Wajah Asli Nathan

1333 Kata
Rinda tengkurap di atas kasurnya, jika tadi Melinda ia buat menangis, kali ini dia yang dibuat menangis oleh Satria. Tidak, lebih tepatnya Melinda hanya pura-pura menangis. Berbeda dengan dirinya yang memang benar-benar menangis. Suara kayu yang dipukul-pukul terdengar menggema di kamarnya. Susi yang suka duduk di atas lemari dengan kaki yang diuncang-uncang itu hingga menimbulkan bunyi suara 'jedug'. "Rinda, kenapa Satria bodoh sekali tidak percaya dengan ucapan adiknya sendiri?" tanyanya seperti gemas. Rinda tidak memilih menjawab, malah meneruskan tangisnya. "Cup, cup, jangan menangis. Kita buat Satria percaya sebelum kamu pergi ke pisigigolo." Mendengar ucapan Susi, seketika ia menengok ke atas lemari, melihat Susi yang nampak serius. Tawanya menyembur seketika. "Hahahaha psikolog, Susi. Psikolog. Hahahaha ...." ralatnya sambil tertawa geli. "Heeeee salah, toh? Maaf, bukan lidah Inggris." ucapnya sambil mengusap tengkuk. "Tapi bagaimana caranya supaya kakakku percaya? "Ini pun masih aku pikirkan." Rinda meminum sisa air yang berada di botol mineral, pikirannya diliputi dengan kegundahan. Mungkinkah ia harus mengatakan hal yang sebenarnya pada Satria? Haruskah ia jelaskan kemampuannya yang bisa membaca isi pikiran seseorang? Bagaimana kalau Satria tidak percaya dan malah semakin mengira bahwa Rinda punya masalah dengan psikologisnya? Bagaimana jika Satria semakin mengira bahwa ia gila? "Auuu ahh!" ucapnya merasa pusing sendiri sambil melemparkan botol minuman yang kini sudah kosong ke sembarang arah. "Awww!" Tanpa diduga ada yang memekik kesakitan. Rinda menoleh pada Susi yang saat ini sedang memegangi pelipisnya. "Kenapa melempar ke arahku?" protesnya kesal. Rinda terdiam, sesaat suasana hening hingga detik kemudian keduanya sama-sama terbahak menyadari kelucuan masing-masing. Dalam hati Rinda menyadari, untung saja ada Susi yang ikut dengannya. Sehingga gadis itu punya teman dan merasa terhibur di saat seperti ini. Ya, Susi memang menghibur. *** "Kakak boleh bawa Rinda ke psikolog kalau Rinda tidak bisa membuktikan ucapan Rinda kemarin, Kak." Pukul tujuh pagi, keduanya terlibat sarapan bersama. Rinda menyampaikan protesnya pada Satria yang saat ini sedang menyuap nasi goreng buatan Bi Inah. "Rinda gak gila. Kasih Rinda waktu buat membuktikan semua ucapan Rinda tentang wanita itu." "Namanya Melinda, Dek." Satria meralat. Menatap adik gadisnya yang saat ini sedang menggelung rambutnya tinggi. Pagi ini dia bersikap lebih tenang, berbanding terbalik dengan semalam yang sangat emosi dengan segala perubahan sikap Rinda yang kurang ajar itu. "Iya, dia. Kasih Rinda waktu. Kalau Rinda gak bisa buktiin, silakan kakak bawa Rinda ke psikolog. Ahh enggak enggak, bawa ke rumah sakit jiwa juga boleh." sindir Rinda dengan cuek. Satria menghela nafas panjang. Tidak seperti itu juga, jujur Satria tidak mengira Rinda gila, tapi ia mengira bahwa Rinda mengalami sesuatu yang berhubungan dengan sel sarafnya. Namanya juga baru bangun dari koma. "Ya sudah, kakak menunggu bukti itu." Tak ingin membahas lebih jauh, Satria hanya menjawab sekadarnya. Meski dia tidak mempercayai ucapan adiknya semalam. Baginya gadis itu sedang membual saja. "Kalau gitu kakak berangkat ke toko. Kalau ada apa-apa telepon kakak, minta tolong sama Bi Inah." ucapnya lalu beranjak dari kursi makan. Di saat yang bersamaan, handphone di tangan Rinda bergetar. Sebuah pesan masuk dari Nathan. [Sweety, hari ini aku ke rumah ya.] Rinda tersenyum begitu manis. Wajahnya cerah. [Oke, Kak.] balasnya. Buru-buru ia bergegas menuju kamarnya, mandi dan sedikit berdandan supaya tidak terlalu pucat. Pukul sembilan terdengar bel rumah ditekan. Bi Inah segera membukakan pintu, nampak Nathan berdiri di hadapan dengan membawa banyak tentengan. Tangan kanan membawa parsel buah, tangan kiri membawa buket bunga beraneka warna. "Kakak ...." Rinda menghampiri dengan wajah sumringah. "Sweety maaf kakak baru ke sini, kemarin sibuk terus." ucapnya sambil memberikan tentengan yang dibawanya kepada Rinda. 'Eh kok warnanya hitam.' Rinda mematung melihat warna di sekitar, warna yang dibawa Nathan begitu gelap. "Aku gapapa, sekarang sudah sembuh. Kakak ... dari mana?" "Baru banget nyampe dari perjalanan Solo-Bogor. Kemarin adiknya ibu meninggal, jadi kakak lama di sana." Warna ucapannya kembali hitam. Senyum Rinda memudar. Ia tahu Nathan berbohong. Tapi ... mengapa Nathan berbohong? Apa yang terjadi sebenarnya? "Jadi, paman kakak meninggal?" Satu kebohongan Nathan menimbulkan keingintahuan Rinda terhadap hal lainnya lebih dalam lagi. "Iya, Sayang. Kesian banget anak-anaknya masih pada kecil." Bohong! Lagi dan lagi, Rinda melihat warna kebohongan itu. "Berapa hari kakak di sana?" "Berapa ya, seminggu lebih pokoknya." Hitam. Bohong lagi. Rinda terdiam, merasa bingung. Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam benaknya. "Sweety, apa tamu spesial ini gak dipersilakan untuk duduk?" tanyanya sambil melebarkan senyuman. Rinda tergagap. Terlalu fokus pada semua jawaban Nathan, membuatnya lupa bahwa mereka saat ini masih di depan pintu. "Eh maaf, kak. Ayo kak duduk. Bi Inah tolong buatkan minuman ya," setengah teriak Rinda bersuara pada sosok paruh baya yang berada di dapur. "Siap, Non." jawabnya dari dapur. Wajah Rinda kini terlihat bingung, senyum yang sedari tadi terpancar di wajah cantiknya raib entah kemana. Pasalnya, ia bingung kenapa Nathan banyak berbohong padanya? Apa yang sebenarnya ia sembunyikan? Dan jawaban itu belum ia temukan, karena pikiran Nathan masih fokus karena keberadaan Rinda di hadapannya. "Kenapa mukanya bingung begitu? Gak senang ya kakak datang?" Nathan memasang wajah sedih, Rinda kaget ekspresinya mudah terbaca. "Saking senangnya sampai gugup dan bingung harus bagaimana menyambut kakak." Rinda tertawa. Baru kali ini ia memasang wajah palsu di hadapan pria yang dicintainya, padahal hatinya amat galau. "Maaf sayang sekali lagi, kakak baru ke sini, habis anaknya paman yang paling kecil apet banget sama kakak. Ditinggal sebentar aja dia nangis. Jadi terpaksa, kakak di sana begitu lama." Bohong! Lagi lagi Nathan berbohong. "Kesian banget anaknya. Kakak kemarin ... bagaimana melalui hari-hari di sana?" Rinda memancing. Membuat Nathan mengalihkan pandangan, seperti tengah menerawang hari kemarin. Saat inilah Rinda bisa melihat dengan jelas, bahwa hari kemarin itu laki-laki di hadapannya ini tengah menikmati keindahan alam di gunung Rinjani. Berpegangan tangan pada seorang gadis lain sambil menanjak, lalu mengecup kening gadis tersebut sambil tersenyum. 'Hiking yang menyenangkan.' Deg! Rinjani tersentak ke belakang. Penglihatan apa itu? Tidak mungkinkan hal itu dilakukan Nathan? Wajahnya memucat melihat apa yang Nathan pikirkan? Apa yang dilihatnya itu ... apakah salah? "Jujur, kakak capek banget karena ngajak main anaknya terus. Kan yang paling kecil itu manggil ayahnya mulu, tapi ayahnya udah gak bisa pulang lagi. Dia jadi manggil ayah ke kakak." Nathan menampilkan tawanya, Rinda bergeming. Semua yang diucapkan Nathan kepadanya adalah kebohongan. Wajah Rinda memucat. Keringat sebesar biji jagung menetes dari pelipisnya. Warna suara Nathan yang berbohong dan penglihatan laki-laki itu yang tengah bersama dengan wanita lain, membuatnya kebingungan setengah mati. Hatinya perih, tapi tidak bisa mempercayai hal itu. "Hey, kok wajahnya pucat begitu? Kamu sakit lagi, Sweety?" Nathan bertanya, tampak khawatir raut wajahnya. "Aku ... a-aku ...." "Ini minumannya, Non, Den, silakan diminum." Bi Inah menaruh dua gelas jus alpukat ke atas meja. Lalu langsung undur diri. "Kamu sakit, Sweety?" tanya Nathan sekali lagi. Membuat Bi Inah menghentikan langkah dan menengok ke arah majikannya. "Aku ...." "Non Rinda sakit lagi, Non?" tanyanya terlihat begitu khawatir. Ia menaruh nampan dengan dipeluk di d**a. "Aku gapapa, Bi. Bibi jangan khawatir. Cuma ... cuma pusing sedikit." jawab Rinda mencari alasan. "Bibi bawain obat, ya?" "Gak usah bi, cukup minyak angin aja." "Baik, Non." "Ya Tuhan kamu sakit lagi, Sayang." Nathan nampak khawatir. "Kak ...." "Iya?" "Apa kakak cinta sama aku?" "Kenapa nanyanya begitu?" "Aku ... cuma mau tahu." Jujur, saat ini Rinda sangat ingin tahu perasaan laki-laki itu terhadapnya. Nathan adalah pria yang sangat ia sayangi, meski Satria terlihat tidak menyukainya tapi Nathan sangat berharga baginya. Ia ingin tahu perasaan laki-laki itu setelah semua kebohongan yang ia lihat, apakah laki-laki itu juga akan berbohong dengan perasaannya? Yang ia lihat selalu hitam, itu artinya kebohongan kan? Tapi bagaimana kalau warna yang ia lihat itu bukan berarti apa-apa? "Kamu jangan meragukan cintaku, Sweety. Aku cinta sama kamu." warna suara Nathan kali ini memutih. Terlihat kejujurannya. Rinda meneliti dengan seksama. Sepertinya warna suara itu memang begitu adanya. "Cuma kamu satu-satunya orang yang ada di hati aku. Kesetiaan ini hanya untuk kamu." tapi kali ini warna suaranya menghitam kembali. Deg! Nathan berbohong lagi mengenai kesetiaannya? Apa artinya dia .... "Jangan dekati laki-laki itu, Rinda. Dia pria brengsekkk!!!" Susi berteriak, wajahnya nampak menyeramkan melihat ke arah Nathan, membuat Rinda tertegun di tempatnya dengan perasaan kaget. "Gak ... gak mungkin! Gak mungkin!!!!" ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN