Bayu Aksara Nggak tahu lagi gimana irama jantungku saat ini. Benar-benar nggak beraturan. Kadang cepat kadang tiba-tiba melambat. Aku mati-matian menutupi rasa grogi yang saat ini mendominasi pikiranku ketika menghadapi Lekha yang tiba-tiba saja terdiam setelah aku menyampaikan perihal cincin. Semoga saja Lekha tidak bisa membaca kondisiku ini. Aku menarik napas dalam-dalam sebelum mulai berbicara lagi. “Maaf ya kalau cara melamarku ini kurang romantis untuk disebut melamar. Aku pengen melakukan yang lebih romantis dari ini, tapi entah kenapa aku pikir-pikir lagi itu yang terpenting adalah niatnya. Sementara caranya itu hanya pemanis saja.” Aku berhenti bicara menunggu reaksi Lekha. Dia masih tetap dalam diamnya. “Aku nggak pandai merangkai kata indah yang isinya semua sanjungan dan

