Lana terus menatap tajam ke arah Saga di sampingnya. Sementara tangannya terus menyuapkan sup buatan Retha Sebastian—mama Saga—ke dalam mulut dengan sedikit kasar. Saga yang merasakan tatapan tajam dari wanita di sampingnya balik menatap penuh kelembutan.
"Ada apa sayang?" tanyanya tersenyum, Lana hanya bergeming.
Tangan Saga tergerak mengusap bekas kuah sup di ujung bibir Lana. Gadis itu terperanjat. Matanya membulat. Namun, seketika sadar jika di antara mereka ada Mama Retha. Tidak mungkin jika ia berlagak terkejut oleh perlakuan sayang calon suaminya ini.
Lana mengembangkan senyum devil. Mengusap tangan di wajah dan menghempasnya perlahan.
Sementara Retha yang tak menyadari hanya tersenyum memperhatikan dua calon pengantin di hadapannya yang tampak harmonis, terlebih tatapan dalam dari Saga. Ia bisa merasakan cinta dari tatapan anaknya itu.
"Dihabiskan dulu makannya, mesra-mesraannya nanti saja kalian jika sudah tidak ada Mama," ucapnya.
Lana terkekeh hambar. Bagaimana juga caranya bermesraan dengan orang di depannya ini? Orang yang mungkin sudah merenggut keperawanannya semalam. Ah, semakin kesal saja rasanya. Bahkan ia Lana dan bukan Kana.
Lana terus makan dengan lahap, berharap ingin cepat menjauh dari sosok menyebalkan di sampingnya ini. Selesai. Dengan tanpa sadar, Lana memberesi meja makan. Dia memang terbiasa melakukan hal ini.
Walaupun di rumah ada asisten, tetapi hidup sendiri di luar negeri membuatnya sedikit mandiri. Cukup untuk membuat kepribadiannya berbeda dengan Kana yang lebih manja ketimbang dirinya.
"Untuk apa kau memberesinya?" tahan Retha. "Sudah, biar asisten yang merapikan. Kalian pergi jalan-jalan saja sana," lanjutnya. Retha menyeret Lana dan Saga agar menjauh dari meja makan.
Mau tidak mau, Lana menurut. Apalagi Saga. Pria itu dengan senang hati merangkul bahu Lana dan hendak mengajaknya ke halaman rumah. Akan tetapi sebelum itu, Lana berhasil menghentikan.
"Mau ke mana?!" sinisnya. Ia menepis tangan Saga di bahunya kasar saat mereka sudah tidak dalam jangkauan mata Retha. Lana sedikit menjauh dari lelaki itu.
"Kenapa sayang?"
Saga berjalan mendekati Lana yang berjalan mundur dengan tatapan yang tak ia alihkan dari mata coklat wanita itu. Lana bergidik ngeri, tatapan itu seakan ingin memakannya. Lana terus melangkah mundur hingga tak disangka tubuhnya sudah menyentuh pilar tinggi besar di belakangnya.
"Kau—tidak perlu sungkan lagi, aku sudah tahu apa yang ada di dalammu."
Lana membulatkan mata. Betapa mudah pemuda di hadapannya ini mengatakan hal itu. Terlebih, tatapan pria itu tampak penuh aura puas.
"Kau—" Lana menyipitkan mata. Jantungnya jelas berdebar tak keruan. Satu tangannya tak sadar mengatupkan kerah kemeja yang dikenakan. Bahkan untuk mengatakannya saja lidahnya terasa kelu.
Jari telunjuk Saga meraih dagu Lana agar terus memandang ke arahnya. "Kau apa?" tanyanya.
"Berengsek!"
Saga terkekeh pelan. "Kau juga tidak jauh berbeda dari Kana. Kau mungkin jauh lebih jalang, iya bukan? Ayolah, kau tidak perlu lagi bersikap seolah gadis yang baru saja kehilangan keperawanan."
Tidak menanggapi, Lana memilih menjauh dan melangkah pergi dari hadapan pria itu. Pikirannya kalut. Apa benar Saga merenggut kesuciannya? Hal yang bahkan dirinya saja tidak ikut menikmati itu?
Lana menghentakkan langkah menuju kamar tempat tadi ia bangun dari tidur dengan perasaan marah. Matanya memerah. Rasa sakit di ulu hatinya bertubi. Belum juga ia bisa menerima pernikahan ini, tetapi sudah mendapat masalah lagi dari Saga.
Ia menatap sekeliling. Melihat beberapa foto yang terpajang pada dinding kelabu dan beberapa di meja sofa. Ia tersenyum miris kala pandangannya menemukan beberapa foto Saga dengan saudari kembarnya.
Mereka berpose sangat hangat, sangat mesra. Sejahat itu Kana bisa merusak hubungan yang sepertinya terbangun indah. Kamar ini jelas milik Saga. Jelas terlihat dari beberapa aksesoris yang terpajang.
Lana terus berjalan menyusuri wardrobe yang penuh dengan jas mahal. Matanya beralih pada deretan jam tangan yang terpajang rapi pada meja tengah. Rumah ini dipenuhi benda mahal. Nuansa ruangan yang sedikit gelap itu menambah aura mewah di setiap sudutnya.
Ia berjalan hingga menemukan cermin besar di hadapan. Lana terpaku menatap pantulan dirinya. Kemeja yang membalut tubuhnya benar-benar mengganggu pikiran. Siapa sebenarnya orang yang memakaikan. Apa benar Saga sudah melakukan itu pada dirinya?
Ia mengusak rambutnya kasar dan sedikit berteriak kesal. Bahkan ini kamar milik Saga. Bahkan ia sama sekali tidak mengingat bagaimana lelaki itu bisa membawanya ke tempat ini. Apa semalam ia sudah tidur seranjang dengan Saga?
"Bagaimana jika dia benar melakukannya? Lantas aku ini menjadi apa?! Argh!" Perempuan itu merengek frustrasi.
"Sayang?"
Lana memekik mendengar panggilan itu. Sontak kakinya melangkah mundur.
"Mau apa kau?!" tanyanya dengan telunjuk mengacung pada Saga.
"Hey! This is my room! Jadi terserah aku akan melakukan apa," jawab Saga enteng.
Pria itu meraih tubuh Lana agar menghadapnya. Ia memandangi wajah cantik wanita itu. Bergeming. Lana sendiri tak bisa mengartikan tatapan itu. Itu ..., terlalu dalam.
"Jika diperhatikan, kau ini cantik juga," ucap Saga tiba-tiba.
Lana tersentak. Jantungnya berdebum. "Apa—apa kau melakukan itu semalam?"
Akhirnya pertanyaan itu bisa Lana lontarkan. Ia menatap Saga yang terkekeh. Sungguh ia tidak tahu apa yang sedang terjadi pada dirinya.
"Apa kau yang menggantikan pakaianku ini?" tanya Lana lagi.
Saga lebih tergelak mendengarnya. Gadis itu tampak ketakutan dengan apa yang terjadi semalam. Hal itu membuatnya tertawa puas.
"Jawab! Bahkan ini kemeja milikmu, kalau bukan kau, siapa yang menggantikan?"
"Kau memang berharap aku yang melakukan itu 'kan? Jadi, anggap saja memang seperti itu." Saga pergi setelah mengatakan itu.
***
Hatinya gelisah. Lana terus berganti posisi duduk di mobil yang katanya akan mengantarnya pulang ini. Semua perkataan Saga sedari tadi berputar di kepala.
Saga di sampingnya terkekeh, tetapi pria itu tidak mengatakan apa pun. Hal yang membuat Lana benar-benar merasa frustrasi melihatnya. Gadis itu kini bergeming menatap ke luar jendela. Hingga tak terasa dirinya terlelap.
Saga memberhentikan mobilnya di sebuah rumah yang sama megah seperti miliknya, tetapi rumah ini lebih sederhana. Lana di sampingnya belum juga bangun. Tidak peduli, ia ke luar dari dalam mobil lantas berjalan menuju rumah itu.
Iris, calon ibu mertuanya menyambut hangat begitu Saga mengikuti asisten rumah ini menuju ruang tamu. Juga terlihat Kana bersama sang ibu.
"Apa kau kemari hendak menemui Lana?" tanya Iris.
Saga menggeleng. Kana menatap penuh binar di samping Iris, berharap yang ingin ditemui pria ini adalah dirinya.
"Aku sudah bersamanya sejak semalam."
Berbeda dengan Iris yang tersenyum lebar, bola mata Kana membulat sempurna. Pantas saja adiknya itu tidak pulang dan ternyata bersama mantan kekasihnya? Lantas apa yang mereka perbuat hingga anak gadis nan lugu seperti Lana tak pulang?
"Lana bersamaku, dan aku kemari hendak mengantarnya pulang. Dia berada di dalam mobil sekarang," ucap Saga lagi.
"Baiklah, bawa dia masuk," pinta Iris. Saga mengangguk dan melenggang pergi.
***
"Dasar jalang!"
Lana tersentak saat mendengar makian yang baru saja terlontar untuknya. Gadis itu memutar tubuhnya, menatap Kana yang berdiri di ambang pintu kamarnya. Menatapnya dengan penuh kilatan amarah.
Lana mengernyitkan, tidak mengerti maksud kakaknya yang memakinya dengan sebutan seperti itu.
"Apa maksudmu?" Tanya Lana.
Kana melangkahkan kakinya masuk ke kamar Lana. Dengan langkah tegas, ia menghampiri adiknya yang baru pulang dari kediaman Saga.
Plak!
Satu tamparan mendarat bebas di pipi mulus milik Lana. Membuat kepala gadis itu tertoleh ke samping. Lana terhenyak. Terkejut karena tiba-tiba Kana menamparnya tanpa alasan.
"b******k! Apa maksudmu?!" Teriak Lana tidak terima.
Gadis itu meraung, melangkah maju untuk mendekati Kana namun dengan cekatan, Kana mendorong Lana hingga terjatuh.
"Harusnya aku yang bertanya padamu! Apa maksudmu pergi menginap bersama Saga? Apa yang kau berikan kepadanya? Keperawanan? Dasar jalang! Berani-beraninya kau menyentuh kekasihku!" Amuk Kana lagi.
Gadis itu bahkan dengan brutal menyakiti Lana. Ia meraih surai hitam milik adiknya kemudian menariknya ke belakang. Seolah tidak memberikan kesempatan untuk Lana melawan.
Lana tersenyum miring. Ia menyadari kalau Kana telah terbakar api cemburu karena melihatnya pergi bersama Saga. Gadis itu menatap kakak kembarnya itu dengan nyalang.
"Lalu kenapa? Bukankah sebentar lagi aku akan menjadi istri seorang Saga Sebastian? Kau perlu ingat, kau bukan lagi kekasih Saga!" Balas Lana tajam. Menusuk ulu hati Kana.
Kana, gadis itu tidak terima dengan ucapan Lana. Ia tidak rela melihat Saga bersama Lana. Meskipun kemarin dia sendiri yang meminta bantuan kepada Lana, nyatanya tidak semudah itu melepas orang yang dicintai. Ia tidak ingin Saga dimiliki orang lain selain dirinya.
"Tidak!!" Teriak Kana frustrasi.
Melihat adanya kesempatan, Lana langsung mendorong Kana menjauh. Membuat gadis itu terjerembab ke lantai. Lana berdiri, menatap Kana dengan tajam. Sejujurnya ia juga tidak ingin bertengkar dengan Kana. Namun sejak dulu, Kana memang selalu ingin menang darinya. Kana selalu ingin bersaing dengannya.
"Bukankah disini kaulah jalangnya? Kau tidak rela kekasihmu menikah dengan orang lain, tapi kau sendiri yang mengkhianati kepercayaannya. Padahal besok adalah hari pernikahan kalian. Tapi sayangnya harus di undur jadi minggu depan. Dan lebih menyedihkannya lagi, kau bukan pengantin wanita. Tapi aku," ujar Lana dengan senyuman liciknya.
Tidak. Ia tidak bermaksud senang karena menikah dengan Saga. Demi apapun, Lana tidak menyukai Saga. Justru malah membenci lelaki itu. Namun melihat Kana yang seperti itu, membuatnya ingin melakukan hal ini. Sebagai bentuk balas dendam karena kecemburuannya pada Kana yang selalu mendapat tempat istimewa di hati kedua orang tuanya.
"b******k kau Lana!"
Kana pun bangkit dari duduknya dan kembali menyerang Lana. Namun dengan sigap, Lana menghindar. Sehingga membuat Kana terjatuh menabrak lemari pakaian Lana.
"Ada apa ini?!"
Iris yang baru saja tiba setelah mendengar keributan di kamar Lana pun menatap kaget saat melihat anak sulungnya tergeletak di lantai dengan luka di kepalanya.
"Astaga, Kana!" Pekiknya dengan panik dan langsung menghampiri tubuh anaknya. Memangkunya. "Kana, bangun sayang..."
"Lana, ada apa ini?!" Teriak Iris dengan marah sembari menatap Lana.
Lana berdecak pelan. Bukannya menjawab, gadis itu malah meraih tas selempang miliknya.
"Mama tanyakan saja ke anak kesayangan Mama apa yang sebenarnya terjadi," ujarnya kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan kamar.
***
Lana memutar gelas berisi jus alpukat yang baru saja ia habiskan setengahnya. Pikirannya kalut. Entah soal pernikahan dadakan atau masalah di rumah, semuanya menyita ruang pikirannya. Membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Ia butuh hiburan.
Tapi bagaimana? Dia saja tidak memiliki teman disini. Dia bahkan baru kembali ke sini Minggu lalu. Setelah menempuh pendidikan bertahun-tahun di luar negeri.
Lana menyesap jusnya hingga tandas. Ia butuh refreshing untuk kesehatan mentalnya. Tapi kemana? Dia saja tidak tahu banyak tempat disini.
"Aishh!" Dengus Lana dengan kesal.
Gadis itu meraih tas tangan bermerek internasional kemudian melenggang pergi meninggalkan kafe. Namun saat ia hendak masuk ke dalam mobil, sebuah tangan menarik pundaknya.
"b******k!" Umpat Lana.
Gadis itu menatap tajam ke arah lelaki asing yang tiba-tiba hendak merangkulnya itu. Lelaki bertubuh jangkung dengan ukiran mawar di lengan tangannya.
"Kau bicara apa, Na?" Ujar lelaki itu dengan raut wajah bingung saat gadis yang berstatus kekasihnya itu mengumpatinya dengan k********r.
Lana menaikkan pandangannya, menatap pria asing itu dengan penuh intimidasi.
"Jangan asal menyentuhku!" Sentak Lana dengan tegas.
Lelaki itu tertawa geli melihat wajah marah milik gadis di depannya. "Jangan asal menyentuhmu? Ayolah, kita bahkan sudah sering berbagi ranjang. Apa kau lupa?" Ujarnya sembari mengedipkan matanya sebelah. Menggoda Lana.
Lana terdiam, pikirannya bercabang. Berbagi ranjang? Apa maksudnya? Ia bahkan tidak pernah tidur dengan lelaki manapun. Bagaimana bisa lelaki itu mengatakan dengan gamblang kalau mereka sudah sering berbagi ranjang?
Tunggu. Apa mungkin dia ini...
"Ares?" Ujar Lana dengan sedikit tak yakin.
Lelaki itu tertawa. "Apa karena kejadian kemarin membuatmu lupa denganku? Sangat tidak lucu, Kana. Kau itu kekasihku."
Lana mengepalkan tangannya erat. Jadi ini lelaki yang bernama Ares. Lelaki yang sudah menghancurkan masa depannya karena telah meniduri kembarannya.
Lana menatap tajam ke arah lelaki itu. Ingin rasanya ia membalaskan dendamnya terhadap lelaki itu. Tapi bagaimana? Ares saja tidak tahu kalau Kana memiliki kembaran.
Tak mau membuang waktu, Lana pun berbalik dan segera masuk ke dalam mobilnya. Namun tangannya di tahan oleh Ares. Membuat Lana harus menyentaknya.
"Lepaskan!" Seru Lana. Menepis kasar tangan Ares.
Ares menatap bingung dengan perubahan kekasihnya. Gadis itu bahkan tidak mau di sentuh olehnya.
"Ada apa? Apa yang terjadi? Kenapa kau seperti ini, Na? Dan juga..." Ares memperhatikan rambut Kana yang berwarna hitam. "Sejak kapan kau merubah warna rambutmu menjadi hitam? Bukankah kau tidak menyukainya?"
Ares terus melontarkan banyak pertanyaan atas sikap kekasihnya.
"Itu bukan urusanmu!" Tukas Lana dengan penuh penekanan.
"Kenapa kau menjauhiku? Kenapa kau menghindar dariku? Apa salahku?"
"Salahmu?" Ulang Lana. "Salahmu karena telah menghancurkan masa depanku! Semuanya hancur karena kau, sialan!" Seru Lana di depan Ares.
Setelah meluapkan emosinya, Lana langsung masuk ke dalam mobil dan melajukan kendaraan roda empat itu dengan kecepatan tinggi.
Meninggalkan Ares yang masih terpaku. Menatap kepergian kekasihnya dengan pikiran yang bercabang.
Lana menarik nafasnya dalam. Emosinya mendadak tak stabil setelah bertemu dengan Ares. Lelaki itu, ingin rasanya Lana menendang aset berharganya.
Tiba-tiba ponsel gadis itu berbunyi, Lana memilih untuk menepikan mobilnya ke pinggir jalan. Menatap datar nama Saga di ponselnya. Dengan berat hati, Lana mengangkatnya.
"Ada apa menghubungiku?" Ujar Lana dengan ketus.