Di mana Warna Arga?

1744 Kata
"A-apa?" Rinda tergagap dalam rasa panik. Jantungnya berdetak tak karuan, menatap Arga dengan takut-takut. Sedangkan laki-laki di hadapannya memicingkan mata, menatap Rinda penuh menelisik. Tangan Arga terjulur, merasai kening Rinda dengan punggung tangannya. Dengan segera Rinda menepis, matanya mendelik tajam menatap Arga dengan bibir mengerucut kesal. "Jangan macam-macam, Kak." Ketus Rinda sambil melotot. "Gak panas, tapi ini orang aneh banget ya?" Arga bertanya, entah pada siapa. Sepertinya ia sedang menggumam sendirian. "Ma-maksudnya?" Lirih sekali Rinda bertanya, ia tahu dari tadi ternyata ia sedang diperhatikan. Tapi sayangnya, ia tidak sadar. Di sisi lain ia merutuk, mengapa harus ada orang yang tak terlihat di tempat seperti ini? Ditambah lagi, mengapa harus si kating rese ini lagi yang terus memergokinya? "Dari kemarin ketemu kamu lagi ngomong sendirian terus, kamu ... ngomong sama siapa?" Pertanyaan Arga membuat Rinda gugup setengah mati. "A-aku ... aku lagi ... lagi latihan drama buat tampil bulan depan nanti." Tiba-tiba saja jawaban itu terlintas begitu saja, Rinda menyunggingkan senyum merasa pintar karena mendapat jawaban yang masuk akal di saat genting, meski harus berbohong. "Iyah itu, lagi latihan drama." ujarnya kembali dengan mantap. Arga manggut-manggut. "Kirain kamu lagi ngomong sama setan." Arga terkekeh merdu, yang sialnya membuat Rinda tertegun sesaat ketika melihat laki-laki menyebalkan di hadapannya itu tertawa menampilkan deretan giginya yang putih dan rapi. "Kata teman-temanku, di sini ada penunggunya loh! Kamu gak takut?" Rinda melirik ke samping. "Eng-enggak!" "Tuh, di ayunan yang tadi kamu dudukin, sering loh mengayun sendiri. Apalagi kalau malam, gak berhenti-henti." Rinda tahu itu, ia bahkan bisa melihat mereka, siapa saja penunggu di sini pun ia tahu. Tapi yang diherankan, apa Arga juga tidak takut? "Kakak sendiri gak takut? Pohon itu juga angker!" Dagu Rinda mengarah ke pohon rambutan yang baru saja dipanjat Arga. Arga menggeleng keras-keras. "Aku tipe orang yang selalu berpikir logis dan gak percaya sama begituan." terangnya begitu santai, sambil memasang gaya sok cool. 'Dih gak tau aja ada makhluk berbulu lebat di sana.' Rinda membatin. Dalam hati juga ia mensyukuri, makhluk tersebut tak mengganggu orang yang katanya tak mempercayai hal-hal mistis tersebut. Padahal mereka tadi pasti sempat bersisian. "Terus ngapain juga seorang Ketua BEM diam-diam ambil rambutan sendirian, kakak bolos ya?" "Nggaklah, emang kamu? Baru pertama masuk udah langsung bolos." Rinda tercenung sesaat, tidak menyangka, entah Arga memperhatikan atau asal tebak saja. Hari dimana ia bolos adalah memang hari pertamanya masuk kembali ke kampus. "Emmm itu ...." "Oh iya ngomong-ngomong, urusan kita lusa kemarin itu belum selesai, ya!" "Hee?? Urusan apa?" Rinda membulatkan mata, merasa tidak punya salah apa-apa terhadap pria di hadapannya. "Urusan apa? Kamu gak inget?" Rinda menggeleng. "Satu, kamu udah gigit tangan saya waktu itu. Dan kamu harus tanggung jawab untuk itu. Dua, kamu ketahuan lagi sendirian di sini pasti buat ngisep atau ngerokok lagi, kan? Iya kan? Ngaku!" cecar Arga dengan penuh keyakinan. Rinda menggeleng keras-keras. "Aku gak ngisep apalagi ngerokok. Dari tadi diam aja di sini. Kakak jangan asal nuduh!" "Gak mungkin gak ngapa-ngapain. Kebiasaan kamu tuh menyendiri, pasti untuk melakukan sesuatu. Gak bisa dibiarin ini! Ayo ikut!" Kembali terulang, Arga menarik tas selempang Rinda hingga gadis itu terpaksa ikut. "Kak, ish. Rese banget sih! Bisa gak sih sehari aja gak ganggu aku. Ini ketiga kalinya aku ke kampus dan ketiga kalinya pula dikerjain sama kakak." Langkah Arga berhenti. Yang otomatis Rinda pun berhenti, gadis itu mengerutkan keningnya dalam, bibirnya mengerucut kesal, kakinya dihentak-hentak. Khas gadis tersebut jika sedang kesal. Baru Arga sadari, memang setiap pertemuannya laki-laki itu selalu mengerjai gadis bermata bening tersebut. Seperti hari ini, sebenarnya dia pun