"Bi Mona! Bantu Gempita bersiap!" teriak Pak Hideko ketika sampai di rumah. Dia berteriak memanggil asisten rumah tangganya dengan sekuat tenaga dan sangat menggelegar, menakutkan pula. Meski emosinya tidak separah tadi, Gempita tetap saja takut dengannya. Terlebih lagi Papanya masih menggenggam tangannya, belum mau dilepas seolah tidak mau Gempita memberontak dan pergi menjauh darinya. Ini bukan terlihat Pak Hideko, lelaki itu terlihat berbeda. "Bersiap untuk apa, Tuan?" tanya Bi Mona yang baru saja datang dengan kegugupan tiada tara, dia takut mendengar teriakan atasannya tadi. Dia yang sedang di kamarnya saja bisa terdengar, padahal cukup jauh dari jarak Pak Hideko saat ini. Perempuan yang telah lama bekerjasama dengan Pak Hideko itu tidak memahami maksud dari Tuannya tadi. Gempita

