Bertemu dengan Kating Rese

1178 Kata
Jam di pergelangan tangan menunjuk ke arah delapan lewat lima belas menit. Setengah berlari seorang pemuda melewati jalan setapak di belakang kampus yang lebat rumputnya juga tinggi, beberapa tangannya sampai menyibak ilalang yang tinggi demi mencapai tempat tujuannya. Namanya Arga Aliftian, seorang mahasiswa cerdas yang disukai para dosen sekaligus seorang Ketua BEM yang sangat diandalkan oleh teman-temannya. Pagi ini ia bangun kesiangan. Hal yang tidak pernah terjadi dalam hidupnya setelah ia beranjak dewasa. Arga memang seseorang yang sangat disiplin. Segala aktifitasnya tersusun rapi dan selalu terencana. Tapi kejadian semalam membuatnya tak bisa tidur sampai jam empat pagi. Kata orang-orang di sekitar rumahnya, ibunya kesurupan sebab bertingkah aneh dan di luar kesadaran. Arga yang awalnya tidak pernah percaya dengan hal-hal tak logis dalam hidupnya, kini dipaksa percaya karena memang benar-benar terjadi pada orang terdekatnya. Tapi meskipun dipaksa percaya, entahlah hatinya bisa benar-benar mempercayai atau tidak. Setelah melalui malam yang panjang, akhirnya ia bisa beristirahat saat hampir menjelang pagi. Imbasnya, jadilah ia bangun kesiangan. Predikat Mahasiswa Terdisiplin yang tersemat dalam dirinya kini terancam, ide itu pun terlintas untuk masuk lewat gerbang belakang kampus supaya tidak ada dosen yang memergokinya terlambat jika lewat gerbang depan. Tapi di sela-sela usahanya, langkahnya terhenti saat mendapati seorang gadis dengan rambut panjang sepunggung nampak duduk di batu besar dekat danau. "A-aku ... aku gak bisa bersama dengan orang-orang yang gak menyukai aku, Nek." ucapnya entah pada siapa. Mata Arga memicing, meneliti sosok gadis di hadapannya yang hanya berjarak sekitar 10 meter tersebut. Sampai akhirnya ia menyadari setelah sosok di hadapannya itu menengok ke arah samping, dia adalah gadis yang pernah ia kerjai saat ospek beberapa waktu lalu karena terlambat dan salah kostum. Rinda, ya namanya Rinda. Arga tertawa jika mengingat kejadian tersebut. Terasa lucu baginya. Sayangnya, gadis itu hanya datang di hari pertama saja. Karena setelah itu, ia mendapati kabar keabsenannya dari ketua kelompok ospek. Kini ia menjadi penasaran, kenapa gadis cantik itu berbicara? Bukankah dia sedang sendirian? Mendadak ia lupa pada langkahnya yang sedang terburu-buru, justru malah terdiam di tempat untuk melihat kelakuan gadis tersebut lebih lanjut. "A-apa aku bisa?" lanjut Rinda lagi belum menyadari bahwa ada seseorang yang kini tengah memperhatikannya dengan kening mengkerut. "..." "Makasih, Nek." ucapnya terlihat begitu sopan. Mata Arga membulat kini, melihat ke sekitar. Tidak ada siapa pun. Lalu ... dengan siapa gadis itu bicara? Mendadak tengkuknya merasa merinding, hal yang sama persis ia rasakan saat ibunya berteriak-teriak tidak jelas semalam. Langkahnya bergerak ke arah kiri. Harusnya ia berbelok ke kanan untuk mencapai gerbang belakang kampus. Tapi mendadak tujuannya berubah, entah kenapa! Satu ide tercetus dalam pikirnya, bagaimana kalau mengerjai gadis lucu itu sebelum masuk kelas? Saat mengerjai dirinya di waktu ospek saja, Arga senang sekali. Bolehlah dikerjai sekali lagi. "O-oh lihat! Ada yang bolos rupanya, ya?" Arga menghampiri membuat Rinda kaget dan kelabakan. "Ckck!" Sambil menggeleng-gelengkan kepala, laki-laki tersebut berdecak. Seakan-akan sedang menakut-nakuti gadis di hadapannya dengan ekspresinya tersebut. "E-ehh, a-anu ... aku ...." Rinda tergagap sesaat. "Lohhh!!! Kamuuuu?" ucapannya kini terputus saat menyadari siapa laki-laki di hadapannya. Ya, dia adalah sosok yang sangat menyebalkan di matanya. Masih terekam jelas dalam ingatannya, bagaimana ia dikerjai habis-habisan oleh laki-laki di hadapannya itu. "Kakak kating nyebelin itu, kan?" Tanyanya dengan sewot. "Kating nyebelin? Wah, gak ada kamusnya tuh saya dipanggil kating nyebelin. Yang ada kating terfavorit dan terganteng yang pernah ada. Lupa nama saya? Saya ingetin ya, nama saya Arga Aliftian. Ketua BEM yang tampan dan mengagumkan!" ujarnya kepedean sambil menyugar rambutnya yang hitam. Rinda terdiam sesaat menyadari ketampanan pria di hadapannya, detik kemudian ia mencibir. "Ish! Kegeeran!" "Ngapain sendirian di sini coba? Ngerokok ya? Atau ngisep? Hayoo ngaku?" Arga menuduh, tapi sebenarnya tidak benar-benar menuduhkan hal tersebut. Tadi ia sudah melihat sendiri gadis itu hanya berbicara sendiri, pada udara kosong. "Ihh enggak! Enak aja!" Rinda menyahut sengit. "Ayo ayoo ikut, biar kulaporkan kamu ke dosen! Mahasiswa baru udah nakal aja. Dikasih nilai C baru tahu rasa!" ancamnya lalu mendekat dan menarik tas selempang yang dikenakan Rinda, hingga mau tak mau gadis tersebut terpaksa mengikuti. "Hey, hey, Kak aku gak ngerokok apalagi ngisep! Kakak jangan asal nuduh!" "Habis apalagi dong? Sendirian di tempat sepi masa cuma bengong doang?" "Terserah aku dong, mau ngapain kek. Yang jelas bukan ngerokok ataupun ngisep. Kakak sendiri ngapain di sini? Pasti kakak telat kan? Terus nyari aman lewat pintu belakang, kan?" Tebak Rinda tepat sekali! Arga langsung menghentikan langkah, menatap pada gadis yang saat ini sedang menghentak-hentakkan kaki karena kesal. Tebakan gadis ini benar sekali. Ahhh, harus dijawab apa, ya? Pikir Arga. "Ahh pokoknya harus ikut ke kantor." ucapnya sambil kembali berjalan. "Gak mau!" "Ikut dulu!" "Gak mau!" "Ikut!" "Gak mau, Kak! Stop, hey ... reseee!" Langkah mereka tepat memasuki gerbang belakang kampus. Rinda terpaksa mengikuti Arga yang menarik tas selempangnya. Bukan apa-apa, tas yang dikenakannya sekarang ini dari Maldives, oleh-oleh dari keberangkatan kakaknya satu tahun lalu. Bisa saja dia memilih kabur, tapi ia harus merelakan tasnya rusak, dan Rinda tidak mungkin bisa seperti itu. Rinda memutar otak, bagaimana caranya agar pegangan Arga lepas dari tas kesayangannya. Dilihatnya tangan yang mengepal itu, akhirnya ia memberanikan diri. "Awwww ...." Detik kemudian Arga memekik kaget, spontan ia langsung mengangkat tangan merasakan sakit di punggung tangannya. "Sukurin, wleeee ...." Seperti mendapatkan kesempatannya, Rinda langsung berlari kencang dan kabur dari hadapan Arga. Dilihatnya gadis yang berlari ke belakang gudang tersebut, lalu beralih ke punggung tangannya. "Malah ngegigit ampuunn, dasar cewe jadi-jadian!" umpatnya sambil menggelengkan kepala. Detik kemudian Arga baru sadar, bukankah tadi ia sedang buru-buru karena takut terlambat? Tapi kenapa dia malah membuang waktu dengan menjahili gadis itu lagi? Kali ini ia tepuk jidat. *** "Sial banget, kenapa harus ketemu sama dia lagi? Itu orang emang udah rese dari sananya ya? Ish, kenapa harus aku terus yang jadi korban keresean-nya dia." sambil berjalan Rinda menggerutu sendirian. Berjalan entah kemana, mengikuti kemana kakinya melangkah. Melihat di depan ada gudang yang cukup besar, langkahnya berhenti. Ada beberapa makhluk tak kasat mata yang menatapnya lekat. Ia ingin bersembunyi dulu, pada siapa pun orang yang ada di kampus ini. Ia belum siap kalau harus balik lagi ke kelasnya. Menarik nafas dalam-dalam, ia melanjutkan langkah. "Permisi, saya gak ganggu. Kita masing-masing, ya." Rinda mengucapkan permisi, untuk menghargai keberadaan mereka yang menunggu tempat tersebut. Mungkin ia akan bersembunyi di balik gudang tersebut terlebih dahulu, sungguh ia masih butuh kesendirian dan ketenangan. Walau mungkin bisa saja nanti ia akan ditemani oleh mereka, tapi itu lebih baik daripada harus berhadapan dengan teman-temannya di kelas. Rinda berjalan terus menelusuri bangunan gedung yang lumayan luas tersebut. Sampai akhirnya langkahnya berhenti kala mendapati dua orang anak manusia tidak jauh darinya. Mata Rinda membulat kaget saat melihat sang wanita yang diperangkap dalam kungkungan seorang pria. Hampir saja ia mengira bahwa wanita tersebut tengah dilecehkan, detik kemudian baru menyadari saat sang wanita melingkarkan tangannya di leher pria tersebut dan mereka bertindak m***m di sana. Rinda menutup mata, niat hati ingin menenangkan diri tapi malah melihat hal seperti ini. Sesaat gadis itu belum menyadari sesuatu, tapi saat melihat sebuah sweater yang di sematkan di tas selempang milik pria barulah Rinda kaget bukan kepalang. Sweater itu ... Laki-laki itu ... "Kak Nathan?" Deg! ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN