Satria terpaku, menatap adik semata wayangnya itu dengan pandangan tak percaya.
"Rinda, kamu ...."
Berbagai tanya berkecamuk dalam pikirnya. Memang benar barusan di dalam hatinya ia menggumamkan kalimat tersebut. Benarkah Rinda bisa membaca pikiran? Rasanya sulit dipercaya. Atau itu hanya kebetulan? Tapi tidak mungkin bisa sangat pas seperti itu, kan?"
"Kakak masih gak percaya sama aku?" tanya Rinda lirih.
"Kamu ... kamu," Seolah tak sanggup Satria meneruskan kalimatnya, ia memilih mengusap wajahnya dengan kasar. Sesaat suasana hening di antara mereka, sampai Rinda mendengar suara hati lain selain Satria. Kepalanya menoleh, menatap ke pintu masuk antara ruang tengah dengan dapur. Nampak kain berwarna hijau menyembul di balik dinding.
Rinda tahu, Bi Inah sedang menguping pembicaraan mereka dengan cara bersembunyi di sana.
'Ya Allah benarkah Non Rinda bisa membaca pikiran?' batinnya yang kini terdengar di telinga Rinda.
'Ingin percaya tapi rasanya mustahil, tak ingin percaya tapi Non Rinda orangnya gak pernah bohong.'
Rinda kembali menyusut hidungnya, lalu berniat membawa wanita paruh baya itu ke hadapannya, mau bagaimana lagi semua orang dalam rumahnya sudah terlanjur mengetahui.
"Kemarilah, Bi. Rinda tahu bibi ada di balik tembok itu." ujar Rinda mengambil sikap.
Bi Inah membulatkan mata, lalu gelagatnya seperti salah tingkah. Awalnya Bi Inah mengintip terlebih dahulu, tapi pandangan Rinda mengarah padanya. Ragu-ragu wanita paruh baya itu lalu beranjak dari tempatnya. Berjalan pelan menuju tempat Rinda dan kakaknya berada.
"Sa-saya Non," ujar Bi Inah sambil menunduk.
"Bibi mendengar pembicaraan kita?" tanya Rinda menatap Bi Inah.
Wanita paruh baya itu mengangguk pelan, lalu berucap, "Maaf, Non."
"Rinda juga dengar pembicaraan bibi barusan, di sini ...." Rinda menepuk-nepuk d**a wanita paruh baya itu dengan pelan. Hingga Bi Inah terlihat takut.
"A-apa, Non?"
"Bibi ... barusan bilang begini kan, ingin percaya sama Rinda tapi terasa mustahil. Tak ingin percaya, tapi bibi tau Rinda orangnya gak pernah berbohong. Begitu, kan?"
Mata Bi Inah membulat, menatap Rinda dengan pandangan nanar. Ke-kenapa gadis di hadapannya bisa bicara tepat sekali seperti itu. Hal ini membuatnya sangat sangat kaget.
"No-non," gagapnya. Lalu badannya seperti sempoyongan sebelum akhirnya wanita paruh baya itu pingsan dan jatuh ke lantai.
"Bibiiiii!!!!" Pekik Rinda melihat asisten rumah tangganya tumbang seketika.
***
Satria memijat pelipisnya pelan. Rasa lelah mendera, sedangkan tangannya masih terasa kebas bekas menggotong ARTnya itu ke kamarnya yang berada dekat dengan dapur. Yah, ART yang sangat setia melayani keluarga kecil itu pingsan karena adiknya telah mengatakan sesuatu hal yang sangat di luar nalar dan logika.
Rinda bisa membaca pikiran? Sungguh sulit dipercaya. Tapi kenapa Rinda bisa menjadi seperti itu?
"Ya Allah, apa yang terjadi dengan adikku!!!" gumamnya pelan lalu mengusap wajahnya kembali dengan kasar.
Sungguh apa yang baru saja ia dengar dari mulut adiknya itu benar-benar membuatnya kaget setengah mati. Diliriknya jam yang jarumnya mengarah ke angka setengah sepuluh, ia memilih untuk ke kamar mandi lalu mengguyur tubuhnya di bawah pancuran air dari shower yang hangat. Matanya terpejam rapat saat air mulai membasahi seluruh tubuhnya. Rasa hangat yang dipancarkan perlahan membuatnya menjadi rileks sesaat.
Dalam keadaan terpejam seperti ini, terbayang saat kejadian di rumah sakit dulu saat Rinda pertama kali bangun dari komanya, saat itu ia mengatakan bahwa perawat yang datang itu mengatakan adiknya itu pembawa sial. Padahal tidak ada yang berbicara seperti itu. Mungkinkah itu juga karena ia mendengar suara hati perawat tersebut?
Sekarang ia tidak bisa berkata apa-apa, belum bisa menanggapi semuanya dengan baik pula. Rasanya masih sulit dipercaya, bahkan ia pun belum banyak berbicara dengan adiknya secara detail. Yang ia tahu, bahwa apa yang diucapkan hatinya tadi benar sekali bisa ditebak oleh Rinda. Ah bukan ditebak mungkin, tapi Rinda memang mendengarnya sepertinya.
Lima belas menit berlalu, ia keluar saat ritual mandinya telah selesai. Tubuhnya terasa amat lelah setelah seharian bekerja, membaringkan badannya di atas kasur lalu memejamkan mata. Sekian menit berlalu, tapi matanya tak juga bisa terpejam. Badan boleh lelah, tapi rasa kantuknya belum juga datang.
Pukul setengah sebelas malam, akhirnya ia keluar kamar. Mengambil sebotol minuman dingin dalam kulkas dua pintu yang tingginya lebih dari dirinya.
Terdengar dua orang yang tengah bercakap-cakap, ia tahu adiknya dan Bi Inah sedang berbicara. Disempatkannya untuk menengok ke kamar Bi Inah, wanita paruh baya itu sedang diuruti oleh Rinda.
"Den, kenapa ke sini? Gak usah repot-repot, bibi udah bangun." ucap Bi Inah merasa sungkan saat melihat Satria nongol di depan pintu.
"Bibi sudah sadar?" tanya Satria.
"Su-sudah. Maaf den sudah merepotkan, pasti bibi berat." ujarnya kembali sambil menunduk. Satria hanya tersenyum.
"Maaf Den, bibi cuma kaget kenapa Non Rinda bisa tahu isi hati bibi. Saking kagetnya, bibi malah pingsan. Maklum bibi udah tua."
"Udah bi gapapa, gak usah pikirin hal itu, ya? Yang penting bibi udah siuman sekarang."
"I-iya, Den."
"Kalau gitu istirahatlah, Bi."
"I-iya."
Satria melangkah pergi. Lalu duduk di sofa ruang tamu. Menunggu adiknya yang kini masih berada di kamar Bi Inah. Selang sepuluh menit adiknya itu kembali.
'Sini, Dek. Kakak mau bicara.' Sengaja Satria mengatakan itu dalam hati. Kalau memang benar Rinda bisa mendengar suara hati, maka seharusnya adiknya itu berbalik lagi kepadanya. Tatapannya mengarah pada Rinda yang hampir mau menaiki tangga, kemudian berbalik lagi dan malah menghampirinya. Lalu gadis itu duduk di sofa berseberangan dengannya.
"Ada apa, Kak?" tanya Rinda yang kini matanya sudah terlihat sayu. Pasti adiknya itu sudah mengantuk.
"Kenapa kamu kesini, Dek? Kakak gak manggil kamu!" Pura-pura Satria berkata, ingin tahu apa yang terjadi.
"Tadi kakak yang menyuruh aku kesini, kan?"
Satria membulatkan mata,
Benar! Rinda mendengar apa yang diucapkan hatinya.
"Dek, kakak gak tahu harus mulai dari mana. Tapi, semuanya terasa mengganjal di hati kakak."
Rinda menghela napas dalam-dalam,
"Apa yang mengganjal, Kak? Katakan saja."
"Kakak ... kamu, kenapa ... kapan ... ah kakak gak tau harus mulai darimana." Satria terlihat kebingungan, baginya perkara yang Rinda katakan tadi itu membutuhkan penjabaran yang banyak. Sehingga dia bingung harus dengan pertanyaan apa untuk memulainya.
"Kalau kakak mau tau, sejak kapan aku punya kemampuan ini. Maka jawabannya adalah semenjak aku bangun dari koma. Aku bisa melihat warna yang menggambarkan perasaan seseorang, Kak. Warna yang menguar di sekitarnya, adalah warna dari suasana hatinya. Biru berarti kebahagiaan, merah jambu artinya cinta, hitam artinya kesedihan, kejahatan atau bahkan sebuah kebohongan."
Satria terpaku, ingatannya kembali menerawang saat adiknya itu beberapa kali mengucapkan biru saat ia bangun dari koma dan melihat Satria. Itu artinya, kebahagiaan Satria yang masih bisa melihat Rinda membuka mata. Dan Rinda melihat itu.
"Lalu wanita itu, andai kakak percaya, saat pertama kali dia menjejakkan kakinya di rumah ini, kalimat pertama yang diucapkan hatinya apa kakak tahu?" Rinda bertanya, Satria hanya menggeleng pelan.
"Wanita itu bilang, jadi benar kakak itu orang kaya. Harus bisa nikah sama gue nih supaya gue bisa jadi nyonya di rumah ini, biar bisa diporotin dan dikeruk hartanya sampai habis!"
Deg!
Satria mengusap wajahnya kasar, diam tak bisa berkata-kata. Rasanya campur aduk. Ia bingung, entah harus bagaimana menyikapi semua hal yang terjadi. Benarkah apa yang dikatakan adiknya itu? Bahwa Melinda bukan wanita baik-baik seperti yang selama ini ia kira? Benarkah Melinda hanya mendekatinya karena dia kaya saja? Bukan karena cinta? Tapi setahunya, Melinda bukan orang yang seperti itu. Tapi sekali lagi hatinya bertanya, mana yang lebih ia percaya? Pacar yang awalnya hanyalah teman yang lama terpisahkan atau adik kandung yang selama 20 tahun ini selalu bersama dan tak pernah terpisah? Satria terus memikirkan itu, sampai dia lupa ada hal lain juga yang ingin ia tanyakan.
Menatap kakaknya yang hanya melamun, Rinda tahu pasti kakaknya itu cukup terpukul. Entah ia bisa mempercayai Rinda atau tidak.
"Kak, kalau kakak masih bimbang, kalau kakak masih belum bisa percaya sama aku, bagaimana kalau kakak buktikan sendiri bagaimana watak wanita itu yang sebenarnya?" ucap Rinda memberi solusi.
Satria mengangkat kepalanya, menatap Rinda dengan kening mengkerut.
"Caranya?"
"Cari tahu masa lalunya, wanita seperti Melinda pasti punya banyak mantan pacar. Aku bisa melihat itu. Kakak cobalah cari tahu perangai wanita itu dari mantan-mantannya. Lakukan secara rahasia dan diam-diam. Jangan sampai wanita ular itu tahu."
Deg!
Satria terdiam, tidak menyangka bahwa adiknya sampai berkata bahwa Melinda adalah wanita ular.
Tapi masukan dari Rinda barusan sepertinya cukup menarik hati Satria dan bisa menghilangkan gusar di wajahnya. Laki-laki itu mengangguk-angguk. Tidak ada salahnya dia harus mengetahui kebenarannya mengenai Melinda, demi masa depannya juga. Ia tidak mau kalau sampai terperangkap dengan wanita yang salah.
"Iya, Dek. Kakak akan coba." ucap Satria pada akhirnya.
***