melihat Rinda hanya sendirian dengan aktifitasnya yang berbicara sendirian saja. Tidak ada ia lihat gadis itu sedang menyulutkan rokok atau pun menghisap. Tapi entah kenapa dia senang sekali mengerjai gadis itu, seperti ada kesenangan tersendiri dalam dirinya. Baru hari ini dia sadar, kalau dirinya sejahul itu pada mahasiswi baru yang satu ini. "Heh, nama kamu siapa, sih? Saya lupa." "Budu amat!" Rinda menjawab ketus denggan tangan bersedekap di d**a. "Hooo iya, aku ingat. Kamu itu si Rindu yang Tak Terbalas, kan?" Wajah Rinda memerah saat hal itu disebut, sedangkan Arga nampak menahan tawa mati-matian. "Pffffttttt!!!" Rinda semakin jengkel, jika ingat masa-masa ospek waktu itu ia merasa sangat konyol dan bodoh karena hanya dia sendiri yang terjebak dengan tulisan jebakan tersebut. "Buahahahahaaaa ...." Akhirnya tawa Arga tak dapat dibendung. Rinda hanya bisa menahan malu, kalau ada helm dia ingin memakai helm sekarang juga. Lalu ia beranjak dari tempatnya. Jalannya pun sengaja dihentak-hentak. "Heyy mau kemana?" tanya Arga dengan setengah berteriak. "Kemana aja. Yang jelas enggak ketemu lagi sama kating rese yang punya gelar Ketua BEM." "Hutang kamu belum lunas!" Rinda menoleh, melihat Arga yang memasang wajah serius. "Hutang apa? Aku ga ada hutang!" "Kemarin waktu kamu gigit tanganku, itu rasanya sakit banget. Dasar cewek jadi-jadian!" "Heeee apa kakak bilang?" "Cewek jadi-jadian!" "Kalau aku cewek jadi-jadian, terus kakak apa?" "Aku Arga, mahasiswa tampan yang disukai para perempuan sekampus." Rinda mencibir mendengar kepedean Arga yang baginya di luar nalar. "Manusia siluman! Rese, usil, ngeselin, nyebelin, ahh pokoknya aku gak bisa berkata-kata." "Hey jangan lupa, manusia yang kamu bilang rese ini kemarin itu menyelamatkan mu loh dari cengkeraman Nathan." "Ya ya makasih untuk itu." Rinda kembali berjalan. "Hey pokoknya hutang kamu belum lunas, kamu harus minta maaf sama saya karena udah gigit tangan saya kemarin." "Salah kakak, kenapa tarik-tarik tas aku. Asal kakak tau ya itu tas dari Maldives!" Kali ini Rinda terus berjalan tanpa menoleh lagi. Sedangkan Arga hanya bisa menggelengkan kepala menyadari keanehannya yang senang sekali mengerjai mahasiswi baru tersebut dari pertama kali bertemu. *** Rinda mengusap kedua tangannya senang sambil berjalan di lapangan. Sudah waktunya pulang, jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul dua siang. Hari ini dia begitu senang, bisa melewatkan kuliahnya sampai full. Meski tadi ada beberapa kali suara sumbang teman-temannya yang terdengar di telinganya tapi ia mencoba fokus pada tujuannya. Rinda yakin, suatu saat nanti ia akan terbiasa dengan semua hal itu. Ia akan bisa cuek dengan segala hal yang berhubungan dengan u*****n orang-orang di sekitarnya. Senyumnya mengembang saat mengingat tadi itu ia bisa menjawab pertanyaan dosen. Apalagi saat dosen mengapresiasi dirinya dan memujinya. Yah, meski ada teman-temannya yang tidak suka sampai ia harus mendengar kalimat, Sok pintar! Sok aktif! Caper sama dosen! Caper sama anak laki-laki. Dan sebagainya. Tapi Rinda memilih tidak peduli. Karena niatnya hanya untuk belajar. Di sela-sela langkahnya menuju ke parkiran, langkahnya di hadang oleh Nathan. Rinda tersentak kaget, langkahnya langsung berhenti seketika. Laki-laki di hadapannya hanya diam tapi begitu menguarkan aura negatif. Warna di sekitarnya begitu gelap, membuat Rinda memasang ancang-ancang dan siaga. Rinda berjalan ke arah lain, bermaksud untuk menghindar. Tapi langkah Nathan selalu mencegatnya. "Minggir Nathan, aku mau lewat!" Sengit Rinda dengan pandangan mata yang tajam. "Gak bisa!" "Minggir!" "Aku sedih banget ngedenger kamu panggil aku dengan nama, tanpa embel-embel kakak lagi, Sweety." "Jangan panggil aku, Sweety!" tegas Rinda mengintimidasi. "Masalah kita belum selesai." Kali ini Nathan mulai bersuara keras. "Aku udah anggap kita selesai." "Belum!" Wajah Rinda memerah, kesal sekali dengan pria tak tahu diri di hadapannya. "Hari dimana aku liat kamu selingkuh dan mengkhianati aku, dengan berbuat m***m sama perempuan lain, hari itu juga hubungan yang pernah ada di antara kita USAI. U.S.A.I. Paham?" Rinda menyentak penuh emosi. "Tapi aku gak terima." "Terserah kalau gak terima. Yang jelas bagiku, kita udah selesai Nathan. Dan jangan ganggu aku lagi. Aku bukan siapa-siapa kamu lagi, dan kamu bukan siapa-siapa aku." "Sampai mulut kamu berbusa sekali pun aku gak peduli, pokoknya kamu masih pacar aku, Sweety!" "Kamu gila!" Rinda menggelengkan kepala, merasa miris. Mengapa bisa ia pernah terperangkap dengan laki-laki b******k ini? Sampai satu tahun lamanya pula! "Aku emang gila, gila ini karena kamu, Sweety." "Dan sampai mulut kamu berbusa sekalipun, bilang aku masih pacar kamu, aku gak peduli!" Mata Rinda melotot tapi laki-laki itu masih kukuh pada pendiriannya. "Sekarang minggir Nathan, saya mau lewat!" Bukannya minggir Nathan malah mencekal pergelangan tangan Rinda dengan sangat kuat, Rinda meringis seketika menahan sakit di pergelangan tangannya. "Sa-sakit!" ringisnya kesakitan. "Ini belum seberapa dibanding rasa sakitnya aku disingkirkan sama kamu, Sweety." "Aku ini wanita, Nathan. Yang kamu perbuat ini adalah kekerasan." ucap Rinda sambil menggigit bibirnya. "Sekarang ikut aku." Nathan menarik tangan Rinda, sudah dicekal dengan kuat ditarik pula secara paksa. d**a Rinda berdebar melihat aura Nathan yang semakin menguarkan kegelapan. Dalam pikiran laki-laki itu dia ingin membawa Rinda ke belakang gudang dan mencium paksa gadis yang ia sukai itu. Rinda membulatkan mata, melihat isi pikiran Nathan yang begitu kotor. "Lepas Nathan, lepas!" Setengah memekik Rinda berteriak, tapi tenaga Nathan sangat kuat. Laki-laki itu sudah dikuasai setan. Suasana kampus yang terbilang sudah sepi itu tidak bisa membantunya. Memang kelasnya tadi itu keluar paling akhir karena pelajaran sang dosen melibatkan banyak perdebatan setiap mahasiswanya yang saling mengeluarkan pendapat. "Lepas atau aku teriak minta tolong?" ancam Rinda yang membuat Nathan langsung terdiam di tempat. Belum sempat Rinda teriak minta tolong, tiba-tiba di hadapan mereka melintas seseorang. Rinda terkejut, lagi lagi si kating rese yang hadir di depan matanya. "Lepas Nathan, lepas!" sekali lagi Rinda memekik minta dilepaskan. Arga yang melihat kejadian itu langsung menghampiri. "Wah Nathan, kamu lagi ya sama gadis ini. Kenapa tangannya dicekal gitu? Kamu gak liat mukanya sampai kesakitan begitu?" Arga bertanya, gayanya terlihat santai tapi terasa begitu mengintimidasi. Ada aura yang menakutkan yang keluar dari dirinya. "Elu lagi, Arga. Siapa yang cekal? Rinda ini pacar gua! Kita mau pulang bareng! Iya kan, sayang?" tatapan Nathan melembut, cekakan tangannya mengendur. Sedangkan Rinda bisa melihat warna suara itu yang begitu hitam karena kebohongan dan akting Nathan di hadapan Arga. "Aku bukan pacar kamu lagi, lepas!!!" sengit Rinda yang masih berusaha melepaskan diri. "Tuh kan, dia bilang minta dilepas. Tolong dilepas ya, jangan buat gaduh di kampus ini. Kamu itu ya, dari dulu senang banget berbuat gaduh. Kulaporkan dosen mau?" Suara Arga terdengar tegas, lagi lagi membuat Nathan gentar. Dalam hati pria itu begitu merutuk, selalu Arga yang menghalangi langkahnya. Tatapannya tajam menyorotkan kebencian ke Arga. Untuk beberapa detik lamanya dua pria yang tingginya sama itu saling melemparkan tatapan benci dan mengintimidasi. Sampai akhirnya Rinda berhasil melepaskan tangannya dari cekalan Nathan. "Urusan kita belum selesai, Rinda." ucap Nathan lalu beranjak dan pergi dari hadapan Rinda dan Arga. Rinda terkesiap, menatap kepergian Nathan yang tubuhnya dikelilingi warna hitam. Kebencian, dendam, dan rencana jahat sedang ia susun kini. Rinda tahu itu. "Are you okay?" Kini Arga bertanya, pandangan Rinda langsung teralih pada dirinya. Kini Rinda pun terkesiap, saat menyadari bahwa dari Arga ia tidak pernah melihat warna apapun yang menghiasi laki-laki itu. "Ma-mana warnanya?" gumam Rinda kebingungan sendiri. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN