Terciduk Kating Rese

1830 Kata
Alarm pagi berbunyi nyaring. Bulu mata yang lentik itu bergerak-gerak seiring dengan matanya yang mengerjap perlahan. Rinda merenggangkan otot-otot tangannya selepas tidur, diliriknya jam di dinding yang menunjukkan pukul lima pagi. Tangannya bergerak menutup mulut saat ia menguap. Masih ngantuk sepertinya, tapi ia sudah terbiasa bangun di jam tersebut. Jadi mau tidur lagi pun sudah tidak bisa. Hari ini gadis itu akan berangkat ke kampus lagi. Dalam hati sudah bertekad, bahwa kali ini ia akan menghadapi, apapun yang terjadi. Tidak akan lagi ia menghindar. Gadis itu menyiapkan dirinya dengan sebaik mungkin, penampilannya terlihat santai, harapannya semoga kelak juga ia bisa bersikap santai. Apapun yang terjadi, usahakan untuk tidak panik. Mandi pagi, berhias diri, sarapan lalu berangkat kuliah dengan diantar sopir pribadi. Sepertinya, gadis itu merasa tidak nyaman jika harus diantar-jemput seperti itu. Lain kali, ia ingin berangkat dan pulang sendiri saja. Dadanya berdebar saat langkah kakinya memasuki gerbang kampus yang menjulang tinggi, seperti kemarin kedatangannya seperti menjadi pusat perhatian para mahasiswa-mahasiswi yang berada di lapangan. Beberapa mahasiswa sempat bersiul-siul saat dirinya lewat. Kalau boleh Rinda jujur, dari dulu dirinya paling tidak suka jadi pusat perhatian. Saat sebelum punya kemampuan saja, ia sudah tidak suka. Apalagi saat ia punya kemampuan membaca pikiran itu. Sebab bisa terlihat jelas di matanya, orang-orang yang menatapnya itu ada yang merasa kagum, ada juga yang iri dan dengki, bahkan ada yang sampai berhasrat dengan parasnya. Tangannya mengepal, ingin sekali meninju laki-laki yang punya hasrat itu kepada dirinya. Sayangnya ia bukan tipe wanita yang liar seperti itu. Tetapi ia juga tidak bisa menyalahkan, bukankah laki-laki juga punya nafsu? Selama mereka hanya memendam hal tersebut dan tidak menggodanya, Rinda tidak bisa menggertak atau pun mencari perkara dengannya. "Cantik banget, ya ...." "Iya, dari tadi banyak yang liatin, apalagi kating-kating cowok." "Kalau muka gue cantik kaya gitu, gue udah daftar jadi model kali." "Kalau muka loe cantik kaya gitu, gue yakin loe udah bertingkah kaya bidadari." "Hahaha kurang ajar loe!" Demikian bisik-bisik yang terdengar dari beberapa orang yang dilewatinya barusan. Rinda menggeleng, itu sih bukan bisik-bisik namanya. Suaranya terlalu keras untuk ukuran orang yang sedang bisik-bisik. "Rinda tungguuuuu!!!" Langkah Rinda terhenti saat dari belakang seseorang memanggilnya. Kepalanya menoleh dan mendapati Miska tengah berlari mengejarnya dengan nafas yang tersengal. "Miska, ada apa?" tanya Rinda dengan ekspresi datar. "Bareng yuk, ke kelas!" ujar Miska dengan tersenyum, lalu menggandeng tangan Rinda sok akrab. Seakan-akan mereka adalah dua orang yang bersahabat dekat sejak lama. Mau tak mau Rinda ikut saja, membiarkan tangannya digandeng oleh teman barunya itu. 'Tuhkan, kalau bareng sama dia aku juga pasti jadi pusat perhatian. Lumayan kan bisa numpang tenar. Hihi ....' Langkah Rinda terhenti sesaat. Matanya yang bening menatap gadis di sampingnya itu dengan ekspresi yang sulit diartikan. Ia tak habis fikir, dirinya sangat tidak suka jadi pusat perhatian. Tapi malah ada orang-orang yang dengan sengaja memanfaatkan dirinya untuk mendapat perhatian dari orang-orang, alias numpang tenar. Hihhh! Rinda mendengus kesal dengan gadis di sampingnya ini. "Ada apa?" tanya Miska sambil menaikkan alisnya. Cukup bingung dengan Rinda yang tiba-tiba berhenti juga ekspresi yang ditunjukkan Rinda. Kini mata gadis itu memicing. "Aku mau cerita." "Apa?" Miska bertanya, sangat antusias. "Aku itu tipe orang yang kalau berteman lebih baik sama orang yang cupu tapi tulus, dibandingkan dengan orang yang sok asik tapi ada maunya aja." ujar Rinda sambil tersenyum tenang. Raut wajah Miska nampak memerah, sepertinya kalimat yang diucapkan Rinda menyinggung perasaannya, juga menyentil dirinya. "O-oh gitu, ya?" tanya Miska dengan wajah datar. "Iya." "Samalah aku juga, Rin." sahut Miska yang kini ekspresinya mulai biasa seperti tadi. "Kita sama banget sih? Cocok deh jadi teman dekat. Banyak tau orang yang begitu, berteman dengan tujuan tertentu aja. Kok bisa ya ada orang yang begitu? Tega banget sama temannya itu kan, ngedeketin karena ada maunya aja. Hiihhhh amit-amit deh, jauh-jauh deh dari orang kaya gitu." Miska bicara panjang lebar, Rinda yang mendengarnya hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum kecut. Sungguh ia tidak habis pikir, bisa-bisanya Miska berbicara seperti itu, sedangkan hal tersebut ada dalam dirinya. "Itu namanya membicarakan kebusukan sendiri." gumam Rinda lirih, lirih sekali. "Eh kamu ngomong apa tadi? Aku gak dengar." Miska bertanya penasaran. Sedangkan Rinda memilih tak menjawab pertanyaan gadis bernama Miska tersebut. "Oh iya, betewe kemarin itu kamu kenapa, sih Rinda? Kok tiba-tiba teriak diam gitu? Udah gitu langsung pergi dan gak balik lagi. Kita semua pada bingung loh!" Rinda terdiam, tak menyangka bahwa kejadian kuliahnya di lusa kemarin itu menjadi pertanyaan teman barunya. "Oh ya? Kalian pasti pada bingung dengan sikapku ya?" "Iya betul." "Terus kalian membicarakanku apa?" "Gak sih, gak ada yang membicarakan kamu." Rinda memicing, warna suaranya hitam. Artinya Miska berbohong. "Kita cuma heran aja kenapa kamu teriak begitu. Kenapa coba kamu teriak?" sepertinya Miska masih terlihat penasaran. "Aku ... waktu itu ... aku ... aku mimpi." "Mimpi? Mimpu apa?" "Emmm ... anu. Banyak orang yang menghujat aku, kekurangan aku, dan sikapku ini. Dalam mimpi itu aku teriak diam, dan gak sadar kalau sampai teriak beneran." ujar Rinda berbohong. Matanya melirik ke arah samping, khas gadis tersebut kalau sedang berbohong. "Iyah begitu." lanjutnya. "Ohhh pantes ajaaa, aku dah nyangka gitu loh. Soalnya kan sebelumnya kamu ngumpet aja kan di balik meja, itu kamu pasti lagi tidur. Nah benar kan kamu itu mimpi. Hahaha lucu banget kamu!" ujar Miska yang kali ini sudah tertawa lebar. Rinda tersenyum paksa menanggapi ucapan Miska. Sudah bisa dibayangkan, pasca kepergiannya meninggalkan kelas waktu itu, pasti dirinya jadi bahan pembicaraan satu kelas atas sikap anehnya. *** Ketika istirahat tiba, Rinda memilih menyendiri di sebuah ayunan besi yang tempatnya tepat di belakang perpustakaan. Sebenarnya, ia tahu dari awal Miska terus mengincarnya untuk terus bersama-sama dengannya. Tadi saja ia harus bersembunyi di toilet karena Miska yang terus memanggilnya. Untuk apa berteman dekat, kalau akhirnya hanya dimanfaatkan saja? Rinda menarik nafas dalam-dalam, menghirup udara yang masih terasa segar di sekitarnya. Ini adalah taman belakang kampus, tapi semenjak dibuatkan taman yang lebih dekat dengan gedung fakultas, taman ini bisa dibilang menjadi sepi. Karena tempatnya yang dekat kebun kosong, ditambah dibelakangi gedung, jadi sedikit lebih banyak taman ini jadi diabaikan. Terlebih lagi taman yang baru, jauh lebih luas dan lebih lengkap fasilitasnya. Desas-desus pun beredar, beberapa mahasiswa pernah melihat ayunan besi tersebut seringkali bergerak sendiri. Biasanya mereka yang melihat hal tersebut dari lantai dua perpustakaan dan melihat dari jendela. Kabar tersebut menjadi ketakutan tersendiri bagi mahasiswa dan mahasiswi di sana untuk mendatangi tempat tersebut. Tidak jauh dari ayunan ada pohon rambutan yang daunnya rimbun. Saking rimbunnya, kalau seseorang berdiri di bawahnya saat hujan deras pun rasanya bisa dipayungi oleh pohon tersebut. Jika sudah berbuah, buahnya lebat. Seperti sekarang, buahnya nampak sudah matang dengan warna yang kemerahan. Rinda tak tertarik dengan pohon yang kini terlihat berwarna merah karena lebatnya buah rambutan yang sudah matang. Saat ini fokusnya berada pada sosok wanita di hadapannya yang menatapnya pucat. "Itu tempatku." ujarnya sambil menunjuk ayunan yang diduduki Rinda. Derit besi yang terdengar saat ayunan bergerak menjadi simphoni tersendiri untuk orang-orang yang memiliki ketakutan berlebih terhadap hal-hal yang berbau mistis. Tapi Rinda tidak merasakan ketakutan itu. Sekarang, ia sudah terbiasa dengan semua makhluk dari alam yang berbeda dengannya. Sebab, dari mereka Rinda merasakan hal yang berbeda. Tidak seperti manusia, yang kebanyakan munafik. Mendekatinya karena ada tujuan tertentu. Justru makhluk-makhluk di hadapannya terasa lebih alami dalam berinteraksi dengannya. Tidak ada kebohongan atau pun kepura-puraan. "Bolehkah aku meminjamnya sebentar?" pinta Rinda menatap sosok wanita di hadapannya yang berwajah pucat. "Mengapa kau kesini? Mengganggu saja!" Rinda membulatkan mata, sosok di hadapannya nampak ketus dengan seringaian yang cukup menakutkan. "Aku ingin sendirian, tapi malah bertemu kau." "Kalau tak ingin bertemu denganku, jangan kesini!" "Sudah terlanjur ...." "Sudah mengganggu tempatku, tak mau mengalah lagi!" "Kau juga, sudah pelit padaku, tak mau mengalah denganku juga." "Kau cari gara-gara denganku?" "Tidak." "Iya!" "Tidak!" "Kau ...." Rinda tak mau mengalah padahal wajah mengerikan di hadapannya sudah terlihat garang. Ahh tapi kalau dipikir-pikir, untuk apa dia berdebat dengan makhluk di hadapannya? Bagaimana kalau dia marah dan Rinda diserang? Tentu Rinda akan kalah karena dia tidak punya kekuatan apa-apa. Rasa- rasanya apa yang dia lakukan sekarang ini sangat menantang. Dia juga bodoh, kenapa mengajak berdebat makhluk halus? Sambil menahan senyuman, akhirnya ia bangkit dari duduknya dan bermaksud untuk pindah. "Kenapa bangun?" tanya sosok wanita tersebut. "Kan kau memintaku pindah." "Tidak usah!" "Memangnya kenapa?" "Duduk saja di sana, biar aku yang mengalah." "Hah, dasar setan tak tidak konsisten, huh!" Rinda mendengus kesal, merasa dikerjai oleh makhluk tak kasat mata. "Kau mengataiku?" "Iya." "Kumakan kau!" Sesaat Rinda terpaku dalam rasa takutnya, detik kemudian datang seorang nenek-nenek yang waktu itu pernah menghampiri Rinda dan bahkan menasehatinya. "Nenek ...." sapa Rinda, seakan meminta perlindungan. "Cucuku ...." "Nenek dia mau memakanku. Aku takut." adu Rinda sambil menunjuk wanita di hadapannya yang masih menyeringai. "Kikikik ... dia ini memang begitu, tapi tidak benar-benar akan memakanmu, sayang." "Tapi aku takut." "Tenang ada nenek." "Dia mengataiku setan tak konsisten, Nek. Aku kesal." ujar si wanita. "Habis baru saja dia menyuruhku untuk bangun dan meninggalkan tempatnya, tiba-tiba saja langsung menyuruhku lagi untuk tetap duduk saja. Membuatku bingung, huh! Benar kan Nek dia tidak konsisten?" Rinda membela diri sekaligus mencari pembenaran juga pembelaan dari sosok nenek di sampingnya. "Sudah, sudah jangan bertengkar terus. Kasihan gadis ini, dia lebih senang berinteraksi dengan kita. Dibanding dengan sesamanya." ujar nenek menengahi. Kali ini wanita pucat tersebut menatap Rinda dengan seksama. "Aku pun menyadari, kenapa dia bisa melihat kita?" "Iya, sepertinya mulai sekarang kau akan punya teman dari bangsa manusia. Kikikikik ...." "Aku tak mau berteman dengannya." tolak sang wanita sambil membuang muka. "Heh, kau pikir aku juga mau berteman denganmu?" balas Rinda tak mau kalah. "Kalau begitu, jangan kesini lagi apalagi duduk di tempat kesayanganku itu. Ini daerah kekuasaanku." "Di duniamu ini daerah kekuasaanmu. Tapi di duniaku, ini masih area kampus, mahasiswa manapun berhak ke sini." "Kau sangat mengeyel jadi manusia." "Kau pun sangat pelit jadi hantu." "Kau ini benar-benar membuatku marah, ya?" "Aku pun sangat marah dengan sikapmu." "Kalau begitu ayo kita bertarung!" "Diaaammmmmmm!!!!" Si nenek berteriak, seperti sebuah gelombang yang bisa menggetarkan angin, rambut Rinda bergerak seperti tiupan angin kencang. Refleks gadis itu memegangi satu telinganya yang terasa sakit akibat teriakan si nenek yang begitu nyaring. "Iya Nek aku diam." Rinda berucap lirih. "Kalau kalian bertengkar terus, biar nenek kasih hukuman. Mau?" "Jangan, Nek. Maaf." Sosok wanita tersebut meminta maaf, mau tak mau Rinda pun berbuat hal yang sama. Baru saja Rinda hendak duduk kembali di ayunan, saat tiba-tiba saja kepalanya kejatuhan sesuatu. Pletakkkkk!!! "Awww!!!" Rinda meringis sambil mengusap kepalanya. Tidak sakit, tapi kaget. Ditengoknya sesuatu yang mengenai kepalanya barusan, keningnya mengkerut merasa heran saat mendapati kulit rambutan yang teronggok tepat di bawah kakinya. "Kulit rambutan?" gumamnya heran. Ia menoleh ke sekitar, matanya membulat saat melihat seseorang turun dari pohon rambutan dengan cara melompat. "Heyy gadis jadi-jadian!" sapa seseorang di sana sambil mendekat menghampiri. Rinda semakin kaget saat melihat sosok pemuda di hadapannya yang kini menghampirinya. "Kating rese?" pekik Rinda tertahan. "Dari tadi kau bicara sendirian terus. Are you... crazy huh?" Satu kalimat yang keluar dari mulut Arga sukses membuat Rinda menegang seketika. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN