"Terus aja kakak belain perempuan ini, asal kakak tau memang ini yang dia mau!"
"Rinda ...."
"Kakak gak ngeliat kan bagaimana tadi dia menyunggingkan senyum liciknya saat kakak ngebelain dia dan marahin aku?"
"Apa maksud kamu, Rinda?"
"Hiks ... hiks ... Huhu, Yangg Rinda sepertinya memang gak bisa terima aku. Ya Tuhan apa salahku ya Tuhan, sampai harus diperlakukan seperti ini." isak Melinda yang sudah mulai meneteskan air mata kembali.
"Gak usah banyak akting! Saya tau wajah kamu yang sebenarnya. Kamu perempuan matre yang selalu berakting demi meraih perhatian-"
"Cukup, Rinda, cukup! Istighfar kamu, Dek!" Suara Satria terdengar meninggi.
"Kakak bawa Melinda kesini, supaya kalian bisa jadi lebih dekat. Kenapa malah ribut seperti ini? Tolong hargai kakak." Satria berujar pelan, seperti mulai merasa putus asa.
"Aku mau banget bisa akur sama adik kamu, Yang. Tapi kamu liat sendiri adik kamu yang selalu memulai permusuhan denganku!"
"Saya yang gak mau akur sama perempuan licik seperti kamu, bagusnya perempuan seperti kamu itu jauh-jauh dari hidup kakakku!" Rinda menyentak penuh emosi, tatapannya tajam mengarah ke Melinda yang auranya selalu menguarkan kegelapan.
"Kenapa kamu jadi begini, Dek? Kakak kecewa banget dengan sikap kamu yang begini."
Satria menatap adik kandungnya itu dalam-dalam.
"Apa kamu gak mengerti, usia kakak ini sudah matang. Kakak butuh pendamping untuk menemani kakak. Seorang wanita yang selalu ada di samping kakak, menemani kakak, berbagi keluh kesah dengan kakak, meredakan lelah kakak. Harusnya kamu gak usah cemburu begitu, kamu sudah dewasa. Kakak juga butuh pendamping untuk menjadi istri kakak nanti. Kalau kamu begini terus, bagaimana kakak bisa memulai hidup dengan wanita. Tidak bolehkah kakak menikah, Dek?"
Kalimat panjang lebar yang meluncur dari mulut Satria membuat Rinda meneteskan air mata. Ia menggeleng,
"Kakak salah mengartikan sikap Rinda. Terserah kakak mau menikah kapan aja, aku dukung itu. Satu yang kupermasalahkan wanita yang kakak bawa sekarang, yang kakak ingin nikahi, ternyata bukan wanita baik-baik seperti dugaan kakak. Harus berapa kali Rinda bilang, wanita ini gak benar-benar mencintai kakak, dia hanya mengincar harta kakak untuk dia kuasai. Harus dengan cara apa aku bilang supaya kakak percaya?
"Kamu gak punya bukti apapun, tapi berani menjudge seseorang seperti itu, Dek. Itu jelas salah, kalian bahkan belum pernah bertemu apalagi saling kenal. Darimana kamu tahu, dia hanya mengincar harta kakak? Sedangkan selama ini dia gak pernah meminta uang pada kakak. Dia hanya ingin meminjam uang sama kakak. Tapi kakak sendiri yang ingin memberinya uang. Coba jelaskan, apa dengan hal itu lantas kamu pantas menyebut Melinda ini perempuan matre? Itu bisa dibilang kamu telah melempar fitnah pada orang lain. Jangan licik seperti itu, Dek. Sungguh kakak kecewa banget sama kamu."
Air muka Satria nampak keruh, sedangkan Melinda yang mendengar perdebatan dua adik kakak itu hanya menangis tersedu-sedu.
'Bagus, bagus. Bertengkarlah kalian! Aku sangat menikmati moment ini. Biar tahu rasa kamu bocah tengil! Kakakmu itu sekarang sudah jatuh ke perangkapku dengan sukses, mau berkoar-koar apapun sampai mulutmu berbusa pun, kakakmu itu sudah terlanjur mempercayaiku! Dasar bocah!'
Deg!
Rinda melotot menatap Melinda yang sedang terisak-isak.
'Perempuan licik, serigala berbulu domba! Aku akan melakukan segala cara supaya kakakku bisa lepas dari perempuan seperti kamu!'
"Maafin adikku, Mel. Sepertinya dia masih belum siap untuk menerima kamu. Sekarang ayo kita pulang, kuantar kamu, ya!"
"Iya sayang, hiks ... hiks ... ayo kita pulang, aku gak kuat ditatap seperti itu sama adik kamu, huhu!"
Keduanya bangkit dari duduknya dan melenggang pergi keluar. Di sanalah Rinda mulai menangis terisak-isak. Hatinya terasa perih sekali merasakan kekecewaan Satria yang amat dalam kepadanya. Ahhh, andaikan Satria benar percaya padanya, pasti laki-laki itu pun akan sangat berterima kasih padanya. Tapi bagaimana caranya supaya Satria percaya? Kakaknya itu sudah benar-benar jadi b***k cinta seorang Melinda. Mau berkata apa pun ia tentang perempuan tersebut, malah Rinda yang dibilang memfitnah.
Tak lama kemudian, Bi Inah menghampiri. Dia yang sedari tadi mendengarkan perdebatan di ruang makan itu sebenarnya bersembunyi di balik tembok. Mendengarkan dengan detail ucapan masing-masing adik kakak tersebut yang sama-sama kukuh pada pendirian dan anggapan masing-masing.
Dielusnya punggung majikan mudanya itu dengan lembut, ia tidak tahu harus percaya pada siapa. Tapi melihat sekali saja wajah Melinda, ia merasa bahwa wanita itu seperti punya niat terselubung. Seperti ada kejahatan yang sedang ia lakukan. Di sisi lain, nona mudanya itu nampak aneh dan mengkhawatirkan.
"Bibi, percaya sama siapa?" tanya Rinda di sela-sela tangisnya, ia menyembunyikan wajah di antara lipatan tangannya di atas meja makan.
"Bibi, nggak bisa ngomong apa-apa, Non. Maafin bibi." ujar Bi Inah tanpa berhenti mengelus punggung nona mudanya.
"Aku cuma mau Kak Satria menjauh dari perempuan licik itu. Aku berani sumpah perempuan itu jahat banget!"
Bi Inah terdiam mendengarkan nona mudanya itu bercerita. Sebagai seorang yang sudah hidup lebih lama dari Rinda, dia pun bisa merasakan hal tersebut. Dia bisa melihat Melinda memang terlihat janggal. Seperti ada yang di sembunyikan.
"Kalau non merasa benar, terus saja perjuangkan non apa yang non ingin perjuangkan. Jangan menyerah sebelum menang." ujar Bi Inah memberi semangat.
***
Sampai dua jam setelah kejadian itu, Satria masih belum pulang. Rinda masih setia menunggu di ruang makan. Jika dengan berbicara saja tanpa memberikan bukti Satria masih tidak percaya, kali ini akan mengatakan hal yang sebenarnya. Apapun akan Rinda lakukan, asalkan laki-laki itu terlepas dari jerat Melinda yang bisa mematikan. Sebenarnya Rinda pun tak ingin jika harus berkata yang sejujurnya, sebenarnya ia ingin kemampuan itu hanya Rinda yang mengetahuinya, tapi hal itu akan terpaksa ia lakukan jika memang segala usahanya masih belum bisa membuat Satria percaya.
Pukul sepuluh malam terdengar mesin suara mobil memasuki pekarangan rumah. Tak lama kemudian pintu terbuka menampilkan sosok Satria yang sudah kelelahan. Baju kemejanya dikeluarkan dengan lengan panjangnya yang digulung sampai siku.o
Semula ia ingin berlalu dan langsung masuk kamar, tapi saat mendengar Rinda berbicara,
"Kita perlu bicara, Kak. Hal yang sangat sangat serius."
Langkahnya langsung berhenti, menatap Rinda datar cenderung malas. Jujur dia sudah sangat lelah, tapi melihat wajah adiknya yang menyiratkan luka itu langsung membuatnya kembali mendekati meja makan, walau Satria terlihat ogah-ogahan.
"Kalau kamu mau ngajak kakak berdebat lagi, Rinda. Maaf kakak capek, kakak lelah. Kakak butuh istirahat. Kakak ingin sekali tidur." ucap Satria.
"Enggak, aku mau bicara hal penting yang sangat penting." jawab Rinda bersungguh-sungguh.
"Kalau begitu katakan saja!"
Rinda menghapus jejak air matanya di pipi. Lalu menarik napas dalam-dalam.
"Kalau kakak bilang aku fitnah perempuan itu, kakak salah! Karena aku bisa jelas-jelas melihat niat terselubungnya," ucap Rinda memulai kembali pembicaraan mereka yang tertunda.
"Melihat niat terselubungnya? Melihat dengan bagaimana? Kalian baru kenal. Kakak aja yang selama ini mengenal Melinda bertahun-tahun tahu betul bagaimana sikap dan kepribadiannya."
"Kakak gak mengenal sejauh itu, bahkan aku yang baru melihat saja langsung tahu topeng di wajahnya."
"Topeng apa yang kamu maksud itu? Jangan mengada-ada kamu Rinda, kalau kamu ingin mempermasalahkan uang yang kakak transfer ke Melinda tadi, sekali lagi kakak bilang dia hanya ingin meminjam uang ke kakak. Tapi kakak yang memberinya sendiri. Apa bedanya? Kelak dia juga akan jadi istri kakak, yang pasti akan kakak nafkahi lebih dari itu. Kakak punya uang, apa salahnya kakak ingin memberinya?" Tegas suara Satria berbicara, menatap Rinda yang baginya masih sangat muda dan kekanak-kanakan, belum mengerti perihal urusan orang dewasa.
"Kakak yang bodoh, bagi kakak dia hanya meminjam yang akhirnya kakak beri. Tapi itu semua hanya trik wanita itu. Pura-pura meminjam uang, tapi toh pada akhirnya kakak memberinya sendiri. Kalau memang dia benar-benar meminjam, pasti akan dikembalikan ke kakak. Rinda tanya, apa selama ini dia pernah mengembalikan apa yang selama ini dia pinjam?" tanya Rinda, Satria hanya terdiam. Karena jawabannya adalah Melinda memang tidak pernah mengembalikan uangnya. Tapi dia tidak mempermasalahkan itu karena Satria sudah memberinya.
"Itu gak perlu dipersoalkan. Kakak yang bilang sendiri, itu adalah pemberian. Jadi tidak perlu diganti!"
"Oke fine, kalau kakak gak mempersalahkan itu. Tapi satu hal yang pasti, wanita itu gak benar-benar mencintai kakak, dia hanya mengincar harta kakak. Apa kakak mau menikah dengan wanita seperti itu, Kak?"
"Itu lagi yang kamu permasalahkan, kakak heran sama kamu. Kamu kenapa ngotot banget bilang kalau dia gak mencintai kakak? Dari mana kamu tau, kakak yang selama ini merasakan bagaimana dia mencintai kakak dari caranya memperlakukan kakak."
"Sudah Rinda bilang, semua itu hanya topeng, Kak! Kakak hanya dibodohi wanita itu, dan wanita itu pun sukses. Karena kakak benar-benar bodoh sampai tidak bisa membedakan segala triknya."
"Dan kakak juga sudah bilang, kenapa bisa kamu ngotot bicara kalau dia gak cinta sama kakak? Dari mana kamu tahu? Kamu juga gak bisa menjawab pertanyaan kakak ini, kan? Karena kamu itu ... fitnah!"
Rinda terdiam, air matanya kembali merebak. Untuk apa dia memfitnah seseorang? Tidak ada untungnya.
"Kalau Rinda bilang ... Rinda bisa baca pikiran semua orang ... apa kakak percaya?"
Satria membulatkan matanya kaget, menatap Rinda yang saat ini menatapnya dengan pandangan 'takut tidak dipercaya'.
Sesaat Satria terpaku, detik berikutnya ia hanya menggeleng dengan senyum miris.
'Kenapa kamu jadi aneh begini, Rinda? Dasar tukang menghayal!' batinnya.
"Jangan mengada-ada, Rinda!" Sentak Satria.
Rinda menyusut hidungnya,
"Aku tahu, aku juga bisa baca pikiran kakak. Termasuk saat kakak bilang ... mengapa aku jadi aneh begini? Dasar tukang menghayal!"
Deg!
***