"Kak Nathan?"
Deg!
Rinda mematung di tempatnya. Kakinya seperti dipaku ke bumi, sulit sekali untuk beranjak. Pemandangan di depan mata membuatnya sangat syok sampai gadis itu tidak bisa berkata apa-apa dan tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya air matanya yang kini tumpah sebagai tanda betapa hatinya merasakan sakit atas segala pengkhianatan seorang laki-laki yang menjanjikannya cinta dan kesetiaan untuknya.
"Jadi benar penglihatan ini? Kakak memang sebrengsek ini?" isaknya dengan air mata bercucuran.
"Hmmmm, udah sayang." ucap sang wanita melepaskan diri, dia belum menyadari kehadiran Rinda.
"Aku mau lagi."
"Nanti di hotel, akan ku kasih lebih dari ini."
Deg!
Ya Tuhan!
Rinda membekap mulut. Menahan isakan yang ingin sekali meledak. Bahkan sudah sejauh itu hubungannya dengan wanita lain. Lututnya lemas seketika merasakan kepedihan hatinya.
"Janji?" ucap Nathan sambil mengacungkan jari kelingkingnya.
"Kapan aku ingkar? Setiap kamu minta pun, kapan sih aku gak kasih?"
"Makasih sayang. Kamu yang terbaik."
Keduanya tertawa dan sedikit membenahi penampilan. Sampai pada keduanya menoleh, barulah mereka tersentak kaget.
Di kejauhan sana, seorang gadis berdiri terpaku dan sibuk mengusap air mata.
"S-Sweety?" ucap Nathan begitu syok. Dalam sekejap Nathan langsung melepas tangan gadis di sebelahnya dan bermaksud menghampiri Rinda.
"Stop!" Rinda berteriak, tangannya terulur ke depan dan menampilkan telapak tangannya sebagai isyarat agar Nathan tetap di tempat. Kentara sekali gelagat Nathan yang hendak berlari ke arahnya.
"Aku bisa jelasin, Sweety. Semuanya gak seperti yang kamu lihat!" ucap Nathan dengan panik.
"Aku udah lihat semuanya, dari tadi. Aku ... aku udah tau sekarang." isak Rinda tak tertahankan.
"Sayang, siapa gadis itu?" Kali ini wanita yang bersama Nathan bersuara, matanya tajam menatap ke arah Nathan menuntut jawaban.
"Dia cuma teman aku, Sweety. Kamu harus percaya sama aku." Selangkah Nathan maju, Rinda mundur ke belakang.
"Hey! Teman? Kamu anggap aku teman?" Sang wanita protes tidak terima, tapi Nathan terlihat tidak peduli. Wajah wanita yang sempat begitu mendamba kini langsung berubah dan melotot seketika.
"Kita kan memang teman. Kamu pikir apa lagi? Apa aku udah pernah bilang bahwa aku cinta sama kamu? Apa aku pernah minta kamu buat jadi pacar aku? Gak pernah, kan?"
"Tapi kamu selalu panggil aku sayang. Bahkan hubungan kita udah bukan seperti pacaran lagi, tapi seperti suami-istri!! Bahkan bukan sekali kita melakukan itu, tapi berkali-kali Nathan!!!"
Deggg!
Rinda membekap mulut. Tidak menyangka, separah itu Nathan mengkhianati dirinya.
"Ya Tuhan!" isak Rinda begitu terluka.
"Please Yuni, we are just benefits friend. Didn't you understand it? Bahkan saat pertama kali kita melakukan aja, kamu itu udah gak perawan, kamu udah biasa kan melakukan itu sama laki-laki? Jadi please, jangan mentang-mentang kita sering berbuat 'itu' lantas kamu langsung menganggap aku ini pacar kamu? Jangan begitu dong!!!"
Plakkk!!!!
Tamparan mendarat di pipi Nathan, pandangan wanita yang tadi sudah terlihat marah itu kini semakin menjadi murka.
"b******k kamu, Nathan!" ucapnya geram dengan mata berkaca-kaca.
"Dari awal aku memang udah gak perawan, tapi semenjak sama kamu aku gak pernah melakukan itu sama siapa pun lagi! Aku bukan wanita yang semurah itu, yang mau berhubungan dengan siapa aja. Andai kamu tahu setiap aku berhubungan intim dengan laki-laki itu selalu karena rasa cinta!!!" sentaknya emosi, kali ini sudah runtuh pertahanannya. Wanita itu mengeluarkan air matanya.
Setelah mengatakan itu semua, ia langsungu berlari melewati Rinda dan meninggalkan Nathan begitu saja, ekspresi Nathan masih syok. Syok karena Rinda yang tiba-tiba ada di sana, syok karena ditampar Yuni, juga syok setelah mendengar penjelasan Yuni yang ternyata mencintainya.
"Sweety ...." Panggilnya pada Rinda.
"Selamat, Kak."
"Sweety, please! Cuma kamu yang aku cinta."
Rinda tersenyum miris lalu menggeleng, dalam keadaan seperti ini semakin jelaslah warna suara yang kerap menggelap jika Nathan berbicara. Rinda tahu Nathan memang mencintainya, tapi cintanya bukan hanya pada Rinda saja. Ia laki-laki Playboy yang bisa mencintai siapapun wanita yang baginya cantik. Kesetiaannya nol besar, bahkan ia laki-laki b******k yang punya nafsu setan. Memanfaatkan wanita hanya untuk kesenangan birahinya saja.
"Aku memang salah, tapi di hati aku cuma ada kamu."
Bohong.
"Bicaralah, Kak! Apa aja yang mau kamu katakan?" tantang Rinda.
"Aku cinta sama kamu, aku mau menjalin hubungan serius sama kamu. Menjadi suami-istri yang harmonis, dan menjadi pelindung kamu sampai tua."
Rinda tertawa, air matanya tidak lagi menetes.
"Jadi ...."
"Jadi apa, Sweety? Kamu mau maafin kakak, kan?"
"Jadi ... berapa banyak wanita yang pernah mendapat kata-kata itu dari kakak?"
Deg!!
Muka Nathan memerah, merasa sudah tidak mendapat kepercayaan dari gadis di hadapannya lagi.
"Kamu gak percaya aku, Sweety?"
"Gak!"
"Harus berapa kali aku bilang, dia hanya teman biasa. Kami gak ada hubungan apapun!"
"Cukup, Nathan!" Rinda menatap garang, memanggil Nathan dengan langsung menyebut nama tanpa embel-embel 'kakak'. Membuat laki-laki itu menegang.
"Mulai hari ini kita PU-TUS!" Rinda menekan kata putus, membuat Nathan begitu syok. Usai mengucapkan kalimat tersebut, Rinda langsung berlari sekencang-kencangnya. Entah kemana lagi kaki itu akan membawanya.
"Sial! b******k! Sialan!!!!!" Maki Nathan sambil membanting tasnya. Wajahnya merah padam. Yuni dan Rinda, dia kehilangan dua gadis tersebut bersamaan.
"Arrgggghhhhh!!!"
***
Rinda berjalan kaki menuju parkiran. Gadis itu memilih pulang. Tak dihiraukannya pertanyaan yang terlontar dari mulut sang sopir mengenai mengapa cepat sekali kuliahnya, juga mengapa nona sudah pulang sedang yang lain belum terlihat bubar.
Rinda malas bicara, meski sudah tidak terlihat menangis, tapi luka di hatinya masih menganga. Sekarang ia menyadari, di satu waktu ia begitu menyesali dan mengutuk kemampuan anehnya itu, tapi di satu waktu yang lain ia begitu mensyukurinya. Bukankah berkat kemampuannya itu, ia jadi tahu wajah asli Nathan yang sesungguhnya? Bagaimana jika ia terus terperangkap dengan laki-laki b******k itu dan menjadi korban yang sama seperti wanita bernama Yuni tadi?
Ia juga jadi teringat Susi. Berkat nasihat darinya juga, ia jadi berhati-hati dengan Nathan. Ahh Susi, mendadak Rinda jadi ingin sekali pulang dan mengucapkan terima kasih pada wanita tak kasat mata itu.
Baru akan membuka pintu mobil, seseorang menahan tangannya. Mata Rinda membulat mendapati Nathan yang masih saja terus mengganggunya.
Rinda menyentak tangannya sampai cekalan tangan Nathan terlepas.
"Masih berani kamu datang di hadapan aku?" sengit Rinda dengan tatapan tajam. Sudah tidak ada lagi cinta di mata gadis yang selalu berbinar itu saat menatapnya. Nathan merasakan hal itu, membuatnya tidak terima.
"Please kita bicarakan semuanya dulu baik-baik. Jangan kaya gini, nanti kamu menyesal, Sweety."
Rinda mendengus. Lalu menggeleng dengan senyum jengah.
"Menyesal? Jangan mimpi! Justru ini adalah keputusan terbaik yang aku buat untuk menjauh dari penjahat kelamin seperti kamu!"
"Penjahat kelamin?"
"Ya, apa lagi?"
"Aku gak kaya gitu, Sweety."
"Gak usah ngomong apa-apa lagi, semua yang kulihat tadi sudah cukup jelas. Apapun yang kamu bilang aku gak percaya lagi. Dan satu lagi, gak usah panggil aku Sweety, aku gak sudi!" ketusnya menahan emosi.
"Aku gak terima diginiin, Sweety." ucapnya tak mau kalah. Nampak ada emosi dalam kilat tatapan matanya. Perasaan Rinda mendadak tak enak, rasa takut menghantuinya kini.
Kepalanya celingukan mencari sosok sopir yang mengantarnya. Tadi ada di hadapan, kenapa sekarang jadi tak ada? Rinda merutuk, sepertinya laki-laki itu ke kamar mandi tanpa memberitahunya dulu.
"Tolong pergi dari hadapanku, Nathan."
"Kalau aku gak mau?"
"Aku akan teriak!!!"
"Coba saja." ucapnya kembali mencekal tangan Rinda, gadis itu meringis menahan sakit cekalan tangan Nathan di pergelangan tangannya.
"Hey, ada apa ini?"
Di saat seperti ini, tiba-tiba ada seseorang yang datang. Mata Rinda membulat melihat sosok Arga sudah berdiri di hadapan mereka dengan kening mengkerut.
"Wah maaf Nathan sepertinya kamu menyakiti adik tingkat kita." ucapnya sambil menatap tangan Rinda yang dicekal laki-laki tersebut.
"Gak usah ikut campur, Arga."
"Pengennya sih gitu, tapi sorry saya gak bisa diam aja. Saya Ketua BEM di sini, saya gak bisa liat sesuatu yang mengganggu. Jadi tolong lepas tanganmu itu."
Sesaat Nathan terdiam dengan tatapan benci mengarah ke Arga, yang ditatap hanya tersenyum santai sambil menyedot s**u kotak. membuat Rinda tak habis fikir. Bisa-bisanya di saat begitu dia bersikap sesantai itu, sambil menyedot s**u kotak?
Ish!
"Oke gue lepas, tapi Rinda inget masih banyak yang harus kita obrolin. Kamu gak bisa lepas begitu aja dariku." ucapnya lalu langsung pergi.
Rinda terpaku, Nathan sepertinya bisa bertindak hal-hal yang tak ia perkirakan sebelumnya.
"Makasih, Kak." ucap Rinda menyempatkan diri berterima kasih pada Arga.
"Apa? Gak kedengeran." ucapnya sambil memegang telinga.
Ish! Rinda mencebik.
"Dasar kating nyebelin!" gerutunya kesal.
***