yang kenapa. Aku dan ayahmu sangat khawatir." Ucap Erik yang sangat panik.      "Sudah lah Erik, Aku malas berdebat."      Erik mendengus kesal. Wanita di hadapannya ini sangat labil. Agatha wanita polos, mungkin mudah saja di orang ingin memanfaaatkannya. Da bodohnya Erik jatuh cinta pada wanita ini. Kelakuan Agatha memang bin ajaib sulit di tebak. Sampai Erik yang dari kecil mengenalnya kadang lelah melihat kekonyolan yang sering dilakukannya.       Siapa pun pria itu menurut Erik dia sangat beruntung bisa membuat seorang Agatha mencintainya. Seberusahaan apapun Erik, dirinya tak mungkin membuat Agatha yang keras kepala mengerti. Agatha tetap lah Agatha gadis yang di kenal sangat polos.       Abby terjaga dari tidurnya. Dari celah jendela kamarnya, matahari sudah terbit menegak. Abby langsung menggeliat tubuhnya, menyadari tidur panjangnya.      "Ya tuhan udah sepagi ini ternyata." Ucap Abby melihat jam dinding yang berada di kamarnya. Dirinya terlihat polos tanpa kaos hanya menggunakan boxer, Dirinya bercermin.      "Sebentar lagi aku akan melepas masa lajangku." Ucapnya sambil bercermin.      Abby sedang bersiap untuk pergi yang kebetulan hari ini libur. Dengan kemeja birunnya dengan celana jeans hitam.       Abby sangat terlihat tampan siapa pun yang melihat akan terkesima. Abby harus menemui Agatha disebuah caffe bersama wandy. Setelah begitu menempuh perjalanan Abby yang di temani wandy dan sahabatnya menemui Agatha yang sudah duduk manis bersama dua sahabatnya Almira dan yessy.      "Pagi sayang." Sapa kikuk Abby pada Agatha sekilas mencium pipi kenyal milik Agatha lalu dirinya duduk di samping kekasihnya itu.      "Abby kau romantisan depan jomblo seperti kami ini." Seru yessy dengan sengit.      "Makanya kau Cari pacar jangan memperpanjang usia jomblo." Balas Abby dengan nyengirannya.      "Sudah lebih kita dengar apa yang ingin Agatha bicarakan." Sahut Almira saat itu yang memperhatikan perdebatan yang tidak penting terjadi.      Agatha dan Abby mulai bertatapan, Mata mereka saling bertemu satu sama lain dengan isyarat mengatakan suatu sangat penting.       "Kalian sudah siap mendengar." Ucap Agatha tersenyum melebar.       "Gatha jangan berlengah lengah." Ujar wandy yang menatap kedua orang tersebut seperti sangat bahagia.       "Baiklah Aku akan katakan." Agatha menyandarkan tubuhnya di kursi yang ia duduki.       "Aku akan menikah dengan Abby." Ucap agatha pelan namun mereka terkesiap tak percaya.       "APAAA." Ucap mereka bersamaan.       "Kau akan menikah. Ayah kau setuju." Tanya Almira dengan banyak pertanyaan di benaknya.       Agatha menggeleng tegas. "Mana mungkin ayahku suka dengan pilihanku." Lirih Agatha.      "Ibuku juga tidak setuju. Kami memutuskan kawin lari." Sambung Abby yang terlihat kesal pada ibunya.      "Apa kalian berdua tidak waras." Komentar Almira yang tak habis pikir ide gila dua orang yang mabuk akan pernikahan.       "Apa kau pikir Aku sedang bercanda." Hardik Agatha dengan tatapan tajam.       "Tapi gatha menikah itu perlu Surat Surat."       "Aku dan gatha akan menikah sirih untuk sementara, setelah itu kami akan mengurus surat, yang penting kami menikah dulu. Dan juga kami akan ke jakarta." Jelas Abby dengan duduk kedua tangan melipat diatas meja.      Wandy memetik jarinya. "Bagaimana kalian menikah di bandung. Kebetulan pamanku penghulu disana.                Minggu depan mereka akan mengadakan pernikahan massal. Jadi kalian tidak perlu mengerluarkan biaya."       "Ide bagus kalau begitu, Aku Dan Agatha akan menikah minggu depan. Dan wandy kau ikut bersama kami ke bandung." Ucap Abby dengan tegas sambil memukul pelan pundak sahabatnya.      "Aku juga ikut."       "Aku juga" ucap Almira dan yessy menaikan jari telunjuk yang sejajar dengan kepalanya bak seperti anak SD yang sedang di absen.       Ide gila Agatha membuat semua pendukungnya terkecuali Ayahnya. Entah apa yang akan terjadi setelah ini di kehidupan Agatha. Dirinya hanya bisa tersenyum lebar karena sangat bahagia. Sebentar lagi mimpi anehnya jadi fantasi. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN