Ulah Susi

1206 Kata
Rinda melangkahkan kaki dengan gontai, baru jam sepuluh tapi dia sudah pulang. Kepalanya celingukan mencari Susi di pohon mangga. Tapi tak ada. "Susi ...." panggil Rinda sambil membuka pintu rumah. "Susi ...." Tak ada sahutan, mendongak ke lantai dua tidak juga terlihat ada sosok wanita berambut panjang tersebut. Hanya terdengar suara denting spatula yang beradu dengan kuali. Itu Bi Inah yang sedang memasak. "Non Rinda, panggil siapa? Bibi kaya salah denger tadi?" Bi Inah dari dapur menghampiri, Rinda tersenyum menyadari kebodohannya. "Emang bibi ngedengernya apa?" "Bibi kaya denger non panggil Susi. Tapi kan di sini gak ada yang namanya Susi." ucapnya seperti keheranan sendiri. Rinda terlihat salah tingkah. "Bibi ... salah denger. Aku tadi panggil bibi, kok malah Susi, sih? Ampun deh!" ucapnya sambil tertawa paksa, merasa bersalah juga karena sudah berbohong pada wanita paruh baya tersebut. "Masa sih, Non? Ya Allah maaf Non, ini bibi efek udah tua, pendengaran mulai budeg kayanya!" ucapnya dengan logat kampung khas ibu-ibu. Rinda tersenyum. 'Maaf bi, udah bohong.' batinnya. "Non panggil bibi ada apa? Sudah pulang Non kuliahnya, cepet banget?" "Sudah, Rinda minta tolong buatkan minum kesukaan Rinda bi." "Siap, Non." Paruh baya itu melenggang pergi kembali ke dapur. Rinda menggelengkan kepala. Gara-gara mencari Susi dia jadi berbohong pada orang tua. Menaiki tangga dan masuk ke kamarnya di lantai dua, Rinda membuka jendela kamarnya agar udara bisa masuk. Semilir angin membelai rambutnya hingga bergerak, Rinda menghirup napas dalam-dalam. Memikirkan caranya menyikapi kejadian selama di kampus tadi membuatnya merasa seperti pengecut. "Aku gak mau kabur kaya tadi. Bener kata nenek itu, aku harus hadapi." gumamnya menatap daun-daun yang bergerak di hadapannya karena tiupan angin. Ia menangkap satu daun tua yang berwarna kekuningan yang telah gugur dari pohonnya dan terbang terbawa angin menuju ke arahnya. "Mulai besok aku harus bisa, apapun suara sumbang yang kudengar, aku harus tetap bertahan." lanjutnya lagi mentekadkan diri. Tak lama kemudian terdengar pintu kamarnya di ketuk, Bi Inah datang membawakan segelas jus alpukat kesukaannya. Sambil menikmati jus, Rinda menikmati pemandangan di hadapannya. Matanya membeliak saat melihat perempuan dengan baju putih kebesaran tengah menempel di punggung salah seorang tukang bangunan. Sedangkan si tukang bangunan itu beberapa kali mengusap tengkuknya, sesekali ia memegangi pinggangnya seolah-olah tengah merasakan sakit di bagian tersebut. Teringat ucapan Susi pagi tadi mengenai duda tampan si tukang bangunan. Memang Susi tidak salah, laki-laki yang kini tengah Susi tempeli itu memang terlihat cukup tampan untuk ukuran seorang tukang bangunan. Meski hanya seorang tukang bangunan tapi kulitnya nampak bersih, sedangkan rambutnya sedikit gondrong. Tapi malah terlihat mempesona dengan rambut gondrongnya itu. "Ya ampun, Susi!" geram Rinda sambil menggelengkan kepala. "Ini mah namanya kuntilanak kecentilan!" umpatnya tak habis fikir. Kini dia tahu, mengapa si tukang bangunan tersebut seperti sedang sakit pinggang, mungkin dia merasa punggungnya berat karena beban tak kasat mata itu yang mengganggunya. "Cepetan kerjanya, Lutfi! Kalau bos datang, gak enak diliatnya. Loe dikit-dikit berenti, dikit-dikit berenti. Ini kita kerja borongan, kalo lo begini terus kapan selesainya?" omel salah seorang tukang bangunan lain yang terlihat sudah lebih tua darinya dengan garis wajah tegas dan kumis yang lumayan tebal. "Abis pinggang gua sakit banget, Bang. Sakit berat gitu kaya ada yang nempel." ujarnya beralasan, memang tidak salah ucapannya tersebut. Sedangkan lawan bicaranya nampak tidak percaya. "Apanya yang nempel? Baju loe tuh yang nempel." Kali ini wajah pria berkumis itu mulai ketus. "Maaf bang maaf, iya ini saya lanjut." ujarnya lalu memulai mengaduk semen dengan pasir. "Aduh, gak bisa dibiarin ini. Kalau begitu terus, yang ada tukang bangunan itu bisa-bisa dipecat." gumam Rinda. "SUSIIIIII!!!!" Rinda berteriak nyaring hingga semua tukang bangunan yang sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing itu menoleh ke arahnya. Rinda menjadi salah tingkah, dalam hati ia merutuk kenapa semuanya harus menoleh? Akhirnya ia pura-pura melambaikan tangan ke arah samping rumahnya. Saat semua orang yang menatapnya kembali sibuk dengan aktifitasnya, Rinda kembali berteriak. "Susi sini pulang!!! Atau kuusir kamu dari rumah!" Ancamnya galak, matanya sampai melotot mengarah ke sosok wanita berambut panjang yang kini tengah menatapnya juga. "Walah, cantik-cantik galak. Serem banget ngancemnya." ujar salah satu tukang bangunan yang mendengar teriakan Rinda tersebut. Menjadikan ucapan Rinda tersebut sebagai candaan yang membuat beberapa tukang bangunan lainnya tertawa-tawa. "Ckkk ganggu aja!" Kali ini Susi ketakutan, mendengar ancaman Rinda sosok tersebut memilih terbang melayang dan menghampiri gadis cantik tersebut di lantai dua. "Apa sih ganggu aja?" tanyanya sambil cemberut. "Ngapain gelantungan di badan orang begitu?" Rinda duduk di hadapannya dengan tangan bersedekap di d**a. Hal ini membuat mereka layaknya seperti seorang ibu yang sedang menginterogasi anaknya. "Aku suka sama duda tampan itu, pengen dekat-dekat sama dia." 'Ish, emang Kunti kecentilan.' batinnya. "Biarin!!!" Eh? Sesaat Rinda terpaku. "Tapi bukan begitu caranya." lanjut Rinda. "Setiap orang punya cara, dong!" Rinda menghela napas. "Kamu bukan orang!" "Yaudah, setiap kuntilanak punya cara, dong!" ralatnya membuat Rinda ingin sekali menyemburkan tawa. "Kamu gak sadar orang tadi itu ...." "Namanya Aa Lutfi." potong Susi cepat. "Iya itu. Apa kamu gak sadar Bang Lutfi itu tadi kesakitan gara-gara ulah kamu?" "Kesakitan apa? Aku gak gigit." Rinda memutar bola matanya malas. 'Duh lama-lama gue makan juga nih, kunti.' batinnya kesal. "Makan aja kalo bisa. Jangan lupa baca doa!" Susi berceletuk, membuat Rinda menyadari sosok di hadapannya itu juga ternyata tahu isi hati seseorang. "Susi denger ya! Cara kamu dengan gelantungan di badan Bang Lutfi itu membuat badan dia sakit, apa kamu gak denger kalo dari tadi dia mengeluh sakit punggung?" Susi menggeleng. "Itu artinya apa? Sakit punggungnya itu karena beban badan kamu yang gak keliatan oleh mereka tapi tetap terasa. Kalau kamu suka orang itu, bukan begitu caranya. Kamu malah menyiksa dia. Bahkan dia sampai ditegur sama yang lain kan gara-gara gak maksimal kerjanya?" Kali ini Susi mengangguk cepat. "Kalau kamu suka, liatin aja dari sini. Jangan ganggu fisiknya. Lagi pula rasa kamu itu salah, kalian berbeda. Beda alam, jadi gak mungkin bisa bersatu." Kali ini kalimat Rinda itu sukses membuat s**u menangis, bahkan sampai meraung-raung. "Huuuaaaaaaa Aa Lutfiiiiiiiii, huaaaaaaaaaa!!!" raungnya begitu memekakkan telinga. "Astaga, dasar Kunti gabut!" maki Rinda sambil terus menggelengkan kepala. *** Satu jam berlalu Susi masih betah dengan tangisannya. Tapi kali ini berbeda, jika tadi ia sampai meraung-raung kali ini hanya isakan saja layaknya wanita yang menangis di tengah malam. Hingga sesekali membuat Rinda merasa merinding, bangun bulu romanya. Untung Susi yang menangis, kalau makhluk lain ia pasti sudah ketakutan. Padahal gadis itu ingin sekali bercerita dengan Susi mengenai kejadian di kampus tadi juga sosok Nathan yang sesungguhnya, tapi bagaimana mau cerita sedangkan Susi saja masih menangis sambil menatap si tukang bangunan dengan tatapan pilu. "Hadeuuhhhh!!!" Rinda menghela napas lelah. "Susi, udah dong jangan menangis terus. Apa sih yang bikin kamu nangis?" tanya Rinda pada akhirnya. "Aku sedih sama dua hal." "Apa?" "Pertama, aku menyesal udah membuat Aa Lutfi kesakitan tadi. Sumpah, aku gak sadar! Kedua, aku sedih saat kamu bilang aku dan Aa Lutfi gak akan bisa bersatu karena kami berbeda. Huhuhuuuu ...." Rinda terdiam, antara kasihan, lucu, merinding tapi yang paling dominan adalah konyol yang teramat sangat untuk sesosok makhluk yang kebanyakan ditakuti oleh manusia pada umumnya itu. Ia ingin sekali tertawa, tapi masih menjaga perasaan Susi yang masih saja menangis tanpa alasan yang jelas. Menurut Rinda. Terdiam dalam lamunan, akhirnya Rinda berucap, "Rusaklah image kuntilanak yang menyeramkan, gara-gara absurdnya kelakuan kamu Susi, Susi ... hahahahahaha ...." Kemudian pecah juga tawa Rinda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN