Wanita Asing yang Berniat Jahat

1394 Kata
Gadis berambut lurus dengan warna hitam legam itu duduk di depan televisi. Di tangannya ada secangkir coklat panas, sedangkan handphone tergeletak di sisi tubuhnya. Ini adalah hari pertama ia kembali ke rumah setelah hampir tiga minggu lamanya berada di rumah sakit. Kakaknya, Satria, masih berada di toko. Seusai menjemputnya dari rumah sakit, kemudian pergi ke toko. Meninggalkan Rinda bersama dengan asisten rumah tangga yang sudah paruh baya. Namanya Bi Inah. Satria sendiri adalah pria sukses pemilik toko stationary di pusat kota. Tempatnya yang strategis yang dekat dengan sekolah dan kantor pemerintahan sukses membuat tokonya tidak pernah sepi dengan pelanggan. Hingga kini omset yang ia terima setiap bulannya sudah cukup membuat ia patut disebut pria mapan. Rinda menelan ludah saat netranya yang tengah fokus pada layar televisi menangkap sekelebat bayangan putih yang melintas cepat di ruang tamu. Barusan itu ... makhluk tak kasat mata, kan? Mencoba menenangkan diri dan bersikap biasa saja, ia tidak mau ambil pusing dan berlagak cuek. Meski dadanya berdebar kencang tapi Rinda memilih melupakan hal tersebut dengan membuka handphonenya, matanya membulat saat sebuah pesan masuk dari seseorang dengan foto profilnya yang sedang duduk di atas motor ninja. Itu dari Nathan, pacar Rinda yang sampai detik ini belum bertemu dengannya lagi semenjak Rinda bangun dari koma. Yang ia tahu pertama kali dari Satrua adalah, laki-laki yang menjadi pacarnya itu sedang berada di luar kota semenjak ia masih terbaring koma. Entah ada urusan apa, ia tidak tahu pasti. Sebenarnya ia sedih, di saat-saat genting dalam hidupnya, laki-laki itu malah berada jauh darinya. [Bagaimana kabar hari ini, Sweety? Sudah lebih baik?] Rinda tersenyum saat membaca pesan dari Nathan, lalu ia mulai mengetik pesan balasan dengan wajah berbinar cerah. Jujur, gadis itu sangat merindukan Nathan yang sampai saat ini belum juga datang menjenguknya. [Sudah jauh lebih baik. Andai kakak datang pasti aku langsung sembuh total. :)] Rinda tertawa, ia menyadari pesan yang baru saja ia kirim layaknya seorang bucin. Tapi tak apalah, Nathan memang laki-laki yang sangat ia sayangi. Laki-laki kedua yang ia sayangi setelah Satria, kakaknya. [Dua hari lagi kakak pulang. Kakak janji begitu sampai di Bogor kakak langsung ke rumah kamu.] Rinda mengerucutkan bibirnya, kalau ditanya kapan mau bertemu dengan Nathan ia pasti akan menjawab, "detik ini juga!" [Kalau gitu aku tunggu, Kak.] [Siap Sweety, maaf kakak gak bisa menemani kamu di masa-masa kritis kamu. Kakak beruntung banget kamu sembuh dan bangun, kalau sampai terjadi apa-apa sama kamu kakak pasti gak bisa maafin diri kakak sendiri karena gak bisa menemani kamu di rumah sakit. Maaf ya, Sayang?] Rinda kembali tersenyum, seperhatian itu Nathan kepada dirinya. [Gapapa, yang penting aku bangun dan bisa bertemu sama kakak lagi.] [Iya sayangku yang cantik. Tunggu aku, ya?] Baru saja hendak mengetik pesan balasan, saat terdengar teriakan dari luar rumah, "Seettttaaaaaaannnnnnnnn, kuntilanakkkkkkkk!!!" Buru-buru Rinda berlari dan membuka tirai jendela. Di luar pagar sudah tidak terlihat ada orang, tapi matanya membulat saat melihat di pohon mangga depan rumahnya sosok wanita dengan gaun putih itu sedang uncang-uncang kaki di batang pohonnya yang landai." "Su-Susi?" gumamnya kaget. Rinda membuka pintu, merasa heran kenapa sosok wanita yang ada di rumah sakit itu bisa sampai kesini. "Hey!" seru Rinda dengan wajah sebal, hingga sosok tersebut menoleh. "Sini masuk!" titahnya pada wanita berlingkar hitam di sekitar matanya tersebut. Rinda berbalik, seiring ucapannya tersebut terasa angin bergerak mengikutinya. Ia tahu, saat ini ada yang sedang terbang tidak jauh darinya. "Kenapa kamu ikut ke rumahku, Susi?" tanya Rinda ketus seraya mendaratkan bokongnya di atas sofa. Matanya mendelik tajam ke arah sudut ruangan yang kosong. Kalau saja ada Bi Inah yang ikut serta berada di ruangan itu, Rinda pasti sudah dibilang gila lantaran bicara sendirian entah ke siapa. "Aku mau jadi temanmu." "Tapi tempat tinggalmu di sana, kenapa jadi ke sini? Lagi pula teman-temanmu banyak di sana, bahkan tadi kau sudah membawa bocah-bocah botak, nenek-nenek melayang, sampai sosok hitam besar ke ruanganku dan memperkenalkannya kepadaku. See? They are your friends!" "Tapi aku maunya kamu yang menjadi temanku." Menghembuskan nafas kasar Rinda tidak habis fikir. Apa ini? Kenapa dia jadi berteman dengan makhluk menyeramkan ini? Bahkan sampai diikuti pulang ke rumah, karena memang gadis itu sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. "Apa aku sudah mengizinkan kamu untuk tinggal di rumahku, heh?" "Tidak di rumahmu juga tak apa-apa. Aku suka pohon mangga yang di depan kamarmu itu. Khi ... khi ... khi ... khi ... khi ...." "Tapi kau mengganggu orang yang lewat di sana." "Tidak." "Iya!" "Tidak Rinda." "Aku mendengarnya tadi! Ada yang teriak kuntilanak tepat di depan rumahku!" "Tadi itu aku tak tahu." "Bohong!" "Beneran." "Heh, jangan bohong, deh! Kau pikir aku bodoh?" ketus Rinda. Sosok tersebut menunduk. "Iya iya. Kuakui, aku menakutinya tadi. Habis aku kesal sekali, dia sedang menonton video m***m tadi saat di jalan. Mentang-mentang sepi. Kutakuti saja biar dia tahu rasa!" Rinda terdiam sesaat mendengar penuturan sosok di hadapannya. Jika itu alasannya, Rinda jadi tidak bisa marah. Tidak bisa disalahkan sepenuhnya jika memang begitu kebenarannya. "Sungguh? Kau berkata jujur?" tanyanya memastikan. Susi mengangguk berkali-kali. Ia menunduk seperti orang yang sedang merasa bersalah, lingkar matanya yang hitam dengan rambut panjang berantakan membuat wajahnya tertutupi. Menimbulkan kesan yang menakutkan. Beruntungnya Rinda cepat menguasai keadaan dengan kemampuan barunya itu yang sudah berjalan dua minggu. Meski begitu, setiap kali melihat sosok baru yang mengerikan tidak menampik bahwa ia juga sempat ketakutan sampai gemetar seluruh tubuhnya. Rinda menghembuskan nafas lalu berucap, "Kau mau tinggal di sini?" Susi mengangguk. "Asal ada satu syarat." "Apa?" "Jangan ganggu aku, atau kakakku, atau bahkan menakut-nakuti lagi warga yang lewat depan rumah. Kalau itu terjadi, awas kamu Susi!!!!" Ancamnya sok galak. "Aku janji!" "Bagus!" "Tapi kalau terjadi kejadian seperti tadi, yang lewat bertindak hal tak senonoh, boleh aku mengganggunya untuk memberinya pelajaran?" Rinda terdiam, sambil berfikir ia menimbang-nimbang. "Kalau yang itu, boleh kau ganggu. Selebihnya, jangan coba sekali-kali kau ganggu." "Baikkkk!!!!" "Hmmm oke kalau begitu ya, kuizinkan." Yang terpenting wanita berambut panjang dengan gaun putih itu tidak mengganggu siapapun. Selama ia bisa menepati ucapannya, Rinda tak mau ambil pusing lagi. Susi berjingkrak-jingkrak bahagia, seperti anak kecil yang diberi balon. "Terimakasih Rinda, aku akan menjagamu." Rinda tertegun. Apa yang baru saja sosok itu katakan? "Bukan hanya sekedar menjadi temanmu, aku juga akan menjagamu jika memang dibutuhkan." "Menjaga?" "Iya, kalau ada yang berniat jahat, mau merampok misalnya, aku akan mengusir mereka dengan caraku. Aku jamin siapapun yang berniat jahat tidak akan berani lagi mendekati rumah ini." Rinda mengulas senyum saat membayangkan jika itu terjadi, mungkinkah Susi akan menampakkan diri dan menakut-nakuti mereka? Sepertinya memang tidak terlalu buruk. Mereka bisa hidup berdampingan, asal tidak saling mengganggu satu sama lain. Yahh, lagi pula dirinya memang harus terbiasa dengan interaksi semacam ini. "Terserah kau saja, Susi." ucapnya sambil tertawa ringan. Jam menunjukkan pukul tujuh saat suara mesin mobil terdengar memasuki halaman rumah. "Ohh Kak Satria sudah pulang!" gumamnya. Ia berlari menuju pintu, baru saja hendak membuka pintunya, ia sudah terbuka lebih dulu sebab didorong dari luar. Menampilkan seorang laki-laki gagah dengan wanita cantik di sampingnya. "Assalamu'alaikum." ucapnya memberi salam. "Wa'alaikumsalaam, Kak." Rinda tersenyum menyambut kakaknya, lalu saat menoleh pada wanita asing di samping kakaknya, senyumnya langsung pudar seketika. Wanita dengan rambut sebahu dan dress selutut itu tampak sedang mengamati seisi rumah dengan kagum. 'Ternyata benar Satria itu orang kaya! Harus bisa nikah sama gue nih, biar bisa gue porotin hartanya sampe habis. Hihihi ...' Deg! Rinda tertegun. Wanita itu ..., 'Kurang ajar!' makinya dalam hati. "Rinda sayang, kenalin ini pacar kakak namanya Melinda. Mel, ini adikku. Namanya Rinda." Satria mengenalkan dua wanita di hadapannya. Pandangan Rinda tidak lepas dari wanita tersebut. Wanita bernama Melinda itu menampilkan senyuman manis. Berbanding terbalik dengan Rinda yang memasang wajah ketus, tampak sekali ketidaksukaannya. 'Ketus banget mukanya. Keliatan banget nih bocah gak sopan! Hihh, kalau bukan karena Satria, pengen gue pelototin aja rasanya.' Lagi, lagi. Terdengar suara hati wanita tersebut yang membuat Rinda semakin tidak suka. Tangannya sampai mengepal karena emosi. "Halo Rinda, kenalin aku Melinda. Aku Melinda. Kudengar kamu baru pulang dari rumah sakit ya karena kecelakaan? Aku turut sedih. Semoga kamu cepat pulih ya?" Rinda terdiam, meski Melinda menampilkan senyuman manis tapi ia tahu itu hanya topeng. Warna di wajahnya terlihat gelap. Menampilkan emosi jiwanya yang sesungguhnya. "Rinda sayang, kok diam? Sini dong samperin Kak Melinda. Ayo jabat tangannya, kalian baru kenal, kan?" ucap Satria lembut. "Kak ...." Bukannya menuruti permintaan Satria, Rinda malah bergeming seraya memanggil kakaknya. "Kenapa, Dek?" "Kakak ... dimana deh nemu wanita macam dia begini?" "APAAAAA????" ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN