"Kenapa Aku Jadi Begini?"

1491 Kata
"Tidak! Jangan!!! Apa yang kau lakukan?" Rinda mencoba mencegah. Tak ingin sekali ia dikelilingi oleh makhluk tak kasat mata. Demi apapun, Rinda datang ke kampus untuk belajar. Bukan untuk numpang tenar apalagi berkomunikasi dengan bangsa lain. "Kami sudah lama menantikan manusia yang sepertimu, pasti temanku senang jika mendengar kabar ini." Tak lama kemudian ruangan kelas terasa sesak. Mereka datang berbondong-bondong memenuhi ruangan kelas. Rinda memejamkan mata saat menyadari, ulah wanita di hadapannya telah sukses mengundang para penghuni lain yang kini tengah menatapnya lekat. "Dia istimewa, dia bisa melihat kita semua." ujar sosok yang entah siapa, Rinda tak berani membuka mata. Lalu terdengar mereka semua tertawa. Membuat Rinda ingin menangis saja. "Kok mendadak panas sih ini kelas." seru Miska sambil mengipasi diri dengan kipas manual yang sengaja ia bawa. Udara terasa kosong baginya, seakan ia tengah bertukar udara dengan banyak orang di satu ruangan yang sempit. "Kirain gue doang yang ngerasa, lo juga ngerasa ya?" sahut temannya yang kini juga terlihat meneteskan peluh di dahinya. "Kaya lagi ada banyak orang aja. Padahal baru ada setengahnya aja yang datang di kelas kita." sahut yang lainnya lagi yang begitu peka. Rinda hanya mampu mendengarkan, tapi tidak tahu caranya mengusir semua makhluk tersebut agar pergi dari hadapannya. "Kalau gue malah ngerasa merinding, ini bulu kuduk gue pada bangun. Kenapa coba ini?" yang lainnya ikut menimpali. "Aku mohon pergi. Jangan ganggu aku, jangan ganggu teman-temanku." Rinda membuka mata, suaranya pelan sekali. Badan sedikit membungkuk menghampiri meja sedang tangannya menutupi kedua telinga tatkala mendengar bisingnya mereka membicarakan dirinya. "Kau bisa melihat kami. Akhirnya ada yang bisa melihat kami. Hahahaha ...." "Hahahaha ...." "Hahahaha ...." "Hahahaha ...." Suara tawa membahana masuk ke pendengarannya, seakan-akan mereka tengah mentertawakan ketidakberdayaan dirinya dalam menghadapi banyaknya bangsa mereka yang datang berbondong-bondong. "Diam aku mohon. Kepalaku sakit mendengarnya." Lirih Rinda berucap, sedang kedua tangannya masih bertengger di kedua sisi kepalanya. "Hahahaha ...." "Hahahaha ...." "Diam! Kumohon ...." "Hahahaha ...." "Diammm!!" "Hahahaha ...." "DIAAAAMMMMMMMM!!!!" Rinda berteriak keras, tangannya sampai menggebrak meja hingga semua mahasiswa dan mahasiswi di kelasnya terperanjat kaget. Semua mata memandangnya penuh keheranan, sedang Rinda hanya bisa terdiam dengan napas memburu. Dadanya nampak naik turun. "Kenapa, tuh?" ujar salah seorang teman barunya yang mewakili pertanyaan mereka semua. "Eh sorry, lo keberisikan ya ngedenger kita ngobrol?" celetuk salah satu gadis dengan rambut yang berwarna kecoklatan, Rinda menjadi salah tingkah. Ekspresi wajahnya terlihat merasa bersalah, tapi mulutnya bungkam. Ya Tuhan! Apa yang baru saja Rinda lakukan? Gadis itu menggigit bibir. Tidak tahu harus menjawab apa. Gara-gara makhluk halus yang muncul di hadapannya begitu banyak membuat Rinda kehilangan kontrol diri dan tanpa sadar malah meneriaki bangsa mereka. Yang ternyata telah membuat teman-temannya salah sangka dan mengira bahwa merekalah yang tengah Rinda teriaki. "Hahahaha ...." Kembali terdengar tawa mereka yang tak kasat mata. Seakan begitu bahagia melihat Rinda bertindak hal yang membuat orang salah paham tentang dirinya. Lalu satu persatu dari mereka melesat pergi. Ada yang terbang, ada yang melayang, ada yang melompat, bahkan ada juga yang merangkak dan mengesot. "Nanti kita ketemu lagi, ya? Ada yang ingin bertemu denganmu." ujar salah satu dari mereka. Lalu mereka semua meninggalkan Rinda yang kini jadi pusat perhatian teman-temannya dengan berbagai anggapan di benak mereka masing-masing. "Kalau keberisikan gue minta maaf. Kan dosennya belum datang juga, jadi ya wajar aja kan kalo kita ngobrol?" celetuknya lagi dengan nada tak suka. "Bukan, bukan gitu." "Terus?" "Aku ...." 'Aneh banget.' 'Gak tau malu, baru pertama datang tiba-tiba teriak suruh kita diam. Emang dia siapa? Anak presiden?' 'Muka boleh cantik, tapi tingkahnya kok sok berkuasa?' 'Ini sih CCA. Cantik cantik aneh.' Berbagai suara sumbang terdengar kembali. Dadanya kini terasa sesak mendengar segala penilaian orang tentang dirinya. Sungguh sangat menyakitkan, saat dirinya tahu bagaimana mereka mengumpat tentang dirinya di dalam hati mereka. "Maaf!" ujarnya sambil meraih tas selempang yang berada di atas meja, lalu setengah berlari Rinda keluar kelas. Meninggalkan sejuta tanda tanya teman-teman barunya. Rinda berlari menyusuri lorong, masih terdengar suara sumbang itu tentang dirinya. Untuk itu ia berlari, tak sanggup lagi untuk mendengar semua hal yang orang katakan tentang dirinya. "Ayah, Bunda ... kenapa aku jadi begini?" lirihnya sambil berlari tanpa henti, sedang pipinya terlihat basah karena tetesan air mata. *** Jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul delapan. Mungkin saja mata kuliah pertama di kelasnya sudah dimulai. Tapi Rinda tak ingin beranjak, ia merasa tidak punya muka lagi untuk masuk ke kelasnya. Dan yang paling membuatnya tak berani masuk lagi adalah karena ia begitu takut mendengar suara hati mereka yang pasti akan mengumpatnya lagi seperti tadi. Andaikan Rinda tidak memiliki kemampuan bisa mendengar suara hati setiap orang, pasti ia bisa lebih berani untuk berinteraksi dengan teman-temannya. Tapi semua yang telah ia dengar tadi mengenai penilaian mereka tentang dirinya, membuatnya begitu enggan untuk berinteraksi lagi dengan mereka. Sebab ia sudah tau anggapan orang tersebut tentangnya itu. Itu membuatnya kesulitan. Sungguh, kejadian lima belas menit yang lalu itu terasa sangat memalukan baginya. Juga ... menyedihkan! Setelah mencari tempat pelarian yang cukup lama, akhirnya Rinda mendapati sebuah batu besar di dekat danau. Ia telah keluar dari gerbang belakang kampus. Ia memilih tempat tersebut untuk menyendiri, menenangkan dirinya juga untuk menangis dan meluapkan segala emosi jiwanya. Tisu-tisu terhampar di hadapannya, sedari tadi ia tidak berhenti menangis. Menyesali keadaan dirinya yang mengapa bisa memiliki kemampuan tak masuk akal tersebut. "Aku mau hidup seperti dulu, Bun. Aku gak bisa hidup dengan kemampuan ini, Ayah ...." ujarnya dalam isakan, menyebut kedua orang tuanya yang telah lama pergi mendahuluinya karena kecelakaan pesawat beberapa tahun lalu. "Kenapa aku selamat saat kecelakaan saat itu. Kalau boleh memilih lebih baik aku mati saja, daripada hidup dengan kemampuan aneh ini. Lebih baik aku menyusul kalian saja, Ayah, Bunda ...." Lirihnya begitu putus asa. Diambilnya batu kerikil kecil yang berada di bawah kakinya, lalu melemparkannya pada danau kecil di belakang kampusnya itu, menyisakan bunyi 'byrrr' saat batu yang dilemparnya bertemu air dan akhirnya tenggelam. Lalu tiba-tiba sekelompok bangsa dari mereka datang lagi, tapi kali ini tidak sebanyak tadi. Rinda takut, tapi untuk lari pun ia tak kuat. Lututnya lemas menghadapi berbagai macam dan bentuk dari mereka. Akhirnya ia memilih pasrah, kalau akhirnya kedatangan mereka karena menginginkan nyawanya. Begitulah yang ada di pikiran Rinda saat itu. "Kenapa kalian datang lagi? Kalian mau membunuhku, hahhh???" Teriaknya sambil menangis, antara takut dan benci karena terus diganggu oleh mereka. "Sudahlah! Sepertinya dia tidak bisa membantuku. Apa kalian juga tidak melihat, dia tidak kalah menyedihkan dariku?" ucap sosok wanita yang terlihat begitu menyedihkan, entah kenapa. Ia berada di deretan para makhluk yang tadi datang kepada Rinda di kelas. Rinda menatap sosok tersebut. Sorot matanya menyiratkan kesedihan, disaat yang bersamaan ia juga melihat keinginannya untuk dibantu oleh seseorang. "Kau kan butuh bantuan manusia." ucap sosok yang berada di sampingnya. "Tapi aku tak bisa meminta bantuan darinya. Dia juga seperti butuh bantuan." Rinda terdiam, ia tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. "Jadi kau mau bagaimana?" tanya sosok wanita yang matanya putih semua. "Suatu saat aku akan datang kepadanya kalau dia sudah siap. Untuk saat ini, sepertinya belum." ujarnya lagi. "Ya sudah kalau begitu." Lalu secara perlahan, sosok mereka mulai terbang menjauh. "Suatu saat aku akan meminta bantuan padamu, kalau kau sudah siap dan cukup tangguh." teriak sosok yang tadi menyedihkan melambaikan tangannya pada Rinda. Rinda tidak mengerti apa yang terjadi. Gadis itu hanya menatap mereka yang melayang semakin jauh. Ia juga tidak cukup mengerti dengan maksud ucapan sosok wanita yang terlihat sangat menyedihkan itu. Ia menyusut hidungnya, ia kira ia akan dibunuh oleh mereka. Tapi ternyata ia salah. Setelah mereka menghilang, tak lama kemudian dirinya dikejutkan oleh tepukan kecil di bahunya hingga gadis itu tersentak. Menengok ke belakang, Rinda mendapati seorang nenek tengah tersenyum padanya. Buru-buru Rinda menengok ke bawah, melihat kedua kaki yang dimiliki sang nenek. Deg! Ia menelan ludah, benar saja kedua kakinya tidak menapak tanah. Terdengar kekehan sang nenek hingga kedua giginya yang kehitaman terlihat. "Tenang saja! Nenek tidak jahat, Nduk." ujarnya seperti menenangkan. "A-aku, ja-jangan mengagetkanku." Rinda menjawab, matanya melirik ke arah samping. "Tidak masuk kelas?" tanya sang nenek. Rinda menggeleng. "Bukannya sekolah itu untuk belajar?" tanya sang nenek lagi. "Aku ...." "Nenek mengerti kesulitan kamu," Pandangan Rinda langsung teralih ke wajah nenek tua yang rambutnya memutih semua. Meski nampak menyeramkan karena giginya hitam, tapi Rinda mulai memberanikan diri. "A-aku ... aku gak bisa bersama dengan orang-orang yang gak menyukai aku, Nek." "Kamu hanya belum siap." Mata Rinda membulat. Sepertinya ucapan nenek tua di hadapannya cukup mengusik dirinya. "Cepat atau lambat, kamu harus bisa dan terbiasa." Kali ini Rinda membuang wajah. Lagi, ucapannya mengusik dirinya. "Sekarang boleh kabur karena belum siap. Tapi lain kali, hadapi!" Rinda terdiam, meski sosok di hadapannya hanya makhluk tak kasat mata, tapi semua yang diucapkannya begitu positif dan bisa membuatnya merasa lebih baik. "A-apa aku bisa?" tanya Rinda seperti tidak yakin. "Pasti bisa." Lama Rinda terdiam, menit kemudian ia tersenyum menatap lawan bicaranya. "Makasih, Nek." ucapnya begitu sopan. Tanpa disadari Rinda, ada sosok laki-laki yang sedari tadi memperhatikannya dari kejauhan, karena telah memergokinya tengah berbicara sendirian. Entah ke siapa! ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN