Rinda memijat pelipisnya pelan. Kenyataan yang ia lihat juga pernyataan Susi barusan mengguncang jiwanya. Apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah Nathan seorang laki-laki yang sangat baik dan selalu ada untuknya? Bukankah dia setia? Mencintai Rinda dengan tulus meski Satria terlihat tidak begitu menyukai Nathan?
"Gak mungkin!!! Gak mungkin!!!"
"Apanya yang gak mungkin Sweety?"
Nathan bingung, sedari tadi Rinda terus berbicara 'gak mungkin'. Sepertinya gadis itu kembali sakit.
"Sweety, kalau kamu sakit kamu istirahat aja ya di kamar?" pinta Nathan dengan kening mengkerut.
"Jangan dekat-dekat dengan pria seperti itu, Rinda. Dia pria b******k!" sekali lagi Susi berteriak, yang tentu saja hanya Rinda yang bisa mendengarnya.
Rinda memucat, menatap Susi yang begitu tajam melihat ke arah Nathan. Sosok tersebut terlihat sangat tidak menyukai Nathan.
"Usir dia, Rinda! Putusi laki-laki b******k seperti itu! Dia sampah masyarakat!"
Deg!
Kalimat demi kalimat yang Susi ucapkan membuat kepalanya pusing, ucapannya terasa terngiang-ngiang di telinga hingga membuat kepalanya berdenyut nyeri.
"Sweety, kamu kenapa, si? Aku bingung harus bagaimana." ucap Nathan yang sedari tadi memperhatikan ekspresi Rinda yang langsung berubah dalam sekejap. Pucat dan terlihat sakit, tapi entah kenapa terlihat seperti sakit lahir dan batinnya.
"A-aku ...."
"Kamu kenapa?"
"Jauhi dia!" kembali Susi berteriak.
"Kak ... aku gak enak badan. Aku, aku ingin tidur." Rinda berucap pelan. Sebenarnya kondisinya sangat baik awalnya, tapi apa yang ia lihat barusan dan apa yang Susi ucapkan membuat kondisinya menjadi tak baik. Mendadak juga ia tidak sanggup berlama-lama dengan laki-laki itu.
"Hmmm, yaudah kalau begitu kakak pulang aja."
"Iyaaaa." sahutnya begitu singkat.
"Sedih banget sebenarnya, baru juga datang langsung pulang lagi. Huhu ...."
"Ma-maaf, Kak."
"Yang penting kesehatan kamu, Sweety. Aku gapapa. Aku pulang dulu, ya?"
"Iyaaaa."
"Nanti malam kutelepon, ya?
"Hmmmm."
"Jawabnya singkat banget, kakak jadi sedih."
"Ma-maaf."
Nathan tersenyum,
"Namanya juga orang lagi sakit, kalau gitu aku pulang ya."
Kali ini Rinda hanya mengangguk. Laki-laki dengan sweater navy itu akhirnya melenggang pergi setelah sebelumnya meminum jus yang dibuatkan Bi Inah sekali teguk saja.
Sepeninggal Nathan, Rinda memegangi dadanya. Hatinya teremas sakit. Apa yang terjadi sebenarnya? Dan Nathan ... laki-laki yang ia cintai, benarkah sebenarnya dia b******k? Saat pertanyaan itu muncul dalam benaknya, ia menggeleng keras-keras. Apa ia sanggup jika hal itu benar adanya? Apa ia sanggup menerima jika memang benar ternyata Nathan pria b******k?
Rinda menarik nafasnya, berusaha bersikap tenang. Ia duduk dan menegakkan posisi duduknya, lalu menatap Susi yang duduk di atas lemari dengan pandangan penuh tanya.
"Susi, apa yang sebenarnya kamu lihat dari Kak Nathan?" tanya Rinda berdebar. Ia berdebar dengan jawaban apa yang akan Susi ucapkan. Takut sekali jika hal itu benar terjadi, bahwa Nathan adalah pria b******k.
"Bukankah kau juga sudah melihatnya?" Susi balik bertanya.
"Tapi ... aku mau dengar darimu. Bisa saja penglihatanku ini salah."
"Aku tahu lebih banyak lagi kebusukan tentangnya dengan hanya melihat wajahnya."
Rinda bergetar mendengar penuturan Susi.
Kebusukan?
Kebusukan apa lagi yang ada pada diri Nathan? Benarkah begitu? Mengingat penglihatan saat Nathan sedang berada di gunung Rinjani bersama wanita lain saja sudah cukup membuatnya sakit, apalagi jika tahu ada banyak kebusukan lainnya.
"Kau melihatnya, kan? Saat kau koma kemarin dan di rawat sampai dua Minggu lamanya, dia hanya datang kepadamu sekali saja. Kau melihat kan, di saat sakitmu dia malah pergi hiking dan bermesraan dengan wanita lain di sana. Kau melihatnya, kan?"
Mata Rinda membulat, jadi Susi juga melihat hal itu? Jadi penglihatannya itu juga tidak salah?
Rinda membekap mulutnya dengan tangan. Tanpa terasa kini air matanya menetes. Jadi selama ini, laki-laki yang ia kira begitu baik dan sangat mencintainya dengan tulus ternyata menyimpan kebusukan yang ia tidak tahu sama sekali? Rasanya sulit ia percaya.
Terisak-isak gadis itu menangis. Kecewa dan sakit, juga marah bercampur menjadi satu.
"Apa itu Susi, jelaskan padaku apa lagi yang kamu tahu tentang Kak Nathan?" cecar Rinda terdengar begitu terluka.
"Nanti kamu sendiri akan mengetahuinya, Rinda. Kamu yang harus mencari tahunya sendiri."
"Aku gak bisa, rasanya terlalu sakit."
"Terserah kamu. Yang jelas kamu harus menjauhinya. Dia laki-laki berbahaya. Dia b******k. Dia suka memacari banyak wanita, lalu akan merayu untuk tidur dengannya. Kalau kau masih bertahan dengannya, siap-siap kau akan menjadi mangsanya, Rinda!"
Deg!
Rinda tertegun. Matanya melotot karena kaget. Mangsa? Nathan suka 'memangsa' para wanita?
Semengerikan itukah Nathan?
"Kamu bohong, Susi. Kak Nathan gak mungkin kaya gitu." sanggahnya sambil menggelengkan kepala. Meski ia melihat hal itu di diri Nathan, tapi rasanya ia sangat sulit percaya.
"Padahal kau sudah melihat banyak kebohongannya tadi. Tapi kau masih menolak untuk percaya?"
"Aku ... aku ...."
Pranggg!
Terdengar gelas jatuh. Rinda menoleh ke belakang. Nampak Bi Inah sedang berjongkok memberesi pecahan beling yang berserakan.
"Bibi ...." panggil Rinda, ia menyusut hidungnya.
Bi Inah menatap Rinda dengan pandangan yang sulit diartikan, keningnya sampai mengkerut-kerut.
"Maaf Non, bibi kaget. Kenapa Non Rinda bicara sendirian? Bibi jadi mecahin gelas ini refleks."
Rinda menutupi mulutnya. Kenapa ia begitu teledor berkomunikasi dengan Susi di sembarang tempat? Mungkin sekarang wanita paruh baya yang telah banyak melayaninya itu mengira bahwa ia telah gila.
"Non, kenapa bicara sendirian? Ya Allah ...." Bi Inah nampak berkaca-kaca, melihat Rinda dengan sorot prihatin. Jadi benar bahwa ia juga telah mengira Rinda gila.
Kesedihan kembali melanda gadis 20 tahun itu. Banyak kejadian yang membuatnya sedih belakangan ini. Tak ingin menjawab pertanyaan, buru-buru ia berlari ke kamarnya di lantai dua sambil menghapus air mata. Rasanya menyakitkan. Siapa yang bisa mendengar curhatannya saat ini, semua orang terasa tak enak lagi diajaknya bicara.
Apalagi Nathan, orang yang selalu menjadi pendengar yang baik untuknya itu juga tidak bisa ia percaya lagi.
Semua hal yang menyakitkan datang padanya dengan bertubi-tubi, sudah melihat kakaknya mempunyai pacar jahat ditambah Nathan pria yang ia cintai ternyata seorang yang b******k, sekarang ditambah juga dengan Bi Inah yang mengira bahwa ia gila juga. Semuanya menjadi menyakitkan untuk Rinda.
***
"Kamu mau kemana, Rinda?" Susi bertanya sambil melayang tepat di atas kepalanya.
"Jangan ajak aku bicara di tengah keramaian seperti ini, Susi. Nanti aku dikira gila!" ujarnya sambil menarik hoodie menutupi kepalanya.
"Maaf aku hanya heran kau mau kemana."
"Kalau kau mau tahu, ikuti saja aku."
"Oke."
Rinda memanggil seorang ojek pengkolan yang mangkal di depan komplek rumahnya. Lalu menyebutkan tempat yang ingin dikunjunginya. Ia ingin menenangkan diri. Ada danau yang tidak terlalu jauh dari rumahnya, mungkin di sana bisa sedikit menyegarkan otaknya.
Ojek berhenti tepat di pinggiran danau, Rinda mengeluarkan selembar uang dan menyerahkan pada tukang ojek yang sudah lumayan tua itu.
Ia berjalan dengan terburu-buru, kurang memperhatikan jalan hingga menabrak seorang wanita.
"Rinda?" sapa wanita yang ditabraknya itu.
"Ka-Kak Laudya?" Rinda kaget, ternyata wanita di hadapannya adalah Laudya, mantan pacar kakaknya yang sebenarnya ingin sekali ia temui.
"Kamu di sini? Ngapain?" tanyanya begitu ramah.
"Aku mau ... main aja, Kak."
"Kamu gimana kabarnya?"
"Aku ...."
"Jujur, kakak kangen sama kamu." Terlihat putih warna suara Laudya, Rinda terenyuh. Daripada Melinda, hanya Laudya yang benar-benar bisa mengambil hatinya.
"Kak, aku juga kangennnn banget ...." dipeluknya wanita dengan rok sebetis tersebut. Ia mengusap punggung Rinda dengan sayang.
"Udah lama gak ketemu. Kita duduk di kursi sana, yuk!" Laudya menunjuk sebuah kursi di pinggiran danau, yang langsung diangguki oleh Rinda.
"Ini kenapa sih keningnya, kok ditempel perban begitu? Kejedot lemari?" tanya Laudya sambil terkekeh, ia menyerahkan satu botol minuman dingin yang baru saja dibelinya di pedagang asongan yang keliling.
Rinda menggeleng,
"Aku kecelakaan parah, apa kakak gak tahu?" tanya Rinda menatap lekat wanita yang berbeda tujuh tahun darinya.
"Ya Tuhan, yang benar kamu?" Nampak kaget ekspresi Laudya, matanya sampai membulat.
"Pas pulang dari kampus aku ditabrak mobil, Kak. Terus kata Kak Satria, pas dibawa ambulance ke rumah sakit, ambulance yang membawaku juga ikut kecelakaan masuk jurang. Tapi anehnya aku masih selamat. Saat semua orang mengira aku harusnya mati." Rinda tersenyum miris, mengingat perkataan perawat rumah sakit kala itu.
"Jangan bercanda, Rinda."
"Gak mungkin aku bercanda menyangkut perihal nyawa seperti ini, Kak."
Laudya membekap mulutnya dengan tangan, sepertinya ia begitu kaget dengan kabar yang dibawa oleh Rinda.
"Ya Tuhan, lalu ....?"
"Sopir sama tim medis yang bawa aku, langsung meninggal di tempat. Aku koma sepuluh hari. Bersyukurnya, aku masih bisa membuka mata sampai hari ini."
'Lalu hidup dengan segala kemampuan mengerikan ini.' lanjutnya dalam hati.
"Sekarang kamu baik-baik aja, kan? Kamu udah sembuh, kan?" Laudya memeriksa seluruh tubuh Rinda, gadis itu hanya tersenyum. Menyadari, bahwa wanita di hadapannya begitu perhatian dan menyayanginya dengan tulus.
"Aku gapapa, aku udah sehat. Lihat aja, nih aku udah bisa jalan kesini sendiri. Jalanku normal, gak pake tongkat." Rinda tersenyum lebar menampilkan deretan giginya yang rapi.
"Syukurlah, kakak kaget banget denger kabar kamu, Rinda. Maaf kakak gak datang sama sekali menjenguk kamu, di masa-masa kritis kamu.
Kakak ... kakak gak tahu." Kalimat terakhir ia ucapkan begitu lirih.
"Kak, kenapa ...."
"Kakak sudah putus dari Satria, Rinda." Padahal kalimat Rinda belum selesai diucapkan, tapi Laudya sudah langsung menjawabnya.
"Kenapa kakak putus sama kakakku? Apa kalian sudah tidak saling cinta?"
Kali ini wajah Laudya nampak muram. Ia menunduk, lalu menggeleng pelan.
"Semuanya hanya salah paham."
"Ceritakan, Kak."
"Apa Satria gak cerita sama kamu?"
Kali ini Rinda yang menggeleng.
"Kalau kakak cerita apa kamu percaya?"
Rinda mengangguk cepat.
Tentu saja. Mana mungkin Rinda tidak percaya. Rasa sedih putus dengan Satria yang begitu mendalam, warna suara putih yang selalu diucapkannya, juga ketulusan yang ia tampilkan, membuat Rinda begitu mempercayai wanita bernama Laudya itu.
"Ini hanya salah paham, Rinda. Waktu di tempat kerja, waktu itu mata kakak sempat kelilipan sesuatu. Teman kakak, cowok, bermaksud membantu untuk melihat apa ada sesuatu yang masuk. Saat itulah, Satria datang. Dia malah mengira kakak dan teman kakak itu ... ehmm, lagi ... lagi ciuman.
Satria langsung marah dan menghajar teman kakak. Kakak berkali-kali mencoba menjelaskan, tapi ... Satria gak mau mendengarkan kakak sama sekali. Dia seperti sudah terhasut oleh omongan seseorang kalau kakak 100% benar selingkuh. Yah seperti di film-film kejadiannya, hanya karena kelilipan sesuatu, hubungan kakak sama Satria harus kandas begitu saja." lanjutnya begitu murung.
"Tapi kakak gapapa, mungkin ini sudah takdir Tuhan. Kamu kalau gak percaya sama kakak gapapa." Laudya mencoba tersenyum, walau terlihat begitu dipaksakan.
Rinda menggeleng. Mana mungkin Rinda tidak percaya, setiap kata yang keluar dari mulutnya begitu putih dan alami.
Ya, sepertinya Rinda punya banyak PR untuk ke depannya. Satu, ia harus bisa melihat dengan benar wajah asli Nathan yang sesungguhnya. Dua, ia harus bisa membuktikan bahwa Melinda punya niat jahat kepada kakaknya. Tiga, dia harus bisa membuat Satria dan Laudya bersatu kembali. Karena yang terjadi pada mereka hanyalah kesalahpahaman semata.
***