Matahari masih bersembunyi, langit pun masih gelap. Suara ayam berkokok dan dentingan sendok yang berpadu dengan besi wastafel terdengar menggema di ruangan hingga membuat gadis 20 tahun itu membuka mata. Mengucek mata yang masih terasa kantuknya, lalu melirik jam yang jarumnya mengarah ke angka lima, masih subuh. Bi Inah yang sudah berkutat dengan tugasnya di dapur cukup membangunkan Rinda pagi-pagi.
Rinda bangkit dari posisinya, lalu bergegas ke kamar mandi yang ada di kamarnya. Hari ini ia akan mulai untuk kuliah. Aktivitas yang sempat tertunda karena gadis itu mengalami kecelakaan dan harus memulihkan kondisinya terlebih dahulu.
Sedikit gugup rasanya, karena ini adalah hari pertamanya lagi ke kampus, mengingat kejadian saat ia salah kostum waktu ospek hari itu, ia seperti kehilangan muka. Dalam hati ia merapal doa, semoga saja saat kedatangannya nanti semua orang sudah lupa bahwa ia adalah maba (mahasiswi baru) yang pernah ditertawakan satu kampus sampai harus dikerjai oleh seorang kating rese yang menyebalkan.
Rinda memoles tipis bedak bayi yang harumnya seperti aroma buah tepat ke wajahnya yang putih, saat ritual mandinya sudah selesai. Entahlah, sampai usianya 20 tahun kini gadis itu masih betah dengan bedak bayi yang aromanya sangat menenangkan baginya. Sangat berbeda dengan gadis-gadis lainnya, yang dari masa-masa SMP saja sudah hapal dengan segala jenis make-up, dan mendempulkan wajah-wajah mereka dengan bedak padat yang tebal.
Setelah tidak terlalu pucat, ia mengambil lip tint dan memakaikannya di bibirnya yang berwarna kemerahan. Memasukkan dua benda andalannya tersebut ke dalam tas untuk dipakai lagi nanti jika diperlukan, lalu ia bergegas turun dan memulai sarapannya.
Sambil mengunyah makanannya di dalam mulut, ia memikirkan misi mana yang akan ia dahulukan terlebih dahulu. Misi pertamakah? Kedua? Atau bahkan ketiga?
Setelah menimbang-nimbang cukup lama, akhirnya ia putuskan untuk mencari tahu dulu wajah Nathan yang sesungguhnya. Kebetulan hari ini ia sudah mulai kuliahnya, maka ia mulai misi pertamanya di kampus. Rinda menarik nafas dalam-dalam, menguatkan hati apapun nanti yang akan ia ketahui tentang Nathan, Rinda bertekad harus kuat dan siap melepaskan laki-laki yang dibilang b******k oleh temannya yang tak kasat mata itu. Ya, dia Susi.
"Yakin mau ke kampus hari ini? Kondisi kamu sudah benar-benar membaik?" tanya Satria yang duduk di seberang Rinda, ia juga sudah siap untuk ke toko.
Rinda mengangguk yakin tanpa mengeluarkan suara.
"Kalau gitu, gak boleh naik angkutan umum. Kakak suruh teman kakak antar jemput kamu, ya?"
Rinda mengangguk saja, memahami kekhawatiran kakaknya. Pasti Satria trauma dengan kecelakaan yang menimpanya belum lama ini. Jujur, Rinda pun jadi sedikit trauma saat menyeberang jalan.
***
Langkah gadis cantik dengan rambut sepunggung itu nampak melambat saat memasuki gerbang kampus. Beberapa pasang mata menatapnya dengan pandangan entah, ada yang tersenyum, ada yang menatapnya lekat, ada juga yang berbisik. Rinda membatin, seakan-akan mereka sedang membicarakan kebodohannya yang salah kostum kala itu.
"Itu kan maba yang pernah salah kostum di hari pertama ospek itu, kan? Kok baru kelihatan lagi, ya?"
"Malu mungkin diketawain orang satu kampus."
Demikian bisikan dua orang wanita yang baru saja ia lewati di lorong, detik kemudian malah cekikikan bersama, membuat dadanya bergemuruh kesal.
'Huh, enak saja, aku gak sepengecut itu ya! Aku kecelakaan, makanya baru bisa datang lagi sekarang.'
Sayangnya kalimat tersebut hanya ia ucapkan di dalam hatinya. Rinda berjalan terus tak ingin mempedulikan pembicaraan kakak tingkatnya itu, lalu memasuki gedung dengan plang jurusan ekonomi, terakhir kepalanya sedikit celingukan mencari plang tingkat semester yang sesuai dengannya, semester satu. Yang ternyata langsung berada di ruang terdepan. Di sanalah tempatnya akan menimba ilmu.
Rinda memasuki kelas yang sudah ada beberapa orang di dalamnya, lalu memilih bangku yang sedikit ke belakang. Beberapa orang sampai menoleh ke belakang mengikuti arah geraknya.
"Hai, kamu maba yang waktu itu pernah salah kostum, kan?" sapa seorang wanita menghampirinya. Parasnya cantik dengan tubuh ramping.
Rinda mengangguk sambil tersenyum.
"Kok baru keliatan lagi? Kemana aja gak ikut ospek sampai selesai?" tanyanya lagi.
Sepertinya kabar kecelakaannya tidak diketahui keluarga kampus sama sekali, wajar saja karena saat ia kecelakaan waktu itu kostum yang ia kenakan sama sekali tidak mencerminkan seorang mahasiswa. Tapi, Satria sudah menceritakan bahwa ia sudah memberi kabar tentang Rinda itu ke para pengurus kampus untuk meminta izin agar Rinda bisa memulihkan diri.
"Aku dapat musibah waktu itu, kecelakaan sampai harus memulihkan kondisi. Ini baru sembuh." jawab Rinda.
"Oh ya ampun, jadi kamu kecelakaan? Aku turut sedih ...."
Gadis di hadapannya memasang wajah prihatin. Terlihat begitu simpati. Rinda tersenyum, hatinya senang melihat ada yang peduli dengannya. Teman baru yang menyenangkan, pikirnya.
"Makasih, ya?"
"Iya, kenalin aku Seli." Gadis bernama Seli itu mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat, yang langsung Rinda sambut.
'Kenapa gak sekalian mati aja sih, sial banget! Kenapa juga harus masuk kelas ini! Padahal yang paling cantik di kelas ini kan aku, kalau kedatangan dia bisa tersaingi kedudukanku.'
Deg!
Senyum Rinda langsung memudar, barusan itu ...
Seketika suasana hatinya langsung berubah drastis, ia kira ia akan mempunyai teman yang menyenangkan, tapi kalimat yang ia dengar barusan itu ... sangat sangat menyakitkan!
"Hai kamu Rinda, kan? Baru kelihatan lagi, ya. Jadi kamu masuk kelas ini?" Seorang gadis lainnya menghampiri Rinda dan duduk tepat di kursi terdekatnya.
Rinda mengangguk, menatap dalam-dalam gadis kedua yang mendekatinya. Apa gadis ini pun sama dengan Seli?
"Kenalin aku Miska. Ternyata kita sekelas. Istirahat nanti kita ke kantin bareng, yuk?"
'Cantik banget, pasti bakal populer yang begini. Aku harus bareng dia nih, biar kecipratan populernya. Hihi ....'
Deg!
Rinda tertegun, menatap dua orang gadis yang masih berada di hadapannya. Seli dan Miska, keduanya ....
Ada luka di sudut hatinya yang terdalam.
"Aku ga bisa, istirahat nanti mau keluar ada perlu." ucapnya tanpa menoleh pada mereka lagi. Setelah mengetahui isi hati masing-masing, Rinda sudah tidak bisa menampilkan keramahannya lagi pada orang bulus seperti mereka.
'Dih, sombong banget. Mentang-mentang cantik, cih!'
Tak dipedulikan lagi suara sumbang yang terdengar di telinganya, Rinda beranjak dan berpindah ke kursi yang berada di pojok ruangan. Tatapan Seli dan Miska yang semula terlihat ramah itu kini menatapnya tak suka. Lalu keduanya terlihat berbisik bersama. Rinda tak ingin peduli!
Lalu saat kelas mulai ramai, banyak pandangan yang mengarah padanya. Yang laki-laki menatapnya kagum.
'Tuhkan, jadi pusat perhatian laki-laki sekelas! Sial banget, sial!!!'
Rinda memejamkan mata, suara tersebut terasa begitu mengganggunya. Rinda datang ke kampus ini untuk belajar, bukan untuk numpang eksis. Jika dia terlahir cantik, itu adalah karunia Tuhan. Bukan ia sendiri yang menciptakan pahatan sempurna itu di wajahnya. Kenapa semua orang menjunjung tinggi kecantikan wajah?
Detik selanjutnya tubuhnya tersentak kaget saat dengan tiba-tiba sosok wanita muncul di hadapannya begitu saja dengan wajah terkelupas dan mata yang putih semua. Hampir saja ia menjerit, namun sebisa mungkin langsung menguasai keadaan. Dadanya berdebar kencang saat sosok tersebut seperti begitu mengamatinya meski bola matanya putih semua.
"Sudah kuduga kau bisa melihat kami." Suara serak berat itu berucap, membuat tengkuknya merinding seketika.
Dalam keadaan seperti ini yang pertama kali diingatnya adalah Susi. Andaikan Susi ikut dengannya, mungkin dirinya jauh lebih berani. Tapi Susi memilih tetap di pohon mangga, sebab di seberang rumah Rinda ada rumah yang sedang direnovasi. Sialnya, ada satu tukang bangunannya begitu tampan hingga Susi tak mau beranjak sedikit pun dari tempatnya.
"Itu ada duda tampan, Rinda. Aku mau jadi pendampingnya, ah!" ujar Susi tadi saat Rinda mengajaknya untuk ikut berangkat kuliah.
"Jangan menggangguku, tolong pergi dari hadapanku." Pelan sekali Rinda berucap, takut didengar oleh temannya.
"Tidak, sudah lama kami menantikan ada orang yang seperti kamu. Akhirnya hari ini kami menemukannya."
"Apa maksudmu?"
Tiba-tiba saja sosok tersebut memekik, suaranya begitu melengking hingga telinga Rinda terasa sakit. Dipegangnya sebelah kupingnya tersebut, tidak mengerti dengan tingkah wanita aneh menyeramkan di hadapannya.
"Apa yang kau lakukan? Telingaku sakit." ucap Rinda merasa kesakitan.
"Aku sedang memanggil teman-temanku untuk datang ke sini dan melihatmu."
"Tidak! Jangan!! Apa yang kau lakukan?" pekik Rinda begitu panik.
***