Bukti Lain untuk Satria

1390 Kata
Semalaman Satria terus memikirkan saran dari adiknya. Menyusun rencana untuk memata-matai Melinda, apakah benar wanita yang menjadi pacarnya kini hanya menginginkan hartanya saja tapi tidak benar-benar mencintainya dengan tulus? Mengingat cara Melinda memperlakukan Satria, kelembutan dan perhatiannya membuatnya merasa benar-benar dicintai. Satria menatap langit-langit kamar, hanya bias lampu tidur yang menerangi kamarnya. Lampu utama sudah dimatikan. Diambilnya handphone yang berada di atas nakas, lalu mulai membuka sebuah aplikasi sosial media dengan lambang kamera berwarna pink. Di sana ia mulai mengetik nama Melinda, akun sosial sang kekasih. Selama ini mereka memang berteman sejak lama, tapi Satria jarang membuka aplikasi tersebut karena sibuknya ia di kehidupan nyata. Di sana terpampang banyak foto yang menampilkan kecantikan Melinda. Terus menggeser ke bawah hingga entah berapa banyak foto yang ia unggah selama memiliki akun sosial media tersebut. Tidak ada yang bisa menjadi petunjuk dari unggahannya, semua foto yang terpampang hanya menampilkan Melinda seorang. Tidak ada foto bersama dengan teman atau bahkan orang spesial satu pun yang membekas. Satria menghembuskan nafas lelah, bagaimana cara mengetahui siapa saja yang pernah menjadi orang terkasih wanita tersebut? Bertanya langsung pada Melinda tidak mungkin! Yang ada rencananya malah bisa gagal. Detik selanjutnya ia menekan unggahan yang paling pojok di sebelah kanan. Bagian tersebut khusus unggahan dari orang-orang yang men-tagnya. Kali ini matanya membulat saat menemukan sebuah foto ia dengan seorang laki-laki dengan caption-nya yang bertuliskan 'kesayangan, semoga kita langgeng ya sayang'. Sebuah akun yang bernama Geri kini menjadi perhatiannya. Sepertinya Rinda lupa menghapus foto yang di-tah tersebut. Buru-buru ia menekan tulisan biru tersebut, lalu mulai men-stalking akunnya. Dan benar saja, di unggahan yang paling bawah terdapat beberapa foto orang tersebut dengan Melinda. Seolah menemukan harapan baru, ia langsung bangkit dari posisinya dan memilih duduk dengan kaki bersila. Mulai menelusuri foto-foto yang diunggah dengan membaca caption-nya dengan teliti. Sebuah foto yang diunggah sekitar dua bulan lalu kini menjadi perhatiannya, di sana foto tersebut menampilkan ia sedang berada di depan pintu dengan tulisan 'Ruang Psikiater'. Sedangkan caption-nya bertuliskan 'Doakan saya teman-teman, semoga bisa benar-benar sembuh dan hilang rasa trauma ini.' Matanya membulat dengan beragam spekulasi yang berkembang dalam otaknya. Dengan ragu, kini ibu jarinya mulai mengetik sebuah pesan untuk orang tersebut. [Selamat malam, maaf mengganggu. Saya Satria. Bisa kita bertemu?] Tanpa diduga, ternyata pesan tersebut langsung dibaca. [Ada perlu apa?] balasnya. Satria nampak berpikir. Apa yang harus ia katakan? Haruskah ia to the point saja dengan mengatakan langsung untuk mengorek kehidupan Melinda? Mantannya tersebut? Ia ingin tahu, apa alasan mereka berpisah dulu dan bagaimana kepribadian Melinda selama mereka masih bersama dulu? Satria menggeleng, rasanya sangat tidak pantas jika hal itu ia lakukan. [Saya ada perlu, untuk mengorek informasi sesuatu.] [Mengorek informasi? Saya bukan detektif.] [Tapi kau pasti tau sesuatu] Lama pesan tersebut hanya dibaca saja, membuat Satria ketar-ketir usahanya gagal. Sampai kemudian ada pesan balasan yang akhirnya datang kembali. [Sebenarnya kau ini siapa? Informasi apa yang ingin kau dapatkan?] Satria nampak berpikir. [Jangan bilang, kau sedang mengorek informasi si jalang itu?] Pesan susulan membuat Satria hanya bisa memicingkan mata. [Siapa jalang yang kau maksud?] [Melinda!] Deg!!! Matanya membulat, rasa tak percaya saat orang tersebut berhasil menebak maksud tujuannya, ditambah lagi saat pria itu mengatakan Melinda sebagai jalang. Sepertinya memang ada yang tidak beres dengan pacarnya itu. [Bagaimana kau bisa tahu maksudku?] balasnya masih kebingungan. [Sudah kuduga, sebab banyak juga yang bertanya padaku mengenai wanita licik itu.] Kini Satria dibuat menganga, bahkan orang lain pun mengatakan bahwa Melinda licik. [Kita perlu bicara.] Dengan hati yang mantap Satria mengajak bicara, ia harus tau semua kebenaran ini secepatnya. Harus secepatnya. [Datang saja ke alamat yang kukirimkan nanti,] [Baik] Akhirnya Satria membuat janji dengan pria bernama Geri itu di hari esoknya. Dalam hati ia merasa tak sabar dengan berita apa yang akan ia dengar nanti mengenai pacarnya itu. Apa benar Melinda bukan perempuan baik-baik? *** Jam menunjukkan pukul tujuh malam. Satria buru-buru menaiki mobilnya untuk bertemu dengan seseorang. Sesuai janji, mereka bertemu di sebuah cafe yang tenang dengan musik melow yang mengalun syahdu. Mencari nomor meja yang sudah dipesan, laki-laki dengan tinggi 170 cm itu menemukan sosok laki-laki dengan topi yang sedikit menutupi wajahnya. Gegas ia berjalan menghampiri. "Geri?" sapanya memastikan. "Satria?" Lawannya pun balas memastikan yang langsung diangguki oleh kakaknya Rinda tersebut. Mereka berbincang-bincang sesaat dan saling memperkenalkan diri masing-masing. Diketahui, ternyata pria bernama Geri ini berusia satu tahun lebih tua dari Satria. Wajahnya cukup tampan, tapi kumis dan janggutnya terlihat menganggu penampilannya. "Jadi, apa yang ingin kau tahu mengenai perempuan jalang itu?" tanya Geri sambil menyulut sebatang rokok. "Kenapa kamu terus menyebut Melinda sebagai jalang?" Satria menanyakan hal yang dari semalam mengganggu pikirannya. "Karena wanita itu memang seperti jalang. Kau pacarnya, kan?" Geri balik bertanya. Satria mengangguk pelan. Laki-laki yang memakai topi dengan motif seragam tentara itu tersenyum kecut. "Dia wanita matre yang hanya mengincar harta saja. Kalau sudah habis apa yang diincarnya, maka dia akan pergi seenak jidatnya." Deg!! Satria menegakkan posisi duduknya manakala mendengar penuturan lawan bicaranya. "Belakangan yang kutahu, ternyata sudah ada beberapa orang yang menjadi korban dari wanita sialan itu. Aku sudah menghabiskan tabunganku juga sawah ayahku demi memenuhi segala keinginannya, bahkan perhiasan ibuku untuk menyusun rencana pernikahan kami yang sesuai dengan keinginannya. Tapi wanita itu malah kabur dan meninggalkanku begitu saja. Bahkan rencana pernikahan kami, aku harus menanggung malu karena gagal menikah. Imbasnya, mentalku pun menjadi terganggu, dan setiap bulannya aku harus berobat ke psikiater karena rasa trauma akibat ditinggal oleh wanita itu." Mata Satria membulat, menatap laki-laki yang kini menyedot cerutunya itu kuat-kuat. "Ka-kau berkata jujur?" tanya Satria seakan tak percaya. "Untuk apa aku berbohong? Sudah lama sebenarnya aku ingin menjebloskan wanita itu ke penjara. Tapi aku tak tau saja keberadaannya di mana. Dia hilang seperti ditelan bumi, semua akun media sosialku telah diblokirnya. Hingga hilang keinginanku itu, dan aku lebih memilih untuk fokus saja pada kesembuhanku sekarang. Ayah dan ibuku juga bahkan sudah pasrah, dan menyerahkan rasa dendamnya itu kepada Tuhan. Agar Tuhan yang menghukum w***********g itu dengan cara-Nya." Mulut Satria kini menganga, ia tak tahu harus berkata apa. Mengingat Rinda yang selalu mengatakan Melinda adalah wanita materialistis. Jadi wanita itu .... "Aku katakan kepadamu, sebelum kau menjadi seperti aku, hempaskan wanita itu jauh-jauh dari sekarang. Dia wanita yang sangat berbahaya. Belakangan, aku punya koneksi dengan orang-orang yang pernah menjalin hubungan dengannya. Dan mereka semua bilang, wanita itu memang memeras harta mereka. Setelah bosan dan dirasa tak lagi menghasilkan uang untuknya, maka dia akan pergi jauh-jauh. Bahkan mungkin menghilang. Asal kau tahu saja, selain materialistis dia juga pandai sekali menghilangkan dirinya." Satria menelan ludah, meski sudah kenal dengan Melinda selama bertahun-tahun lamanya dan baru belakangan ini mereka dipertemukan kembali, baru hari ini ia tahu sosok Melinda yang sesungguhnya. Ya, mereka adalah teman semasa SMA dulu selama berada di Kota Bandung. Sempat lost kontak selama beberapa tahun, lalu bertemu kembali di Bogor dan menjalin hubungan karena kandasnya cinta Satria dengan Laudya kala itu. Satria meneguk secangkir coffee latte-nya dengan perasaan tak menentu. Setelah semua bukti yang ia temukan hari ini rasanya sudah cukup membuatnya tak lagi memiliki kepercayaan pada Melinda yang ia kira baik, tulus dan mencintainya. Ia harus mengambil sikap. "Jadi kau sempat sampai gila?" tanya Satria sambil menaruh cangkirnya. "Tidak sampai gila, hanya sebatas depresi dan benci kalau melihat perempuan. Bahkan aku pernah sempat tak mau bertemu dengan ibu. Setiap kali bertemu dengan perempuan, maka aku merasa tubuhku seperti bergetar dan berkeringat dingin. Sekarang keadaanku sudah jauh lebih baik dari dulu," "Apa kau tidak ingin membalaskan dendammu?" "Seperti yang sudah kubilang, aku mengikuti jejak ayah dan ibu. Menyerahkannya pada Tuhan dan tinggal melihat kehancuran wanita itu kelak. Tuhan tidak tidur, Dia pasti akan menghukum manusia-manusia jahat. Karena karma itu nyata." Satria terpaku, jujur baginya laki-laki di hadapannya ini sangat legowo. Jika hal itu terjadi padanya, belum tentu ia juga bisa bersikap seperti itu. "Kalau kau mau tahu lebih banyak mengenai korban-korban w***********g itu, aku bisa memberikan padamu kontak mereka. Kau mau?" Satria menggeleng. "Sudah cukup dari mulutmu saja, sekarang aku tahu keputusan apa yang mesti kuambil." "Kenapa kau langsung mempercayaiku? Apa kau tidak takut aku berbohong?" Satria tersenyum. Teringat adiknya yang mati-matian menentang hubungan ia dengan Melinda dengan alasan materialistis tersebut. Sebenarnya dari mulut Rinda saja kemarin malam itu, ia sudah cukup percaya. Kini mendapat satu bukti dari orang lain, sudah cukup baginya. "Terimakasih, Bung." ujarnya lalu bangkit dari kursinya. Ada satu hal yang harus ia putuskan sekarang. Menjauh dari perempuan bernama Melinda. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN