Kisah Pilu Susi

1547 Kata
Menjelang malam, Satria sudah mulai bersiap-siap untuk pulang rumah. Kali ini ia akan kembali membawa Melinda ke rumah, untuk bertemu kembali dengan Rinda. Harapannya, apa yang pernah terjadi di antara mereka hanya kecemburuan semata dari adiknya yang menginginkan perhatian lebih darinya. Sudah beberapa hari semenjak ia pulang dari rumah sakit, kondisi Rinda terus membaik. Semoga kali ini, adiknya itu sudah bisa menerima kehadiran Melinda yang akan menjadi kakak iparnya kelak. "Kalau adik kamu nuduh aku yang macem-macem lagi gimana, Sayang?" tanya Melinda begitu duduk di jok mobil. "Kita lihat ya, aku mau kamu dan adik aku akur. Kan nanti kamu bakal jadi kakak iparnya." Melinda tersenyum manis. "Habis kalau gak begini, kamu dan Rinda kapan bisa kenalan dengan baiknya dong? Semakin lama proses pendekatan kalian, semakin lama juga kita menikah." ujar Satria sambil memasang seatbelt. Melinda memasang wajah cemberut. "Ish, Sayang. Aku maunya kita bisa nikah secepatnya." ucapnya begitu manja. 'Supaya aku bisa menikmati harta kamu sepuasnya.' lanjutnya dalam hati. "Nah, makanya ambil hati adik aku supaya prosesnya bisa lebih mudah. Karena dia anggota keluargaku satu-satunya, aku mau pernikahan kita benar-benar dapat persetujuan darinya. Dan kamu bisa hidup akrab dengan adik aku." Melinda mengangguk mantap, senyumnya tidak memudar sama sekali. Saat menoleh ke kaca samping mobil ia memutar bola matanya, terlihatlah watak aslinya. 'Semoga kali ini bocah kurang ajar itu bisa diajak kerjasama, huh! Capek juga lama-lama masang muka sok baik begini!" keluhnya lagi dalam hati. Mesin mobil terdengar menyala. Kendaraan roda empat itu pun melaju demi membelah jalan ibu kota yang gemerlap dengan lampu-lampu kendaraan. Sedang di ruangan lain, Rinda nampak cekikikan mentertawakan sekaligus menggoda Susi yang sampai saat ini masih saja terlihat murung. "Apa sih yang bikin kamu langsung jatuh cinta begitu sama tukang bangunan itu? Sumpah aku penasaran banget!" tanya Rinda masih tak habis pikir dengan ulah Susi tadi siang sampai sekarang ini. "Namanya orang jatuh cinta gak harus ada alasan dong!" ketusnya sambil membuang muka. "Kamu bukan orang, hey!" "Tapi aku pernah jadi orang sepertimu!" "Yaya, tapi sekarang 'kan, kamu sudah jadi ...." "Jadi apa?" "Jadi ... jadi cantik." "Itu dari dulu." Rinda mencebik. "Ish, Kunti kege'eran!" "Orang itu mengingatkanku pada seseorang, Rinda." ucap Susi murung. Raut wajah Rinda langsung berubah serius, sepertinya kali ini Susi akan bicara dengan serius juga. "Siapa?" tanya Rinda lagi. "Namanya ... Bang Reno. Pacarku semasa hidup dulu." Rinda yang sedang menikmati sepotong roti bakar kini langsung terdiam. "Dulu aku sama Bang Reno lagi hangat-hangatnya pacaran. Setiap hari kami selalu ketemuan. Dia orangnya baik banget, selalu berusaha menjaga dan melindungi aku. Sampai akhirnya ... aku ... diperkosa oleh orang yang gak aku kenal." Mata Rinda membulat, aktifitasnya yang sedang mengunyah makanan itu jadi berhenti. Pandangannya kini fokus pada Susi yang memasang wajah sendu. "Nahasnya, dua bulan setelah kejadian itu aku hamil. Hidupku hancur banget saat itu, teringat Bang Reno yang selalu menjaga aku, tapi aku harus dirusak sama orang lain. Aku bingung harus bagaimana, akhirnya aku beranikan diri untuk jujur. Saat aku cerita, Bang Reno keliatan terpukul banget. Tapi hal yang gak aku sangka sama sekali, ternyata dia memilih meninggalkan aku karena gak sanggup hidup denganku yang tengah hamil anak orang lain. Aku stress, aku depresi. Aku merutuki janin yang kukandung, terutama orang yang sudah menanamkan benih itu di rahimku. Dalam keadaan nelangsa seperti itu, aku memilih menggugurkan kandungan yang gak kuharapkan itu dengan cara aborsi ilegal. Tapi semuanya gak berjalan sesuai keinginan, yang ada aku malah pendarahan hebat. Aku dibawa ke rumah sakit, tapi pendarahanku sudah terlalu parah. Yang akhirnya ... aku meninggal tepat di ranjang yang kamu tiduri di rumah sakit itu ...." ungkap Susi panjang lebar. Rinda terpaku di tempatnya, mulutnya nampak menganga seakan tidak percaya dengan penuturan wanita tak kasat mata yang saat ini duduk di atas lemari kamarnya. Ia sama sekali tak menyangka, sepilu itu kisah hidup Susi. "Sampai saat ini aku gak tau dimana Bang Reno, sejak tau aku hamil dia seperti menjauh. Bahkan mungkin hilang di telan bumi. Entah dia pergi kemana, mungkin dia pindah negara." "Kamu tahu gak Rinda, awal mula kejadian p*******n itu, orang yang perkosa aku mengelabui aku dengan pura-pura minta tolong, dia bilang ada ibu-ibu yang mau melahirkan di gudang kosong dekat pabrik. Aku yang begitu polosnya, percaya begitu aja dan mengikuti langkah orang itu. Begitu sampai di gudang, ibu-ibu yang dia ceritakan ternyata gak ada. Aku dibekap, pintu dikunci. Dan kejadian yang gak ingin aku ingat pun terjadi. Sampai saat ini jujur aku masih menyesal, banyak andai-andai yang aku rasakan. Andai aku gak percaya omongannya begitu aja, atau andai saat itu aku punya kemampuan membaca pikiran seperti kamu, pasti aku gak akan menjadi seperti sekarang." Deg! Kali ini kalimat terakhir Susi terlihat begitu mengusik jiwa seorang Rinda. "Mungkin di suatu waktu, kamu begitu mengutuk kemampuan kamu yang bisa membaca pikiran orang lain, Rinda. Tapi, ada kalanya, kelak kemampuan itu bisa membantu kamu terlepas dari bahaya dan orang-orang yang berniat jahat." Rinda terdiam, meresapi semua kata-kata Susi yang seperti menyentilnya. "Daripada terus menyesali diri dengan kemampuanmu itu, mulai sekarang cobalah untuk berpikir terbuka, Rinda. Aku tau kamu bisa." Rinda menghela napas dalam-dalam, memejamkan mata sesaat detik kemudian senyum mengembang di bibirnya. "Makasih, Susi. Kamu benar-benar kasih aku banyak pelajaran. Mulai sekarang aku janji akan bersikap lebih baik lagi." tekadnya kuat. Tak lama kemudian terdengar mesin mobil masuk ke halaman rumah. Makan malam pun sudah disiapkan Bi Inah dan sudah tersaji di atas meja makan saat Satria tiba di rumah. Rinda menuruni anak tangga menuju ruang makan untuk makan bersama dengan kakaknya. Pandangannya teralih pada daun pintu yang bergerak terbuka, menampilkan Satria yang kini tengah digandeng seorang wanita dengan dress putih yang tingginya tepat di bawah lutut. Ya dia, Melinda. Dalam sekejap, mood Rinda langsung rusak. Wanita jahat ini lagi yang dibawa kakaknya. "Halo calon adik ipar, bagaimana kabarnya?" Melinda bertanya berbasa-basi, senyumnya mengembang sempurna, tapi hatinya tidak sama dengan apa yang ditampilkan wajahnya. Mata Rinda memicing. "Baik!" jawabnya singkat dan ketus. Ia menyambut kakaknya dan menyalami laki-laki itu. Tapi hanya ke Satria saja gadis itu mengulurkan tangan untuk salam. "Salim dong, ke Kak Melinda juga." pinta kakaknya sangat berharap. Rinda tak mau berpura-pura, apa yang tidak disukai hatinya akan ditampilkan di wajahnya. Ia bukan wanita munafik, seperti wanita di hadapannya ini. Rinda tak mengindahkan permintaan kakaknya, justru ia malah membuang wajah ke arah lain. Melinda menarik satu sudut di bibirnya, wanita itu begitu judes jika mengeluarkan watak aslinya. Sayang dia selalu memakai topeng yang membuat dirinya terlihat seperti malaikat bagi Satria Melihat sikap adiknya yang tidak berubah, Satria hanya bisa menghembuskan nafasnya. "Dek, malam ini Melinda mau makan bareng kita. Gapapa, kan?" tanya Satria. Rinda memasang wajah datar, "Terserah kakak aja." Ketiganya terlibat dalam acara makan malam bersama. Melinda menatap menu yang tersaji di atas meja, keningnya nampak mengkerut saat melihat potongan tempe di atas piring. ia memutar bola matanya malas. 'Orang kaya masih aja makan tempe. Awas kalau gue udah jadi nyonya di rumah ini, apapun yang ada di rumah ini harus gue yang atur. Termasuk jangan sampe makan makanan gembel begini. Cuihh!' batinnya kesal. Rinda menatap Melinda dengan tatapan tak suka. Padahal tempe adalah makanan kesukaan kakaknya. Mau masak dengan lauk seenak apapun, Satria selalu berpesan untuk selalu menghadirkan tempe goreng di meja makan. "Tempe goreng itu kesukaan Kak Satria. Mau makan seenak apapun, Kak Satria gak akan bisa makan kalau belum ada tempe di hadapannya." ucap Rinda ketus menatap Melinda yang terpaku. "Kenapa, Dek?" tanya Satria. Rinda menggeleng. "Cuma pengen bilang itu aja, supaya tamu kita ini tau kalau kakak gak bisa makan kalau belum nemu tempe." 'Bicaranya gak pernah sopan, awas kamu bocah kalau aku udah jadi istri kakakmu! Kupastikan kamu gak akan betah tinggal di rumah ini!' Deg! Rinda memejamkan mata, dia sudah berusaha keras untuk tetap sabar menghadapi wanita bernama Melinda ini. Ingin sekali ia melabrak wanita itu dan berkata semua hal yang sebenarnya pada Satria. Tapi ia tahu, semuanya percuma. Memangnya siapa yang bisa percaya dengan kemampuan anehnya itu? Termenung, ia belum bisa memberikan bukti pada Satria bahwa wanita di hadapannya itu sangat munafik. "Sayang, uang lima jutanya udah ditransfer ke rekeningku belum?" tanya Melinda manja pada Satria. Mata Rinda membulat mendengar nominal yang disebutkan. "Nanti ya. Kan dari sejak kamu minta, aku belum pegang hape lagi." sahut Satria yang masih mengunyah. "Lima juta? Untuk apa?" Rinda bertanya. "Emmm, untuk beli skincare. Uppsss ...." Melinda membekap mulutnya, sepertinya perempuan itu baru saja keceplosan bicara. "Oh jadi kamu minta uang sama kakakku, ya?" Kini Rinda mulai tersulut emosi. Benar saja kan, bahkan di depan matanya kakaknya itu tengah diporoti. "Ssstttt tenang, Dek. Melinda ini mau pinjam uang sama kakak awalnya. Manalah kakak tega, meminjami pacar kakak ini uang. Bagi kakak, selagi ada gak perlu dipinjam begini. Kakak pasti kasih." Melinda mengangguk, matanya mulai berkaca-kaca. Rinda tersenyum kecut sambil menggelengkan kepala. "Sayang, reaksi adik kamu kok begitu, ya? Seakan-akan aku ini cewek matre yang lagi porotin kamu." ujarnya lalu meneteskan air mata. Oh Tuhan, drama apa lagi ini? "Kamu memang matre!" sentak Rinda dengan pandangan tajam. "Cukup, Rinda, cukup!" Satria membentak. "Kakak sendiri yang memberi uang pada Melinda. Bukan dia yang minta. Cukup, jangan bilang Melinda ini perempuan matre lagi. Kakak gak suka!" ujar Satria begitu tegas dengan sorot mata yang tidak kalah tajam dari Rinda. Tanpa disadari Satria, wanita di sampingnya itu langsung menyunggingkan senyum liciknya saat mendapatkan pembelaan darinya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN