Hari ini Rinda sudah terlihat segar. Sudah sepuluh hari ia berada di rumah sakit dan sudah beberapa kali juga ia meminta pulang, tidak betah katanya. Hanya saja dokter belum mengizinkan sampai gadis itu benar-benar pulih.
Semenjak bangun dari komanya, satu persatu keanehan muncul dari diri gadis itu. Di hari pertama, dia bilang perawat yang masuk ke ruangannya berkata bahwa gadis itu pembawa petaka, padahal tidak ada yang bilang seperti itu. Tidak lama kemudian, dia teriak-teriak histeris seperti melihat hantu. Beberapa kali Satria harus kewalahan saat adiknya teriak-teriak tidak jelas. Lalu ia harus dibuat merana saat adiknya selalu minta untuk ditemani, tidak pernah mau ditinggal walau sebentar saja. Selain itu, entah apa yang terjadi pada adiknya Rinda selalu berkata warna, warna dan warna. Barulah di hari kelima pasca bangun dari komanya, untuk pertama kalinya gadis itu mau ditinggal sendiri.
Pagi-pagi sekali dokter masuk ke ruangannya untuk memeriksa perkembangan kesehatannya lebih lanjut. Terlihat begitu jelas di matanya, warna kelabu muda menghiasi wajah dokter tersebut. Kelabu yang begitu banyak, auranya sampai memenuhi ruangan di mana ia terbaring.
"Bagaimana keadaannya hari ini?" Sapa sang dokter seraya menempelkan stetoskopnya ke d**a dan perut Rinda.
Hening, tidak ada jawaban.
Rinda terdiam dengan menatap penuh ke wajah sang dokter. Rinda merasakan aura kelabu di wajah wanita di hadapannya itu bermakna kesedihan yang amat dalam. Kesedihan, kemarahan juga rasa sakit yang bercampur menjadi satu. Ada yang menyakitinya. Itulah yang ia rasa saat menatap wajah sang dokter.
"Rinda, hello? Bisa dengar saya?" Dokter itu mengibaskan tangan ke kanan dan ke kiri. Rinda kaget.
"Ada apa, Dokter?" Tanyanya seakan baru tersadar dari lamunan.
"Loh kamu gak dengar ya dari tadi saya tanya, bagaimana keadaannya hari ini?"
"O-oh, su-sudah jauh lebih baik, Dokter." Jawabnya gelagapan.
Dokter tersebut menganggukkan kepala, lalu memeriksa perban di kepalanya. Dengan jarak sedekat ini, Rinda bisa melihat dokter yang ada di hadapannya ini sedang terlibat masalah yang cukup rumit. Entah apa yang terjadi pada dirinya, tapi ia bisa melihat masalah itu berasal dari rumah tangganya. Suaminya selingkuh, diam-diam punya wanita simpanan. Dokter yang baru tau kelakuan suaminya itu memilih jalan untuk mengakhiri bahtera rumah tangganya yang sudah terjalin 10 tahun lamanya.
Tanpa sadar ia bergumam pelan:
"Pengkhianatan, perselingkuhan dan perceraian. Ishh, memang bagusnya dihempaskan!!!"
Dokter yang sedang mengganti perban di kepalanya itu pun berhenti seketika saat mendengar gumaman Rinda. Menatap lekat pada ekspresi Rinda yang seperti sedang gemas.
"Kamu bilang apa?" Tanya dokter dengan heran.
"E-eh, do-dokter, jadi kapan saya bisa pulang?" Rinda balik bertanya dengan gugup. Meski mengalihkan topik, tapi jelas dokter tersebut bisa mendengar apa yang pasiennya itu ucapkan beberapa detik yang lalu.
"Lukanya sudah membaik, keadaan kamu juga sudah pulih. Hari ini sudah boleh pulang." Sahut sang dokter yang langsung disambut keceriaan di wajah Rinda.
"Yeay..." Terlihat sumringah wajahnya dengan binar mata yang berseri.
"Nanti kakaknya kalo sudah datang suruh urus administrasinya, yah. Semoga cepat sembuh, dan hati-hati di mana pun kamu berada, jangan sampai kecelakaan lagi." Ucap dokter seraya tersenyum. Rinda mengangguk dan tidak lupa membalas senyuman dokter cantik itu.
"Dokter juga harus semangat, jangan sedih ya, Dok? Dokter masih punya anak-anak yang cantik dan lucu yang harus diperjuangkan. Lagi pula dokter 'kan cantik dan pintar, pasti banyak laki-laki lain yang jauh lebih baik yang mau membahagiakan dokter. Tidak ada toleransi atas alasan apapun untuk pengkhianatan ini. Semangat, Dok!" Rinda mengepalkan tangan memotivasi. Sedangkan dokter hanya diam dengan wajah penuh keheranan.
"Kamu ... kenapa tiba-tiba bisa berbicara seperti itu?" Tanya dokter dengan wajah menyelidik. Matanya memicing.
Rinda gagap, tangannya refleks memegangi mulut seolah-olah baru saja mengatakan hal yang salah. Apa yang baru saja dikatakannya? Pengkhianatan itu, kenapa terlihat sekali di wajah sang dokter?
"Rinda?" Dokter bertanya sekali lagi saat gadis itu hanya terdiam dengan wajah yang syok.
Apa yang dilihatnya selama beberapa hari ini membuat gadis itu menyadari, ia memiliki kemampuan yang tidak logis tersebut. Tapi apa yang harus ia katakan pada sang dokter? Tidak mungkin 'kan ia menceritakan yang sesungguhnya?
"Sa-saya ... hanya ingin ngomong ini aja."
"Rinda, kenapa kamu bisa tau masalah saya? Bahkan saya tidak pernah menceritakan masalah saya ini ke siapa pun, kecuali ke keluarga terdekat. Kenapa kamu tahu? Kamu bisa membaca pikiran seseorang?" tanya dokter cepat.
Tidak berani menjawab pertanyaan sang dokter Rinda hanya terdiam. Pikirannya mengawang, ya benar! Semenjak bangun dari komanya, suara hati orang-orang di sekitarnya dapat ia dengar, isi pikiran seseorang pun dapat ia baca. Yang lebih mengerikan lagi, makhluk tak kasat mata pun dapat ia lihat. Termasuk sosok berambut panjang di sudut ruangan itu dekat dengan jendela. Semua itu terjadi semenjak ia bangun dari koma. Tapi tidak terpikirkan, bahwa itu semua adalah kemampuan barunya, kemampuan istimewa yang bisa menjadi petaka baginya. Warna di wajah setiap orang, suara sumbang mesti tidak diucapkan dengan lisan, pikiran seseorang yang bisa ia rasakan, dan melihat makhluk halus yang biasa disebut setan.
"Dari awal saya curiga, kamu terlihat berbeda. Kamu bilang perawat saya mengatakan kamu pembawa sial. Padahal tidak ada yang mengatakan seperti itu waktu itu. Tapi melihat raut wajah perawat saya yang pucat pasi setelah mendengar ucapanmu, dia langsung ketakutan seperti maling yang tertangkap basah. Benarkah kamu bisa membaca pikiran?"
Rinda membulatkan mata, menggigit bibirnya kuat-kuat. Bingung sekali harus menjawab apa saat wanita di hadapannya mencecarnya dengan banyak pertanyaan. Seolah-olah menuntutnya untuk menjawab dan mengakui perihal kemampuan anehnya itu.
Tapi melihat ekspresi Rinda yang tak biasa, dokter cantik tersebut hanya menghembuskan napas. Meski sangat penasaran, tapi ia memilih untuk tidak memaksa. Baginya, bukankah setiap orang punya privasi yang tidak bisa diungkapkan pada sembarang orang?
"Sudahlah, tidak perlu dijawab. Kalau begitu saya permisi, cepat sembuh yah?" ucapnya akhirnya sambil tersenyum, lalu mengelus pucuk kepala Rinda dengan lembut. Gadis yang duduk di atas brankar itu tanpa terasa menghembuskan napas lega lalu tersenyum sambil mengangguk berkali-kali.
"Terimakasih banyak, dokter." ucapnya sambil menatap punggung sang dokter yang melenggang pergi dan hilang di balik pintu.
"Aku ... aku bisa membaca pikiran seseorang?" gumamnya saat ia sudah sendiri.
"Ya, kamu memiliki kemampuan itu."
Untuk pertama kalinya, sosok di sudut ruangan itu bersuara. Membuat Rinda langsung menoleh dengan pandangan mata yang nanar. Suaranya serak tapi terdengar seperti bisikan halus membuat Rinda merinding seketika, bulu kuduknya berdiri. Detik selanjutnya kedua tangannya refleks menutup telinganya saat suara cekikikan terdengar menggema memenuhi ruangan.
"Diammmmmm ... jangan ganggu saya. Saya gak pernah ganggu kamu!" ucapnya di sela-sela rasa takut yang menghampiri, Rinda menangis sambil memejamkan mata. Saat ada kakaknya, sosok itu tidak pernah mengganggunya. Hanya berdiri di sudut ruangan tersebut, membuat Rinda mulai berani jika ia ditinggal sendiri. Toh tidak mengganggu. Sekarang saat kakaknya meninggalkannya sendiri, sosok itu mulai berani menghantuinya.
"Jangan takut! Kau harus terbiasa, karena melihat kami akan menjadi santapanmu sehari-hari. Khi ... khi ... khi ... khi ...." Lagi, suara cekikikan itu kembali terdengar.
"Kita masing-masing, pergiiiii ...!!!!" Terdengar gemetar suara Rinda.
"Kau yang pergi, dari dulu tempatku sudah di sini. Khi ... khi ... khi ... khi ...."
"Khi ... khi ... khi ... khi ...."
"Kenapa kau terus memejamkan mata? Wujud kita sama, hanya rupa kita yang berbeda."
"Kau menakutkan, wajahmu mengerikan. Pergiiiiii!!!!" teriak Rinda lagi.
"Aku juga manusia sebelum menjadi seperti ini. Anggap saja kita sama."
Entah keberanian dari mana, Rinda lalu membuka mata, menoleh perlahan pada sosok tersebut yang berdiri di pojok ruangan. Rambut panjang awut-awutan, baju putih panjang, lingkar mata hitam dengan kulit putih pucat dan bibir menghitam.
Takut. Hanya itu yang Rinda rasakan.
"Jangan ganggu saya." Lirih sekali Rinda bersuara, air matanya menetes.
Tak disangka sosok yang dari tadi tertawa cekikikan itu kini malah tersenyum, meski terlihat seperti menyeringai tapi Rinda merasakan bahwa sosok itu tidak jahat. Bahkan seperti ada kesan persahabatan di sana.
"Jangan takut, kau harus terbiasa melihat kami."
Bahkan makhluk yang ia tahu sering mengganggu dan menakuti manusia itu kini seperti tengah mengajarinya. Mengajari untuk tidak takut dan harus mulai terbiasa. Aneh memang, saat ini itulah yang terjadi pada Rinda. Berkomunikasi dengan makhluk tak kasat mata.
"Jangan jahati aku, kumohon! Aku sudah selamat dari kecelakaan waktu itu. Aku tidak ingin hampir mati lagi."
"Aku bukan makhluk jahat, lagi pula kau sudah sehat, mana mungkin kau mati."
"Tapi aku bisa mati ketakutan kalau kau ganggu terus."
"Sudah kukatakan, aku tidak jahat. Dan aku tidak menganggu."
"Tapi aku takut mendengar tawamu."
"Sudahlah. Kenalkan namaku Susi, usiaku 24 tahun lima tahun yang lalu. Aku meninggal tepat di ranjang yang kau tiduri. Khi ... khi ... khi ... khi ...."
"Jangan tertawa seperti itu, aku takut."
"Baik. Tidak akan lagi."
Rinda tersenyum perlahan, rasa takutnya menghilang seiring waktu.
"Namaku Rinda, aku kecelakaan sepuluh hari yang lalu."
"Salam kenal Rinda. Khi ... khi ... khi ... khi ...."
"Hey aku 'kan sudah bilang jangan tertawa seperti itu lagi."
"Oh iya aku lupa."
"Ish! Dasar Susi!"
***