Lana menepikan mobil di depan gedung mewah yang jaraknya tak jauh dari tempat bertemu Ares tadi. Sekejap ia mengamati luar gedung yang sudah tampak megah. Langsung saja ia turun dan mulai berjalan masuk menuju gedung itu.
Perempuan itu disambut beberapa pelayan yang tampak sudah mengenalinya.
"Lewat sini, Nona Kana," ucapnya mengarahkan.
Lana menyipitkan mata kala terus mendengar nama Kana disebutkan sedari tadi. Ia terus berjalan mengikuti beberapa pelayan itu. Gaun-gaun rancangan desainer terkenal terpampang di depan mata. Berjejeran memenuhi tiap sisi ruangan. Mata Lana terperangah setiap menemukan gaun cantik yang terpajang.
Tiba-tiba langkahnya terhenti, mengamati gaun di hadapannya kini yang tampak elegan dan bak gaun impiannya. Gaun dengan lekuk tubuh ramping, bergaya gaun princess aurora, elegan nan mewah, dengan aksen kupu-kupu tertempel mengelilingi bagian pinggang. Juga bordiran bunga menjuntai panjang hingga ujung roknya. Namun, seketika Lana menggelengkan kepala. Tidak. Bahkan ini bukan pernikahan yang ia inginkan. Ia lantas kembali berjalan.
Di dalam ruangan sana, samar-samar Lana melihat sosok lelaki yang tadi meneleponnya sibuk bermain ponsel. Hingga kedatangannya membuat perhatian lelaki itu teralihkan.
"Hai, sayang!"
Saga tampak duduk menanti gadisnya itu datang di sofa yang disediakan. Lana tersenyum sinis. Kedatangannya ke sini adalah untuk fitting gaun pengantin. Ingin ia melewatkan dan membiarkan Saga saja yang memilihkan untuknya, tetapi ia teringat jika ukurannya harus sesuai dengan tubuhnya.
"Kau bisa memilih mana yang kau mau," ucap Saga. Langsung dan tanpa basa-basi.
Salah satu pelayan memberikan buku kumpulan desain terbaik pada Lana.
"Silakan, Nona Kana," ucap pelayan itu.
Enggan melihat, Lana memberikan buku sampel itu pada Saga. "Kau saja yang memilih."
Saga menghela napas. "Ayolah, sayang, aku tidak tahu mana yang kau mau," sanggahnya lembut.
Tentu Saga tidak ingin terdengar hubungan mereka tampak tidak baik-baik saja. Sementara Lana meliriknya tajam, Saga menurut.
"Baiklah. Tunjukkan saja pada Kana desain terbaik kalian!" serunya pada pelayan yang segera mencarikan.
Butik desainer di sini sungguh terkenal dan menjadi impian banyak kalangan untuk menggunakan desainnya yang mewah. Berbeda dengan kalangan lain yang harus mengantre atau memesan dari jauh-jauh bulan, bagi Saga untuk memesan tempat ini sangatlah mudah karena keluarganya sudah menjadi langganan.
Beberapa pelayan mengeluarkan manekin bergaun mewah, berjajar di hadapan Lana. Gadis itu tentu terperangah. Begitu mewah gaun sakral di hadapannya.
"Silakan kau pilih."
Lana tanpa sadar beranjak mendekati gaun yang tadi sempat ia lihat kala berjalan ke ruangan ini. Gaun yang tidak ia sangka akan dikeluarkan sebagai desain terbaik.
"Aku mau ini," ucap Lana.
Segera beberapa pelayan membantu Lana mencoba gaun itu di fitting room. Selesai. Gadis itu ke luar dan tergemap menatap pantulan dirinya di cermin. Begitu juga Saga. Diam-diam jantungnya berdebar melihat sosok cantik Lana, yang besok akan menjadi istrinya ini.
Saga mengamati. Busana mewah itu begitu pas dengan tubuh Lana dan desain elegan yang tetap terkesan mewah itu sungguh berhasil membuat Saga berbinar.
"Cantik," ucapnya tanpa sadar. Lirih, tetapi Lana tetap bisa mendengarnya.
***
"Kita makan siang dulu, ya," ucap Saga.
Selesai mengurusi segala urusan pakaian pernikahan, mereka berjalan beriringan ke luar gedung. Tentu, hari yang semakin siang membuat perut Saga keroncongan.
"Kau nanti biar ku antar pulang!" Saga berjalan mendahului Lana.
"Apa maksudmu? Bagaimana dengan mobilku nanti?!" tanya Lana.
"Tidak perlu kau pikirkan, biar orangku yang mengembalikannya nanti," jelas Saga.
Ia sudah berjalan mendekati mobil, membukakan pintu penumpang dan menunggu sang Lana masuk. Namun, Lana di tempatnya tetap terpaku.
"Hei, ayo!" seru Saga.
"Tidak perlu, aku pulang saja," jawabnya.
Lana hendak berjalan mendekati mobilnya membuat Saga menghela napas. Segera Saga berjalan mendekati Lana dan meraih tangan itu.
"Aku harus memberimu makan, setidaknya calon istriku tidak boleh kurus!" tegas Saga.
"Tidak. Aku akan makan di rumah, aku tidak sudi makan dengan pria sepertimu!" seru Lana sadis.
Saga tidak mendengarkan, ia tetap menyeret Lana yang terus meracau agar masuk ke dalam mobilnya. Segera setelah itu, ia menancap gasnya dalam-dalam membawa calon pengantinnya.
Mobil itu terus melaju. Entah berada di mana, restoran ini cukup jauh. Sedari tadi saja Lana sudah menggerutu karena tak kunjung sampai. Ia sudah mulai lapar dan duduk di satu mobil yang sama dengan Saga membuat dirinya duduk tak tenang.
"Memang seenak apa makanan di sana?!" seru Lana lagi, kesal.
Saga tak bersuara. Lelaki itu hanya fokus berkendara. Segera ia memberhentikan kendaraannya di depan restoran bergaya Eropa. Dari luar sudah tampak aksen Eropa dengan jelas. Mulai dari air mancur di halaman, pilar, bentuk pintu, bahkan ukiran di jendela.
Lana belum pernah ke tempat ini. Saga, mungkin ini sudah menjadi tempat makan favoritnya.
"Ayo masuk!"
Saga tanpa bersuara lagi melenggang pergi meninggalkan Lana berjalan sendiri. Satu pelayan mengantarkan Saga ke ruang pesanannya. Tanpa Lana tahu, Saga sudah mereservasi terlebih dahulu sebelum mereka datang.
Wanita muda itu hanya terus berjalan mengikuti Saga tanpa banyak bertanya. Hingga sampailah mereka di sebuah ruangan yang cukup privasi. Tak lama pelayan membawakan banyak hidangan lezat ke hadapan mereka.
"Makanlah sepuasmu," ucap Saga.
Lana hanya terdiam, bahkan ia langsung mengambil garpu dan menyuapkan hidangannya segera setelah pelayan pergi.
"Enak!" serunya. Terus mengunyah.
Di tempatnya, Saga terus mengamati Lana yang makan dengan lahap. Sesekali gerakan gadis itu membuat Saga terkekeh.
"Apa?!" cecar Lana sadis.
Lana ini, dia cantik dan sepertinya sosok yang lembut. Akan tetapi kenapa selalu garang di hadapan seorang Saga? Ah, tentu saja pasti karena pernikahan yang akan mereka langsungkan esok bukan yang ia inginkan.
"Apa kau jelas tidak menginginkan pernikahan kita?" Jelas itu pertanyaan bodoh yang dikeluarkan Saga.
"Jelas tidak!" Lana berseru. "Bagaimana bisa aku menikahi lelaki yang tidak aku cintai?!"
"Lantas, kau boleh mulai mencintaiku sekarang." Saga berujar santai.
Lana membulatkan matanya. "Tidak akan pernah!"
Saga terkekeh. Ia benar-benar tergelak mendengar jawaban Lana yang menurutnya lucu itu.
"Apa kau benar-benar tidak menginginkanku, Lana? Aku bahkan memiliki segalanya, kau tidak perlu khawatir akan kekurangan," jelas Saga. Raut wajahnya berubah serius.
"Kau sudah merusak masa mudaku. Lantas kau sendiri, apa menginginkan pernikahan ini?" tanya Lana.
Saga mengangguk yakin. "Aku sangat menginginkanmu," jawabnya.
Lana terdiam sejenak, kemudian ia mendecih pelan. Bibirnya tersinggung, mengukir seulas senyuman sinis.
"Oh, ya?" Ujarnya dengan nada mengejek.
Ia sama sekali tidak percaya dengan ucapan Saga yang menurutnya sangat mustahil. Bagaimana bisa lelaki itu dengan tenang mengatakan kalau dia sangat menginginkan Lana? Padahal jelas-jelas ia kekasih Kana. Dasar buaya!
Saga menautkan kedua alisnya tak suka. Ia mendekatkan wajahnya ke arah Lana. Membuat gadis itu harus memundurkan wajahnya ke belakang.
"Apa kau tak percaya?" Ujar Saga dengan suara tenang namun mampu membuat Lana merasa terintimidasi.
Lana mendorong bahu Saga agar lelaki itu menjauh. Melayangkan tatapan tajam bak elang ke arah lelaki tak tahu malu itu. Apalagi melihat wajahnya yang tersenyum menyebalkan membuat Lana ingin mencakar wajah itu hingga tak berbentuk.
"Melihat sikapmu yang biasa saja di saat kau harus menikahi gadis yang bukan kekasihmu, aku jadi berfikir kalau kau sebenarnya tidak menyukai Kana. Apa selama ini kau hanya mempermainkan saudariku?" Tukas Lana dengan sengit.
Saga terdiam sebentar. Sebelum akhirnya lelaki itu menyunggingkan senyum miring. "Wajahmu sangat mirip dengan Kana. Bahkan semua orang juga menganggap kalau kau adalah dia. Jadi apa salahnya jika aku melihatmu sebagai Kana?" Katanya tanpa beban.
Lana mengepalkan kedua tangannya di bawah meja dengan erat. Perkataan Saga benar-benar memancing emosinya. Bagaimana bisa lelaki itu dengan gamblang mengatakan kalau dia melihatnya sebagai Kana?
Bodoh. Mungkin itu julukan yang pantas untuk Lana karena dia menyetujui permintaan ayahnya untuk menikahi lelaki tak beradab seperti ini.
Lana berdiri dari kursinya dengan kasar. Ia tidak bisa menjalani kehidupan yang sama sekali bukan impiannya. Kali ini ia harus bersikap tegas. Ia tidak akan membiarkan lelaki itu menginjak-injak harga dirinya.
Ia berharga. Ia berhak mengambil keputusan demi kebahagiaan hidupnya. Tekadnya sudah bulat.
"Mau kemana?" Kata Saga sembari mencekal lengan Lana. Cukup kuat karena Lana tidak bisa melepaskan cengkraman itu.
"Lepas!" Desis gadis itu dengan manik menyorot tajam.
Saga tidak peduli. Ia malah menarik lengan Lana dan membawa gadis itu keluar dari restoran. Saga memasukkan Lana ke dalam mobil dengan sedikit kasar karena sejak tadi gadis itu terus memberontak.
Dengan sekali gerakan, pintu mobil otomatis terkunci. Membuat Lana tidak bisa keluar.
"Buka pintunya!" Seru Lana dengan kesal. Nafas gadis itu tersengal. Emosi yang sedari tadi ia tahan, akhirnya meledak. "Buka b******k!"
Gadis itu marah. Marah karena Saga hanya melihatnya sebagai Kana, bukan dirinya. Jelas itu adalah penghinaan bagi dirinya. Jika Saga menginginkan Kana, lantas mengapa pria itu tidak menikahi Kana? Apa karena Kana berselingkuh? Cih!
Sudah baik Lana mau mengorbankan hidupnya demi mereka. Tapi apa yang ia dapat?
Saga masuk ke dalam mobil. Menatap Lana dengan intens. Ia dapat melihat kilatan amarah di balik manik cokelat terang milik Lana. Tampak berkaca-kaca. Membuat Saga berpikir, apa ia sudah berbuat kesalahan hingga Lana marah besar seperti ini?
"Ada apa denganmu?" Tanya Saga.
Lana tertawa sumbang. Bahkan satu bulir air matanya sudah luruh. Dengan kasar, ia menghapusnya.
Ada apa, katanya? Apa Saga tidak menyadari kalau perkataan lelaki itu sungguh menyakiti hatinya? Apa Saga tidak menyadari kalau ucapannya baru saja menggoreskan luka di hatinya?
"Hei?" Panggil Saga dengan lembut. Tangannya tergerak menyentuh wajah Lana namun segera di tepis oleh gadis itu.
Lana menatap lurus ke depan. Tatapannya berubah menjadi nyalang. Sama sekali tidak menghiraukan Saga yang terus menanyakan apa yang sudah membuatnya marah.
"Maaf jika aku telah menyakitimu. Jangan menangis, besok adalah hari pernikahan kita. Kau harus tampil cantik," ujar Saga dengan lembut.
"Aku tidak berniat menikah denganmu," tukas Lana dingin.
Saga memutar tubuhnya menghadap Lana. "Kau sudah menyetujuinya. Kau tidak bisa membatalkan pernikahan ini sesukamu," protes Saga tak terima.
"Kenapa tidak? Kau nikahi saja kekasihmu. Bukankah hanya dia yang kau inginkan? Perlu kau ingat, tuan Saga. Aku bukan Kana."
Saga terdiam mendengar ucapan Lana yang menurutnya sedikit aneh. Untuk apa gadis itu marah hanya karena dia mengatakan kalau ia akan melihat Lana sebagai Kana? Kalau memang Lana tidak peduli seharusnya ia bersikap biasa saja.
Saga tersenyum simpul. "Apa kau cemburu?"
Sontak Lana langsung menatap Saga dengan sinis. "Apa katamu? Cemburu? Jangan mimpi! Meskipun aku tidak menyukaimu dan tidak akan pernah menyukaimu, tapi seperti yang kau bilang. Kau akan menikahiku. Saat aku mendengar kau melihatku sebagai orang lain, jelas saja itu merusak harga diriku. Aku adalah aku. Aku tidak akan sudi dibandingkan dengan orang lain sekalipun itu saudariku sendiri," ujarnya panjang lebar.
Saga pun menganggukkan kepalanya. Bersikap percaya dengan ucapan Lana. Ia pun bersiap untuk mengemudikan mobilnya mengantar Lana pulang. Apalagi hari sudah cukup malam. Ia tidak ingin gadis itu tampil jelek saat acara besok.
"Setelah ini, kau harus tidur dengan nyenyak. Jangan sampai ada kantung mata saat acara besok. Aku ingin kau tampil sempurna agar semua orang tahu kalau istriku sangat cantik," kata Saga mengingatkan.
Lana hanya terdiam. Ia tidak berniat membalas ucapan Saga. Ia sudah cukup lelah karena seharian terus berada di luar rumah.
Keduanya pun diam. Hening kembali menyapa. Tidak ada yang bersuara. Hingga akhirnya, Saga mengatakan sesuatu.
"Lana... Apa kau sungguh tidak akan menyukaiku?" Tanyanya.
"Tidak," jawab Lana dengan tegas. Seolah ia yakin kalau dia memang tidak akan menyukai Saga.
"Bagaimana jika nanti pada akhirnya kau menyukaiku?" Tanya Saga lagi.
"Aku akan membuat diriku membencimu hingga tidak ada celah untuk memiliki perasaan padamu. Perlu kau catat itu," ujarnya lagi.
Saga tertawa. Ia menyentil kening Lana pelan. Membuat Lana mengaduh sakit.
"Aw! Apa-apaan kau ini!" Serunya cemberut.
"Kau terlalu percaya diri," ujar Saga. "Jika suatu hari nanti kau menyukaiku, aku tidak mau tanggung jawab atas perasaanmu padaku."
Lana berdecih pelan mendengar ucapan Saga yang terlalu berlebihan. "Tampaknya di sini yang terlalu percaya diri adalah kau."
Saga tersenyum tipis. "Kita lihat saja nanti siapa yang akan jatuh cinta terlebih dahulu."
Lana tak menanggapi ucapan Saga lagi. Hingga mereka sampai di rumah Lana. Lana pun segera turun. Saga pun ikut turun dan mengantarkan Lana sampai ke depan pintu. Lana yang melihat itu sedikit merasa aneh.
"Kita bukan sepasang kekasih. Aneh jika kau harus repot-repot mengantarku sampai ke depan pintu," ujar Lana.
"Aku hanya ingin bersikap baik padamu. Aku ingatkan lagi, tunjukan akting terbaikmu untuk acara kita besok. Kau harus bisa meyakinkan para tamu kalau kau sangat bahagia dengan Pernikahan ini," peringat Saga lagi.
Lana memutar bola matanya malas. Sudah kesekian kalinya Saga mengatakan hal yang sama. Membuat telinga Lana bosan mendengarnya.
"Baiklah."
Setelah itu Lana pun masuk ke dalam rumah. Begitu juga dengan Saga yang langsung melajukan mobilnya untuk pulang. Tanpa mereka ketahui, sepasang mata menatap mereka dengan tatapan penuh kebencian melalui balkon kamar.